Mahesa masih tetap mempercayai bahwa dirinya diguna-guna atau dikutuk oleh saingan bisnisnya. Gayatri yang mendengarkan celotehan unfaedah Mahesa menguap berkali-kali tanda ia bosan harus menjadi pendengan yang baik tentang kecurigaan Mahesa yang tanpa alasan. “Nah, aku akhirnya memutuskan untuk membuka aura, Ya.” Mahesa mengakhiri dongeng pengantar tidurnya. Gayatri yang setengah mengantuk hanya menganggukkan kepala. “Menurut kamu, buka aura itu aman nggak,Ya?”tanya Mahesa dan Gayatri yang merasakan matanya tinggal 5 watt menjawab sekenanya. “Nggak tahu, Mbul. Biasanya aku buka dompet, bukan buka aura. Lagian si aura itu kenapa harus dibuka sih?” protesnya. “Yah, kamu nggak nyimak nih. Buka aura itu Ya, cara meningkatkan pesona pemikat mengandung pengasihan, jadi mudah disukai orang banyak wanita atau pria. Kita tuh masing-masing punya aura beda-beda. Kalau auranya butek kayak air comberan, nah wajib dibersihkan.”ceramah Mahesa. “Kamu mau buka aura juga,nggak?” tawarnya. “Mbul, aku boleh pilih Aura Kasih aja, nggak? Lagunya enak buat party.”ledek Gayatri. “Kamu tuh Ya, harus buka aura juga. Supaya para cowok itu tertarik sama kamu.” Tegas Mahesa. “Mbul, cowok tuh tertarik sama aku, cuma masalahnya tempat kerjaku kayaknya sensian banget kalau aku lagi kencan sama siapa pun. Semacam punya indra ke 12 aja tuh manager.”adu Gayatri. Kali ini ia sudah tidak merasakan kantuk yang amat sangat seperti ketika Mahesa memberikan kuliah 2 SKS tentang buka aura. “Udahlah, keluar aja dari situ. Dari jaman rambut kamu kuncir kuda, sampai rambut kamu sekarang model sliced cut ala Paris Hilton, kamu masih aja jadi jurnalis junior. Nggak naik kelas, apa nggak niat kamu maju?”rutuk Mahesa. “Muncung ya, Mbul! Gampang aja nyuruh orang resign. Cari kerja after pandemi gini susah, tahu!”oceh Gayatri. “Makanya buka aura, biar gampang urusannya.”hasut Mahesa. “Buka aura itu gimana sih? Pakai ritual?”Gayatri parno membayangkan proses buka aura. “Ritual apaan?Kebanyakan nonton film horor,nih.” Mahesa menoyor Gayatri yang langsun manyun. “Kan judulnya buka aura. Pakai dukun kan,tuh?”tuduh Gayatri sadis. “Makanya, Aya...jangan kebanyakan baca gosip kalau searching internet. Sekarang tuh zaman canggih, non. Buka aura itu bisa pakai kapsul aura,minyak aura, parfum aura atau garam aura.”jelasnya. “Bisa pakai parfum? Oke, aku parfum aja. Beliin, ya!” Gayatri semangat ketika mengetahui membuka aura segampang itu. “Giliran gampang aja, semangat! Aku lagi yang bayar!”Mahesa mendadak sewot. “Mbul, cowok itu harus berkorban untuk cewek. Lagian kan duit seorang Mahesa banyak. Eakkkkk!”canda Gayatri. “Pintar banget kalau ngambil hati. Iya, nanti aku pesan sama temannya Luki.”ujar Mahesa. “Ini Luki yang mana?Temen nongkrong kita waktu SMP?”tebak Gayatri. “Benar sekali! “sahut Mahesa. “Yakin sama tukang halu itu?”Gayatri tiba-tiba meragukan parfum yang akan ia pesan. “Dia itu bukan halu, Aya,”bela Mahesa. “Dia itu kaya ide dan imajinasi.”lanjutnya. Gayatri menjulurkan lidahnya. “Apa bedanya?” “Beda. Pokoknya beda!”Mahesa ngotot. “Ya, terserah, duit-duit kamu juga, Mbul!” ujar Gayatri menutup perdebatan tentang buka Aura. Keesokannya, Mahesa mengabarkan Gayatri jika Luki mengajak mereka bertemu di cafe depan komplek. Demi Mahesa, Gayatri menyetujuinya. Pulang dari kantor, Gayatri langsung menyusul Mahesa ke cafe. “Aya, sini...sini!” panggil Mahesa begitu melihat Gayatri berjalan masuk ke cafe. “Hai, semua!” sapa Gayatri kepada Mahesa dan Luki. “Hai!” jawab luki. “Kita ngapain disini?” Gayatri to the point mengingat dia masih dikejar dateline. “Soal buka aura yang Mahesa ceritakan, nah temanku itu butuh nama, tanggal lahir dan foto kalian.”jelas Luki. “Mau buka aura, atau kredit rumah,sih?”sindir Gayatri. Mahesa menyikut Gayatri. “Ayolah, buruan.”ujarnya. Gayatri menuliskan nama lengkapnya, beserta tanggal lahir. Ia lalu mengirimkan fotonya melalui ponsel menggunakan bluetooth. “Udah” Setengah jam kemudian, abang ojol mengantarkan paket parfum yang dipesan oleh Luki, yang selanjutnya ia serahkan ke Mahesa dan gayatri. “Ini tinggal disemprot aja, kan?”tanya Gayatri. “Baca Bismillah dulu sebelum dipakai.”jawab Luki. Mahesa langsung membuka kotak yang bertuliskan namanya. Ia tersenyum dan matanya berbinar-binar. “Aku pakai sekarang, boleh?”tanyanya ke Luki dan Luki mengangguk. Gayatri menyimpan kotak miliknya ke dalam tas, sementara Mahesa sibuk menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. “Norak, Mbul! Norak!”ejek Gayatri begitu Mahesa selesai mengguyur badannya dengan parfum. “Hasilnya akan mulai terlihat sejam kedepan ya, gaes. Aku duluan, nih!” Luki berpamitan, begitupula Gayatri yang juga izin pulang karena masih ada tugas kantor yang harus diselesaikan. Tinggalah Mahesa yang sibuk tebar pesona dengan aroma parfum auranya yang semerbak mewangi ke seluruh cafe, Jam di dinding menunjukkan pukul 19.30. Gayatri asyik masyuk di depan laptopnya. Sesekali ia menyesap nikmatnya cappucino hangat yang disajikan oleh Ibunya. Terlintas di benaknya tentang kabar sahabatnya yang kelakuannya unik, Mahesa. “Tumben nggak nanyain aku dimana jam segini? Mungkin parfum buka auranya sukses.”batin Gayatri lalu melanjutkan kembali kekhsyukannya di depan laptop. Drrttttt....Drrrtttt.... Gayatri melirik ponselnya dan nama Mbul tertera di layarnya. “Baru juga dibilang, udah mulai aja nih rusuh.”ujar Gayatri, lalu meraih ponselnya. “Ya, Mbul? Halo?” sapa Gayatri. “Aya! Tolong aku, Ya! Tolong!” suara Mahesa memelas meminta pertolongan. Gayatri terkesiap, ia lalu menghidupkan loud speakernya. “Woi....Mbul, kamu di mana? Minta tolong apa?” lagi-lagi Gayatri panik dengan kelakuan Mahesa. “Aku masih di cafe, tolong aku,Aya!” ia setengah berteriak. “Memang kamu kenapa? Tunggu aku, Mbul! Aku ke sana, nih!” Gayatri langsung mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja laptop, lalu buru-buru keluar kamar. “Aya jemput Mbul dulu, Bu.”pamitnya tergesa-gesa ketika melewati ruang tamu dan berpapasan dengan ibunya. Ibunya mengangguk mengiyakan dan kembali fokus menata ruangan. *** “Mbul! Mbul!” Gayatri menerobos pintu cafe dan mendapati Mahesa duduk pasrah dikelilingi para wanita, termasuk pelayan cafe. “Tolong,” pintanya dengan wajah sedih. Gayatri mendekati sekumpulan wanita yang mengelilingi Mahesa yang menatap penuh cinta. Ia merinding disko melihat wanita –wanita itu seolah terhipnotis ketika melihat Mahesa. Mahesa bergerak ke kanan, kumpulan para mabuk kepayang tersebut juga bergeser ke kanan. Bergerak ke kiri pun sama saja. Mahesa seolah magnet bagi mereka. “Mereka kenapa?”tanya Gayatri. Mahesa mengangkat bahunya. “Mana nomor Luki? Sini ponselmu, Mbul!” Mahesa menyerahkan ponselnya dengan pasrah ke Gayatri. Gayatri mencari nama Luki di daftar panggilan, lalu ia menelpon dengan perasaan kacau balau. “Halo, Mahesa?” suara Luki menyambut dengan ramah. “Mahesa, Mahesa! Kamu ke cafe sekarang!” hardik Gayatri. “Aduh, aku ada kerjaan!”kilahnya. “Aku nggak mau tahu, pokoknya dalam sepuluh menit kamu sudah ada di cafe ini atau chat kamu nembak aku waktu SMP yang alay itu aku sebarkan ke grup alumni!” ancam Gayatri dan Luki langsung menyanggupi. Luki belum sempat berkata-kata ketika Gayatri mendampratnya di depan cafe. “Hei, itu parfum apaan? Lihat tuh si Mahesa nggak bisa gerak gara-gara dikerubuti cewek!” “Lho?” Luki ikut bingung. “Nggak usah lho, lho, lho! Tanggung jawab!” omel Gayatri. “Sebentar, aku telpon temanku dulu.” Luki mengambil ponselnya. Beberapa menit ia berbicara, Gayatri menangkap ketidakberesan karena Luki meliriknya takut-takut. “”Hm, Gayatri.” Luki terlihat merasa bersalah.”Kata temanku,”ia masih ragu untuk menceritakan hasil pembicaraannya. “Apa katanya? Buruan,deh!”Gayatri tidak sabar untuk mendengar penjelasan Luki. “Dia salah ngirim parfum. Itu bukan parfum buka aura, tapi parfum pelet lawan jenis.”jawab Luki sambil ketakutan. “Hah? Pelet? Ya, salam!”
yes
21/04
0akusangat senang
26/03
0struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami
14/02
0ดูทั้งหมด