logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 2 TAKDIR?

Setelah kegagalan yang berulang, Mahesa pun mendapatkan ide untuk mengubah penampilannya yang memang cukup asal-asalan dan juga kelebihan berat bada, ditandai dengan perutnya yang buncit. Kerap kali Maminya sering menasihatinya agar menjaga pola makan, namun ia masih saja ngeyel nggak ketolongan.
“Mahesa, coba lihat itu perut sudah makin buncit. Kamu diet kek, olahraga kek, ngapain kek! Kamu itu punya keturunan diabetes lho dari Papimu, jadi harus jaga pola makan.” Tunjuk Maminya ke perut buncit Mahesa.
“Mami, ini perut orang makmur. Semakin kaya semakin buncit, Mi.” kilahnya sambil ngemil ciki-cikian.
“Eh, nggak juga tuh. Pengusaha yang lagi trending, Jusuf Hamka nggak buncit kayak kamu.”balas Mami. “Kurang kaya apa, coba?”
“Itu kan Bapak Jusuf Hamka, Mi. Kalau aku kan, Narendra Mahesa. Beda,dong!” Mahesa lalu mengelus perut buncitnya.
“Aduh, mami males kalau sudah ngomong soal perut buncit kamu. Sebenarnya bukan masalah perutnya lho, tapi berat badanmu. Kalau kelebihan berat badan itu bisa mengundang penyakit. Apalagi kamu makan makanan yang nggak sehat.”jelas Mami. “Bukan berarti kamu punya duit atau sukses jadi bebas makan apa pun.”lanjut Mami.
“Iya, Mi.”jawab Mahesa singkat.
Enam bulan setelah perdebatan kecil dengan Maminya, Mahesa mendaftar di Fitness centre. Ia menyewa couch yang paling disiplin. Bagi Mahesa, uang tidak menjadi masalah. Beberapa waralaba kuliner miliknya telah berkembang ke seluruh Indonesia, bahkan di setiap provinsi memiliki 3-5 stand untuk satu jenis produk kulinernya. Bisnis receh, namun pemasukan nggak recehan.
“Aya, kalau fitness yang dibawa apa aja? Hari ini jadwal pertama kita kan?” tanya Mahesa lewat telepon ke sahabatnya Gayatri.
“Iya, ini aku lagi siap-siap. Kata teman kantorku yang juga ikutan fitness, biasanya bawa baju ganti, peralatan mandi, air minum, tas plastik, flip flop karet dan music player.”jawab Gayatri.
“Bawa baju gantinya berapa banyak?” Mahesa kembali bertanya sambil membongkar isi lemari.
“Secukupnya aja, Mahesa. Satu atau dua, deh. Hei, kita mau fitness bukan vacation!”sembur Gayatri dan Mahesa tertawa.
“Iya juga,ya. Sepuluh menit lagi aku sampai ke rumahmu. Awas aja kalau belum siap, Ya.”ancam Mahesa mengingat terkadang Gayatri lama di depan cermin.
“Iya, ini udah siap. Cusss...jemput!” ujarnya.
***
Enam bulan berlalu, dengan latihan selama tiga kali seminggu dengan durasi 50-55 menit, baik Mahesa dan Gayatri telah mendapatkan hasil yang diinginkan, meskipun mereka masih harus tetap berlatih untuk mempertahankannya. Mahesa berhasil meburangi beratnya sebanyak 14 kg dan perut buncitnya mulai terlihat sixpack. Begitupula Gayatri yang badannya semakin terbentuk.
Selain rajin dan disiplin dalam berlatih, mereka juga lebih selektif dalam memilih makanan. Bahkan, Mahesa juga memiliki ahli gizi pribadi sehingga makanan yang masuk ke tubuhnya sesuai dengan kebutuhan. Tekad Mahesa mengantarkannya pada berat tubuh ideal dan body goal yang diimpikan banyak laki-laki. Ia pun semakin percaya diri untuk menunjukkan dirinya di depan para ciwir-ciwir yang pastinya terpukau melihat penampilannya sekarang.
“Kamu kenapa, Mbul?” tanya Gayatri ketika melihat Mahesa senyum-senyum tiada henti sepanjang jalan.
“Aku sedang memamerkan diriku yang sekarang, Aya. Biar para wanita yang dulu bikin aku patah hati menyesal.”umbarnya dan Gayatri memberikan ekspresi geli.
“Iiihhh...kok jadi kayak gini sih, sahabatku ya, Allah?” ujar Gayatri.
“Sekarang aku tuh sudah beda, Aya. Semua mata mengarah padaku, mengagumiku, mereka semua jadi terpesona melihatku.”Mahesa menjadi sosok narsis seketika.
“Jadi, kamu mati-matian diet, fitness, dan lain-lain itu supaya jadi pusat perhatian?” Gayatri menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aya, kamu nggak tahu rasanya jadi aku yang selalu nggak berhasil menjalin hubungan asmara. Orang lain sat set sat set, langgeng sampai ke pelaminan. Giliran aku? Sat set sat set diputusin.” Gayatri menahan tawa saat melihat sahabatnya mengomel.
“Hai, bestie, apa kabar aku yang nggak pernah tuntas kalau dating? Baru mau makan, ditelpon kantor, baru mau minum, di chat editor, baru aja mau masuk bioskop ada virtual meeting pakai zoom. Kita tuh senasib, brother!” Gayatri menepuk punggung Mahesa.
“Ya, tapi kan kamu nggak rugi waktu dan finansial. Lah aku?” Mahesa malah membandingkan kemalangan nasib mereka.
“Nggak gitu juga caranya, Mbul! Intinya kita sama-sama aja nggak punya keberuntungan dalam cerita asmara. Tapi kan, perjalanan masih panjang, Mbul.”hibur Gayatri.
“Rasanya aku ingin balas dendam sama mereka yang dulu mengkhianatiku dan cuma morotin aku.”Tatapan Mahesa jauh ke depan, mengingat apa yang pernah ia rasakan.
“Mbul, itu sudah lewat. Kamu mau balas dendam sama mereka? Itu sih namanya kamu sebelas dua belas aja sama mereka, Mbul. Come on! Sekarang fokus karis aja dulu, Mbul.”Gayatri tetap memberikan semangat ke sahabatnya itu.
“Kamu sih ngomong gampang, Ya.”ujar Mahesa sedih.
“Hm, gini deh. Gimana kalau aku kenalin kamu sama teman kantorku si Maya? Dia juga lagi nyari pendamping hidup,tuh. Siapa tahu kan kalian cocok?”Gayatri menawarkan solusi.
Demi mendengar kata-kata pendamping hidup, Mahesa langsung kembali ceria.
“Serius, Ya? Beneran?” Mahes antusias menyambut tawaran Gayatri.
“Seribu rius! Anaknya baik kok, Mbul. Kayaknya juga dia bukan tipe yang sok hedon atau apalah gitu. Sejauh ini sih aku lihat dia lurus-lurus aja.” Gayatri menjelaskan siapa Maya selintas lepas kepada Mahesa.
“Aku mau!”Mahesa semringah.
“Oke! Nanti aku kirim kontaknya ya, Mbul.”janji Gayatri dan Mahesa merasakan menemukan secercah harapan untuk memperbaiki hubungan asmaranya yang selalu kandas.
Dua minggu kemudian, Gayatri kehilangan kontak dengan Mahesa. Awalnya ia berfikir Mahesa sedang berusaha mendekati Maya, sehingga waktunya habis untuk hang out atau romantic dinner. Namun, rasanya aneh jika Mahesa tidak mengabarinya tentang kegiatannya. Akhirnya Gayatri memutuskan untuk mengunjungi Mahesa di rumahnya.
“Pak, si Mbul ada di rumah?” tanya Gayatri kepada Pak satpam sebelum masuk ke dalam rumah Mahesa.
“Ada, non. Sudah dua mingguan ini di belakang aja,tuh.” Jawab Pak satpam dan Gayatri paham apa yang terjadi jika Mahesa mulai mengabiskan waktunya di taman belakang.
“Mbul, lagi ngapain?” Gayatri langsung duduk disamping Mahesa yang asyik mengunyah keripik kentang. “Hei...hei...bukannya katanya nggak mau makan yang beginian lagi?” Gayatri menunjuk sekantong besar keripik kentang.
“Kayaknya ada yang salah sama aku, Ya.” Ujar Mahesa melow bernada melankolis. Gayatri menatap sahabatnya lekat-lekat.
“Nggak ada tuh yang salah. Mata masih dua, hidung satu, mulut satu, telinga dua, lubang hidungnya emang agak gede sih.”canda Gayatri berusaha mencairkan suasana.
‘Aku serius lho, Ya. Aku merasa ketidakberuntunganku dalah hal percintaan itu bagaikan kutukan.”kisahnya yang membuat Gayatri mengernyitkan dahinya.
“Hah? Sama Maya nggak sukses?”terka Gayatri dan Mahesa mengangguk.
“Tapi kan, body udah oke, muka kinclong tanpa jerawat, duit oke, friendly lagi. What’s wrong?” Gayatri kebingungan.
“Nah, disitulah aku nggak tahunya. Aku juga bingung, Aya.”tuturnya,
“Mungkin kamu salah ngomong pas chat atau nelpon Maya.” Gayatri mengira-ngira penyebab gagalnya hubungan Mahesa.
“Seingat aku, aku baru chat beberapa kalimat aja sudah langsung di blokir. Ini pasti kutukan! Ada orang yang sirik sama kesuksesanku, jadi aku diguna-guna.” Mahesa bicara asal yang membuat Gayatri menjewer telinganya.
“Mulai kapan otak seorang Mbul gesrek ,hah? Nggak ada yang sirik sama kamu, Mbul!”Gayatri meyakinkan Mahesa yang mulai bicara aneh-aneh.
“Nah, masalahnya sudah maksimal pun penampilanku, tetap juga kan cewek kabur.” Ia membela diri.
“Memang kamu chat Maya gimana sih,Mbul?” Gayatri penasaran dengan isi chat Mahesa yang dikirimkan ke Maya.
“Biasa aja kok chatnya,” jawab Mahesa.
“Biasa itu yang gimana?” paksa Gayatri yang mulai gemas akan kelakuan Mahesa.
“Ehm, hai Maya, ini aku Mahesa teman Gayatri. Aku mau ngajak kamu makan malam di restoran mewah, nonton bioskop, dan jalan-jalan ke mall. Kamu boleh ambil apapun di mall. Oiya, kapan kamu siap dilamar?” Mahesa mengulang kembali isi chatnya ke Maya dengan santai, sementara Gayatri menahan emosi.
“Mbul, Bekicot! Itu ngajak kenalan apa nodong? Ya, wajar anak orang lari!” Emosi Gayatri memuncak. “Pokoknya mulai sekarang, cari aja pacar sendiri!”rajuk Gayatri sambil berlalu dari hadapan Mahesa.
“Eh, Ya...Aya...! Nah, kok malah ngambek? Aya!”

หนังสือแสดงความคิดเห็น (683)

  • avatar
    Martince Banoet

    yes

    21/04

      0
  • avatar
    Hantori JRhantori

    akusangat senang

    26/03

      0
  • avatar
    Caleb Moses

    struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami

    14/02

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด