"Psikis? Maksudnya bagaimana, Dok?" Samar-samar suara lelaki itu terdengar. Cukup lama mata gue menyipit, silau. Cahaya lampu memerihkan penglihatan. Sampai akhirnya kornea benar-benar bisa beradaptasi. "Haus," desah gue sedikit memohon. "Nanti saya hubungi lagi, dia siuman." Benda pipih hitam legam, dia masukkan dalam kantung celana. Pandangan itu tajam dan melukai. Isyarat sorot mata Leo sangat sulit gue artikan. Bukan kecemasan atau pun kekhawatiran yang ada di sana, tapi seperti sebuah penyesalan. "Gue kenapa?" Lagi, lirih suara gue merintih. "Kamu seperti anak kecil, main-main air di kamar mandi sampai pingsan. Ini pertama dan terakhir, please!" titahnya dengan tatapan setajam sebelumnya. Main-main katanya? Dia nggak bertanya sebab apa gue harus mengguyur kepala sampai pingsan? Serius dia nggak nanya? gumam gue dalam hati. Laptop berlogo buah apel, diraih dari atas meja. Lalu, dia pergi berjalan gontai keluar kamar. Tidak ada kata lain yang dia ucap. Secuek itukah kamu, Leo? Air mata yang sedari tadi menggenang, akhirnya luruh berhamburan. Sesak dalam rongga dada berduyun-duyun menyeruak jadi tangis pilu. Gue ok, gue nggak apa-apa, beneran! Mengapa labirin ini semakin tak berpintu. Gue rindu duduk-duduk diskusi dengan teman kuliah. Gue rindu suasana riuh kampus. Rindu ingin jalan-jalan ke tempat wisata. Mengambil beberapa foto untuk kenangan. Rindu menikmati masa muda yang bergelora. Muaranya, berujung pada sesal yang tak pernah sudah. Terdampar pada masalah yang bukan lagi porsi diri. Menelan sendirian, menikmati perih yang tak kunjung reda. "Ma ... Ara ingin pulang!" Dengan bahu berguncang dan menggigit bibir, gue berbisik pada heningnya kamar. 🍁 Demam tak kunjung turun, sepanjang malam Leo berjaga-jaga. Tiba-tiba gue mengigau, menceracau antah berantah. Bahkan, sampai malam ketiga Leo masih bertahan menemani. Gue terbiasa, tidur dalam dekapannya. Dekapan itu ternyata hangat dan menenangkan. Sesekali sengaja gue melorot agar dahinya tepat di atas kepala. Saat dia pikir gue tidur, kedapatanlah dia mengecup pucuk kening gue. Keciduk lu! Benarkah yang Mbok bilang? Benarkah Leo mencintai gue? Lantas kenapa seolah-olah dia menyembunyikannya? Segitu besar kah gengsi seorang Leo? Dia akan gusar sendiri bila gue coba melepaskan pelukan. Entah. Dia tidak banyak bicara, tapi bahasa tubuh semakin membuat tanda tanya besar dalam kepala. Hari-hari berikutnya, kondisi kesehatan gue semakin baik, awalnya gue pikir mungkin ini sengsara membawa nikmat. Berharap, setelah ini bukan manusia kulkas lagi yang menjadi suami. Akan ada suasana cair dan obrolan hangat antara kami. Ternyata hanya kemayaan. Dia masih sama, banyak diam dan bersikap dingin. Tidak ada sikap-sikap manis seperti hari sebelumnya. Semakin kondisi ini baik, semakin sering gue keluar rumah. Naik motor dengan Irene dan teman-teman. Terkesan bebal dan liar, ya bagaimana? Menikmati masa muda, meski sesekali lupa telah bersuami. Wkwk. Bedanya, sebelum ini jika gue kelayapan, Leo hanya diam. Sekarang, jika pulang telat dia akan mengomel dan marah sekali. Indah, tentu saja iya ... gue merasa dipedulikan. Gue pikir, mungkin inilah cara Allah melunakkan hati kami. Jalan lain agar saling menerima. Tunas harapan itu mulai tumbuh, bahwa pernikahan ini bukan lagi pernikahan sial. Secara tidak langsung, gue atau pun Leo sudah saling khawatir satu sama lain. Hanya saja, mungkin gengsi menjadi dinding penghalang untuk terbuka dengan perasaan masing-masing. Dahulunya, jika tiba-tiba Wi-Fi mati atau tiba-tiba tagihan listrik muncul, gue akan marah panjang lebar. Sering juga, karena ATM atau credit card kosong gue marah nggak karuan. Ya, dia hanya diam menerima semua kemarahan itu. Semakin ke sini, jiwa dan amarah yang meledak-ledak itu sedikit terkendali. Irene dan teman-teman yang lain acap memberikan pengertian. Mereka berusaha membukakan pikiran gue, agar mulai menerima kenyataan, Leo adalah suami yang patut untuk gue hargai. Tidak ada lagi chat panjang lebar hanya gara-gara dia lupa mengisi rekening gue. Tidak ada lagi teriakan 'Hello Mister ....' saat petugas PDAM datang. Nggak gue tunjukin lagi muka masam, saat ocehan receh gue nggak ditanggapi. Penerimaan. Entah dengan cara apa, tapi akan gue usahain untuknya. Dia yang memberikan semua fasilitas hidup ini. Dia yang selalu siaga dengan caranya sendiri. "Lu cinta atau tidak dengannya, tetap saja dia suami lu, Ra. Surga elu nanti tergantung ridho-nya. Udahlah, kalau memang hati lu masih keras dan tidak berusaha mencintai dia, minimal jangan angkuh apalagi membentak-bentak seperti itu." Pesan Irene beberapa hari lalu, terngiang dalam kepala. Entah semalam apa yang terjadi, rasanya pagi ini gue bangun dengan jiwa yang baru. Seperti manusia yang terlahir kembali. Ada semangat, tapi entah berasal dari mana. "Loh ... loh, Non Ara? Sepagi ini kok udah sibuk di dapur?" Mbok Siyah terkesiap mendapati gue di dekat kompor. "Nggak kok, Mbok. Cuma bikin sarapan buat Leo." "Biar Mbok yang bikin, Non. Kasihan nanti kecipratan minyak. Lagian 'kan Non lagi nggak sehat toh, Non." Mbok Siyah bersikukuh. "Nggak kok, Mbok. Cuma masak nasi goreng biasa. Nggak akan kena minyak juga. Bisa kok, Ara pasti bisa." Leo duduk di meja makan, menyeruput kopi panas yang tadi gue seduh. Lama dia menimbang-nimbang, sampai menyeruput beberapa kali. "Ini kopinya beda, Mbok. Lebih enak, pakai merk apa?" serunya pada Mbok Siyah. "Ooh ... anu ... anu, Den Leo ...." Mbok Siyah meremas-remas ujung celemek yang menggantung di lehernya. "Itu Ara yang bikin, suka?" Gue menyela, mendekati Leo yang duduk di minibar. "Ooh, kamu." "Iya, gimana? Enak 'kan? "Nggak terlalu buruk," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun. "Pagi gini udah main di dapur, tumben?" ulasnya. Setitik kekecewaan menjalar dalam pembuluh darah. Tidak kah orang ini diajarkan cara mengapresiasi usaha keras orang lain untuk menyenangkan dirinya? "Tumben katamu? Oh, ya udah. Ini nasi goreng, Ara yang bikin." Kali ini, jika dia masih tak menghargai, cukup sudah. Gue menyerah! umpat gue dalam hati. "Kamu yang bikin?" tanyanya sambil menyuap sesendok. Gue menarik kursi, antusias duduk di sebelahnya. Menunggu penilaian yang menggembirakan. Minimal pujian atau apa saja, meski pura-pura. Setidaknya terima kasih, juga boleh. "Enak, lumayan, sih. Besok nggak usah repot-repot bikin nasi goreng. Aku jarang bisa makan berat kalau pagi. Cukup kopi, atau paling mungkin ya dengan sepotong roti tawar dengan taburan meses." Lagi, satu sendok masuk. Apa? Nggak ada terimakasih gitu? Udah susah-susah loh ini, rutuk gue lagi dalam hati. Hanya senyum kecut, dia nggak tahu ini gue lakukan demi healing atas psikis gue yang tertekan. Dalam artikel yang gue baca, salah satu cara untuk membunuh kekecewaan adalah menyibukkan diri untuknya. Sehingga muncul rasa diperhatikan, akhirnya datanglah feedback. Lah ini? Apa manusia satu ini benar-benar tidak punya kepekaan perasaan? Minimal mengucapkan 'terima kasih' sudah dilayani sedemikian rupa? "Non?" Mbok Siyah memutus pikiran buruk gue barusan. Terdengar gerung kendaraan meninggalkan garasi. Dia berangkat tanpa pamit. Oke baiklah! Terserah. "Ara nggak apa-apa, Mbok." "Mungkin Den Leo masih kaget, Non. Kan sebelum ini nggak pernah Non Ara masakin. Tiba-tiba pagi ini kejadian begini. Sabar ya, Non." Gue tersenyum tipis pada Mbok Siyah. Mungkin ada benarnya, Leo mungkin merasa janggal dengan sikap gue barusan. Minimal, berusaha saja dulu. Ini juga untuk diri gue sendiri, bukan untuk menarik simpati Leo. 🍁 Oke baiklah, beberapa hari survey dengan polah tingkah Leo. Masih sama. Leo tipe orang konsisten dengan sikap beku-nya. Arogan, tidak bisa menghargai orang lain, dan sejenisnya. Dia tidak akan peduli. Mau diseduhkan kopi, disediain sarapan atau tidak. Prinsipnya up to you. But, not for me. Gue akan terus menjadi istri selayaknya istri. Menyediakan sarapan, menyeduhkan kopi, menyiapkan baju kerja. Semuanya, akan gue kerjakan dengan raut wajah tersenyum. Senyum pura-pura tentunya. Entahlah. Mau gila rasanya! Jika ditanya ini sampai kapan? Mungkin sampai gue bosan. Boleh jadi, sampai gue berada di titik terendahnya rasa lelah. Sampai gue benar-benar nggak bisa lagi menguatkan hati. "Setiap hari bangun pagi demi sediain sarapan? Sama baju juga?" tanyanya suatu pagi. "Ada masalah memangnya?" "Nggak sih, aneh aja. Asing bagi aku." Ucapan yang datar, tapi menyakitkan. "No, bukan aneh. Itu memang pekerjaan sebagai istri," jawab gue mantap. Sebentar dia melirik, tanpa ekspresi. Kemudian melanjutkan sarapan. Sepotong roti gandum dengan meses coklat, lolos ke mulutnya. Sementara tangan kiri tetap sibuk scrolling berbagai dokumen dalam versi pdf di ponsel pintarnya. Se-workaholic itu dia, suami gue. Pergi pagi, pulang malam. Sampai di rumah, bukannya istirahat malah kerja lagi via laptop sampai dini hari. Berhenti sebentar, turun dan bergabung makan malam. Sesekali, gue iseng menyuapinya. Diterima, tapi dengan ekspektasi yang terlampau jauh dari realita. Tidak ada ekspresi bahagia, senang, haru, atau apapun itu. Apalagi sebuah kata terima kasih, jangan berharap. Berbilang hari, berganti bulan. Gue semakin terbiasa bangun pagi. Mengaplikasikan semua schedule yang sudah dipersiapkan dari malam. Tidak tanggung-tanggung, tiap pagi selalu ada menu baru untuk sarapan Leo. Hasrat untuk ingin di-apresiasi, atau sekedar ucapan terimakasih basa-basi mulai pudar. Bagi gue, tidak penting dia merasa dilayani atau tidak. Ini hanya tentang jalan, agar gue bisa berdamai dengan kenyataan. Bertahan atau jatuh, berusaha atau menyerah, semua adalah pilihan. Sementara ini gue memilih bertahan, berjuang sekuat daya. Jika akhirnya Tuhan berkata STOP, maka akan gue hentikan. "Nanti siang ke mana?" tanya Leo sambil menyuap omelet dengan saus kacang agak pedas. "Enggak ada. Kenapa?" "ATM sama kartu kredit, silakan dipakai. Kalau mau ke mall, ajak teman. Jangan sendirian, terlalu bahaya." Leo melanjutkan, tanpa sedikitpun menoleh. Oh My God, My Lord ... mimpi apa semalam? Yuhuu ... akhirnya, bisa menikmati udara segar beraroma kebebasan, gue bersorak dalam hati. Setelah sekian bulan lockdown. Wkwk. "Pulang sebelum Magrib, bisa?" "Bisa dong, nanti biar naik taksi. Nggak usah diantar supir." "Yakin?" tanyanya, menghentikan gerakan tangan dan menatap pada gue tajam. "Sangat yakin!" Hanya hening untuk beberapa waktu. Denting sendok dan piring juga malu-malu terdengar. Hingga, potongan terakhir itu dituntaskan. "Nggak, biar diantar sopir!" "Kenapa sih? Kamu khawatir?" tuding gue mengangkat satu alis. "Khawatir? Jangan Ge-er, mau naik apa juga terserah. Mau jalan sama siapa juga terserah. Aku nggak ada urusan." "Jadi?" "Tsamara! Silakan ke mana pun, tapi diantar supir. Paham!" Leo mendelik, kemudian berdiri membawa dengkusan sebal. Itu orang kesambet apaan coba? "Sebentar baik, sebentar kemudian galak, what's wrong with you, Mr. Ice?" Gue bicara sendiri. Si Mbok yang membereskan meja, tersenyum penuh makna. Entahlah, apa yang menjadi alasan si Mbok terlihat begitu semringah sendiri. "Kenapa sih, Mbok?" "Nggak ada," ujarnya makin melebarkan senyum. "Lah, terus? Kok senyum-senyum begitu?" "Halah, Non Ara ... itu tandanya Den Leo cinta mati sama Non. Makanya dia ngelarang ini, ngelarang itu. Aduh, si Non malah nggak peka sama sekali." "Eeh, Mbok ngomong apa sih?" Tiba-tiba seperti ada yang memerahkan pipi. "Lah itu, buktinya pipi Non jadi merona. Tandanya, juga sama ... ngaku deh Non Ara," goda si Mbok. "Mboookk, itu dia masih di depan, malu kalau kedengeran. Udah ah, ada-ada aja." Selesai membereskan semua sisa-sisa sarapan di meja, si Mbok berlalu lagi ke dapur. Tinggal gue, terngiang-ngiang bentakan Leo barusan. Atau, jangan-jangan benar kata si Mbok? Eh, nggak mungkin! Mushatil, eh mustahil. Tapi ... ya mungkin aja sih, kenapa coba dia segitu posesif-nya. Apa namanya kalau bukan khawatir? Khawatir tandanya cinta, 'kan? Heuheu. Jangan gede rasa gitulah. Kali aja dia nggak mau repot kalau ada apa-apa lagi. Tuh buktinya, kemarin dia blingsatan marah gegara pingsan di kamar mandi. Setan dan malaikat beradu argumentasi di alam bawah sadar. Keduanya sama-sama bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Lama-lama gue gila. "What ever! Yang penting ATM-ku gendut," sungut gue sambil berdiri, "Mbok, Ara mandi ya. Kalau HP Ara bunyi, angkatin bilang Ara lagi siap-siap." Gue berteriak sebelum masuk kamar. Terdengar samar-samar dari dapur, "Iya, Non. Laksanakan." Senyum terkembang tak habis-habis, membayangkan menjelajahi mall dengan sahabat. Selama ini seperti burung dalam sangkar, terkurung oleh aturan. Hari ini bebas, menikmati hidup yang selayaknya. Memilah-milih pakaian yang akan kukenakan, harus keluar rumah dengan ootd terbaik. Kapan lagi coba? See! Ada hasil nyata setelah menjadi istri yang selayaknya, bukan? Menyediakan sarapan, baju kerja, menyenangkan pagi si Tuan Leo Kulkas Berjalan, akhirnya dia luluh memberi izin. Ara ... Ara, bukankah kamu seharusnya lebih cerdik dari Leo. Gampang sekali meleburkan kebekuan hati lelaki itu, bukan? Entah setan atau malaikat yang berbisik di rongga kepala gue. Selesai mengenakan outfit terbaik, gue temui Mbok Siyah di dapur. Barangkali beliau ingin dibelikan sesuatu. "Mbok mau dibeliin apa?" "Loh, jangan repot-repot, Non?" "Beneran, mau dibeliin apa?" "Terserah Non Ara saja." Tiba-tiba Pak Kusno muncul dari dapur. "Pak Kusno mau dibeliin apa?" tanya gue padanya. "Aduh, apa ya, Non? Nggak ada yang terasa," jawabnya malu-malu. "Hmm, ya sudah, nanti biar Ara aja inisiatif beliin ya, tapi diterima loh. Oh ya, Mbok, Pak, Ara keluar sama Irene, sahabat baik Ara. Semisal nanti Leo nanya gitu." "Baik, Non." Mereka menjawab serempak. Hay dunia ... i'm coming! Gue keluar rumah sambil goyang patah-patah. Enggak, canda doang. Tbc
bagus
27/07
0suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,
08/02/2025
0bgus
21/10/2024
0ดูทั้งหมด