Hanya hitungan menit, kendaraan yang dikemudikan Leo sudah terparkir rapi di basemen sebuah pusat perbelanjaan elite kota Jakarta. Sepanjang jalan, gue sibuk merespon chat dan DM dari teman-teman yang kuliah di Jakarta. Mengatur waktu bisa ketemuan. Leo sih nggak tau gue banyak temen. "Ayo," tegurnya datar. "Loh?" Gue melongo, melihat sekeliling. "Iya kita sudah sampai, kita cari makan dulu. Belanja, terus ketemu teman-teman aku." Leo terus bicara, seraya merapikan penampilan. "Tapi?" Gue teringat pakaian yang dikenakan jauh dari kata pantas. Yang terbayang dalam kepala adalah bahwa teman-teman Leo pasti orang kantoran. Orang-orang dengan gaya parlente. Sementara gue pakai pakaian se-jamet ini. "Buruan turun!" titahnya. Leo menggenggam tangan gue, berjalan beriringan naik ke lantai atas dengan lift. Gede lift-nya. Beda sama yang di Kota Padang. "Aku pegang, bukan karena apa-apa, jangan gede rasa. Takutnya kamu hilang." "Santai ya, Pak. Meskipun gue dari kota kecil, bukan berarti gue katrok atau kampungan. Sekata-kata sekali Anda ini!" Gue mendengkus sebal. Seperti anak kecil yang digamit kakaknya, gue mengekor ke mana pun Leo berjalan. Masuk ke salah satu counter makanan cepat saji. Makan tanpa basa-basi. Nggak kenal gue tuh yang namanya jaim alias jaga image. Setelahnya, menuju butik dengan merk kenamaan. Leo memilihkan beberapa potong pakaian. Parahnya, langsung pakai, alasan jitu baginya karena hendak bertemu rekan-rekan kerja. Selesai urusan butik, Leo menarik gesa ke toko sepatu. Memilihkan sepatu jenis ballet untuk dipakai langsung juga. Gue akui, selera fashion Leo memang berbeda. Ciamik. "Mereka udah nunggu, ayo." Leo merangkul bahu gue. "Kamu butuh sesuatu yang lain?" tanyanya tanpa menoleh. "Nggak." "Ya sudah, nanti dipikir-pikir. Bilang kalau butuh. Oh ya, jangan bertingkah berlebihan, jangan membuat malu." Nada bicara Leo terdengar memohon. Baiklah. Dalam hati gue menjawab. Benar. Semua teman-teman Leo terlihat seperti sekumpulan anak muda elite. Meski gaya pakaian mereka santai seperti Leo. Gesture tubuh mereka menyiratkan. Tidak pecicilan. Gue duduk bersebelahan dengan Leo. Ada tiga orang temannya, mereka sepertinya seumuran. Masing-masing juga membawa pasangan. Gue irit bicara, boros senyum sampai gusi kering rasanya ini malah. Sesuai permintaan Leo. Kami duduk di sebuah meja bundar, di cafe keluarga. Menikmati camilan dan kopi yang terhidang. Beda banget sama tongkrongan gue dulu, di bawah tenda di tepi laut. Haha. "Pintar kamu milih pasangan, Leo!" puji salah satunya. "Iya benar, masih muda juga. Habis ini Tsamara lanjut kuliah?" timpal yang lain. "Lihat dulu nanti," tukas Leo. Padahal, bibir gue baru bergerak sedikit hendak menjawab. Kok terkesan intimidasi, ya? Gue dipaksa senyum-senyum manis, tanpa perlu terlibat dalam obrolan. Hingga akhirnya cape jadi pendengar dan gue merengek minta pulang. Sedikit masam wajah Leo, saat pertemuan itu harus bubar. "Jam segini udah minta pulang!" rungutnya saat turun ke basemen. "Udah tengah malam kali!" Gue nggak mau kalah. "Anak papa banget!" sungutnya lagi. 🍁 Gue mengakui kenyamanan rumah milik Leo. Desain arsitektur rumah ini mencatut konsep tropis. Banyak sisi dan bagian rumah lebih mengedepankan kesan natural dengan memanfaatkan sisi alamiah dari rumah ini sendiri. Beberapa pohon palm tumbuh di depan, dekat taman kecil. Kelapa pendek juga ada di sisi kiri rumah. Ukuran pintu dan jendela didesain relatif lebih besar. Tujuannya agar sirkulasi udara yang sehat dapat masuk ke dalam ruangan. Penggunaan bahan material semacam kayu dan papan cenderung lebih diutamakan, seperti untuk minibar dekat kamar gue. Oksigen bebas keluar masuk karena loteng yang tinggi. Sekilas, aku pernah mengintip kamar Leo. Sepertinya hanya kamarnya yang dikonsep warmhouse. Model rumah Leo tidak begitu mencolok. Karakter rumah tropis memang didesain sesuai untuk daerah beriklim tropis. Bukan konsep unik, mungkin hanya berbeda pada rancangan arsiteknya saja. Gue pikir, setelah acara semalam, Leo mungkin bisa lebih bersikap hangat. Nyatanya tidak. Sama aja. Puas berkeliling rumah, Leo masih belum kembali dari kantor. Rasanya ingin jalan keluar, nonton bioskop, belanja di mall atau sekedar hangout di cafe menikmati racikan barista. Sendirian tentunya, atau dengan teman-teman. Yang jelas, tidak dengan Leo. "Non Ara, mau Mbok sediakan air panas. Tadi anunya sudah Mbok bersihkan." Mbok Marsiyah tiba-tiba muncul dari balik pintu. Aku sedang memotret bunga Aster yang baru mekar di halaman depan. Usianya tidak lagi muda, tapi Mbok Marsiyah masih cekatan dan ulet menunaikan pekerjaannya. Jika boleh kutaksir, usia Mbok barangkali sudah hampir lima puluh tahun. "Boleh, kalau Mbok nggak repot," sahut gue dengan senyum mengembang. "Mbok sudah selesai beberes dan masak, Non. Habis ini Mbok mau izin sebentar ya, mau ke pengajian rutin. Nanti titip pesan ke Den Leo ya, Non." Mbok Siyah memohon sedikit menunduk, saat gue menghampiri. "Iya, Mbok ... nanti Ara sampaikan. Oh ya, Mbok ada pegangan untuk ke pengajian?" "Ada, Non. Insya Allah masih ada," tukasnya buru-buru. Gue merasa ada yang disembunyikan Mbok Siyah. Berhubung ada beberapa lembar rupiah dalam saku celana, nggak masalah 'kan kalau gue berikan padanya? Memangnya Leo akan menginterogasi nanti kalau dia pulang, ya nggaklah. Lagi pula, orang ini duit gue kok. Ya nggak? Mbok Siyah malu-malu menerima uang tersebut. Lalu, permisi menyiapkan air hangat untuk mandi. Gue duduk di kursi rotan depan rumah. Mbok Siyah seharusnya naik gaji sih, ucap gue membatin. Melihat taman yang lengang, kenangan masa kecil itu lewat sekelebat cepat. Kepala mendadak pusing, sekuat tenaga mengusir rindu yang tidak lagi bisa di tebus. Andai Mbok Siyah tidak pergi pengajian, gue bisa berlama-lama mengobrol dengannya. Cerita-cerita perjuangan hidup Mbok Siyah barangkali sangat menarik untuk disimak. Jika dibandingkan, apa yang sedang gue jalani belum ada apa-apanya dengan kepahitan hidup yang dilakoni Mbok Siyah. Selain ponsel, hanya wanita paruh baya itu yang menjadi teman. Jika penat dan bosan berselancar di dunia maya, hanya Mbok Siyah tempat beralih perhatian. Sebenarnya, beberapa teman yang berada di Jakarta seringkali mengajak kopdar. Sayang, gue nggak punya keberanian minta izin pada Leo. Masih kelu untuk banyak minta padanya. Kami berdua tak ubahnya dua manusia asing yang terjebak dalam satu rumah yang sama. Hampir pukul sembilan malam, belum ada tanda-tanda Leo pulang. Tumben? Ngapain mikirin dia juga? rutuk gue melempar satu bantal sofa. Ting! Satu pesan masuk ke ponsel. Berbarengan dengan pulangnya Mbok Siyah dari pengajian. "Loh, Non Ara sendiri? Den Leo belum pulang?" serbu Mbok Siyah. Gerakan tangan terhenti sejenak. "Belum, Mbok. Nggak tahu deh kenapa, selarut ini belum pulang." "Nggak coba telepon, Non?" ujarnya membulatkan mata. Sebaris senyum kecut gue berikan. Mbok Siyah menggaruk kepalanya yang tertutup mukena. Pasti paham apa yang tersirat di gores senyum tersebut. Satu pesan tadi, menarik perhatian. [Tidur duluan, saya lembur. Jangan lupa makan malam.] Pesan singkat yang sama sekali tidak ada manisnya, seperti sedang memarahi anak-anak. "Mau makan kek, mandi kek, nyebur kek, bodo amat!" dengkus gue melempar asal ponsel dari genggaman. Serial drama Korea masih terus berlanjut di salah satu chanel berbayar. Mbok Siyah sepertinya juga sudah istirahat. Hanya suara TV yang terdengar, lengang sekali. Entah sampai jam berapa, gue tertidur di sofa besar ruangan TV. Ketika terbangun, malam sudah berganti pagi. Sehelai selimut juga membalut tubuh gue yang tergeletak sedari semalam. Pelan-pelan untuk bangkit, Leo sudah di minibar. Menikmati kopi hangat yang diraciknya sendiri. Bahkan, dia sudah berpakaian rapi hendak pergi ke kantor. "Jangan dibiasakan nonton sampai larut. Tidur di sofa juga nggak baik untuk kesehatan." Lelaki dengan setelan kemeja abu-abu terang, dipadukan celana hitam itu berkata tanpa menoleh sama sekali. Sumpah! Gue benci, gue kesel. Sepagi ini sudah diceramahi dengan nada tidak mengenakkan seperti itu. Gue banting pintu kamar. Duduk memangku lutut di ranjang, mengerucutkan bibir tanda sebal. Bisa-bisanya dia menghancurkan mood sepagi ini. Gue ketiduran di sofa juga nungguin dia datang. Duhlah, orang itu kenapa sih? "Mbok, nanti buatin Ara bubur kacang hijau. Jangan pakai santan, agak manis ya. Banyakin gula arennya." "Iya, Den. Semalam Non Ara nungguin Aden sampai ketiduran. Mbok tawari makan, tapi Non Aranya nggak mau. Malah pesan mi rebus pakai g*food." Aduh, si Mbok pakai ngadu lagi. "Astaghfirullah, bandelnya. Besok-besok kalau saya nggak di rumah ... terus dia pesan-pesan makanan instan lagi, tarik aja, Mbok." "Iya, Den." Apaan sih, Leo! Pakai cegat-cegat segala. Nggak usah terlalu pencitraan begitu juga 'kan. Semua orang juga tahu kita menikah karena perjodohan. "Rese ... rese ... rese ... ya ampun, sampai kapan gue hidup di neraka ini, tolong! Help me, please. Oh My Lord!" Gue menggeram, membenamkan muka pada bantal. Suara mobil terdengar keluar dari pagar. Rasanya sesak, nyesek, dikekang. Seperti anak-anak yang dikendalikan orang dewasa. Seolah-olah disetir olehnya. Di luar sunyi, hanya tembang Jawa yang disenandungkan Mbok Siyah. Samar-samar terdengar dari dapur. Bahkan, untuk mandi pun gue enggan. "Mbok ... Mbok Siyah!" Gue berseru dari pintu kamar yang sengaja dibuka sedikit, hanya kepala yang melongok keluar. "Ya, Non. Kenapa?" Gopoh Mbok Siyah dari dapur. "Si Mbok lagi sibuk?" "Anu, Non ... lagi rebus kacang hijau." "Ooh, nanti bantu cariin HP Ara dekat sofa ya, Mbok. Kalau ketemu nanti anter ke kamar. Pintu nggak Ara kunci kok." "Baik, Non ... Mbok kecilin kompor dulu." Gue kembali ke ranjang. Mengempaskan tubuh, ah bosan sekali. Dunia, dunia, di mana kau dunia? "Non ... Non Ara, anu HP-nya udah ketemu." "Masuk aja, Mbok." Sembari menunduk permisi, Mbok Siyah memberikan ponsel tersebut. Baterainya tersisa 10%. "Terima kasih ya, Mbok." "Sama-sama, Non. Mbok ke dapur lagi." Dia berbalik badan, ketika hampir mencapai pintu, kembali mendekati gue. "Anu, Non ... anu ... Den Leo mencemaskan Non Ara yang pesan-pesan makanan instan itu lo, Non." "Masa, Mbok?" sahut gue malas. "Iya bener, Non. Mbok lihat sendiri kalau dia khawatir." "Biarin ah, nggak penting banget." "Ladalah, Non Ara ... tandanya Den Leo itu cinta sama Non. Yuhuuiiii, udah ya, Mbok lanjut masak dulu." Mbok Siyah justru terkekeh sendiri, sambil terus menembang. Galery ponsel mulai penuh, kapasitasnya memang terbatas. Hanya mengandalkan RAM/ROM sebesar 4/16GB. HP Missqueen kalau kata teman-teman kampus dulu. "Udahlah lemot, penuh lagi!" Kutulis kalimat tersebut untuk story WA. Lalu, bergulir, mencari kontak WA Leo. [Nanti mau ke mall, minta tolong kasih tau Mas Darmono, anterin.] Gue kirim pesan itu padanya. Tidak lama, typing pun menari. [Besok saja. Nanti aku urus dulu kartu kredit.] Cukup tercengang sekian detik membaca pesan darinya. Credit card katanya? Mata gue membulat sebentar. [Nggak perlu.] [Besok beli ponsel baru.] Huh, menjengkelkan sekali manusia ini. Seperti sedang berbalas pesan dengan orang lain. Padahal dia suami sah. Gila! Pelan-pelan gue pilih beberapa foto untuk dihapus. Ada banyak foto dengan gaya sama. Tidak terasa, air mata merembes saat memilih-milih foto keluarg, momen lebaran tahun lalu. Sedikit tersedu, gue rindu pada Mama, rindu Papa. Rindu suasana yang hangat penuh kasih. Rindu menjadi remaja yang bisa bermain kapan saja. Sampai pada dokumen-dokumen folder khusus kuliah. Kenangan ospec, dengan pakaian ala-ala perpeloncoan. Foto teman-teman seangkatan yang sedang dihukum kakak tingkat. Tawa gue terbit, ah padahal air mata belum kering. Beralih pada folder wedding. Dokumen lamaran, akad nikah, resepsi, tersimpan cukup banyak. Rasa marah itu tiba-tiba menyelinap. Ingin gue lempar aja HP ini keluar jendela. Benci, jijik, nyesek, menyatu dalam tempurung kepala. "Aaarrggghhh!" teriak gue parau. Meremas kepala keras-keras, rasanya gue frustasi dengan semua ini. Lantas, berlari menuju kamar mandi dan mengguyur diri sekencang mungkin. Kemudian, terhenyak duduk di lantai yang dingin. Dingin sekali. Gigi gue gemeletukan. Air bak yang tumpah menggenangi lantai. Gue benar-benar lelah. Semuanya tidak lagi muat dalam tempurung kepala ini. "Ya Allah, Non Ara ... kenapa begini? Astagfirullah, Non ... nyebut, istighfar." Samar-samar aku mendengar seruan Mbok Siyah. Derit kran diputar juga terdengar. "No ... Kusno ... Kusno, tolongin saya!" "Kusno ... Non Ara pingsan di kamar mandi!" "Kusno ... buruan!" Teriakan Mbok Siyah samar-samar tertangkap gendang telinga gue. Derap langkah buru-buru Pak Kusno tukang kebun juga terdengar. Pandangan gue menguning, tubuh menggigil. Rasanya jari-jari gue beku, mati rasa. Dingin mengetuk-ngetuk persendian. "No, telepon Den Leo buruan. Saya takut Non Ara kenapa-kenapa. Ya Allah, tubuhnya menggigil, No." Mbok Siyah terus saja menceracau, masih bisa gue dengar jelas. Tapi tak dapat lagi gue lihat rupa mereka. Tubuh gue semakin gemetar. Hingga semuanya berubah gelap. Benar-benar gelap dan hening. Tbc
bagus
27/07
0suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,
08/02/2025
0bgus
21/10/2024
0ดูทั้งหมด