Hy ibukota, i'm coming! Kusesap udara kering ibukota ini. Udara yang jauh dari kata bersih. 🍁 "Kamu mau istirahat, silakan! Matiin aja lampunya. Aku masih ada kerjaan." Nih orang kayaknya emang sakit, kadang pakai aku, kadang saya, nggak sekalian ana-ente? Baru sore tadi kembali ke rumah, setelah satu minggu menikmati pantai. Lagi, dia lebih mencintai benda pipih yang bisa dilipat tersebut. Memelototi layar hingga larut malam, bahkan sampai dini hari. Emang gue peduli? Ten-toe tydack. Gue tidak mempunyai alasan untuk mencintainya, sampai detik ini. Juga, tidak pernah memiliki alasan untuk membencinya. Hanya sebatas terjebak, dalam labirin yang memusingkan. Kata Mama ada namanya cinta. Cinta yang hadirnya memang sempurna. Bisa berbentuk jutaan kata mengalirkan pesona surgawi, dalam sebuah sangkar emas bernama rumah tangga. Sangkar tersebut harus dikunci dengan sebuah kesetiaan. Teori yang sungguh berat. Cinta juga seperti ribuan mutiara terangkai pada mahkota. Menyihir hati yang layu menjadi gairah. Hadirnya bisa melambungkan impian ke langit. Kata orang cinta butuh kesabaran. Tanpa diketahui harus bersabar menanti sampai kapan. Walau dia adalah kenyataan, sesekali tetap saja dia menjelma jadi kemayaan. Seminggu setelah liburan, suka tidak suka, gue harus ikut ke Jakarta. Ya, hari itu hari keberangkatan ... gue dengannya berkomitmen untuk menjaga kefitrahan cinta, di depan Papa. Gayanya. Gue bukan perempuan yang paling bahagia saat ini. Tidak satu pun yang tahu, keping dan koyak hati telah parah. Pernikahan ini tidak lebih seperti diazab oleh kulkas berjalan. Ia menjadi pria yang sangat romantis pada saat di depan keluarga. Mendadak dingin dan beku lagi jika sedang berdua. Lalu, apa alasan gue untuk bersyukur menikah dengan seorang pria yang selalu bertopeng seperti ini? Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Masih muda, cantik, tampan, mapan, cerdas dan modern. Terlebih lagi tentu saja romantis. Padahal, mereka tidak mengetahui bahwa yang sedang menggandeng tangan gue, sewaktu-waktu bisa berubah menjadi frozen man. "Nanti di sana, ada kamar berbeda. So, nggak perlu guling lagi sebagai pembatas." Leo yang merapikan beberapa pakaian ke dalam koper membuka suara. "Ya baguslah, gue juga nggak tertarik sekamar dengan Anda!" Lalu, hening! Leo menatap sebentar pada gue. Tidak ada obrolan lagi. Gue ataupun dia, masing-masing sibuk berkemas. Hanya suara benda-benda bersenggolan dengan yang lain yang mengisi ruangan ini. Kami tidak lebih hanyalah dua manusia asing, yang terjebak dalam kotak penghukuman buatan orang tua sendiri. Nahasnya. Kami dilepas di Bandara Internasional Minangkabau. Sampai di ujung lorong, sebelum Keluarga kami berbalik badan dan meninggalkan lobi BIM. Gue trenyuh, pertama kalinya jauh dari Mama. "Sini!" Leo meraih tangan gue, menggandeng menuju pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta. "Belum pernah naik pesawat? Sepucat itu?" desisnya menunjukkan peduli. Halah bukan, tentu saja mengejek. "Nggak juga, gue cuma nggak siap pisah sama Mama." "Halah, manja, anak Mama!" "Kenapa sih? Salah semua, heran deh! Mau gue anak Mama, anak siapa juga bukan hak Anda ngasih penilaian. Gue nggak pernah pisah sama Mama dari dulu. Nginap di rumah teman aja jarang. Wajar deh rasanya nyesek kayak gini!" Intonasi gue meninggi seketika, peduli amat sama orang-orang yang menatap kami. "Udah ya, malu diliatin orang." Leo berbisik, tapi dengan nada tegas. Airmata berjatuhan sepanjang jalan. Entahlah sedih karena sikap Leo atau sedih karena pisah sama Mama. Sampai nggak bisa gue bedain. Dia mengalir begitu derasnya, tak bisa ditahan sedikit pun. Seorang pramugari memberikan arahan banyak hal sebelum pesawat bertolak. Sebuah bantal leher yang disediakan maskapai menjadi sandaran nyaman saat ini. Gue pejamkan mata, mengusir sendu yang terlalu. Lebih tepatnya meredam kecemasan untuk pengalaman pertama naik unggas besi. Getar mulai terasa, pelan-pelan pesawat bergerak. Gue memilih tidur, tidak ingin mengintip sedikit pun pemandangan lepas landas tersebut. Menyusut dalam-dalam air mata agar tidak tumpah lagi. Capek gue tuh. Tangan Leo, lembut meremas jemari gue. Entah, mungkin dia berusaha menguatkan agar tak menangis lagi. Atau sekedar pencitraan semata. Gue nggak peduli. Mata saja yang terpejam, tapi tak benar-benar tertidur. Entah sedang berada di ketinggian berapa saat ini. Yang jelas, laju pesawat sangat tenang. Satu kecupan mendarat di pipi kanan. Sialan! Berani-beraninya dia. Lancang sekali manusia ini. Oh Lord, pipi gue menghangat ... jangan sampai ada semu merah di sana. Itu hal yang tidak boleh terjadi. Please, not blushing! "Kirain tidur beneran." Leo berkata lunak. Mata gue semakin mengatup, tak berdaya dan tak bernyali untuk membuka barang sedikit saja. Malu. Kenapa bisa-bisanya dia melakukan hal itu? Awas ya ente, Leo! Eh kok ente. Sengaja banget curi-curi kesempatan. Dasar otak mesum! 🍁 "Semua sudah?" tanya Leo datar. Gue hitung lagi koper-koper yang berjejer. Mengingat-ingat warna dan jenisnya. Menepuk-nepuk dagu dengan telunjuk tanda berpikir keras. "Sudah." "Oke, kita tunggu jemputan," ulasnya singkat. "Hmm." Tidak terlalu lama, satu orang datang menghampiri. Pria dewasa dengan tubuh tegap. Darmono, tertulis nama pada tagname di seragamnya yang berwarna biru tua. "Mobil sudah di depan, Den Leo, Non Ara. Nanti koper-koper biar saya bawa ke sana pakai troli. Monggo, silakan." Dari umur, lebih tepat gue panggil dia Mas. Leo berjalan cepat, tidak peduli gue kesusahan mengimbangi langkahnya. Seperti anak kecil bodoh yang mengekor laki-laki dewasa. Dia sama sekali nggak respect melihat gue harus berlari-lari kecil mengejar langkahnya. Hingga mobil dikemudikan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, dia masih diam membisu. Mungkinkah Leo ini ketempelan saat diatas pesawat? Atau jiwa-nya jatuh tadi, aah ... entahlah. "Non Ara mau beli sesuatu dulu barangkali sebelum kita ke rumah?" Mas Darmono melirik dari spion depan, sambil fokus mengemudi. "Nggak ada, langsung ke rumah, Mas!" sambar Leo seketika. Bibir gue tadinya terangkat sedikit hendak menjawab pertanyaan Mas Darmono. Tiba-tiba dicegat dan dicekal kulkas bernyawa di sebelah. Gelay gue! "Good sekali bapak ini!" desisku kesal. "Orang mau jajan juga!" 🍁 Rumah minimalis, dengan hiasan batu alam hijau seperti zamrud menyambut kedatangan gue. Bunga-bunga terawat baik, suasana terlihat asri. Ada kolam kecil dan ikan hias di tepi pagar pembatas dengan rumah lain. Mas Darmono menurunkan koper dari mobil. Mengangkut satu persatu ke dalam rumah. Agak jerih nampaknya dia lakukan sendiri. Setelahnya muncul dua orang lain yang ikut berjibaku. "Itu kamar kamu, ini kamar aku. Aku haramkan kamu menjejakkan kaki di kamar ini, kecuali atas seizin pemiliknya!" kecam Leo saat berada di ruang tamu. Dia menunjuk dua kamar yang berseberangan. Rumah ini memang desain minimalis. Perabotan lengkap, tertata dengan rapi. "Ada si Mbok untuk bantu urusan rumah nanti. Mas Darmono bagian mobil. Ada lagi Pak Kusno tukang kebun." Leo menjelaskan sambil membongkar isi koper. "Silahkan barang-barangnya bawa ke kamar sendiri!" titahnya. Tiba-tiba hati gue mencelos. Sedih, tidak juga ... prihatin. Mendadak seperti anak kecil yang diperintah-perintah oleh lelaki dewasa. Tanpa peduli perasaannya seperti apa. Perlahan gue tarik dua koper menuju kamar yang dimaksud Leo. Entahlah, kamar ini cozy ... tapi tidak mempan untuk memulihkan mood yang rusak parah. Apa jadinya harus hidup begini setiap hari. Bisa-bisa gue depresi atau malah dijadiin babu sama Leo. Gue benci overthinking ini, Tuhan. Gue mendadak takut, tanpa sebab yang jelas. Sangat tidak siap atas suguhan kenyataan ini. Ada dua orang berstatus suami-istri, sah secara agama dan negara. Hidup dalam jalur berbeda. Tidak lebih seperti anak kos, dan pemiliknya. Tidak saling sapa, tidak saling bicara sama sekali. Dua manusia yang dipersatukan ijab qabul, kini hidup satu rumah, tapi seperti berada di dunia berbeda. Satu berada di dunia nyata, satunya di dunia ghaib. Dia ada terlihat, tapi tak bisa diraba apalagi diajak bicara. Lalu, pada siapa harus gue aduin kekalutan ini? Adakah yang percaya nanti bila gue bersuara, atau hanya akan berujung judgement bahwa aku gila dan stress. "Ara, ngapain di dalam?" tegur Leo di depan pintu. Gue sapu air mata yang membanjiri pipi. Seperti apapun pura-pura tegar selama ini, gue tetaplah Tsamara, gadis muda yang lemah dan rapuh. "Nggak apa-apa." Nggak bisa gue sembunyiin, suara parau itu pasti terdengar olehnya. Tiba-tiba pintu berwarna abu-abu gelap itu terbuka. Loh, kok Leo bisa masuk, kan gue kunciin perasaan? "Nangis lagi? Mandi sana, ganti baju, habis ini keluar, belanja." Lelaki itu berkata dengan wajah serius. Nggak gue jawab kata-katanya. Dia mendekat, menarik tangan kiri gue. Memberikan handuk, mengisyaratkan agar segera mandi. Lagi, gue menurut. Membawa pilu yang nggak selesai-selesai. Di bawah guyuran air, tangis gue pecah. Sekuat tenaga gue tekan suara biar nggak kedengeran keluar. Gue nggak ubahnya seperti wanita terbuang sendirian. Mama, Ara rindu, Ara mau pulang aja! Sembari menggigit bibir, air mata terus saja berguguran. "Ra!" "Ara!" "Buruan, ya! Jangan lama." Seruan itu lebih memilukan. Seperti lagi dibentak-bentak sama orang. Hastagaaahh ... gue baper! Dia siapa, sih? Gue lagi bersama siapa sekarang? Bermenit-menit berlalu, akhirnya gue keluar dan bersiap-siap. Mengenakan pakaian terbaik yang gue punya. Entahlah, belanja ke mana tadi dia bilang. Hati gue rasanya mati. Selera hidup pias seketika. Ini kenyataan yang ada di depan mata, mau tidak mau harus gue hadapi. Mengenakan kaos polos berwarna hitam, celana jeans selutut dan sepatu santai, Leo keluar kamar. Sepersekian detik gue mematung menatap sosok lelaki itu. Tidak berbohong, dia memang keren. Lee min hoo kalah, etdah busyet. "Sudah?" tegurnya, membuyarkan ketakjuban gue. Gue mengangguk, kikuk. "Ayo," ulasnya masih dengan ekspresi wajah flat. "Mbok, kita keluar ya. Nggak usah banyak-banyak masaknya, kita makan di luar nanti. Mbok mau dibeliin apa?" serunya pada wanita paruh baya, ART di rumah ini. "Iya, Den. Apa ya, daster mungkin Den," jawabnya malu-malu. Leo tersenyum sedikit lebar, melihat tingkah si Mbok. Gue cukup tercengang melihat kehangatan sikap Leo pada lawan bicaranya. Berbanding terbalik dengan sikapnya pada gue. Gue ikuti langkahnya menuju ruang depan, hingga pintu keluar. Mas Darmono sedang disibukkan mengelap sepatunya. Terperanjat melihat kami muncul. "Mas, saya keluar ya. Nyetir sendiri, Mas istirahat aja dulu." "Wooah, mau nge-date ya, Den," goda Mas Darmono. "Ada-ada aja," tukas Leo, meraih kunci dari tangan Mas Darmono. "Selamat bersenang-senang, Non Ara." Mas Darmono bahkan menundukkan badannya sedikit tanda hormat, sambil cengengesan nggak jelas. Bersenang-senang? Gue bahkan sudah lupa kapan terakhir kalinya menikmati yang namanya bersenang-senang. Atau bisa jadi memang telah dihapuskan dari kamus kehidupan yang gue miliki? Hampir gue jawab seperti itu ucapan Mas Darmono. "Jalan dulu ya, Mang." Gue berikan senyuman sederhana padanya. Baru saja pantat gue menyentuh jok mobil di sebelah jok kemudi, Leo sudah berubah lagi air mukanya. Blangsak nih orang! Tbc
bagus
27/07
0suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,
08/02/2025
0bgus
21/10/2024
0ดูทั้งหมด