PART 8 PENDARAHAN Kring .... tiba-tiba, ponsel Ardhan berbunyi. Dia meninggalkan ponselnya di meja tempat mereka makan. Airin melirik nama pemanggilnya. My sweet heart. Airin berdecih kesal. Dibiarkannya ponsel itu hingga mati sendiri. Tak lama kemudian, ponsel Ardhan kembali berdering. Dengan kesal, Airin menolak panggilan itu dan menonaktifkan ponsel Ardhan. “Biar tahu rasa kamu!” ujar Airin kesal. *********************** Seharian ini, mood Kienan hancur. Hari ini adalah acara pentas seni di sekolah Bulan. Sayang, karena kondisinya yang mengharuskannya bedrest, dia tidak bisa menghadiri acara tersebut. Yang membuatnya semakin sakit hati, ternyata Airin datang menggantikan posisinya. Meskipun dia hadir atas permintaan Bulan, rasanya Kienan tidak rela. Dia tidak suka melihat sang suami dekat dengan mantan adik iparnya itu. Apapun alasannya, Kienan sangat faham jika wanita itu menaruh hati kepada suaminya. Pengalaman kegagalan pernikahannya sebelumnya, membuatnya merasa trauma. Dia takut jika Ardhan tergoda dan dia kembali menjadi janda. Tok tok tok .... “Masuk!” sahut Kienan tanpa meninggalkan ranjangnya. “Selamat siang! Maaf, Bu, ini teh dan camilannya!” ujar Niken, salah satu babysitter yang menangani putri kembarnya. “Terima kasih, Ken! Gimana anak-anak?” tanya Kienan seraya bangkit dari tempat tidurnya. “Mereka sedang bermain di belakang bersama Ratna, Bu!” sahut Niken. Niken membantu Kienan duduk dan menemani sejenak. Kienan masih sering merasa mual dan muntah. Untuk mengatasi hal itu, dia harus sering mengonsumsi camilan, entah itu buah atau kue. Usai membantu Kienan, Niken segera kembali untuk meneruskan pekerjaannya. Akhir-akhir ini, badan Kienan terasa semakin lemah. Dia merasa cepat lelah dan perutnya sering terasa kram. Vitamin yang diberikan dokternya, nyatanya tak mampu meredam rasa sakitnya. Untuk menghilangkan kejenuhan, Kienan membuka akun sosial medianya. Saat membuka aplikasi biru berlogo huruf F, mata Kienan terbeliak. Dia melihat sebuah mengetag nama suaminya dengan caption “Keluarga impian!” Berani sekali wanita itu, pikir Kienan. Tanpa terasa, air matanya menetes. Ketakutan kembali menjalari hatinya. “Ya Tuhan, jangan hadirkan orang ketiga dalam rumah tangga hamba!” harapnya dalam hati. Tak ingin berlama-lama, Kienan segera keluar dari aplikasi itu dan memilih memejamkan matanya. Sayang, berkali-kali dia mencoba, namun dia tetap tak bisa tertidur. Dengan malas, Kienan kembali membuka ponselnya. Dia kembali berselancar di dunia maya. Kienan tersenyum melihat postingan teman-temannya. Meskipun tidak sempat bertukar cerita di dunia nyata, namun keberadaan sosial media membuatnya masih merasa dekat dengan teman-temannya. Dia pun sering berbalas pesan dengan mereka. Tak lama kemudian, postingan Airin kembali muncul. Kali ini, mereka sedang makan di sebuah restoran langganannya. Hati Kienan kembali terasa nyeri. Kienan menangis tergugu. Tiba-tiba, dia merasakan nyeri hebat di perutnya bagian bawah. Sekuat tenaga dia mencoba menahannya, namun lama-kelamaan dia sudah tak sanggup lagi. Kienan mencoba menghubungi suaminya. Sekali, tidak dijawab. Kienan tak menyerah. Dia kembali menghubungi ponsel suaminya. Namun sayang, panggilannya direject. Saat Kienan kembali menghubungi lagi, ponsel suaminya sudah tak aktif. Kienan semakin tergugu. Ditambah lagi, nyeri di perutnya semakin hebat. Kienan sudah tak sanggup lagi. Lama-kelamaan, pandangannya mulai gelap dan dia tak ingat apa-apa lagi. *********************** “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tidak ada yang memberitahu aku?” tanya Ardhan emosi. Tadi, ketika dia tiba di rumah, dia mendapat kabar jika Kienan mengalami pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit. Bergegas, dia segera menyusul Kienan setelah sebelumnya menitipkan Bulan di rumah kedua orang tuanya. Ratna dan Niken menangani Celine dan Celena. Sementara Bi Asih menemani Kienan di rumah sakit dengan diantar Pak anton, sopir keluarga mereka. “Maaf, Pak! Kami juga tidak tahu! Tadi, saat Niken mengantar makan siang, Ibu sudah pingsan. Kami sudah mencoba menghubungi Bapak, tapi ponsel Bapak tidak aktif. Jadi, kami memutuskan segera membawa Ibu ke rumah sakit!” sahut Bi Asih sambil menunduk. Ardhan mengusap wajahnya kasar. Dia segera mengeluarkan ponselnya. Ternyata benar, ponselnya memang mati. Mungkin kehabisan daya, pikirnya. “Lalu, bagaiamana kondisinya sekarang?” tanya Ardhan lagi. “Saya juga belum tahu, Pak. Ibu masih ditangani di dalam. Dokternya belum keluar,” sahut Bi Asih masih sambil menunduk. “Maaf, saya sudah membentak Bibi tadi!” ujar Ardhan merasa bersalah. Dia tidak tega melihat wajah ketakutan Bi Asih. “Iya, Pak! Saya paham, kok! Bapak pasti khawatir!” sahut Bi Asih. Ardhan menghela napas panjang. “Sebaiknya Bibi pulang saja sama Pak Anton. Ibu biar saya yang jaga!” ujar Ardhan. “Maaf, Pak! Kalau boleh, saya ingin ikut menunggu disini! Saya ingin tahu kondisi Ibu!” ujar Bi Asih. “Baiklah, jika itu mau Bibi,” sahut Ardhan pasrah. “Terima kasih, Pak! Ibu beruntung memiliki suami sebaik Bapak!” ujar Bi Asih. Ardhan tersenyum tipis. “Saya bekerja di rumah Ibu sejak beliau masih remaja. Meskipun anak tunggal, Ibu gak manja,” ujar Bi Asih sambil menerawang. Ardhan trsenyum mendengar cerita Bi Asih. “Sepertinya, didikan Papanya berhasil. Dulu, sewaktu kecil, dia sering kabur dari rumah karena tidak mau disuruh tidur siang. Dia melompat dari jendela dan bersembunyi di rumah kami!” sahut Ardhan. “Benarkah? Wah, ternyata dulu sewaktu kecil, Ibu nakal juga, ya?” sahut Bi Asih sambil terkekeh. “Benar, Bi. Bahkan, pernah dulu, dia dihukum tidak mendapatkan uang saku karena ketahuan bermain di sawah dan memanjat pohon,” lanjut Ardhan. Dia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil mereka. Bi Asih kembali terkekeh mendengar cerita Ardhan. “Syukurlah, setelah remaja, Ibu sudah jadi anak yang manis dan mandiri. Bapak memang benar-benar mendidiknya dengan keras karena hanya Ibu yang diharapkan menjadi pewaris perusahaannya,” sahut Bi Asih. “Sepertinya harapan Papa terkabul. Perusahaan mereka kini berkembang dengan pesat,” sahut Ardhan. “Benar, Pak! Sayangnya, dulu, Bu Kienan memilih menyerahkan perusahaan untuk dikelola oleh Pak Akbar.” “Bukankah itu pilihannya sendiri? Dia ingin fokus menjadi ibu rumah tangga,” sahut Ardhan. “Benar, tapi sebenarnya, Bu Kienan melakukan itu untuk mengangkat derajat suaminya. Dia tidak mau suaminya direndahkan karena memiliki jabatan di bawah beliau,” ujar Bi Asih. Ardhan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dulu, sewaktu perusahaan mulai bermasalah, Bu Kienan sebenarnya sudah minta izin untuk kembali membantu mengelola perusahaan. Ibu merasa sayang jika sampai perusahaan kolaps. Sayangnya, Pak Akbar tidak mengizinkan.” “Apa itu setelah Akbar selingkuh?” tanya Ardhan hati-hati. “Iya, ternyata perusahaan tidak ada masalah. Yang ada, uangnya dikorupsi Pak Akbar untuk menghidupi gundiknya itu,” sahut Bi Asih geram. “Untungnya segera ketahuan. Jadi, perusahaan masih bisa diselamatkan. Waktu itu, Ibu benar-benar terpuruk. Orang yang sangat dicintai dan dipercaya, sudah menghianatinya. Bukan hanya rumah tangganya yang berantakan, perusahaannya pun bermasalah. Namun, beliau tetap berusaha tegar dan bangkit karena tahu sedang hamil. Meski kondisinya lemah, Ibu tetap berusaha berjuang demi anak yang sudah dinantikannya!” Ardhan mendengarkan cerita Bi Asih dengan seksama. Kienan sudah mengalami masa-masa yang sulit sebelum bertemu dengannya. Dia berjanji dalam hatinya, tidak akan menyakiti wanita yang dicintainya itu. Tiba-tiba, ruang perawatan terbuka. Seorang dokter tampak keluar, Ardhan dan Bi Asih menghampirinya. “Dokter, bagaiamana keadaan istri saya?” tanya Ardhan panik.
mntap
9d
0tolong WD nya dikurangin dikit
22d
0bagusss
03/06
0ดูทั้งหมด