logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Chapter7_Suara hati Iqbal

Hanny sedang menyiapkan dokumen untuk dibawa Iqbal ke persidangan lusa, saat tiba-tiba pendengarannya menangkap notifikasi dari akun berwarna hijau.
[“Selamat pagi, Cantik,”]
Hanny senyum-senyum sendiri saat membaca pesan dari sosok yang sejak semalam tadi memenuhi setiap sudut dalam pikirnya.
[“pagi, Dave,”] dengan perasaan berbunga Hanny membalas pesan Dave.
[“Nanti siang aku jemput, ya,”]
[“Ehm, tidak perlu, Dave. Kita ketemu di tempat aja, deket, kok.”]
[“Serius gak mau kujemput?”]
[“Iya.”]
[“Ya sudah, kalo gitu sampai ketemu nanti siang, ya.”] Hanny tersenyum membaca chat terakhir Dave.
Beberapa jam menuju jam makan siang kali ini terasa sangat lamban buat Hanny, tanpa disadarinya berkali-kali dalam satu jam netranya melirik putaran jarum yang dirasa semakin lamban berputar.
POV Iqbal
Sejak kepergian Dinda—putriku--setahun yang lalu, hidupku hampa, tak ada lagi yang menjadi penyemangat hidup. Entahlah aku bekerja untuk siapa, harta yang bertahun-tahun kukumpulkan ini entah untuk siapa. Namun, sejak kedatangan seorang perempuan muda yang melamar sebagai sekretaris, bunga-bunga yang sempat layu tak bergairah, kini kembali mekar dan menguarkan harum penuh pengharapan.
Hanny Pertiwi. Itu nama perempuan yang kini menjadi asisten pribadiku. Usianya jauh di bawah usiaku bahkan mungkin hanya selisih beberapa tahun saja dengan Almarhumah Dinda.
Hanny sangat cerdas, tentu saja beban pekerjaan yang sekiranya dia bisa membantu, aku serahkan padanya. Dia dapat memahaminya hanya dengan satu kali saja aku memberikannya pengarahan.
Berawal ketika sore itu seorang laki-kali dewasa tengah menyeret seorang anak kecil yang setelah dekat dapat kukenali kalau anak itu ternyata Dion. Laki-laki itu merupakan mantan suami Hanny dan ayah biologis bagi Dion. Sejak kejadian hari itu, semakin kuat niat hati ini untuk melindungi keduanya.
“Saya pun merasa seperti itu, Pak. Tapi, nantilah saya coba cari yang sesuai sama kemampuan saya, Pak.”
Itu jawabannya saat ditanya apa tak sebaiknya dia pindah dari tempat itu untuk menjaga kemungkinan mantan suaminya datang lagi dan berbuat hal yang sama.
Lalu tiba-tiba saja kuteringat, sebuah rumah yang tadinya akan kuhadiahkan untuk pernikahan putriku, kini rumah itu kosong dan hanya dirawat oleh sepasang suami istri yang datang hanya untuk membersihkan. Sepertinya tak salah jika rumah itu kuhadiahkan untuk Hanny dan Dion.
Aku membawanya ke rumah yang sejak kejadian tragis yang menimpa putriku dan calon suaminya, tak lagi pernah aku datangi, air mata haru dalam tangis yang ditahan saat ku sampaikan padanya jika rumah ini resmi menjadi kepemilikan atas nama dirinya. Tubuhnya bergetar, dengan raut muka yang sangat polos begitu tampak syok menerima semua ini.
“Sa—saya tidak tahu harus bagaimana cara saya berterima kasih pada Bapak, selama ini Bapak sudah begitu banyak membantu saya, ditambah lagi sekarang, Bapak memberikan rumah itu pada saya, serasa mimpi saya menerima semua ini,” ucapnya saat kunci rumah telah ada dalam genggamannya.
Bolehkah aku memiliki rasa yang lebih? Tetapi, aku tak ingin jika dia mengetahuinya itu malah menjadikannya menjauh. Biarlah tetap seperti ini supaya aku bisa tetap menikmati kebersamaan dengannya, tetap bisa menikmati senyum dan kepolosannya yang terkadang membuat hampir lupa siapa diri ini.
Aku terhenyak dari lamunan tentang Perempuan bermata bulat dengan pipi sedikit berisi dan hidung yang tak terlalu mancung, tetapi sangat membuatku betah berlama-lama memandangnya. Perlahan tanganku meraih ponsel yang menjerit-jerit di atas nakas, tertulis nama Mulyadi--orang kepercayaanku--ada apa?
“Hallo! Ya, selamat malam, Pak Mul, ada apa?”
“Hallo, selamat malam, Pak, maaf mengganggu,”
“Ada kabar apa rupanya, Pak Mul?”
“Maaf, Pak, apakah Bapak bisa datang ke Bandung besok, Pak?”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Iya, sedikit masalah tapi ada yang lebih penting, Pak,”
“Oke, besok pagi saya berangkat, tolong siapkan apa saja yang saya butuhkan,”
“Baik, Pak.”
Besok pagi aku harus ke Bandung, dan seketika terpikir sesuatu yang selama ini ku anggap hampir tak akan ada gunanya. Gegas kurapikan apa saja yang harus dibawa. Untuk urusan kantor, percayakan semua pada Hanny ia bisa mengatasinya.
***
Akhirnya waktu yang dinanti akan segera tiba, masih ada sekitar tiga puluh menit lagi untuk Hanny merapikan diri, gegas Hanny menuju toilet dan merapikan make up yang sama sekali tak berubah sedari tadi, hanya karena ingin tampil sempurna di depan Dave, Hanny merasa penampilannya ada saja yang kurang.
Setelah merasa rapi ia gegas keluar dari kantor dan menuju cafe yang telah disepakati untuk mereka bertemu siang ini. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja Hanny sudah tiba di depan cafe, segera ia masuk dan netranya menyapu seisi ruangan.
Seorang pelayan wanita berkulit bersih dengan senyum manisnya menyapa Hanny dengan ramah.
“Selamat siang, dengan Mbak Hanny?” tanyanya seraya menganggukkan kepala.
“Iya,” jawab Hanny yang merasa sedikit heran karena si Mbak itu menyebutkan namanya.
“Mari silahkan, Mbak sudah ditunggu,”
Dengan diantar pelayan tadi, Hanny menuju satu ruang yang sudah dipesan Dave untuk acara makan siang mereka.
“Silahkan, Mbak,” Hanny dipersilahkan masuk setelah pintu ruangan itu terbuka.
“Terima kasih.”
Di dalam ruangan yang diterangi lampu sedikit meredup dan alunan musik instrumen yang ringan, Dave menyambut Hanny seraya memberikan setangkai mawar merah yang melambangkan cinta. Hanny merasa tersanjung sekali , karena sebelumnya ia tidak pernah diperlakukan seperti ini.
Dave menarik kursi dan mempersilahkan Hanny untuk duduk. Hanny sedikit canggung karena baginya ini pertama kali kencan dengan konsep seperti ini. Dulu, Waktu pertama kali Hadi mendekatinya, Hanny diajaknya makan bakso di kios pinggir jalan, sengaja hanya memesan satu mangkok, karena porsi baksonya pun lumayan besar. Satu mangkok bakso dimakan berdua degan minuman es teh manis kemasan botol.
Tak lama kemudian pelayan masuk dengan membawa berbagai hidangan yang memang sudah dipesan sebelumnya oleh Dave.
“Silakan, Tuan Putri,” canda Dave begitu semua pesanannya sudah terhidang di meja dan siap santap.
Rona merah jelas terlihat di wajah Hanny yang dipoles bedak sekadarnya. Dave memang jago dalam hal menaklukkan hati wanita.
Mereka makan dengan perasaan berbunga di hati keduanya, terlebih lagi Hanny yang merasa sangat tersanjung sekali dengan perlakuan Dave terhadapnya. Selesai makan, Dave menyentuh jemari Hanny, sementara pemilik tangan itu sudah merasakan tak karuan dalam dadanya.
“Hanny ... boleh aku bicara sesuatu?” Dave bertanya pada Hanny, sementara yang ditanya hanya menjawab dengan senyum dan menganggukkan kepala.
Laki-laki berwajah oriental itu bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri dan berlutut di hadapan Hanny yang seketika menjadi salah tingkah.
“Hanny ... i love you, maukah menjadi kekasihku?”

หนังสือแสดงความคิดเห็น (100)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus menarik , pelajaran hidup kalo mengenal orang selidiki dulu ..

    23d

      0
  • avatar
    TiniWartini

    bagus Thor, lanjut....

    29/06

      0
  • avatar
    Jessi Latu

    bagus

    21/02

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด