Part 1 Sementara Ngontrak Hai, aku Rania. Wanita muda yang baru saja menikah dengan anak pemilik perusahaan di tempat aku magang dulu. Ini kisahku yang selalu direndahkan oleh keluarga mantan pacar karena aku berasal dari kalangan biasa, hidup hanya berdua dengan Mama, dan Mama hanya seorang wanita yang berprofesi sebagai penjahit. Kisah hidupku tidak selalu mulus, Papa meninggal saat usiaku masih sangat kecil. Papa meninggal dalam insiden perampokan di rumah kami. Nanti aku ceritakan bagaimana sedihnya malam saat kejadian itu. Bertahun-tahun kami berdua berusaha dan terus berjuang untuk bertahan hidup. Dari SD sampai bisa kuliah, semuanya adalah perjuangan. Kisah cinta dengan mantan pacar memberikanku banyak pengalaman berharga. Sebagai wanita tangguh, kita jangan sampai terlalu bucin pada pasangan apalagi hanya berstatus sebagai pacar. Ada baiknya lihat secara keseluruhan terutama dari dalam keluarganya. Jangan sampai kita menyesal setelah menikah, kehidupan yang diharapakan indah justru menjadi racun. Jangan sampai malah terjebak dalam keluarga toxic yang hanya ingin memanfaatkan kita saja. Kita berhak bahagia, sebelum semuanya terlanjur lebih baik putus saja. Keputusanku untuk berpisah dengan mantan ternyata membuahkan hasil yang manis. Kini aku hidup bahagia bersama keluarga baruku yang berasal dari kalangan atas. Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat menjadi anggota keluarga konglomerat. Meskipun mereka kaya namun ternyata mereka sangat baik padaku. Mereka menerimaku bukan karena melihat dari mana aku berasal. Kasih dan cinta mereka begitu tulus, bagitu juga sebaliknya. Aku akan siap berkorban untuk mereka semua. Sayangnya keluarga mantan tak pernah tahu kini nasibku telah banyak berubah. Mereka bahkan masih menyangka jika aku masih hidup miskin dan tak layak untuk dipandang. Bagaimana caraku untuk melawan hinaan mereka padaku? Aku baru saja selesai membereskan barang-barang ke dalam rumah kontrakan kami. Suamiku —Mas Zaki, langsung kembali ke kantornya setelah urusan beberes kelar. “Loh, kamu Rania, kan? Mantan pacarnya si Hendi adik aku?” tiba-tiba orang di sebelah rumah menyapaku. Ya salaam … ternyata dia Mbak Maria, kakak dari Mas Hendi, mantan pacarku dulu. “Eh, Mbak Maria, apa kabarnya, Mbak?” Aku menghampiri pagar rumahnya dan menyalaminya. “Kamu beli rumah di sini?” tanyanya dengan tatapan menyelidik. “Emm … bukan, Mbak. Cuma ngontrak. “Ooh … wajar, sih, kamu mana mampu beli perumahan di kompleks ini! Ya udah, sini duduk, tapi sandalnya dilepas, ya! Entar ubin marmer aku kotor!” ujarnya. “Iya, Mbak,” jawabku santai. Aku pun melepas sandal dan duduk di teras rumahnya. Inilah sebabnya dulu, aku berpikir panjang hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Mas Hendi. Keluarganya kurang beradab. “Tapi, yang tadi itu suami kamu?” tanyanya lagi. “Iya, Mas Zaki.” “Itu mobil punya sendiri apa pinjem?” cecarnya lagi. Pasti tadi dia melihat kalau Mas Zaki pergi dengan Fortunernya. Haduuh! “Ooh … mobil kantornya, Mbak.” “Hmm … sudah kuduga, sih! Kamu gak nyesel gagal kawin sama si Hendi?” “Sudah lama berlalu, Mbak. Mungkin kami bukan jodoh.” “Itu, lah, kamu pasti nyesel, kan? Si Hendi sekarang udah merid sama anak orang kaya, lho! Rumahnya aja besaaarr ….” “Syukurlah, Mbak.” “Kamu tau, gak? Dia kerja di mana?” “Di mana, Mbak?” “Di perusahaan tambang HS Group!” “Waaw … pantesan gajinya gede, ya?” ujarku seraya tersenyum. Nama perusahaan itu memang sudah familiar di telingaku. “Jelas, lah! Pasti kamu nyesel, kan?” “Enggak, lah, Mbak. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Aku cukup bahagia dengan rumah tanggaku sekarang.” “Kamu, sih, pake minta putus segala dari si Hendi. Sekarang dapat suami kere, bisanya cuma sewa rumah doank! Mobil aja gak punya.” “Gak apa-apa, Mbak. Aku sudah bersyukur dengan kehidupanku sekarang.” “Alah, Ran! Mana mungkin kamu gak nyesel, kalo aja dulu kamu gak minta putus, trus jadi nikah sama Hendi, pasti kamu sekarang hidup enak.” “Mbak, aku permisi pulang, ya!” “Kok buru-buru amat? Aku belum habis cerita, lho! Kamu gak pengen masuk dulu buat liat-liat isi rumah aku?” “Hehe … lain kali gak apa-apa, ya, Mbak?” “Ya udah, deh! Tapi, kamu sewa rumah itu berapa juta sebulan?” “Mmm … aku gak tau, Mbak. Itu urusannya Mas Zaki. Kami hanya sementara aja, kok.” “Hahaha … ya iya, lah. Sewa rumah di kompleks elite begini pasti mahal, kalian gak akan sanggup kalo kelamaan!” Mbak Maria tertawa mengejek. “Hehehe … iya, Mbak. Permisi ….” Akhirnya bisa bernapas lega setelah bisa menjauh dari Mbak Maria. Mungkin dia memang tak perlu tahu, kalau HS Group itu punya Papa mertuaku, dan Mas Hendi adalah bawahan suamiku di kantor cabang luar pulau. Kami mengontrak sementara karena kami sedang merenovasi istana megah milik kami di pusat kota. Rumah dengan lima puluh pilar besar. Sekali lagi aku bersyukur, untung saja dulu aku tak jadi menikah dengan Mas Hendi.
ooooo
14d
0bagus
29d
0nice
22/12
0ดูทั้งหมด