logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

BAB 3. Rencana Untuk Besok

“Maaf, selarut ini ….”
“Oh, tidak masalah Bu. Receptionist buka 24 jam,” jawab laki-laki muda itu sambil masih disertai senyuman terbaiknya selarut itu. “Ibu mau pesan kamar?” lanjutnya lagi.
“Iya, betul. Apa masih ada yang kosong?”
“Kebetulan masih banyak kamar kosong, Bu. Karena sekarang bukan weekend atau libur tanggal merah,” jawabnya dengan ramah dan sopan.
“Ahhh … syukurlah,” ucap mama lega, dia melihat ke belakangnya sebentar, Erina tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Baik, saya mau satu kamar. Double room atau twin room boleh.”
Setelah menerima kunci, mama dan Erina segera menuju kamar mereka. Rasanya nikmat sekali bisa merebahkan badan yang sangat lelah di kasur empuk dan bersih. Erina bahkan segera terlelap begitu tubuhnya menyentuh kasur, mama yang membuka sepatu putrinya itu, lalu merapikan tas sekedarnya. Mama memandangi wajah Erina, seketika itu juga dia teringat pada Elena. Wajah mereka berdua begitu mirip hingga hanya orang-orang yang terdekat yang bisa membedakan dengan cepat.
“Rin, maafin Mama, ya.”
Setelah mama membersihkan diri di kamar mandi, dia malah sama sekali tak mengantuk. Pikirannya begitu terjaga, seperti begitu banyak pekerjaan yang tertunda, yang harus segera dikerjakan besok pagi.
Pikirannya kembali pada sekitar lima jam lalu. Saat dia sengaja membuntuti suaminya dan berakhir di sebuah restoran. Dianti, sengaja duduk tidak jauh dari Adikara, suaminya, agar dia tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya malam itu, dan bersama dengan siapa. Posisi mejanya terhalangi oleh sebuah tiang besar, dan Dianti duduk membelakangi Adikara. Tak lama menunggu, seorang laki-laki yang jauh lebih muda dari suaminya datang, laki-laki yang begitu tampan dan bertubuh sempurna. Pembawaannya sangat tenang, dan seperti seseorang yang sangat berkelas. Dianti mencuri pandang beberapa kali, tapi tetap tidak ingat pernah mengenal laki-laki tampan itu. Jadi dia hanya mengandalkan indera pendengarannya saja untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Dilihat dari raut wajah laki-laki itu, pasti topik yang sangat serius.
Dan setelah beberapa menit berlalu, Dianti menjadi tegang. Walau hanya samar yang terdengar tapi dia yakin kemana arah pembicaraan suaminya dengan laki-laki itu. Yang sebetulnya telah dia curigai sejak lama, hingga berbuntut diam-diam mengikuti suaminya sejak pulang dari kantor. Rasanya, demi apapun, perempuan itu tak ingin mempercayai apa yang masuk ke telinganya, tapi itulah kenyataan yang akan dihadapi. Dianti menghembuskan napasnya dengan berat, sesak rasanya, apalagi setelah dia mengintip dari pantulan cermin kecil yang dipegangnya, dia melihat suaminya sedang menandatangani sebuah surat perjanjian. Yang sebagian isinya dibacakan dengan pelan dan penuh penekanan oleh laki-laki tampan itu.
Dianti begitu tersentak saat mendengar apa yang diucapkan lelaki di hadapan suaminya itu. Bagaimana mungkin lelaki berwajah dan tubuh nyaris sempurna, yang pastinya akan mudah memikat banyak hati wanita, bisa-bisanya malah menyebutkan nama kedua putrinya, yang di tahun ini baru berusia enam belas tahun, dan masih duduk di bangku sekolah SMA.
Setelah dirasa informasi yang dibutuhkan cukup, ibu muda dari dua putri kembar itu segera berdiri, tanpa menghabiskan minuman dan makanan di meja. Otaknya langsung berpikir keras, dan memerintahkan tubuhnya untuk segera bertindak, berlari, demi menyelamatkan kedua putrinya. Tapi sial, karena terlalu tergesa, kakinya justru menyenggol salah satu meja, padahal saat itu dia sudah hampir mencapai pintu keluar. Dianti meminta maaf pada dua orang yang sedang menikmati makanan di meja itu. Dan sebelum dia melanjutkan langkahnya, perempuan itu sempat menengok ke belakang, untuk memastikan suaminya tidak melihat.
Dan justru saat itulah, Dianti bertemu pandang dengan Adikara, mungkin suaminya itu sempat mendengar suaranya tadi. Mereka berdua sama-sama terkesiap beberapa saat, Dianti lebih dulu sadar, dia segera keluar dari restoran. Nasib baik belum juga menyapa dirinya malam itu, hujan deras membuat langkahnya terhenti. Dia berpikir akan lama menunggu taksi, maka matanya mencari ke sekeliling. Begitu melihat pangkalan ojek yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang, Dianti segera berlari menembus hujan. Untungnya seorang tukang ojek bersedia mengantarkannya walaupun hujan begitu derasnya mengguyur mereka berdua sepanjang jalan.
“Ma.” Rupanya Erina terbangun dari tidurnya. Dia melihat mamanya di sebelah, yang masih duduk memeluk lutut di atas kasur. Lalu melihat jam tangannya sendiri, sudah pukul 01.30.
“Ma, ayo tidur. Istirahat, Mama jangan sakit.”
Mama hanya tersenyum mendengar kalimat Erina. Putri sulungnya itu memang tak pandai untuk berbelit-belit dalam berbicara, apa yang diucapkannya langsung pada tujuan. Atau lebih baik diam, hanya mengamati lawan bicaranya saja.
“Iya, Rin. Mama cuma gak ngantuk saja.”
Erina jadi ikut menegakkan punggungnya, ikut duduk di sebelah mama. “Ma, sebetulnya papa kenapa? Sampe kita harus kabur dari rumah.”
“Rin, Mama belum bisa cerita sekarang. Yang penting kita selamat dulu, lalu nanti kita kembali ke rumah, untuk bawa Elena pergi.” Mama mengusap-usap kepala Erina, untuk menenangkan hati putrinya itu.
“Terus besok kita mau kemana, Ma?”
“Mama lagi pikirin itu, Rin. Yang jelas besok pagi-pagi kita sudah harus jalan lagi.”
Erina hanya mengangguk pelan, tak ingin bertanya lagi. “Ayo, Ma. Tidur.”
“Iya,” jawab mama lalu merebahkan badannya yang sudah sangat lelah. Tak berapa lama, mereka berdua sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing.
***
Sementara itu, beberapa kilo dari ‘Hotel Sakinah’, Adikara seorang diri mondar-mandir di dalam kamarnya. Dari tadi dia berusaha keras untuk memejamkan mata, tapi tak berhasil. Sudah habis segelas cokelat hangat, yang biasanya dibuatkan oleh istrinya. Lalu menonton televisi, melihat-lihat media sosial di layar handphone. Namun matanya tak juga lelah. Laki-laki berusia lima puluh dua tahun itu sibuk memikirkan istrinya dan juga putri sulungnya. Kemana dia harus mencari besok. Dan apa pula yang akan dijelaskannya pada Dewangga.
Untuk kesekian kali Adikara kembali mencoba menghubungi nomor handphone istrinya. Dan masih sama, setelah satu kali dering panggilan, langsung dijawab oleh mesin, bahwa nomor yang dihubungi tidak tersedia. Nomornya pasti sudah diblokir oleh Dianti, pikir Adikara.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (94)

  • avatar
    Clearence Bernard

    cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus

    11/04/2022

      1
  • avatar
    DamaraRaissa

    bagusss

    01/07/2025

      0
  • avatar
    CahyaniDina Nur

    bagus banget kak

    15/06/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด