Setelah berhasil keluar dari rumah, tubuh kekarnya segera berlari menembus hujan. Namun kemanapun arah mata mencari, dia tak menemukan sosok istri dan anaknya. Hingga sampai di persimpangan pertama, dia baru berhenti berlari, hanya terlihat deretan rumah dan pepohonan yang basah, dan setiap ujung jalan yang terlihat, hanya ada gelap. “Ah, kemana mereka? Cepat sekali hilangnya,” sungut papa sendirian. Dia memutuskan kembali ke rumah, teringat Elena yang ditinggal sendirian tadi. Sementara itu dua pasang mata sedang waspada di balik pohon angsana besar yang berderet rapi di sepanjang jalan utama kompleks perumahan. Setelah yakin suaminya telah kembali menuju rumah, mama segera membuka payungnya kembali. Sejak tadi saat mendengar langkah kaki berlari mendekat, mereka berlindung dari hujan di bawah lebatnya daun angsana. “Ayo, Erin. Kita jalan lagi,” bisik mama di sebelah Erina, yang segera dijawab dengan anggukan. “Ma, kita mau kemana?” tanya Erina tanpa memelankan langkah kakinya. “Malam ini kita cari tempat penginapan yang agak ke pinggir kota. Anggap kita sedang bersembunyi dari kejaran penjahat.” “Hah, penjahat?” Mama tidak menjawab lagi, dia terus berjalan sambil matanya tetap waspada melihat ke sekeliling, dan kadang-kadang menengok ke belakang. *** Papa mendapati putrinya masih menangis sambil terduduk di lantai memeluk tas ransel warna coral. Papa segera mendatangi Elena, mengusap-usap rambut panjangnya, berusaha menenangkan, padahal hatinya sendiri sangat resah sekarang. “Pa, kenapa mama pergi? Kenapa mama bawa Erin?” tanya Elena di tengah isaknya. “Papa juga bingung, Len. Mama kamu seperti … lagi ada masalah berat. Tapi kamu jangan khawatir, besok papa akan mencari mereka lagi. Ya?” bujuk papa sambil menatap mata Elena. “Iya, Pa.” “Sekarang kamu istirahat ya. Papa gak mau kamu jadi sakit.” Beringsut Elena berdiri dari duduknya. Sambil menenteng tas ransel yang berat karena sudah terisi penuh, gadis itu menaiki tangga menuju kamarnya. Air matanya kembali mengalir, begitu mencium aroma kamarnya, ada aroma Erina di sana. Aroma musk bercampur vanilla. Elena merangkak merebahkan diri di tempat tidur besar, yang biasa ditempatinya berdua dengan Erina, kakaknya. Sekarang terasa begitu luas untuk dirinya sendiri. Karena badan dan juga pikirannya sudah terlalu lelah, akhirnya Elena tertidur sambil memeluk tas ransel itu. Tanpa disadarinya, papa membuka pintu kamar perlahan, lalu memandangi wajah putri bungsunya. Lelaki setengah baya itu mengedarkan pandangannya ke seisi kamar, ada beberapa foto Elena dan Erina di sana. Dipegangnya perlahan satu foto Erina di atas meja belajar. Lelaki itu membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan, tampak sangat kacau. Setelah agak tenang, diusapnya pelan rambut Elena, lalu keluar dari kamar dan menutup pintunya pelan-pelan. Papa mengunci pintu kamarnya, lalu menelepon seseorang. Tangannya agak bergetar, menunggu panggilan telepon dijawab. Dewangga : Hallo. Ada apa, Pak Adikara? Harus ada yang penting sekali anda menelepon saya jam segini. Adikara : Tentu. Ini penting sekali. Dewangga : Ada apa? Saya mendengarkan. (nada suara Dewangga terdengar lebih lantang sekarang) Adikara : Erina, salah satu putri saya, dibawa kabur ibunya. Dewangga : Apa? Kapan? Adikara : Baru saja. Besok sa- Dewangga : Besok temui saya di kantor, jam makan siang. Adikara : Baik. Sambungan telepon ditutup oleh Dewangga. Laki-laki yang baru saja terganggu tidurnya itu, tampak duduk dengan tegak di pinggiran kasur. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, kepalanya tiba-tiba agak pusing setelah menerima telepon dari Pak Adikara tadi. Dia beranjak perlahan dan mengambil segelas air putih di meja sebelah tempat tidur. “Aku akan mengatasinya. Ini bukan masalah,” bisiknya pelan, lebih kepada diri sendiri. *** “Ma,” panggil Erina pelan sambil menahan lengan mama yang berjalan selangkah di depannya. “Kenapa, Rin? Kamu capek?” Erina menjawab dengan anggukan kecil. Mama menuntun Erina untuk duduk di pinggir trotoar. Hujan sudah benar-benar berhenti. Tapi langit benar-benar gelap. Dan juga suasana yang sangat sepi. Hanya beberapa kendaraan roda dua dan roda empat sesekali lewat dengan kecepatan sedang. Lalu juga beberapa orang yang berjalan pelan sambil mendorong gerobak, berisi sisa barang rongsokan dan juga anak-anak mereka yang tertidur lelap beralas selimut kotor. “Ini.” Mama memberikan sebotol air pada Erina, dia sempat membawanya tadi dari rumah. Setelah meminum beberapa teguk, wajah Erina tampak lebih segar, badannya-pun kembali tegak. “Kuat jalan lagi?” tanya mama. “Iya, Ma,” jawab Erina sambil tersenyum tipis. Senyuman putrinya itu membuat mama lebih bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tujuannya sedari tadi adalah hotel terdekat, tapi belum ada satu hotelpun yang ditemui. Erina tampak menegakkan lehernya, matanya mencari-cari sesuatu di ujung jalan. “Cari apa, Rin?” “Mobil, Ma. Kalau ada mobil lewat, kita stop saja, kita ikut sampai ketemu hotel terdekat.” “Jangan!” jawab mama spontan dan agak keras. Sampai dirinya sama kagetnya dengan Erina. “Emmm … maksud Mama, kita jangan naik mobil orang sembarangan. Apalagi sudah malam begini, bahaya, Rin.” “Iya, Ma,” jawab Erina. Lalu kembali mengikuti langkah mamanya. “Ma, itu!” teriak Erina sambil menunjuk sebuah plang nama yang tidak terlalu besar berjarak sekitar sepuluh meter di depan Erina. Gadis itu berjalan dengan lebih cepat diikuti oleh mama yang juga menjadi sangat bersemangat langkahnya. “Hotel Sakinah,” ucap Erina pelan, dia membaca plang nama dengan lampu terang di hadapannya. “Ayo, Rin,” ajak mama kemudian melangkah masuk ke dalam kawasan hotel. Seorang satpam sedang terduduk dengan punggung menyender di kursinya. Tangannya masih memegang handphone tapi matanya tertutup. Rupanya satpam itu terlalu mengantuk sampai tertidur dengan posisi duduk. Mama dan Erina melewatinya begitu saja, memasuki ruangan kecil terdepan. Pintunya terbuka lebar, alunan shalawat juga masih terdengar walau dipasang begitu pelan. Hanya saja tidak ada siapa-siapa di sana. Mama mendekati meja dengan tulisan ‘receptionist’. Sedangkan Erina duduk di sofa panjang berwarna fuchsia. Gadis itu menyandarkan punggungnya dengan lega, tampak sedang melepas lelah. “Hallo?!” panggil mama sambil matanya mencari-cari seseorang, tapi tak ada satupun yang keluar dari ruangan dalam. Karena setelah menunggu beberapa detik masih sepi, akhirnya mama memencet bel kecil di atas meja. Tak lama kemudian seorang laki-laki berumur sekitar dua puluhan keluar dari ruangan dalam. Dia masih memakai seragam dengan rapi di jam sebelas malam lewat. Dan senyumnya juga masih terlihat tulus walau matanya sudah mulai sayu. “Assalamualaikum, Ibu. Selamat malam. Silakan.”
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
11/04/2022
1bagusss
01/07/2025
0bagus banget kak
15/06/2025
0ดูทั้งหมด