Perempuan itu berlari menuju pintu rumahnya setelah menutup pagar dengan cepat. Seluruh tubuhnya sudah telanjur kuyup oleh hujan yang deras, hingga mampu menyamarkan air matanya yang tak bisa dibendung sedari tadi. Ketukan di pintu depan seperti diburu sesuatu yang sangat gawat. Terdengar begitu kencang dan berulang dengan cepat. Erina dan Elena yang sedang berdandan bersama di kamar mereka saling menatap. “Mama!” teriak mereka bersamaan lalu segera berlari di tangga menuju lantai satu. Elena berusaha membuka kunci pintu dengan cepat, tapi malah gagal terus karena tangannya gemetaran mendengar suara ketukan yang semakin menderu. Erina mengambil alih, gadis itu lebih tenang, maka dengan cepat dia bisa membuka kunci pintu. Perempuan yang kini telah menggigil karena kedinginan sekaligus ketakutan, menyeruak masuk nyaris menabrak tubuh kedua putri kembarnya. “Mama kenapa?” Elena begitu khawatir melihat wajah mamanya yang sembab, bibirnya gemetaran dan pucat pasi. Setelah kembali menutup pintu dengan tergesa, mama memegang pundak kedua putrinya. “Lekas siapkan baju kalian, dan juga barang-barang kalian yang berharga, masukkan ke dalam ransel,” bisik mama, tapi suaranya berusaha meyakinkan. “Untuk apa, Ma?” tanya Elena kebingungan. “Nanti Mama jelaskan. Sekarang kalian cepat kerjakan yang Mama suruh!” Sekarang suara perempuan itu terdengar lebih lantang, nyaris berteriak. Bahkan tangannya sambil mendorong tubuh kedua putrinya itu. Elena tak membantah lagi, tangannya ditarik oleh Erina supaya segera menuruti perintah mama, walaupun mereka masih dilanda bingung, tapi mereka yakin setiap ucapan dari mama tak mungkin untuk menjerumuskan pada suatu yang salah. Kedua kakak beradik itu mengemas barang-barang dengan cepat ke tas ransel mereka masing-masing. Sedangkan mama setelah melihat kedua putrinya menaiki tangga menuju kamar mereka, dia sendiri berlari menuju ke kamarnya. Mama membongkar laci-laci lemari dengan brutal, mengumpulkan semua perhiasan dan dimasukkan dalam satu kotak. Juga barang berharga lainnya dan perlengkapan pribadinya sendiri, semua dimasukkan begitu saja ke dalam barrel bag besar. Brak! Pintu depan dibuka dengan kencang dan menimbulkan bunyi yang mengagetkan, bahkan suaranya sampai terdengar ke lantai dua. “Dianti! Dianti!” panggil suara itu menggelegar ke seisi rumah. Tapi mama tidak menghiraukan panggilan suaminya itu sama sekali, dia justru mempercepat mengepak barang-barangnya. Kedua gadis kembar yang juga sama sibuknya dengan sang mama, saling menatap sebentar, lalu mereka menganggukan kepala bersamaan. Tanpa sepatah katapun yang keluar, mereka seperti saling mengerti isi pikiran satu sama lain. Elena keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, meninggalkan Erina sendirian mengepak barang mereka berdua. “Pa!” panggil Elena, lalu menahan lengan papanya yang kekar. “Ada apa?” “Mama kamu mana?” “Elen gak tau, Pa. Papa kenapa teriak-teriak?” tanya Elena menatap wajah merah padam papanya. “Mama bilang apa sama kamu, Len?” “Mama gak bilang apa-apa. Elen pikir mama sudah tidur,” jawab gadis itu dengan wajah datar. Walaupun dia belum tahu pasti ada masalah apa pada kedua orangtuanya, tapi Elena sedang berusaha mengulur waktu. Supaya mamanya dan Erina dapat menyelesaikan apa yang sedang mereka kerjakan. Lelaki itu tampak menghembuskan napasnya dengan lega. “Ya sudah, Papa ke kamar dulu,” ucap papa dengan suara yang lebih tenang sekarang. Elena masih ingin menahan papanya, sekedar memberi waktu lebih untuk mama. Gadis itu memutar otak mencari bahan pembicaraan yang masuk akal, tapi yang dia dapat hanyalah ide-ide yang dangkal. “Eh, Pa, udah makan belum?” “Ya?” Papa menengok ke belakang, menatap lurus pada putrinya, dia tak terlalu mendengar pertanyaan barusan. “Papa sudah makan?” Bukannya menjawab, tapi lelaki itu malah melihat jam di dinding. Hampir jam sepuluh malam. Dan bukan hanya masalah waktu, tapi dia memang jarang sekali makan malam di rumah, kecuali hanya jika sedang libur kerja. Papa mengerutkan keningnya. “Kenapa, Len?” “Ah … ummm … nggak, maksud –“ Ucapan Elena yang terbata akhirnya terputus karena tiba-tiba dia melihat mama yang keluar dari kamar sambil menenteng sebuah tas besar. Dan papa, mengikuti pandangan Elena. Seketika raut wajahnya tegang, tatapannya begitu tajam dan mencekam pada istrinya itu. “Dianti! Kamu mau kemana?” “Kamu pikir, setelah aku tau rencana busuk kamu itu, aku masih akan membiarkan anak-anakku tinggal di rumah ini, heh? Itu gak akan terjadi, selama aku masih hidup!” Elena terkesiap, baru kali ini dia mendengar ucapan mama bisa sekasar itu, dan bahkan sampai berani membentak papa. Dan rupanya, Erina yang sudah keluar dari kamarnya, juga mematung di ujung tangga, karena kaget mendengar kalimat mama. Dia masih belum mengerti, apa maksud dari segala kegaduhan malam ini. “Diam, Dianti! Kamu jangan asal menyimpulkan, kamu salah paham!” “Mas, aku gak sebodoh itu,” ucap mama dengan suara tak sekeras tadi, tapi penuh penekanan. “Dianti, ayo kita bicarakan ini di kamar. Kasihan anak-anak jadi bingung.” Papa berusaha membujuk, tangannya diulurkan dan matanya berusaha menenangkan. Tapi tiba-tiba mama melihat ke arah tangga dan berteriak. “Erina! Ayo cepat bawa tas itu!” Erina melihat sebentar ke arah papa, lalu kemudian segera turun sambil membawa dua tas ransel besar. Miliknya, dan juga milik Elena. “Erina, mau kemana kamu, hah?” tanya Papa gusar. “Ayo, Erin!” Mama menarik tangan Erina, lalu menyerahkan satu tas pada Elena. “Ayo, Elen, kita pergi sekarang.” Erina menuruti mama, tapi matanya melihat papa dengan penuh tanda tanya. “Ma, kita pergi?” tanya Elena resah, gadis itu bulak balik antara melihat mama dan juga papanya. “Ya,” jawab mama singkat, lalu juga memegang tangan Elena. “Tidak! Tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini tanpa seizin Papa!” Papa segera mengejar lalu menarik tangan Erina dan Elena. Tapi mama tentu saja tidak akan tinggal diam, refleks mama juga menarik Erina dan Elena. “Mama! Pa!” Elena mulai menangis, pikirannya kalut, dia bingung mau ikut dengan siapa. “Sudah Ma, Pa, jangan begini,” ucap Erina memohon, dia tidak tahan melihat adik kembarnya menangis. “Mas, lepaskan anak-anak. Kasihan mereka. Lihat mereka itu anak kandung kamu, jangan tega begini!” “Diam kamu, Dianti! Aku yang berjuang untuk anak-anak dan kamu. Jangan membantah!” “Mas, kamu sudah gak waras!” Lelaki itu semakin geram dengan ucapan istrinya, dia menarik tangan Erina dan Elena dengan kencang, seketika istrinya terjatuh bersama dengan tas besar yang dibawanya. “Mama!” jerit Elena. Mama mengaduh, lalu memegang keningnya, ada luka gores di sana, terkena pinggiran kursi kayu jati. Erina kaget melihat darah di kening mama, segera dengan sekuat tenaga dia melepaskan tangannya dari papa, lalu berlari menolong perempuan yang sangat dicintainya itu. Mama Dianti berdiri dibantu oleh Erina, dia melihat suaminya mematung sambil masih memegangi Elena yang menangis tersedu. Bisa jadi suaminya itu terkejut dan ada sedikit penyesalan di hatinya. Dengan menahan rasa pusing di kepalanya, mama segera mengambil kesempatan itu. Dia mengambil tas yang tergeletak di lantai, lalu berlari sambil menarik Erina, menuju pintu depan. Tidak hanya itu, dia bahkan mengambil kunci pintunya, lalu keluar dan menguncinya, berharap dengan cara itu, akan memperlambat suaminya jika masih berniat mengejar. Dia pikir, setidaknya dia akan menyelamatkan satu putrinya dulu. “Mama!” teriak Elena tercengang. “Dianti!” teriak papa lalu melepaskan tangan Elena, dan memburu pintu. Tapi terlambat, pintu sudah dikunci dari luar. “Ah, sial. Hei kamu, jangan bawa Erina! Jangan menyusahkan anak sendiri!” Papa menggedor-gedor pintu, suara gedorannya berlomba dengan suara deru hujan. “Elena dengar! Mama akan menjemputmu nanti, atau Erina yang akan menjemputmu, itu pasti! Tunggu kami, Len!” teriak mama dari luar berusaha mengalahkan deru hujan. Elena dan papa tentu masih bisa mendengar suara itu. “Mama! Erin!” teriak Elena lalu ikut menggedor-gedor pintu. “Elen! Aku akan jemput kamu! Aku akan datang!” Terdengar suara Erina yang seperti semakin menjauh. Mama segera mengambil payung besar yang tergantung di tembok teras, lalu mereka berdua berjalan cepat menembus derasnya hujan. Meninggalkan Elena yang masih menangis, menatap tas ranselnya sendiri yang tergeletak di lantai. Walaupun suara mama dan Erina tadi hanya terdengar samar, tapi Elena yakin, suatu hari nanti mereka akan benar-benar datang untuk menjemput dirinya. Elena akan menunggu, untuk besok, lusa, dan seterusnya. Papa berhenti menggedor dan mengguncang pintu depan yang terkunci itu, dia baru sadar, akan sia-sia. Terlalu panik hingga papa lupa ada pintu samping dan belakang. Lelaki itu segera berlari menuju pintu samping.
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
11/04/2022
1bagusss
01/07/2025
0bagus banget kak
15/06/2025
0ดูทั้งหมด