logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 7 PTSD

"IBU! MAS RAKSA SUDAH DATANG."
Dari balik pintu rumah kediaman Bapak Ramdanu, Dipa berteriak penuh semangat.
"Dipa, malam-malam enggak boleh teriak. Nanti kalau ganggu orang yang sedang tidur bagaimana? Jangan diulangi lagi ya."
Dipa tertawa pelan, lalu meminta maaf kepada wanita setengah baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya. "Tidak akan diulangi lagi. Maaf, Bu."
"Iya. Sudah, cepat kamu buka pintu dan suruh mas Raksa masuk, karena udara di luar cukup dingin "
Seperti apa yang diperintahkan ibu, Dipa langsung berlari untuk membuka pintu agar Raksa bisa masuk ke dalam rumah.
"Raksa datang, Bu?"
Ibu mengangguk ketika Bapak yang baru saja keluar dari kamar mengajukan pertanyaan padanya.
"Lalu di mana Risa? Tumben dia tidak keluar kamar. Biasanya setiap Raksa datang ke sini, dia selalu menjadi orang pertama yang akan menyambutnya."
Mendengar perkataan Bapak, Ibu hanya tersenyum. "Risa lagi di kamar mandi."
"Oh, lalu yang bukain pintu, Dipa?"
Ibu mengangguk. "Biarin lah Pak, melihat Dipa semangat seperti itu saat Raksa datang, membuat hati Ibu ikut senang. Sudah lama juga kan, selama Dipa berada di sini, dia lebih banyak diam. Hitung-hitung, rasa kangennya terobati, karena kemarin-kemarin kan Raksa juga tidak datang."
"Benar juga."
Ada alasan, kenapa Dipa bisa tinggal di kediaman Risa.
Pasca insiden kecelakaan yang menimpa Rama, tepat setelah pemakan sudah usai, Ayah langsung mengantarkan anak bungsunya itu ke rumah keluarga Risa, dan meminta tolong kepada Bapak dan Ibu Risa untuk merawat Dipa.
Padahal Raksa selalu mengatakan, tidak perlu menitipkan Dipa kepada orang lain, karena dia sanggup merawat adiknya hingga tumbuh besar. Namun, seperti apa yang ayah katakan, kehidupan Dipa akan jauh lebih baik jika ikut bersama bapak dan ibunya Risa, hingga mau tidak mau Raksa harus menerima keputusan itu.
"Ibu, Mas Raksa sudah datang."
Dipa berjalan menuju Ibu dengan menenteng dua kresek penuh camilan sambil tersenyum bahagia dan diikuti Raksa di belakangnya.
"Kamu beli camilan kok banyak sekali, Sa?" tanya Bapak.
"Biar Dipa senang, Paman."
Bapak menghela nafas. "Harus mengatakan berapa kali, panggil Bapak saja, agar sama dengan Dipa dan Risa."
Raksa tertawa canggung. Rasanya sangat aneh ketika dia diminta oleh seseorang untuk memanggil dengan sebutan yang sebelumnya tidak pernah dia ucapkan.
"Jangan dipaksa, Raksa mungkin juga belum terbiasa, Pak," perkataan Ibu membuat perasaan Raksa semakin diserang rasa canggung.
Raksa akui, keluarganya dan keluarga Risa memang dekat, akan tetapi itukan keluarganya, bukan dia. Jadi, jika dipaksa untuk menjadi lebih dekat lagi, kalau memang ada perasaan canggung yang sulit untuk dihilangkan, lalu dia harus mengambil sikap seperti apa? Tentu tidak mungkin, mendadak dia bersikap sok dekat dengan keluarga Risa.
"Kamu duduk saja, Ibu buatin minuman hangat dulu."
Setelah itu ibu pergi ke dapur, sedangkan di ruang tengah, Raksa ditemani oleh Bapak dan Dipa.
"Tadi saat perjalanan ke sini, macet tidak, Sa?"
Raksa menggeleng pelan. "Tidak macet seperti biasanya."
"Syukur kalau begitu. Oh iya, Risa di kelas bagaimana? Baik-baik saja dan tidak ada masalah, kan?"
"Iya, semuanya baik-baik saja Paman."
Meski sudah sering datang ke rumah ini, entah kenapa perasaan canggung dan sungkan masih selalu ada dalam benak Raksa.
Tidak ingin merasa semakin canggung, Raksa segera mengajak Dipa membicarakan hal-hal yang tidak penting.
"Beberapa bulan lagi, kamu akan naik kelas tiga. Karena itu, belajar yang rajin biar bisa dapat nilai bagus. Oke?"
Dipa mengacungkan jempol, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya memakan camilan.
Sudah berkali-kali Ibu memanggil Risa agar segera keluar dari kamar mandi, untuk membantunya membawa teh hangat serta beberapa gorengan ke ruang tengah, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari anak gadisnya itu.
"Kamu masih lama di dalam kamar mandi? Ris, bantuin Ibu Nak."
Tidak menyerah, ibu tetap mengetuk pintu agar Risa segera keluar dari kamar mandi. "Nak? Risa?"
Tidak seperti biasanya langsung menjawab saat Ibu memanggil, sejak tadi Risa tetap tidak bersuara.
"Ris? Kamu dengar Ibu kan, Nak?"
Lagi, tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
"Risa? Pak! Bapak! Ris?" Ibu berteriak histeris, sebab khawatir.
"Kenapa, Bu? Ada apa teriak-teriak seperti itu?" Bapak yang mendengar teriakan Ibu tadi, langsung dibuat kebingungan saat melihat Ibu yang begitu panik di depan pintu kamar mandi.
"Risa, Ibu panggil tidak menjawab Pak. Sudah sejak tadi dia berada di dalam kamar mandi," ucap Ibu penuh kekhawatiran.
"Sebentar. Ris, tolong buka pintunya Nak," kata Bapak, sambil mengetuk-ngetuk pintu.
"Bagaimana ini, Pak?!"
"Ibu tenang dulu. Biar Ba--"
"Tenang bagaimana sih Pak?! Risa sejak tadi hanya diam saja!"
Raksa yang masih berada di ruang tengah bersama Dipa, merasa khawatir saat mendengar Ibu berteriak dari dapur, "Kamu di sini makan camilan saja ya, Mas mau lihat apa yang terjadi sama Bibi," setelah itu, dia segera berlari menuju dapur.
Bapak berusaha mendobrak pintu kamar mandi, tapi tidak berhasil.
"Pak ini bagaimana? Nak, buka pintunya."
"Ini Bapak lagi coba buka pintunya, Bu."
"Ada apa, Paman?"
Ibu langsung menangis saat melihat Raksa yang baru tiba. "Risa sejak tadi tidak menjawab saat Ibu panggil, Sa ...."
"Bapak sudah coba dobrak pintunya?"
"Sudah, tapi tidak bisa terbuka."
"Sebentar, Paman."
Raksa berlari keluar dapur melewati pintu belakang, kemudian memecahkan kaca jendela kamar mandi dan melihat Risa menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam bak mandi yang berisi penuh air.
Tanpa pikir panjang, Raksa langsung melompati jendela dan secepat mungkin menyelamatkan Risa.
"Ris. Bangun," ucap Raksa setelah mengangkat tubuh Risa dari dalam bak mandi, dan membaringkan tubuh gadis itu di lantai.
"Bangun, Ris ...." Raksa melakukan CPR, agar air yang tidak sengaja ditelan Risa tadk bisa keluar.
Sumpah demi apa pun, melihat kondisi Risa yang seperti ini, membuat jantung Raksa berdetak sangat kencang. Memori saat Rama dan Ayah pergi untuk selamanya, terputar kembali di dalam ingatan Raksa.
Setelah dua puluh detik melakukan CPR, akhirnya Raksa bisa bernafas lega saat Risa menggerakkan kepala.
"Ris?"
Risa meremas kuat-kuat lengan jaket yang dikenakan Raksa. "Maaf, Ram."
Raksa tersenyum masam saat mendengar Risa memanggilnya dengan nama Rama. Bukan, dia sama sekali tidak cemburu, hanya saja sudah terlalu lama dia tidak mendengar ada seseorang yang memanggil nama Rama, sehingga rindu akan Kakaknya itu datang kembali.
Usai memastikan kalau kondisi Risa sudah membaik, Raksa bergegas membuka pintu kamar mandi.
"Risa kenapa?" Bapak bertanya pada Raksa setelah pintu kamar mandi terbuka, sedangkan Ibu langsung berjalan menghampiri Risa yang masih terduduk lemas di lantai.
"Nak, kenapa kamu melakukan hal seperti ini lagi."
Risa tersenyum getir, seolah sedang menahan tangis.
"Bu, Rama sudah pergi, dan itu karena aku, kan?"
Ibu menggeleng, lalu menarik Risa ke dalam dekapannya. "Tidak Nak, tidak. Kamu tidak bersalah."
"Berbohong tidak akan bisa menutupi kebenaran."
Ibu tetap menggeleng, kemudian menciumi kepala Risa. "Tidak. Sekarang ayo keluar dan kamu ganti baju ya."
Bapak yang melihat Risa tertekan seperti itu, kini mengalihkan pandangannya kepada Raksa.
"Nak, sekali lagi Bapak minta maaf. Tolong maafkan Risa."
Raksa tersenyum tipis, dia berusaha agar tidak menangis. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena Risa juga korban, Paman."
"Melihat Risa yang sering bertindak nekat begitu, membuat Bapak semakin khawatir. Padahal waktu telah berjalan hingga saat ini, tapi Risa masih terjebak dalam kejadian yang sulit untuk berlalu. Bapak sampai bingung, harus membawa Risa ke Psikiater mana lagi."
Entah. Raksa bingung harus menjawab bagaimana. Dia tidak tega melihat kondisi Risa yang terus menerus diserang gangguan mental, tapi di sisi lain, dia juga tidak bisa berbuat apa pun, kecuali hanya menurut dan mengalah atas semua hal yang telah terjadi.
"Semoga, secepat mungkin, Risa bisa melawan traumanya sendiri, sehingga keadaan akan membaik seiring berjalannya waktu," jawab Raksa, menanggapi perkataan Bapak.
Raksa tersenyum dan membatin. "Tapi bagi seorang PTSD, bukankah mengharapkan kesembuhan akan cukup sulit, jika dia masih terjebak dalam ingatan masa lalu?"
PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.
PTSD adalah gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis.
Bersambung...

หนังสือแสดงความคิดเห็น (377)

  • avatar
    RandiiRandi

    cerita nya bagus banget

    13d

      0
  • avatar
    Aswar

    di cerita ini sangat bagus untuk membaca

    10/05

      0
  • avatar
    Arie Fandy

    eh ini sape bab berapa woy

    28/03

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด