logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Chapter 3 - Pada Saat Bertemu

Disaat kami sedang asik mengobrol, tiba-tiba bunyi pemberitahuan muncul dari ponselku.
Aku tahu bunyi ini, ini adalah bunyi pemberitahuan sebuah aplikasi dating yang iseng ku download beberapa hari yang lalu. Rasanya, aku ingin membuka aplikasi itu, tapi takut ketahuan karena masih ada Hoshi dan Mike disini. Duduknya pun tak berjauh-jauhan denganku.
•••
Chapter 3 - Pada Saat Bertemu
•••
Dinginnya cuaca membuatku kulitku terasa kering. Masih ditempat yang sama, aku memikirkan beribu alasan untuk bisa mengecek ponselku tanpa ketahuan. Sudah dipastikan jika bermain ponsel didekat Mike dan Hoshi, pasti ia akan ikut mengintip layar ponselku. Sungguh menyebalkan.
"Oh iya.... izin saja cuci muka!"
Otakku tiba-tiba memikirkan sebuah alasan masuk akal. Segera, aku pun izin ingin cuci muka pada mereka. Dan di depan kaca wastafel, jari jemariku langsung mengusap layar ponsel guna menekan tombol delete.
Klik klik~
Aku sengaja menghapus aplikasi tersebut lantaran tak mau menggunakannya lagi. Dulu, aku mengunduh aplikasi tersebut agar bisa berkenalan dengan laki-laki lain yang siap menikah selain Hoshi.
"Mengapa aku dulu mengunduh aplikasi ini? Aku memang terlalu bodoh," 
Tak mau Mike dan Hoshi menanam rasa curiga, aku berniat kembali ke kantin. Sepanjang jalan, mataku terus tertuju pada ponsel. Maklum, sudah lama sekali tangan ini tak mengetik menggunakan keyboard non touch ponsel. 
Brak~
Ponselku terjatuh saat tubuh ini menabrak seseorang. Refleks, aku meminta maaf kepada orang itu. Akan tetapi, aku seperti mengenalnya laki-laki ini.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Ucap lelaki itu meyakinkanku.
"Kenapa kau bertanya padanya? Lagipula kau tidak salah, dia yang menabrakmu! Leo... Leo... kau ini selalu saja ramah pada orang, ha ha ha.." tawa seorang gadis menghampiri laki-laki tersebut.
Gadis itu sungguh cantik. Bahkan saat tertawa, kedua mata kecilnya bak membalut manis. Aku sebagai wanita saja menganggapnya cantik, apalagi lelaki. 
"Tidak bisa begitu, mungkin saja aku yang salah" ucap laki-laki itu.
- Author POV -
Beberapa saat, suasana menjadi sangat hening. Kini ingatan Melody dimasa depan sudah tergambar jelas, siapakah lelaki itu. Melody pun menjadi begitu takut melihat lelaki itu dihadapannya. 
"Namaku Leo. Salam kenal," ucapnya.
Kedua mata Melody membelalak lebar begitu menatap senyum lelaki itu dihadapannya. Kepalan tangan Melody kini begitu kuat. Ia benar-benar tak menyangka akan bertemu lelaki itu kembali. 
Ting tong ting tong~
Untunglah bel kembali berbunyi. Pertanda kelas baru akan dimulai. 
Sontak, semua mahasiswa masuk kembali ke dalam kelas masing-masing sesuai mata kuliah yang diambil. 
•••
Perkenalan pun lepas didalam kelas. Semua wanita berteriak histeris menyebutkan nama Leo berulang kali. Namun beda halnya dengan Melody, ia justru mencibirkan bibir kesal dengan kedatangan Leo.
"Kenapa ada anak baru? Ini kan tengah semester, seperti sekolah saja.." ucap kecil Mike.
Melody yang duduk bersebelahan dengan Mike berusaha tenang dengan melebarkan senyumannya lalu menggeleng ringan.
"Dia anak pemilik kampus ini. Jangankan tengah semester, mungkin ijazah palsu pun bisa dibuatnya..." batin Melody dalam hatinya.
- Melody POV -
Kuliah telah usai. Aku pun beranjak dari bangku untuk pulang ke rumah. Biasanya, Hoshi selalu mengantarkanku. Tapi sekarang tidak karena ia sedang ada urusan.
"Melody!" Teriak Mike dari belakang membuatku menengok ke arahnya.
"Apa?" Jawabku malas.
"Kenapa kau tinggal aku? Ada apa sih?" Mike menautkan alisnya ke atas.
"Tidak apa," Acuhku. 
Entah mengapa perasaanku saat ini pada Mike semakin tak karuhan. Sejujurnya, aku hanya ingin menjaga jarak dengan Mike agar di tahun depan, ia tak menyatakan cintanya padaku.
"Ayo ikut!" Mike menarik lenganku dan memaksa untuk ikut dengannya, padahal aku sudah menolak sekuat tenaga.
Hingga akhirnya, kami tiba disebuah rumah besar dekat dengan kampus. Rumah itu memiliki ranting-ranting kecil yang menghiasi sekeliling jendela. Aku tahu rumah ini adalah rumah tua yang sudah lama tak ditempati oleh penghuninya.
"Mike, sudahlah..." Aku menyentuh lengan Mike untuk ku cubit.
Aku mengira pembicaraannya hanyalah omongan kosong semata, dimana apa yang ia katakan hanya untuk meledekku. Tapi kini entah mengapa, aku yakin Mike memiliki suatu alasan yang kuat untuk membawaku kesini. 
Tak lama kemudian, seseorang muncul dari balik tembok pembatas. Orang itu adalah Jinny, sahabat perempuanku saat kecil yang pindah ke Amerika untuk menempuh pendidikan lebih disana.
"Jinny?!!" Aku berteriak kaget melihatnya ada disini.
"Hello~" sapa kecil Jinny membuatku tak sadar untuk langsung memeluknya.
Aku rindu sekali dengan Jinny, dulu ia mendadak dipindahkan oleh orang tuanya karena ada suatu hal yang tak ku ketahui. Dan sudah hampir bertahun-tahun lamanya kami tak saling berkomunikasi.
"Maaf ya. Aku sengaja meminta Mike untuk menarikmu ke sini. Soalnya kalau tiba-tiba aku muncul, malah aneh nantinya..." jelas Jinny padaku.
"Ah, kau ini!" Aku memukul bahu Jinny berulang kali.
Saat aku ingin mengabari Hoshi, spontan Jinny melarangku untuk menghubunginya dengan alasan nanti malam ia akan berkunjung sendiri untuk memberikan sebuah kejutan kembali.
"Berkunjung ke rumah Hoshi? Kau?" Ucapku terbata-bata.
Melihat kejanggalan ini, Mike langsung menepuk ringan pundak Jinny dengan berkata, "Dia ingin mengabari Hoshi bukan untuk memberi tahu ada kau. Tapi untuk memastikan bahwa semuanya aman,".
"Aman? Memang kau kenapa dengan Hoshi?" Tanya Jinny.
"A.. aku berpacaran dengan Hoshi!" Jawabku singkat.
"Really? Ha ha ha ha.." Jinny menggeleng geli. 
Aku yakin ia tak menyangka aku akan berkencan dengan Hoshi, berhubung kami adalah sahabat.
•••
Usai bercuap-cuap, kami berdua pun pergi tanpa Mike ke pasar kuliner, tujuannya yang tak lain ialah mencoba menghapuskan rasa rindu Jinny pada tanah air. 
Disana, aku bertemu kembali dengan Leo. Tubuhku kembali bergetar panik.
"Melody. Aku memerhatikanmu! Kenapa kau selalu takut ketika menatap lelaki itu?" Tanya Jinny.
"Melody takut? Sama siapa?" Tanya Mike sembari menyantap es krim di bangku taman.
"Tidak." Jawabku singkat.
"Yakin?.." Jinny menatap ringan mataku.
Aku pun menatapnya balik sambil tersenyum simpul. 
"Jinny, apa yang akan kau lakukan setelah selesai bersekolah?" 
Aku sengaja bertanya padanya mengenai hal sensitif itu. Bukan tanpa alasan, melainkan dimasa depan Jinny digosipkan memiliki beribu masalah. Ia digosipkan hamil diluar nikah serta memiliki banyak hutang sejak usaha ayahnya bangkrut.
"Entahlah. Aku belum memikirkan hal itu. Sebenarnya ayah memintaku untuk membuka usaha sendiri, namun aku terlalu malas! Hi hi"
"Jinny. Mulailah mandiri. Kau harus bisa membuka usaha mu sendiri. Dan satu lagi, jangan dekati pria,"
"Pria? Ha ha ha. Sebenarnya aku memang sedang dekat dengan banyak pria sih!"
"Jika kau tak mau menyesal, ku harap kau menjaga diri dan pergilah memulai usaha. Jangan andalkan ayahmu,"
"Melody? Tumben sekali,"
"Pokoknya kau harus ingat nasihatku. Buatlah branding usahamu sendiri dan jangan dekati pria."
"Kau ini. Baiklah, aku akan mengingat semua nasihatmu malam ini!"
~~~   Beberapa jam berlalu. Akhirnya Mike menyusul dan kami berbalik arah menuju pulang. Kebetulan, apartemen singgah Jinny dekat dengan rumahku sehingga kami searah dan terpisah dari Mike.
Disepanjang jalan, daun-daun berguguran menjatuhi tubuh kami berdua. Jelas teringat masa lalu dimana Jinny selalu menjadi orang yang ada untuk ku. Bahkan sebelum kedatangan Hoshi dan Mike, aku tak pernah lepas untuk memberikannya pesan dimanapun kami berada. Dan pada saat bertemu kembali, aku sangat bahagia.
"Kau tampak aneh, Melody.." ujar Jinny mengagetkanku.
"Aneh? Aneh kenapa?" 
"Kau merahasiakan sesuatu ya?"
"Tidak! Aku tidak merahasiakan sesuatu padamu.."
"Aku sangat paham denganmu. Tadi saat laki-laki itu datang, kau terlihat berbeda. Bahkan terlihat jelas..."
"Tidak, Jinny. Aku tidak takut dengannya,"
Ting~
Pesan kembali masuk. Ku rasa ini hanyalah sebuah pesan biasa, dimana sering ku dapatkan dari operator.
Tapi, kini dugaanku salah.
Iced Chocolate : kau dimana? aku sudah didepan rumahmu
"Apa-apaan ini? Kenapa dia di depan rumah?!"
Aku pun membesarkan kedua mataku. Mengurungkan niat untuk memperbolehkan Jinny mengantarkanku hingga depan pintu rumah.
"Pasti Hoshi, ya kan?" Jawab Jinny santai.
Jinny dan Hoshi memang tak pernah akur, mereka selalu bertengkar saat Jinny masih bersekolah ditempat yang sama dengan kami dulu.
Tak ada jawaban lain selain anggukkan kepala.  Bersyukurlah diriku karena Jinny mempersilahkanku untuk pulang sendiri.
-Author POV-
Mau dalam keadaan apapun, Melody memutuskan untuk berlari hingga sampai ke rumah. 
"Ke... ke....kenapa kesini?!" Jawab Melody terengah-engah.
Hoshi dengan santai mendekati tubuh Melody yang berkeringat usai berlari sekuat tenaga.
"Bukankah seharusnya kau sudah pulang dari tadi? Kenapa jam segini baru sampai?" Hoshi memperingatkan Melody jika sekarang sudah hampir malam.
Pantas ia curiga, karena jam mata kuliah berakhir sudah terlewatkan 2 jam lamanya.
"Ya.. aku tadi ada acara sebentar!" 
"Acara apa?"
"Tadi aku pergi bersama teman, kebetulan ada tugas mata kuliah yang harus ku kerjakan. Lagipula dosen mata kuliah kita berbeda jadi tak mesti sama dalam hal tugas," Bohong Melody pada Hoshi.
"Benarkah?" Hoshi mendekatkan wajahnya ke arah Melody.
Bibir Melody gemetar, ia mendadak panik karena tatapan tajam Hoshi bagai ingin menerkam secara perlahan.
"Oh," Hoshi pun menjauhkan wajahnya dari wajah Melody.
Nasib baik kembali menerka Melody. Ia sangat terselamatkan oleh sikap Hoshi yang memang tipe mudah percaya dan sangat cuek.
"Tadi kau bilang sedang ada urusan, kenapa malah ke rumahku sekarang?" Tanya Melody gugup.
Hoshi pun mengambil ponselnya didalam tas, ia memperlihatkan sebuah foto dimana terdapat gadis kecil cantik bernama Hira, yakni sepupu Hoshi.
"Hira, kan?" Ucap Melody.
"Iya, tadi dia ada acara disekolah. Orang tuanya tak bisa hadir, sebisa mungkin aku menggantikan mereka tapi acara malah sudah selesai.." sesal Hoshi.
Melody pun mengangguk mengerti. Ia senang karena Hoshi adalah orang yang mau menjelaskan segala yang ia lakukan walau terkadang dengan cara yang salah.
"Ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu,"
"Apa?"
•••
Usai makan malam, Melody pun sibuk menata bongkahan lemari yang berisi pakaian miliknya.
"Baju-baju bermerek ini. Aku sangat merindukannya,"
Melody terus menelusuri ruang wardrobe di samping ruang tidurnya. Diruangan itu terdapat tas, parfum dan juga sepatu dari desainer ternama. Hatinya terus merasa terkoyak kala bisa kembali menggenggam satu-satu barang mahal miliknya.
"Apa ini? Ah, baju couple?"
Melody pun kembali teringat akan baju pemberian Hoshi yang kini sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
Dahulu (sebelum berubah), mereka berdua memang menyukai gaya simple, dimana dahulu jika bepergian hanyalah menggunakan kaos biasa dan yang terpenting warnanya couple.
Tapi kini, semua musnahlah sudah. Hoshi sudah tak lagi mau memakai baju dengan warna yang sama ketika pergi bersama Melody. 
Alasannya tak lain ialah rasa tidak nyaman dengan orang sekitar. Bahkan, Melody teringat bahwa di waktu ini, Hoshi sudah jarang membelikan nya pakaian seperti dahulu kala. Bukan masalah uang, karena melainkan perubahan sikaplah yang menjadi sebabnya.
"Kepalaku agak pusing, ya." Batin Melody.
Ting~
Pesan kembali masuk, namun Melody menunda untuk membukanya. Tangan lentiknya langsung terarah oleh sebuah obat yang harus ia minum.
Obat itu adalah obat pereda kesakitan yang selama ini di derita Melody.
Tak ada seorang pun yang tahu kecuali anggota keluarga. Selama ini, Melody mengidap penyakit yang sungguh menyakitkan. Terkadang kepalanya pusing luar biasa walau kini tak pernah kambuh kembali.
Konon, penyakit itu tak dapat terdeteksi walau sudah berulang kali Melody lakukan medical check up. Jadi, salah satu cara yang bisa ia atasi saat ini adalah rajin meminum obat walau tak pernah kambuh, guna mencegah sewaktu-waktu penyakit itu datang kembali.
Bersambung...

หนังสือแสดงความคิดเห็น (26)

  • avatar
    jwsasaa

    🥰🥰🥰

    20/05/2024

      0
  • avatar
    yolutasemayoshie

    👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

    16/05/2024

      0
  • avatar
    LucuuNADAA

    lucuu

    16/05/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด