logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Chapter 2 - Pada Kenyataannya

Kali ini, Melody mengambil ponsel diatas tumpukan buku. Tangannya gemetar, menekan angka demi angka untuk menghubungi seseorang. Namun, lagi-lagi panggilan itu berujung suara operator.
(Pesan)
Me : tidak bisakah kau menghargai pernikahan ini? apakah aku dan sovia tak penting lagi bagimu? datanglah kesini untuk sovia, ia sangat merindukanmu.
Setelah mengirim pesan, Melody merebahkan tubuhnya ke atas kasur, memandang langit-langit plafon dengan tetesan air mata dipipi. Matanya terasa berkunang-kunang dan perih karena terus menangis.
"Aku harus bagaimana? Aku sudah ingin menyerah, tapi Sovia membutuhkanku.." batin Melody.
•••
Chapter 2 - Pada Kenyataannya
•••
Masih di tahun 2023.
Melody nampak berjalan menyusuri tiap-tiap sudut taman sendirian. Pagi ini terasa dingin, karena angin bertiup kencang bak menggugurkan daun-daun cokelat kemerahan dari dahannya. Kakinya terus melaju lurus, walau pikirannya tak fokus dengan apapun dihadapannya.
"Permisi, apakah kau baik-baik saja?" Tanya seorang wanita mengagetkan lamunan Melody.
"A-ah. Iya," jawab singkat Melody yang kemudian pergi meninggalkan wanita itu sendiri.
"Bahkan untuk tersenyum pun rasanya ia enggan." heran wanita itu.
Tak terasa sudah beberapa tahun lamanya, Melody tak lagi mengulaskan senyuman di wajah. Tatapan matanya kosong, bahkan terkadang ia terlihat bingung tak seperti orang-orang pada umumnya.
Wanita berpawakan tinggi bernama Kesha itu tampak kasihan kala melihat Melody terus berjalan tanpa tahu arah.
"Kau sendirian?" Ujar Kesha, menyusul Melody.
Melody menengok sebentar, lalu memalingkan pandangannya lurus kedepan tanpa menghiraukan sedikitpun ucapan wanita itu.
"Namaku Kesha, kebetulan aku adalah psikolog di salah satu rumah sakit. Jika kau butuh bantuan, aku akan ada untukmu.." 
"Psi... psikolog?"
"Ya, betul. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kebingungan. Jika kau butuh teman untuk mendengarkan semua keluh kesahmu, aku bisa.." Kesha mengernyitkan dahi sembari memamerkan deretan gigi putihnya itu. 
Sikap kepedulian Kesha pada mental perempuan, membuatnya memperhatikan kondisi perempuan yang ada disekitarnya. Terlebih lagi saat melihat Melody berjalan sendiri dengan tatapan kosongnya.
"Aku sedang menunggu anak ku bermain, dia disana.." tunjuk Melody.
"Benarkah? Woah. Kau memiliki anak yang cantik," puji Kesha.
"Berapa umurmu?" Tanya ragu Melody.
"Umurku 24 tahun.. Apakah aku boleh bertanya hal sama? Berapa umurmu?"
"A.. aku 30 tahun,"
"Ah, 30 tahun? Kau terlihat seumuran denganku! Kau sangat cantik.."
"Tidak.." singkat Melody.
Obrolan singkat itu seketika membuat Kesha langsung mengetahui apa yang sedang di alami oleh Melody. Kesha berpikir bahwa Melody sedang mengidap rasa ketidakpercayaan pada dirinya sehingga apa yang dilakukannya saat ini terasa sia-sia. 
Usai melakukan percakapan bersama Melody selama 20 menit, Kesha lekas merangkul Melody. Apa yang diceritakan Melody semuanya tampak menyedihkan, termasuk penyesalan-penyesalan yang tak bisa digambarkannya.
Kemudian, Kesha mengambil satu tangan Melody dan memberikannya sebuah kalung liontin berbentuk angka 8 untuk Melody.
"Apa ini?" Tanya Melody setelah menerima kalung tersebut.
"Kak, apakah kau percaya bahwa time travel itu ada?" Tanya Kesha membuat bulu roma Melody berdiri.
"Tidak," sahut singkat Melody.
"Ku rasa hal seperti itu memang tidak ada dikehidupan ini. Tapi jika kau meyakini bahwa waktu bisa diulang, mungkin saja semua bisa terjadi.." Kesha mengencangkan syal yang terkalung erat di lehernya. 
Pembicaran ini tampak konyol. Melody pun meminta izin kepada Kesha untuk menghampiri anaknya dan mengatakan akan lekas kembali.
Akan tetapi, saat Melody mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia tiba-tiba kehilangan Kesha. Wanita itu tak lagi ada di tempat yang sama, menghilang.
"Bukankah dia tadi disana?"
Melody langsung melihat ke arah kalung yang diberikan Kesha. Di dalamnya tertulis kata-kata kiasan. Bunyinya 'jika kau meyakini untuk pergi ke era tersebut, maka kau akan pergi'.
Walaupun terdengar aneh, Melody berpikir bahwa kalung liontin ini pasti memiliki keajaiban. Ia langsung memakai kalung tersebut tanpa berpikir berulang kali.
"Mama, aku lapar!" Ujar Sovia datang menghampiri Melody.
Melody tersenyum, lalu membuka dompetnya yang hanya terisi dengan beberapa lembar uang saja. Dengan semangat, Melody mengajak Sovia pergi ke minimarket untuk membeli ramen instan. Sungguh ironi, namun itu satu-satunya jalan ninja untuk menggunakan uangnya seminimal mungkin.
~~
Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam minimarket camilan, Sovia kelihatan murung. Sepertinya ia bosan harus makan ramen instan lagi.
"Kenapa diam Sovia? Kau tidak mau memilih ramen instan favoritmu?" Tanya Melody pada Sovia.
"Aku bosan!"
"Ah, bosan ya. Nanti kalau mama sudah punya uang lebih, mama akan traktir makan makanan enak ya!"
"Benarkah! Janji ya, ma?"
"Iya, mama janji!"
•••
Sesampainya dirumah, Melody menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati agar tidak sampai menimbulkan suara dan mengganggu lelapnya Sovia.
Ah~
Melody segera merebahkan tubuh kurusnya itu ke atas kasur. Ia menitikkan air mata usai mengingat kejadian di minimarket. Banyaknya penyesalan semakin tumbuh kala ia menjadi seorang ibu. Terlebih lagi ia merasa gagal tak bisa memberikan kehidupan layak bagi puterinya.
"Seandainya saat itu aku tak menikah. Aku ingin sekali mengulangnya," ujar Melody.
Tetesan air mata tumpah tepat pada kalung berangka 8 itu. Sontak kilat cahaya muncul dari balik kalung, membuat Melody menundukkan kepalanya.
Setelah beberapa menit, Melody membuka mata. Ia terlonjak kaget melihat ke sekitar. 
"A.. apa ini?"
Ternyata, Melody kembali ke kamarnya sewaktu gadis. 
"Kenapa aku disini?!"
Melody terpaksa menyeret kakinya walau terasa lemas. Ia memandangi seluruh pajangan yang ada dikamar dan makin terkejut kala melihat di kaca kini dirinya kembali remaja. 
"Ada apa... apakah aku kembali ke masa lalu?" 
Melody segera mencari ponsel dan ternyata bentuk serta merek ponselnya pun ikut berubah.
"2013?" Gumam Melody ketika melihat layar ponsel yang menunjukkan tahun 2013.
"Apakah aku kembali ke tahun 2013? Bagaimana bisa!"
Melody menggenggam lehernya, memastikan bahwa kalung berangka 8 itu masih terjerat erat di leher jenjangnya. 
"Ini benar-benar nyata, kalung ini membawaku kembali ke masa lalu.." Melody bergegas pergi keluar kamar, lalu melihat ibunya sedang duduk sembari membubuhkan tanda tangan pada setumpuk kertas diatas meja kerja.
Tahun 2013.
- Melody POV - 
"Ibu....." lirih ku.
"Melody. Apakah kau mau mengajak ku berdebat lagi soal tadi? Tapi maaf, ibu terlalu sibuk untuk itu. Ku mohon pergilah.." tolak Ibu.
"Debat? Apakah sebelumnya aku dan ibu berdebat?"
"Sudahlah, Melody. Ibu rasa sudah jelas tadi. Ku harap, di pertemuan makan kita selanjutnya, aku tak mendengar lagi ucapan mu soal membangga-banggakan indahnya pernikahan,"
Setelah mendengar penjelasan ibu, aku seakan mengingat sesuatu. Pipiku pun terasa perih seperti ditampar seseorang. Sepertinya, aku kembali ke waktu usai bertengkar dengan ibu. Tepatnya saat membicarakan soal pernikahan sesudah makan di restoran bersama ibu Mike dan ibu Hoshi.
"Astaga. Aku pasti sedang bermimpi. Aku benar-benar gila! Kenapa aku memimpikan ini? Seharusnya aku bangun dan cepat membuat sarapan untuk Sovia!" 
Aku mencubit kasar pipiku, tampaknya tak ada yang berubah. Pada kenyataannya, ini bukan mimpi.
Tanpa berpikir panjang, aku segera memeluk ibu dari belakang. Tangisanku pecah sejadi-jadinya, aku tak menyangka bisa merasakan hangatnya tubuh ibu setelah sekian lamanya ibu meninggalkanku. 
"Ada apa, Melody?!" 
"Bu. Maafkan aku!" 
Aku kini mempercayai ucapannya bahwa menikah bukanlah sesuatu yang penting, serta bertekad tak akan menikah sampai siap. Memang terasa aneh, apalagi jika dipikir menggunakan logika sehat. Ini semua terasa tak masuk akal. Tapi aku meyakini bahwa kehadiranku kembali ke masa lalu pasti ada alasan. Semampunya, akan ku perbaiki waktu yang telah terbuang dan menggantinya dengan lembaran baru. 
•••
Keesokan harinya, aku kembali lagi berkuliah walau semua ini tampak asing.
Sejujurnya, aku lupa bagaimana kejadian kemarin. Namun tekadku sungguh bulat untuk mengubah jalan hidupku agar tak lagi menderita di masa depan, sebisa mungkin ku lalui walaupun banyak hal-hal tak masuk akal yang sedang menanti didepan.
- Author POV -
Ting tong ting tong~
Bel akhir kelas telah tiba.
Mata kuliah di jam pertama dan kedua membuat para mahasiswa dikelas bisnis kewalahan. 
Ya, ekonomi digital, inilah yang membuat mereka bak tak bersuara setelah itu. 
"Ekonomi digital. Bagaimana mungkin ada aplikasi secanggih itu dalam beberapa tahun ke depan?" Gerutu Yeni, sahabat dekat Melody.
Melody tersenyum kecil. Dalam batinnya terasa berkecamuk hebat, seolah ingin memberitahu sahabatnya itu bahwa di era 2020-an nanti semua akan serba virtual akibat virus yang melanda bumi. Tak ada lagi orang-orang yang pergi ke kantor, bahkan untuk membeli sabun satu buah pun bisa menggunakan daring.
"Sudahlah, kita lalui saja semua." Jawab Melody.
"Dy, aku dengar nanti ada anak baru di kelas kita. Kenapa bisa ya? Padahal sudah pertengahan semester begini..." jelas Yeni pada Melody.
Melody menanggapinya dengan anggukan kepala, pertanda ia tak tertarik dengan apa yang ingin di bicarakan oleh Yeni.
"Eh, ada Mike!!" Teriak Yeni heboh sambil menarik kuat lengan baju Melody.
Melody langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut guna mencari keberadaan Mike. 
- Melody POV -
"Melody,.." panggil singkat Mike yang dibalas senyuman tipis oleh ku.
"Ya?"
Aku tak tahu harus menjawab apa. Wajahku terasa gugup karena bertemu lagi dengan Mike seperti ini. 
"Mata kuliah kita sama kan sehabis ini? Ayo kita pergi ke kelas bersama," 
"Ah, benarkah?"
"Lho? Bukankah kemarin kau yang memintaku untuk pergi bersama?"
Tring~
Tiba-tiba ponselku berdering, aku pun membuka pesan itu yang tak lain dari kontak bernama Iced Chocolate.
"Iced Chocolate? Apakah ini Hoshi?"  Ah, di tahun ini aku masih menjadi kekasihnya.." Batinku dalam hati.
Iced Chocolate: Kau dimana? Ayo pergi ke kantin bersama, ajak Mike. Kebetulan kan kelas kita sama.
"Aku harus mengajaknya duluan?"
Kedua bola mataku sontak menatap wajah Mike. Suhu tubuhku saat ini panas dingin kala berhadapan dengan nya. Entah mengapa, bertemu dengan Mike sekarang justru membuat pikiranku semakin tak karuhan. 
Sebenarnya,
Pada tahun 2014, Mike sempat menyatakan cintanya padaku di kampus secara brutal. Sayangnya, aku menolaknya dengan alasan lain. Oleh sebab itu, menghadapinya di tahun 2013 seperti ini membuatku sangat canggung.  Ternyata, mengetahui masa depan itu sungguh tak enak.
"Mike. Mari kita ke kantin bersama Hoshi sebelum kelas dimulai!"
Tak banyak bicara, aku pun melangkahkan kaki keluar kelas. Mike mengikutiku dari belakang.
Dan di kantin, 
Kami pun makan bersama. Aku tak henti-hentinya menatap wajah Hoshi. Aku sangat merindukannya.  
"Kenapa menatap Hoshi? Apa ada yang aneh?" Tanya dingin Mike.
"Eh... Tidak! Hoshi kelihatan tampan hari ini!" Ujarku spontan.
Mendengar pujian dariku, Hoshi tersipu malu. Aku tahu jelas raut wajah itu tanpa harus dijelaskan olehnya. Wajahnya memerah seperti delima, sangat manis.
"Apakah dia terlihat tampan usai menolak pembahasan mengenai pernikahan kemarin?" Ujar Mike.
Hoshi yang daritadi tak bersuara pun akhirnya membuka suara, meminta Mike untuk tidak lagi membahas soal kemarin.
"Baiklah," ujar Mike.
Disaat kami sedang asik mengobrol, tiba-tiba bunyi pemberitahuan muncul dari ponselku.
Aku tahu bunyi ini, ini adalah bunyi pemberitahuan sebuah aplikasi dating yang iseng ku download beberapa hari yang lalu. Rasanya, aku ingin membuka aplikasi itu, tapi takut ketahuan karena masih ada Hoshi dan Mike disini. Duduknya pun tak berjauh-jauhan denganku.
Bersambung..

หนังสือแสดงความคิดเห็น (26)

  • avatar
    jwsasaa

    🥰🥰🥰

    20/05/2024

      0
  • avatar
    yolutasemayoshie

    👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

    16/05/2024

      0
  • avatar
    LucuuNADAA

    lucuu

    16/05/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด