[Di perlukan fokus dalam membaca cerita ini karena TAHUN yang ada dalam cerita Eight ini berbeda-beda sesuai alur] -------- - Melody POV - Tahun 2023. Dalam astorologi china, tahun 2023 merupakan tahun Kelinci Air. Banyak yang memprediksi bahwa tahun ini akan menjadi momen yang tepat untuk menjemput keberuntungan. Benarkah? Namun.. nampaknya keberuntungan itu tidak berpihak padaku. Ditahun 2023 ini, aku justru merasa banyak sekali tekanan untuk menyesali segala perbuatan yang telah ku putuskan. Salah satunya adalah, Memutuskan untuk Menikah. ••• Chapter 1 - Pada Awal Kisah. ••• - Author POV- Pada awal kisah, Flashback, 2013 (sebelum berubah). Tik. Tik. Tik. Tik. Tik. Suara detik jam yang melingkar ditangan , membuat Melody semakin panik. Ia terus menggenggam ponsel dikedua tangannya seraya menarik nafas berulang kali, berharap hal yang ditakutkannya hanyalah sebuah delusi semata. "Hai, Melody!" Sapa Mike, mendekati tubuh ramping Melody yang terus gemetar. "Lho. Kau kenapa? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Mike, kebingungan. Melody menggeleng, tak tahu harus berkata apa karena kepanikan luar biasa yang dialaminya itu. Tak lama kemudian, suara deringan telepon menyapa ponsel Melody. "Halo!" "Be.. Benarkah?" "Woah, terima kasih banyak untuk informasinya!" Melody tersenyum lebar, memeluk tubuh Mike erat. Wajah putihnya itu kini memerah bahagia. "Ke... kenapa kau memeluk ku?" Pekik Mike malu. "Aku sedang bahagia saat ini! Memang kau kira aku kenapa? Jangan terlalu percaya diri begitu, ya!" "Ha ha ha. Kau bahagia kenapa memangnya?" "Kau tahu tidak! Akhirnya kartu kreditku dikembalikan oleh ibuku. Hampir 2 hari aku tidak bisa menggunakannya." "Ah, dasar. Ku kira ada suatu hal yang lebih penting" Mike menarik kursi, lalu duduk. Senyuman diwajahnya sangat manis ketika menatap Melody. "Mike. Aku punya sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu. Tunggu," alih Melody. Ia pun mengotak atik ponselnya, lalu memperlihatkan sebuah foto pada Mike. "Lihat, gadis di foto ini cantik tidak menurutmu?" Mike bersikap datar, ia tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Melody. Berulang kali matanya berkedip, mencoba memerhatikan seksama foto gadis berparaskan cantik tersebut. "Menurutku dia biasa saja," akhirnya Mike menjawab. "Really? Pantas saja kau jomblo terus! Padahal wanita ini sangat cantik. Masa kau tak bisa menilai wanita ini sih," gerutu Melody kesal. "Memang apa hubungannya dengan kejombloan ku ini?" "Kau selalu menyebalkan jika jombo terus!" "Jadi,.. Woah kau meledekku, ya.." "Bukan begitu maksudku. Tapi cobalah berkencan, Mike!" "Untuk apa aku harus berkencan?" "Ya, kau harus mulai hidupmu dengan bersenang-senang!" "Bersenang-senang?" "Ah. Sudah, ya. Aku ada kelas. Bye bye!" Melody bergegas menjauhi tubuh Mike untuk pergi ke lantai 5, karena sebentar lagi kelas nya akan dimulai. Mike bertanya-tanya mengenai Melody hari ini, tatapan matanya terus bergerak mengikuti kepergian gadis bertubuh ramping tersebut. ••• - Melody POV - Halo, perkenalkan. Namaku Melody Choquitta, panggil aku Melody. Umurku kini 20 tahun. Kini aku berkuliah di Universitas ABCD, universitas yang terkenal dengan ketenarannya lantaran hanya anak-anak dari keluarga kaya lah yang bisa menapakinya. Soal harta, kehidupanku sangat beruntung. Dengan satu kali tunjuk, aku bisa memiliki apapun yang ku mau dalam hitungan detik. Jika sedang bosan, healing ke beberapa tempat merupakan hobiku. Namun tak jarang ibu ku selalu memblokir akses kartu kredit yang ku miliki karena jumlah belanjaanku selalu mencapai limit. Dilain sisi, sayangnya dari segi kelengkapan keluarga, aku tak beruntung. Keluarga kami tak utuh karena orang tuaku bercerai sejak usiaku 3 tahun. Hak asuh tentunya jatuh pada ibu sebab usiaku saat itu masih dibawah 5 tahun. Pekerjaan ibuku sendiri adalah seorang CEO dari produk kosmetik dan kecantikan. Sedangkan ayahku ialah CEO salah satu brand ayam ternama. Out of topic, dampak perceraian itu sangat membekas padaku walaupun saat itu usiaku masih balita. Banyak hal yang tak ku dapatkan termasuk kasih sayang seorang Ayah. Terkadang aku iri dengan mereka yang tidak memiliki Ayah namun masih mengingat kasih sayangnya sampai detik terakhir kepergiannya. Sedangkan aku, Ayahku mempunyai raga namun tidak dengan jiwa (untukku). ••• ••• Jam kuliah telah selesai. Aku, Mike dan Hoshi sore ini akan pergi bersama ke sebuah restoran. Kebetulan ibu kami bertiga telah menunggu disana. Singkat cerita, kami bertiga bisa bersahabat lantaran ibu kami yang memaksanya. Mereka tidak mau anak-anak penerus perusahaan memiliki teman tak sepadan. Walau berat bagiku menjadi perempuan sendiri ditengah persahabatan itu, tapi ini menyenangkan. Kemanapun aku pergi, aku bak di kawal oleh 2 (dua) bodyguards tampan. "By the way.. Memangnya kenapa kalau aku jombo terus? Menurutku foto itu biasa saja," ujar Mike usai masuk ke dalam mobil, ternyata dirinya masih membahas foto tadi siang. Didalam mobil, suasana seketika hening. Ku kira kami akan pulang bertiga, namun nyatanya supir sudah terduduk di depan kemudi. "Ada apa?" Hoshi akhirnya membuka suara. Aku menatap wajah Hoshi penuh lirih, berharap ia mau bertanya ke arah ku. "Bukankah kau mau menyetir?" tanya Mike heran. "Tidak," jawab singkat Hoshi. "Kok gitu?" Tanya Mike lagi. -Author POV- Jantung Melody bak berhenti berdetak melihat sikap dingin Hoshi. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Hoshi tampaknya masih tak mau bicara padanya. Wajar apabila Melody merasa gelisah, hal ini disebabkan lantaran Hoshi dan Melody memiliki hubungan khusus, melebihi seorang sahabat. #Flashback on "Sayang!" Teriak Melody seraya menghampiri Hoshi dari sudut timur. Hoshi tersenyum kecil tanpa menjawab panggilan kekasihnya itu. "Uh? Kenapa denganmu? Wajahmu merah seperti ayam," sahutan Mike membuat Melody membulatkan mulut, lalu memukul kepala Mike dengan keras. "Kau diam saja! Aku sedang tidak ingin berdebat apapun denganmu.." Sahut Melody kasar. "Baiklah, terserah padamu!" Mike pun menghindari Melody tanpa berkata apapun lagi. Dirinya kini dapat bernafas lega, karena tak ada lagi pengganggu diantara mereka. Dengan perlahan namun pasti, Melody melangkahkan kakinya ke arah tubuh tinggi Hoshi. "Ehm.." Ia pun menarik kecil ujung kemeja Hoshi agar memintanya bicara. "Kenapa pertanyaan ku tidak kau jawab?" Tanya Melody marah. "Pertanyaan yang mana?" Tanya Hoshi santai. Aku chat tak dibalas, tapi kau malah update sns!" Celetuk Melody. Hoshi pun dengan tenang meletakkan tasnya di pengait meja, kemudian mengambil sebatang cokelat dari dalam tas. "Ambil," jawab singkat Hoshi. Melody hanya terdiam memandangi kekasihnya itu. Setiap hari, hal yang ditanyakannya bagai tak pernah terjawab. Contohnya seperti sekarang, ketika Melody bertanya sesuatu hal, maka akan dikeluarkannya sebuah cokelat atau permen untuk membuat Melody bungkam. 'Iced Chocolate. Ya, itulah julukan yang pantas untuk dirimu..' gumam Melody. Sedari tadi sorotan mata Melody melesat tajam ke arah Hoshi. Menyadari tatapan sinis Melody pada Hoshi, seketika Mike merasa iba hingga akhirnya ia membujuk Hoshi agar tak terlalu acuh pada Melody. Akan tetapi, kelakuan Hoshi sungguh diluar dugaan. Ia justru mengirim pesan chatting dan memberikan sebuah isyarat agar Melody mau membuka ponselnya. "Kenapa aku harus membuka ponsel?" Keluh Melody. Klik~ Klik~ "Hah?" Isi chatting tersebut berisi adalah, Hoshi : Ketika kita di kampus dengan kelas yang sama, tolonglah tuk bersikap biasa saja. Aku tak suka hubungan ini terlalu terbuka. Kau sangat mengganggu. Begitulah kiranya isi pesan tersebut. #Flashback Off Sesampainya di restoran, mereka pun duduk di meja yang sudah dipesan. Sebenarnya, makan bersama seperti ini menjadi tradisi wajib yang harus mereka bertiga hadiri tiap akhir bulan. Biasanya, para ibu akan membicarakan hal-hal pribadi dan lebih terbuka. Entah dari segi pendidikan, bisnis maupun keluh kesah menjadi chaebol. Sejujurnya, waktu makan bersama seperti ini sangat menyenangkan untuk Melody pribadi. Dirumah, ia kerapkali makan sendiri tanpa ada yang menemani. "Melody, Hoshi. Kalian berdua harus pacaran sampai menikah, ya. Aura wajah kalian sangat mirip!" Ucap ibu Mike spontan. "Menikah ya? Bolehkah aku aminkan?" Jawab Melody dalam hati. "Ah, menikah itu urusan terakhir! Biarkan Melody menikmati masa-masa mudanya dulu. Benar kan, sayang?" Jawab ibu Melody sembari mengelus tangan kiri Melody. "Kalau aku sih tidak keberatan, biarkan saja Hoshi memilih kapan waktunya untuk menikah. Bebas untukmu.." balas halus ibu Hoshi. Mike memalingkan wajahnya, lalu mencoba mengiris kembali daging steak tanpa ikut ke dalam obrolan. "Kalau aku.... Aku juga kapanpun siap jika dilamar! Tidak akan menolak..." Melody dengan lantang menjawab nya. Sontak, hal itu membuat semua mata tertuju padanya. Sang ibu pun menatap tajam ke arahnya. Krak~ Hoshi tak sengaja menuangkan air mineral dimeja. Kelihatannya ia gugup dengan obrolan tersebut. "Maaf, tapi biarkan kami fokus kuliah dulu!" Seru Hoshi mengeluarkan keluh kesah yang dipendamnya sedari tadi. "Nah, itu benar. Mungkin sampai saatnya lulus nanti" sahut Mike. ••• Setelah beberapa jam berlalu, makan malam pun usai. Mereka kembali ke rumah dengan para supir masing-masing, tak terkecuali Melody dan ibunya. - Melody POV - Setibanya kami di rumah, ibu langsung melemparkan tasnya ke lantai, lalu menampar pipi kenyal ku dengan keras. "Bagaimana bisa kau berpikir tentang pernikahan?!!!" Bentak ibu. Dengan tubuh gemetar, aku menyeka keringat dan terdiam seraya mengelus pipi yang perih akibat tamparan ibu. Bukannya tak mau melawan, namun aku sengaja tak mau menjawab sepatah kata pun ucapan ibu karena ibu pasti akan tetap emosi oleh apapun pembelaanku. "Kau harus ingat Melody, aku membesarkanmu sendirian tanpa ayahmu. Jadi apapun yang ku ucapkan, kau harus menurutinya!" "Ibu. Bagaimana bisa aku menurutinya? Haruskah aku tak menikah sampai tua?" "Hah, menikah. Everything is bullshit, Melody..." "Kenapa ibu mengatakan seperti itu?" "Haruskah ibu menjelaskan semuanya kepadamu setelah semua ini? Semua pria sama, Melody. Tidakkah kau ingat bagaimana ayah memperlakukanmu selama ini!!" "Seharusnya ibu jangan memiliki anak darinya. Seharusnya ibu tidak melahirkanku jika memang semuanya adalah omong kosong!" Tanpa menunggu waktu lama, aku berlari menuju kamar. Beginilah aku dan ibuku setiap harinya. Hari-hari kami selalu dihiasi pertengkaran yang tak berujung. Sebetulnya, ibuku memang benci jika putri semata wayangnya ini menikah dengan cepat lantaran pernikahannya sendiri pun gagal. Ibu selalu menasihatiku sejak kecil untuk jangan menikah jika tak mau terluka. Awalnya, ku kira itu hanya emosi sesaat pasca perceraian. Akan tetapi hal itu terus berlarut-larut dan menyiksa diriku. Aku hanya diperbolehkan berpacaran, tetapi tidak dengan menikah. Jangankan menikah, mengucapkannya saja aku tak boleh. ••• Kembali, tahun 2023. Suara gemuruh terus berkecamuk malam ini. Aku pun membuka mata usai seorang gadis kecil memberikanku sebuah pelukan hangat dari belakang. "Ma, takut. Petir nya sangat keras!" Ucapnya. "Tidak apa-apa, Sovia. Mama disini.." "Ma, mengapa papa tidak pulang?..." "Eung. Mengapa kau bertanya soal papa?" "Aku rindu, ma.." "Hm. Sovia, kembali lah tidur ke kamar.." kataku sembari mengelus-elus lembut kepalanya. Usai kepergian Sovia ke kamar, aku menatap lirih ke arah foto keluarga dimeja. Rasanya, aku hampir tersedak oleh air mataku sendiri. Sovia, gadis kecilku yang baru berusia 4 tahun harus menderita akibat kelalaianku sendiri. - Author POV - Melody masih terduduk di tengah bibir kasur. Menekuk ringan lututnya seraya mendengar suara gemuruh yang terus bersahutan sejak tadi. Dipikirannya kini banyak sekali penyesalan mengenai kehidupannya sekarang. "Seandainya saja aku tak menikahimu, pasti aku akan bahagia dengan hidupku saat ini..." ucap Melody. Kali ini, Melody mengambil ponsel diatas tumpukan buku. Tangannya gemetar, menekan angka demi angka untuk menghubungi seseorang. Namun, lagi-lagi panggilan itu berujung suara operator. (Pesan) Me : tidak bisakah kau menghargai pernikahan ini? apakah aku dan sovia tak penting lagi bagimu? datanglah kesini untuk sovia, ia sangat merindukanmu. Setelah mengirim pesan, Melody merebahkan tubuhnya ke atas kasur, memandang langit-langit plafon dengan tetesan air mata dipipi. Matanya terasa berkunang-kunang dan perih karena terus menangis. "Aku harus bagaimana? Aku sudah ingin menyerah, tapi Sovia membutuhkanku.." batin Melody. Bersambung..
🥰🥰🥰
20/05/2024
0👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
16/05/2024
0lucuu
16/05/2024
0ดูทั้งหมด