Hari berganti, dari pagi Kusuma sudah sibuk mempersiapkan acara keperluan untuk acara makan malam dengan keluarga Wijaya. Pagi-pagi sekali, beberapa pelayan sudah ditugaskan untuk belanja ke pasar. Menjelang siang, Mbak Prih sudah memimpin di dapur, dapur luar maupun dalam rumah, memasak hidangan lengkap untuk santapan makan malam nanti. "Aku bantu apa, Mbak Prih?" tanya Rinda pada kepala pelayan di rumahnya itu. "Ya, 'ndak bantu apa-apa, Non. Non Rinda di dalam saja, siap-sap," jawab Mbak Prih. Tangannya masih sibuk memarut kelapa mengkal untuk dibuat sebagai garnish, penghias kue-kue khas Yogyakarta. Rinda pun kembali ke ruang tengah, bertepatan dengan Kusuma yang juga datang dari arah ruang jahit di rumah itu. "Pakai baju ini nanti ya, Nak. Dicoba dulu, kalau ada yang kurang, bisa ibu betulkan sampai nanti malam," ujar Kusuma. Rinda menerima gaun panjang bermotif batik dari tangan Kusuma. "Sebentar Rinda coba ya, Bu." Rinda berbalik, melangkah menuju kamarnya. Rinda segera mencoba gaun yang diberikan Kusuma. Gaun batik bernuansa warna merah maroon itu melekat indah di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang tinggi semampai. Dulunya langsing, sekarang cenderung kurus dibanding ukuran proporsionalnya. Rinda berjalan keluar kamar, memperlihatkan pada Kusuma. "Cantik, lho. Sudah pas, nyaman 'ndak?" tanya Kusuma. "Ya sudah pasti cantik, anak bapak kok ya." Arya yang baru saja datang dari pabrik langsung menjawab perkataan Kusuma. Wajahnya tampak mengagumi putri tunggalnya itu. Putrinya yang kuat, menahan semua gelombang besar dalam kehidupan. Sesedih apapun, tetap mampu berdiri tegar menghadang garis kehidupan. "Nyaman, Bu. Udah bagus," jawab Rinda. Senyum manis yang sebatas di bibir memang tak pernah hilang dari wajahnya. "Sini dilepas lagi, biar nanti ibu suruh Mbak Uti ke dry clean sebentar. Biar sore nanti sudah siap," ujar Kusuma. "Ibu ini bakul batik, kok 'nyuci baju batik di dry clean. Pakai lerak, lho," komentar Arya. "Kan buru-buru, toh, Pak? Ini situasi khusus ...." Ketika berbalik ke kamar untuk mengganti kembali pakaiannya, Rinda masih mendengar perdebatan kecil antara bapak dan ibunya. "Sungguh bahagia bila bisa menua bersama seperti itu, bersama orang yang dicintai. Seberapapun perdebatan akan selalu terasa kecil," batin Rinda. Sekarang semua itu tentu sudah terasa mustahil terjadi dalam kehidupan Rinda. Malam nanti, untuk pergi bernostalgia pun Rinda sudah tidak bisa. Dia harus menemui lelaki yang akan menikahinya dengan segera tanpa dia kenal seperti apa rupa aslinya. Setelah mengalikan gaun kepada Kusuma, Rinda mengambil biola dan buku partiturnya. Rinda membawa biola dan buku itu ke gazebo di halaman belakang. Rinda menghabiskan sepanjang siang sampai sore untuk bekerja. Mempersiapkan aransemen musik untuk konser yang harus digarap minggu depan. Tanpa sadar, senja telah menjelang. "Rin, udah malam, lho. Siap-siap, gih!" Teriak Kusuma dari teras belakang rumah mereka. Rinda hanya mengangguk dari jauh. Pekerjaannya menggantung sedikit lagi. Sebenarnya, Rinda tidak suka meninggalkan pekerjaan yang belum selesai targetnya. Rinda hanya menarik nafas, meninggalkan semua barang-barangnya di gazebo itu. "Ayo, lho. Sebentar lagi mereka datang. Ibu kira kamu sudah di kamar. Ternyata masih nulis-nulis disini," ujar Kusuma yang berdiri menanti langkah Rinda sampai di dekatnya. "Iya, iya, Bu. Kerjaan Rinda kan juga harus selesai. Rinda kalau siap-siap 'ndak lama juga, Bu," jawab Rinda. Sejak harapannya bersama Bayu pupus, Rinda mengikatkan diri pada musik yang menjadi pekerjaannya. Mengusik kebahagiaan Rinda ketika bekerja jauh lebih sulit dibanding ketika dia sekedar sedang melamun. "Sudah-sudah, sekarang kan sudah mau siap-siap," ujar Arya menenangkan istri dan putrinya. Rinda berjalan menuju kamarnya, mandi dan bersiap. Kusuma sudah menggantung gaun yang tadi disiapkan di depan lemari di kamar Rinda. Selesai mandi, Rinda langsung memakainya. Dia kemudian duduk di depan meja rias, memulas tipis wajahnya. Riasan minimalis pun sudah cukup di wajah Rinda yang memang manis. Rinda sedang menyematkan jepitan rambut berwarna kuning emas ketika Kusuma mengetuk pintu kamar dan langsung membukanya. "Mereka sudah datang, Rin. Rinda udah siap?" ujar Kusuma. "Sudah, Bu," jawab Rinda sambil berdiri. Kusuma tersenyum melihat sang putri yang jelita. Rinda berjalan menuju pintu, keluar dari kamarnya bersama Kusuma. "Mereka duduk sama bapakmu di pendopo. Kamu ke depan dulu, sapa mereka. Ini 'ndak formal, kok. Cuma mengenalkan kalian saja," kata Kusuma yang merangkul punggung Rinda. "Lha, Ibu mau kemana?" tanya Rinda, merasa enggan berjalan keluar sendiri untuk menemui tamu mereka itu. "Cuma sebentar ke dapur, biar mbak-mbak siap mengantarkan minuman ke depan. Pak Hardian kalau ketemu bapak kan obrolannya panjang, 'ndak melulu tentang kalian, udah pasti itu," jawab Kusuma yang sudah mendahului Rinda, berbelok ke arah dapur, meninggalkan Rinda sendiri di selasar menuju pintu utama rumah mereka. Rinda melangkah ke depan setelah berhenti sesaat. Tidak ada alasan untuk tidak meneguhkan langkah. Cepat atau lambat, Rinda harus menemui mereka. Bagaikan melangkah di panggung di konser pertamanya, Rinda berjalan menuju pendopo. Langkahnya tak goyah, Rinda memegang kata-katanya bahwa dia bersedia, menerima segala. "Eh, Rinda. Apa kabar, 'cah ayu?", sapa Ratna sambil berdiri menyambut Rinda yang baru saja muncul di pendopo. Suaranya menciptakan jeda di tengah pembicaraan ringan suaminya dengan Arya. Lelaki muda berambut sebahu yang duduk di samping Hardian Wijaya langsung mengangkat wajahnya, kemudian ikut berdiri. Pandangan matanya bertemu dengan tatapan mata Rinda. Sekejap Rinda langsung mengalihkan pandangan pada Ratna. "Baik, Ma," jawab Rinda. Dia berjalan menuju meja kursi di pendopo itu. Rinda memang sudah biasa memanggil Ratna dan Hardian dengan panggilan mama dan papa. Sejak dia menjadi tunangan Bayu dulu. "Sini, Nak, salaman dulu. Perkenalkan, ini Arkana," ujar Arya yang juga ikut berdiri, berusaha memperkenalkan Arkana pada putrinya. Rinda menyalami Hardian kemudian Ratna, dan terakhir menyalami Arkana. Lelaki itu menatap Rinda, matanya tak lepas dari wajah cantik Rinda sejak Rinda mendaratkan kaki di lantai pendopo itu. "Rinda ini, 'ndak pernah berubah. Malah 'makin lama 'makin cantik," gumam Ratna. Dia memang suka sekali melihat Rinda. Wajah yang ayu, mata yang cemerlang menunjukkan kecerdasan, tutur kata yang sopan, semua yang ada pada diri Rinda sudah sesuai dalam kriteria menantu idaman bagi Ratna. Setelah kembali duduk, obrolan dipenuhi dengan topik mengenai perjodohan antara Rinda dan Arkana. Disela dengan Kusuma yang datang bersama beberapa pelayan menyajikan minuman dan kue-kue. Pembicaraan dimulai dari rencana pelaksanaan acara lamaran, dilanjutkan dengan rencana pernikahan. Rinda maupun Arkana hanya diam dan mendengarkan pembicaraan antar orang tua di pendopo itu, maupun ketika makan malam. "Tidak usah jeda lama-lama kali ini, Pak Arya. Kami takut dengan peristiwa lalu. Sudah rencana mengadakan pesta pernikahan, menunggu berbulan-bulan, malah musibah yang terjadi," pinta Ratna seusai mereka makan malam. Kusuma langsung melirik ke arah Rinda, bergantian ke arah Arkana. Kusuma membaca raut tak nyaman di wajah keduanya. Sedikit saja menyinggung tentang Bayu, tentu menjadi pergolakan di dalam batin Rinda. Sayangnya, Ratna kurang peka memahami perasaan kedua insan yang sedang duduk menerima keputusan perjodohan itu. "Kalian kalau mau jalan-jalan di halaman, boleh saja, lho. Biar kami yang tua-tua ini saja yang mengatur acaranya," ucap Kusuma mengalihkan. Selain untuk mendekatkan Rinda dan Arkana, Kusuma juga ingin sedikit memberi catatan dan memohon pengertian dari kedua orang tua Arkana. "Arkana ajak Rinda berjalan-jalan di luar, ya Bu, Pak, cari angin," ujar Arkana pada Arya dan Kusuma. Arkana memilih menjalankan apa yang dikatakan oleh Kusuma. Matanya menatap pada Rinda, memberi isyarat agar Rinda menyetujui.
good
24/08
0ceritanya bagus tapi lanjutannya mana ?
28/05/2025
0keren
16/03/2025
0ดูทั้งหมด