Menghabiskan sore bersama Kusuma sudah lama sekali tidak dilakukan Rinda. Dulu sebelum Bayu menghilang, setiap sore Rinda selalu berada di salah satu galeri batik milik ibunya itu. Galeri terbesar itu tempat berkantor Kusuma, mendesain motif batik dan model yang akan diproduksi di pabrik milik keluarga mereka. Terkadang Rinda membantu menata ruang pamer, atau sekedar untuk berbincang dengan sang ibunda. Setelah kehilangan Bayu, Rinda tak pernah lagi menghabiskan waktu disana. Rinda lebih suka menghabiskan waktu pergantian siang dan malam bermain biola di tempat nostalgianya dengan Bayu. "Maafkan ibu dan bapak ya, Nak. Kalau harus membuat Rinda 'nerima perjodohan dengan Arkana," ungkap Kusuma memecah keheningan yang terjadi beberapa saat di antara mereka. Rinda menelan salivanya. Kata-kata Kusuma menjadi tanda bahwa keputusan kedua orang tuanya sudah final. Rinda tak bisa lagi mengajukan keberatan, Rinda tak punya cukup alasan. Sejak kecil, Rinda memang bukan anak pembangkang. Ia selalu menerima apapun yang diberikan, melakukan apapun yang disuruh oleh orang tuanya. Arya dan Kusuma juga tak pernah jadi orang tua yang suka memaksa Rinda melakukan hal yang tidak nyaman bagi diri Rinda sendiri. Apapun yang diminta dan dipilih Rinda tidak pernah luput dari perhatian dan izin Arya serta Kusuma. Termasuk ketika Bayu baru saja dikabarkan hilang. Rinda minta diantarkan ke Sangihe, lokasi terdekat dari pangkalan TNI AL Pulau Morore yang bisa mereka tinggali untuk beberapa waktu. Arya dan Kusuma menuruti semuanya, mengantar dan menemani Rinda selama berbulan-bulan disana. Menantikan setiap kapal pencari yang datang berlabuh silih berganti. Masa itu pulalah kejadian nahas menimpa bisnis milik keluarga mereka. Pabrik batik yang ditinggal lama oleh sang pemilik dilalap api sampai habis menyisakan abu dan arang. Perusahaan batik yang baru saja menerima kucuran modal dari bank atas ekspansi usaha yang mereka lakukan pun terancam gulung tikar. Saat itulah keluarga Wijaya hadir mengulurkan tangan mereka. Hardian Wijaya, ayah dari Arkana memberikan mereka pinjaman lunak untuk menutup hutang pada bank, sekaligus membangun kembali pabrik yang sebelumnya musnah menjadi abu. Pembagian keuntungan dan saham dari Arya ditolak oleh Hardian. Alasannya, mereka sedang sama-sama berduka atas hilangnya Bayu. Bahu membahu adalah pilihan yang harus dilakukan. Kehilangan Bayu tentu bukan hanya milik Rinda seorang, melainkan juga milik keluarga Wijaya. Keluarga yang sudah membesarkan Bayu sejak kecil, seperti anak kandungnya sendiri sepeninggal ayah kandung Bayu. Ayah Bayu adalah adik dari Ratna Sulastri, istri Hardian Wijaya. Meninggalnya ayah Bayu akibat kanker darah di usia muda membuat ibu kandungnya, tak mampu menahan beban pikiran. Dia tak pernah berbicara lagi, matanya kosong, tidak bisa tidur, juga tak berselera makan. Ketika ibu kandung Bayu mulai berbicara sendiri dan tak lagi mengacuhkan si kecil Bayu, Ratna membawa adiknya itu ke rumah sakit jiwa. Beruntung, Ratna menikah dengan Hardian Wijaya, putra keluarga ningrat yang mewarisi kekayaan dan perusahaan properti serta operasional hotel di berbagai kota di Pulau Jawa dan Bali, juga beberapa perusahaan di bidang lain sebagai diversifikasi usaha. Membiayai biaya pengobatan di kelas VIP rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun untuk adiknya bukan masalah besar bagi Ratna. Juga membesarkan Bayu dalam kemewahan yang sama dengan Arkana, tidak menjadi beban sama sekali. Bayu disayangi layaknya anak kandung sendiri, oleh Ratna dan juga oleh Hardian Wijaya. Itulah mengapa, kehilangan Bayu sama saja dengan kehilangan salah satu anak lelaki mereka. Kehilangan itu juga sebenarnya dirasakan oleh Arkana. Sejak Bayu tinggal bersama keluarga Wijaya, Arkana sangat menyayanginya. Bagi Arkana, Bayu adalah adik, bukan sebatas saudara sepupu. Sejak Bayu menghilang, Arkana semakin jarang pulang ke Indonesia. Setelah studinya selesai sampai jenjang master jurusan bisnis dan administrasi pada salah satu perguruan tinggi di luar negeri, Arkana tak kunjung kembali. Seharusnya Arkana sudah kembali ke Indonesia dua tahun lalu, sekalian untuk menghadiri pernikahan Bayu dan Rinda. "Besok malam mereka datang ke rumah, omong-omongan mengenai lamaran dan pernikahan. Arkana sudah sampai di Indonesia, Rinda belum pernah ketemu Arkana, toh?" Kusuma kembali memancing suara putrinya. Kusuma tahu persis, hati di dalam tak pernah diam. Namun kebisingan di dalam hati itu tidak pernah dikeluarkan Rinda melalui suara dari mulutnya. Perkara yang tampak dari luar? Tentu saja biasa. Selepas kepergian Bayu, Rinda menjalani hidup dan karirnya sebagai violinis, pemain biola. Di bidang musik, karir Rinda tak pernah redup. Bukan tanggung-tanggung, Rinda juga lulusan master seni pertunjukan dari universitas negeri bidang seni di Kota Yogyakarta. Tak jarang Rinda bergabung mengelola konser artis ternama nasional maupun internasional yang diadakan di seluruh Indonesia, kadang sebagai pihak manajemen di belakang panggung, dan kadang sebagai pemain biola. Tak ada satupun yang tampak salah pada diri Rinda, kecuali masa lalu yang menggoreskan luka terlalu dalam di hati Rinda. Luka karena kehilangan Bayu. "Rin, Rinda dari tadi belum jawab Ibu, lho," ujar Kusuma pada Rinda. Suara Kusuma mengejutkan lamunan Rinda, mengembalikan pikirannya yang tadi dibawa terbang oleh semua kenangan tentang Bayu. "Iya, Bu." Begitu singkat jawaban Rinda. Tidak ada satupun dari kalimat singkat itu yang berasal dari hatinya. Tidak ada rona bahagia, namun juga tidak berduka dengan penuh drama. Rinda berusaha menerima takdir yang memilihnya. "Jadi besok kita bertemu keluarga Wijaya, perkenalan Rinda dengan Arkana," kata Kusuma. Kusuma memang sengaja mengulang-ulang semua pernyataan itu, hanya menegaskan dan memeriksa reaksi Rinda yang sebenarnya. Kusuma sebenarnya tahu, Rinda tidak akan pernah membuat ekspresi dramatis dengan menangis tersedu, lari ke kamar dan mengunci dari dalam, apalagi berteriak dan memohon. Rinda selalu bersikap tenang, bagaikan permukaan laut dalam, namun justru laut dalam itulah yang selalu sulit diukur gejolak kekuatan arus di dasarnya. "Iya, Bu." Sekali lagi hanya jawaban singkat yang keluar dari bibirnya yang berwarna merah muda. Dalam batin, Rinda sedang bertekuk lutut pada garis nasib. Mengakui kekalahan dan memberi selamat pada kehidupan yang berhasil menyeretnya ke arah berlawanan dengan keinginannya. Bulan sabit kuning pucat mulai muncul di atas kepala. Membiaskan riak bersinar putih keemasan pada air laut yang terhampar di hadapan mereka. Kusuma memang tidak mau memaksa Rinda untuk pulang, meminta pun tidak. Kusuma bertekad akan menunggui Rinda sepuasnya hari ini. Besok keluarga Wijaya akan datang memperkenalkan Arkana pada Rinda sekaligus membicarakan perjodohan itu. Keluarga Wijaya memang meminta pernikahan dilaksanakan secepatnya. Setelahnya, Rinda tentu akan lebih banyak diatur untuk tetap di rumah, mempersiapkan acara lamaran dan pernikahan dengan segera. Kalau pun pergi keluar, mungkin Rinda akan diantar oleh Arkana agar mereka jadi lebih dekat. Itulah rencana kedua pihak keluarga. "Bu, apa Ibu dulu sayang sama Bayu?" Pertanyaan Rinda menggantung, seiring tarikan nafas panjang dari Ibu Kusuma.
good
24/08
0ceritanya bagus tapi lanjutannya mana ?
28/05/2025
0keren
16/03/2025
0ดูทั้งหมด