logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu

Candra Kirana


บทที่ 1 GADIS PEMAIN BIOLA

"Rinda, Rinda, Rinda, turun sini. Rinda, Rinda, ayo pulang, Nak!" teriak seorang ibu sambil berusaha menaiki tangga terjal menuju puncak Bukit Paralayang.
Kusuma Wardhani, pengusaha batik terkenal di Yogyakarta. Teriakannya membuat beberapa orang yang ada di restoran kecil pada bahu bukit itu memperhatikannya. Namun sayang, angin pantai Selatan justru membawa suaranya ke arah yang berbeda. Hanya orang berjarak sangat dekat yang bisa mendengarnya.
Seorang pemuda remaja mendekati Kusuma, "Sudah Bu, Ibu tunggu disini. Biar aku panggilkan kakak itu." Kusuma duduk setelah berterimakasih padanya.
Pemuda itu berlari kecil menaiki tangga menuju landasan paralayang yang ada di puncak tangga. Menghampiri seorang gadis yang memainkan biolanya di depan langit senja. Irama kesedihan mengalun dari biola itu, tak ada beda dengan alunan kepedihan di hatinya.
Semua orang yang sering berkunjung ke restoran itu tentu sudah mengenalnya. Bukan mengenal secara pribadi, hanya mengenal gadis manis pemain biola bernada minor. Hanya pemilik restoran itu yang sudah sangat mengenalnya.
Pengunjung tentunya banyak yang menikmati permainan biola Rinda. Bagaimana tidak? Alunan musik sendu yang merdu merayu berpadu satu dengan panorama mentari senja dari atas Bukit Paralayang. Bukit yang menyajikan pemandangan laut dan Pantai Parangtritis dari ketinggian.
Hampir setiap hari selama dua tahun ini, Rinda datang ke restoran itu, setiap senja. Ketika matahari merah memadu kasih dengan air laut di ujung cakrawala, Rinda berdansa dengan biolanya. Tak pernah absen sekali pun, kecuali Rinda memang memiliki hal yang tidak bisa dia tinggalkan. Biasanya, keesokan harinya Rinda akan datang lebih awal dan pulang lebih akhir, seolah melepas rindu dengan tempat itu.
Tempat itu memang tempat pertama dan terakhir yang bisa dituju Rinda, untuk melabuhkan rindu yang tak dapat lagi dilepaskan pada kekasihnya.
Bukit Paralayang, begitu sebutan tempat itu. Panorama senjanya yang memikat menjadikan tempat itu sebagai primadona bagi muda mudi yang sedang jatuh cinta. Tak ubahnya seperti Rinda, dua setengah tahun yang lalu sebelum bencana besar kehidupan melandanya. Mengubah suratan takdir Rinda dengan Bayu, kekasih yang tak pernah sedetikpun hilang dari hati dan pikirannya.
Sudah dua tahun setengah sejak Bayu terakhir kali duduk di tempat ini bersama Rinda. Dua hari sebelum keberangkatan Bayu ke Pulau Marore yang ada di bagian Timur Indonesia, lokasi pangkalan TNI AL tempatnya bertugas.
Hari itu, Bayu berjanji akan kembali dalam 8 bulan untuk melangsungkan pernikahan dengan Rinda. Bayu meminta maaf pada kekasihnya itu karena harus mempersiapkan detail pernikahan sendiri. Dia tidak bisa berlama-lama meninggalkan tugas.
Enam bulan setelah Bayu berangkat, hanya berjarak dua bulan menjelang hari pernikahan, Rinda menerima kabar bahwa Bayu menghilang, bersama kapal dan empat rekannya ketika bertugas, patroli di perbatasan laut Indonesia dan Filipina.
Setahun lamanya Rinda menanti kabar setiap hari dari tim pencari di TNI. Sampai kemudian Bayu secara resmi dinyatakan gugur dalam tugas. Setelah pernyataan resmi itu, pencarian dihentikan. Tapi kehadiran Bayu di hati Rinda tak pernah berhenti.
Hilangnya Bayu telah mengubur seluruh rencana masa depan yang tadinya terukir indah. Bayu dan Rinda berencana menikah sesegera mungkin. Sekarang, kalau saja mungkin, Rinda akan menunggu Bayu sampai kapanpun. Sampai mati pun, Rinda bersedia.
"Rin, aku ini pelaut, aku prajurit. Kalau ada apa-apa terjadi padaku. Tetaplah berbahagia, tetaplah jadi Rinda yang seperti ini. Lanjutkan kehidupan." Pesan Bayu itu selalu terngiang di telinga Rinda. Bukan hanya ketika Bayu akan pergi untuk terakhir kali, namun sejak awal Bayu menyatakan perasaan pun, dia sudah mewanti-wanti Rinda.
"Bay, aku 'ndak tahu bahwa sepedih ini kehilanganmu," gumam Rinda seperti yang selalu yang dilafalkannya ketika memainkan biolanya seorang diri, sambil menatap laut yang telah membawa pergi kekasihnya.
"Kak, maaf, ibu kakak dari tadi memanggil. Sepertinya ingin menyusul kakak naik kemari, tapi tidak kuat, anginnya terlalu kencang, tangganya curam. Aku hanya bantu panggilkan kakak." Pemuda itu berkata di dekat Rinda, menghentikan untaian melodi yang sedang dirajut Rinda dengan biolanya.
"Oh, makasih ya, Mas. Maaf merepotkan. Bilang ke ibu, aku segera turun," jawab Rinda, disertai senyum ramah di wajah cantiknya. Pemuda itu membalas senyum Rinda dan mengangguk, kemudian segera turun kembali.
Rinda mengemasi biolanya, memasukkan ke dalam kotak kemudian menggendongnya. Rinda berjalan kencang menuruni tangga yang curam itu. Dia sudah melihat ibu duduk menunggunya di salah satu meja cafetaria.
"Bu, kan Rinda udah bilang. Ibu 'ndak usah nyusul-nyusul kesini. Rinda udah biasa kesini, Bu. Pasti Rinda pulang dengan selamat, kan?" ucap Rinda sambil mencium jemari di tangan kanan sang ibu.
"Duduk disini, Nak. Ibu keburu pesan minum tadi, sambil 'nunggu mas-mas tadi manggil kamu." Bu Kusuma sebenarnya hanya ingin duduk menemani Rinda kali ini, yang mungkin menjadi kali terakhir Rinda mendatangi tempat itu sendiri.
Rinda duduk di samping ibunya. Ibu memang pintar memilih tempat duduk yang tepat. Dari tempat mereka duduk, mereka bisa melihat indahnya semburat merah dan ungu di langit senja. Di bawah, air laut mengkilat berwarna biru gelap, tenang namun dalam, menanti datangnya cahaya bulan.
"Rin, Rinda 'ndak marah, kan? Sama ibu dan bapak?" Ibu memberanikan diri untuk bertanya pada Rinda. Bukan karena gadis itu mudah kesal atau gampang tersulut emosi. Melainkan karena takut membuka luka dalam dan kepedihan yang tersimpan jauh di dasar lubuk hati Rinda.
Rinda menggeleng, bibirnya mengulas seutas senyum, tidak rela, tidak pula terpaksa. Rambut panjangnya menari-nari tersapu angin. Rinda menyematkan rambut itu ke belakang telinganya.
"Buat apa Rinda marah, Bu? Rinda marah juga 'ndak ada gunanya. Mau sedih, ya udah biasa. Mau kesal, ya Ibu dan Bapak 'ndak salah apa-apa. Wajar kalau Ibu dan Bapak mau Rinda menikah. Tapi apa iya, harus sama anak keluarga Wijaya, Bu? Sepupunya Bayu, lho, Bu. Bayu itu sayang banget sama Arkana, Bu. Dulu, dia 'ndak pernah habis bahan kalau sedang cerita tentang Arkana."
Nada suara Rinda sungguh mendayu-dayu bila sedang menceritakan sedikit saja tentang Bayu. Bibirnya masih mengulas senyum, namun matanya meneriakkan kesedihan. Sang ibu yang menatapnya sungguh merasakan kepedihan hati Rinda.
"Rinda, ibu dan bapak memang ingin Rinda menikah. Cuma Rinda anak satu-satunya, harapan ibu dan bapak. Ibu sudah bilang sebenarnya sama Bapakmu, tapi Bapak 'ndak enak, Rin. Keluarga Wijaya terlanjur pernah bantu Bapak waktu pabrik batik habis terbakar," desah Kusuma. Wanita paruh usia itu sendiri gelisah, tak tahu mana yang harus diputuskan.
Di satu sisi, Kusuma paham perasaan putri semata wayangnya. Di sisi lain, hutang budi tak bisa menanti. Arya, ayah dari Rinda terpaksa menyetujui permintaan dari Wijaya untuk menikahkan Rinda dengan Arkana, putra kandung satu-satunya, penerus keluarga Wijaya.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (23)

  • avatar
    gabatjshua

    good

    24/08

      0
  • avatar
    AchmadRezky

    ceritanya bagus tapi lanjutannya mana ?

    28/05/2025

      0
  • avatar
    Aprilisa Anggun Dwi Ardiyanti

    keren

    16/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด