Prolog Setelah resmi dipinang oleh pujaan hati dan menjalani kehidupan rumah tangga selama dua tahun, Evrilia memutuskan berhenti menjadi wanita karir. Hendak memberi keturunan bagi sang suami atau sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Evrilia Prajapati melangkah lembut keluar dari ruang HRD bersama senyum secerah mentari, menyapa beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan tetap anggun. Akhirnya, setelah proses panjang itu Evrilia keluar dari dekap pekerjaannya yang melelahkan. Lantas sepenuhnya menyandang gelar sebagai ibu rumah tangga. Atau sebentar lagi, menyandang gelar sebagai seorang ibu. Evrilia, seorang perempuan berusia dua puluh sembilan tahun. Menikah dengan seorang pengusaha kopi instan bernama Tanjung Pratama. Anak perusahaan dari Pandawa Group yang menaungi lima anak perusahaan dengan kopi instan salah satunya. Melangkah keluar dari lobi hotel seorang berkaus hitam melambai pada Evrilia. Oh, itu Tanjung, suaminya. Lelaki yang katanya akan menyambut kebahagiaan Evril ketika perempuan itu sepenuhnya selesai dengan kontrak kerjanya sebagai kommis chef di salah satu hotel bintang lima. "Selesai?" tanyanya dengan nada riang dan Evrilia menyambut keriangan itu dengan lebih riang. "Selesai," katanya. Sembari menunjukkan surat kontrak kerja yang baru terputus. Pertama-tama mari berkenalan dengan Evrilia. Nama lengkapnya Evrilia Prajapati. Anak dari seorang petani yang hidup berkecukupan di pedesaan. Pemilik lahan luas dengan kawanan sapi juga kambing yang juga jadi usaha sampingan. Evrilia merantau dan keluar dari kehidupan pedesaan setelah mimpinya menjadi seorang pastry chef terlaksana. Keterima kerja di tempatnya magang jaman kuliah dulu, membuat karirnya melaju anggun. Menikah dengan pemuda yang dia pacari sejak jaman kuliah jadi kebahagian lain Evrilia. Dan pekerjaan suaminya yang mentereng pula membuatnya semakin diliputi kebahagiaan. Evrilia Prajapati, yang kini memiliki mimpi lain memomong anaknya sendiri. Kemudian Tanjung Pratama. Anak ketiga dari tiga bersaudara yang mewarisi satu anak perusahaan dari Pandawa Grup. Perusahaan keluarga yang menurun pada keturunannya. Tanjung seorang lelaki baik, tampan, dan mapan. Menjadi salah satu pengusaha kaya membuat namanya ikutan mentereng. "Romantic dinner?" tanya Tanjung menawarkan. Evrilia baru menyimpan ponselnya setelah menjawab setiap pesan dari rekan kerjanya yang kebanyakan menyayangkan keputusan resign-nya daripada menyelamati atas kebahagiaan baru. "Boleh," jawabnya mantap. Lantas menggeleyot di tangan kekar Tanjung yang sengaja turun untuk menggenggam jemari istrinya. Mimpi Evrilia seperti terajut dengan sempurna. Tidak ada hambatan seperti kehabisan benang atau jarum yang dia gunakan merajut patah. Evrilia seperti mengaliri arus cepat namun tenang. Membuatnya sampai pada tujuan hidup dengan lebih cepat. Seperti sangat sempurna. "Bisa kita bicarain kamu setelah ini?" tanya Tanjung. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya Evrilia tanyakan juga. "Pertama, mari menimang buah hati," kata Evrilia tiba-tiba. Mungkin juga membuat Tanjung terkejut. Dua tahun pernikahan yang melelahkan ketika sanak saudara terus bertanya tentang momongan. Keburu tua kalo kata ibu mertua, katanya juga jangan menunda, keburu masa suburnya hilang. Namun hamil di usianya yang masuk dua puluh sembilan tidak terdengar buruk. Lagipula banyak ibu hamil yang menyandang usia tiga puluhan keatas dan mereka baik-baik saja. Dan hamil bukan soal masa subur, namun mampukah ayah dan mama menimang bayi dan mendidiknya dengan baik. Bukan semata-mata, membuat, melahirkan kemudian menyusi. Evrilia kira, memiliki anak mempunyai makna lebih. Menjadi lebih sabar, bertanggung jawab, dan menurunkan ego. Jadi perlu kesiapan yang matang. "Kamu siap?" tanya Tanjung seolah sedikit ragu. Sebelum menikah, Evrilia sudah bilang bahwa memiliki momongan jadi hal sensitif bagi Evrilia. Dia bukan enggan, hanya mungkin kala itu belum mampu. Takut justru menyakiti bayi mungil titipan Tuhan. "Aku harus siap, 'kan?" "Maksudnya, kamu bakal baik-baik aja?" Seperti suami yang Evrilia harapkan dahulu. Baik dan mengerti apa yang Evrilia mau atau tidak mau. "Seharusnya," kata Evrilia. "Karena ada kamu juga. Jadi aku kira semua akan baik-baik aja." Tanjung tersenyum. Merekah senyum itu membuat dada Evrilia berdesir. Seingin itu Tanjung memiliki momongan. Tanjung suka anak kecil. Kedua kakaknya yang sudah menikah juga sudah memiliki ekornya masing-masing. Terkadang ketika kumpul keluarga, Tanjung akan jadi Om paling baik bagi keponakan-keponakannya. Bermain dan terus bermain, memberi hadiah dan mengajak bercanda. Tanjung sesuka itu dengan mereka. Jadi meski tidak pernah dibahas selama pernikahan itu, Evrilia tahu Tanjung sangat menginginkan buah hati. "Aku nggak akan paksa kamu kalo kamu memang nggak mau." Tanjung melambatkan mobil melewati jalur lambat. Mata itu fokus pada jalanan namun manik cerahnya bisa Evrilia lihat lewat sudutnya. Jemari besar lelaki itu juga menggenggam hangat. "Kalo aku mau?" Evrilia bertanya. Terkesan sedikit menantang dengan senyumnya yang lembut. "Ini waktunya, Mas. Aku tahu kamu pengen punya anak." Tanjung menghela napasnya. Ada desiran haru dari napas itu kemudian gurat wajahnya yang berubah cerah. Evrilia masih mengamati lekat garis wajah suaminya dari samping, menilik seluruh wajahnya yang setiap hari dia pandang namun tak pernah sekalipun membosankan. Perjalanan menuju rumah di siang yang panas tidak terasa membosankan seperti biasanya. Jalanan ramai dengan beberapa mobil dan pengendara motor nakal yang sesekali mendahului gerak mobil mereka tidak sepenuhnya membuat Tanjung atau Evrilia emosi. Satu bahagia lembut yang mengalir begitu saja. Siang menjelang sore, menuju sebuah rumah berlantai dua yang tidak begitu besar namun cukup nyaman. Pelataran rumah berupa taman bunga yang Evrilia rawat semenjak menginjakkan diri sebagai tuan rumah di sana tertata rapi. Ada pula satu kolam ikan berisi koi yang jadi tempat singgahnya ketika lelah merawat bunga. Evrilia sengaja turun dan tidak turut masuk garasi mobil. Ingin melihat bagaimana dua koi-nya saling kejar setelah diberi makan. Tanjung datang kemudian. Memeluk Evrilia dari belakang. Meletakkan dagu di pundak perempuan itu dan bergelayut manja. "Kamu kelihatan lebih bahagia," ujar Evrilia ikutan melingkarkan tangan di perutnya sendiri. Di atas tangan Tanjung sembari mengusapnya. "Karena kamu juga bahagia mungkin," katanya. "Kamu mau punya berapa anak?" tanya Evrilia memutar tubuh agar bisa menghadap suaminya. Kedua tangannya yang melepas dekap itu beralih menangkup pipi sang suami. "Satu aja belum, kok udah tanya jumlah?" "Kita plan sejak sekarang. Aku mau anak laki-laki," kata Evrilia dengan mata binarnya. "Kamu pasti mau anak perempuan." "Kok kamu tahu?" Evrilia hampir tahu semua tentang Tanjung. Ikatan mereka terjalin sejak masa kuliah. Sembilan tahun bersama dalam suka dan duka. Waktu yang cukup untuk saling mengerti, saling menyalahkan pula saling mengingatkan. Pertikaian kecil sampai besar jadi makanan sehari-hari, namun peluk cium dan hal lain juga jadi penghias hubungan mereka. Melebihi seorang keluarga, teman pula sahabat. Hubungan Tanjung dan Evrilia memang semanis itu. "Apa yang enggak Evrilia tahu tentang Tanjung?" Tanjung memberikan tatap terbaiknya sekali lagi. Menangkap keseluruhan tatap sang istri. "Kamu nggak tahu kalo pagi ini aku belum mandi," ujar Tanjung. Evrilia hendak terkekeh, namun sebelum itu perempuan berambut panjang itu mengecup Tanjung lebih dulu. Dan senyumnya merekah hebat. "Tadinya aku nggak tau, tapi kamu udah ngasih tahu." Tanjung melipat bibir. Mungkin kaget dengan kecupan singkat sang istri yang tiba-tiba. Seagresif biasanya namun masih sama mengagetkan. "Harusnya aku tetep diam, 'kan?" Evrilia mengangguk dan tersenyum. Tanjung merangkul sang isrti untuk berjalan masuk ke istanan kecil mereka. Sembari saling terkekeh juga saling goda. "Aku reservasi fine dinning di hotel tempat mu, ya?" tanya Tanjung. Mendengar itu, Evrilia berhenti dan menarik baju belakang suaminya. "Jangan, dong. Apa kata temenku nanti." "Katanya, cie Evrilia yang udah resmi resign sekarang punya banyak waktu buat pacaran sama suami." Evrilia tertawa lepas. Namun tawa itu terinterupsi oleh dering ponsel suaminya yang berdenting sekali. Mungkin hanya pesan masuk. "Siapa, Mas?" tanya Evrilia penasaran. "Karyawan kantor. Kayaknya harus kesana." "Oke, sampai jumpa nanti malam," ucap Evrilia dengan senyumnya. "Aku juga harus dandan buat nanti malam, 'kan?" "Jangan cantik-cantik. Takut temen-temen kamu malah suka." Evrilia mencubit ringan pinggang sang suami. Lantas ditinggalkannya kecupan singkat di dahi dan lambaian anggun. Evrilia bersama satu hari bahagianya. Lepas dari pekerjaan dan satu bahagia lain bersama sang suami. Perfect day Evrilia ever have. ~🍁~
sangat bagus
19/06
0kerenn bgt pliss
22/05/2025
0ceritanya bagusss bgtt
17/03/2025
0ดูทั้งหมด