logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Misteri Rumah Warisan Nenek

Misteri Rumah Warisan Nenek

Dessy Mertha S


บทที่ 1 Ke Kampung Nenek

"Hati-hati dijalan ya Sya, kabari Mama jika sudah tiba di rumah Nenek." Mama berpesan sambil mengecup keningku. Aku tahu, beliau pasti masih berat untuk melepas anak gadinya ini pergi jauh darinya.
Hari ini, aku akan pergi kerumah Nenek di kampung. Rencananya aku ingin menetap di sana. Rumah itu kosong, semenjak Nenek meninggal lima tahun yang lalu.
Rasa penat tinggal di kota membuatku semangat saat Papa menawariku mengurus perkebunan kelapa sawit peninggalan Nenek.
"Dari pada nganggur dan keluyuran tiap malam, lebih baik kamu kekampung mengurusi kebun kelapa sawit peninggalan Almarhumah Nenek saja Sya," ujar papa saat itu.
"Wah boleh tuh Pah, lagi pula Syasya bosen hidup gini-gini mulu," jawabku sambil cengengesan.
"Lagian kamu disuruh kuliah gak mau, syaa... Sya!" timpal Mama sambil geleng-geleng.
Aku hanya tersenyum, sejak lulus dari Sekolah Menengah Atas aku memang memutuskan tidak melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi. Lelah jika harus menuntut ilmu di tempat satu saja, secara jiwa petualangku selalu meronta-ronta.
Tiap malam aku keluar bersama teman-teman, bukan untuk ngedugem atau happy-happy gak jelas seperti anak ABG yang labil. Kami tertantang untuk mendatangi tempat-tempat mistis, rasa penasaran atas hal gaib itulah yang membuat kami selalu mencari bukti.
Walau sudah banyak tempat-tempat yang katanya 'angker' aku datangi, tapi belum satupun yang terlihat nyata dimata. Itu semua yang membuatku dan teman-teman selalu penasaran.
"Sya, kamu jadi pulang ke kampung Nenekmu?" tanya Wandi salah satu temanku lewat telepon.
"Iya Wan, salam sama yang lain ya! Sepertinya aku akan menetap disana."
"Jangan putus komunikasi ya Sya, kapan-kapan kita kumpul-kumpul lagi. Ah, jadi gak seru nih kalau nyari hantu cuma bertiga."
Tut! Tut! Tut!
Belum sempat kujawab kata-kata Wandi sambungan telepon terputus, 'mungkin pulsanya habis' pikirku.
Aku mengatur posisi duduk agar lebih nyaman. Pak Dadang, supir yang Papa tunjuk untuk mengantarku ke kampung Nenek membawa mobil dengan sangat stabil, hingga membuat mataku mengantuk dan akhirnya tertidur.
*
Aku terbangun saat mobil terasa berhenti, kulihat Pak Dadang tidak ada di balik kemudi. Sedangkan suasana begitu sangat sepi, ditambah kanan kiri dipenuhi dengan pohon-pohon karet. Warna jingga di langit menunjukkan hari telah senja. Artinya aku sudah tertidur beberapa jam lamanya.
Akan tetapi, di mana Pak Dadang? Mengapa dia tidak membangunkanku. Apa mungkin dia sedang kebelet dan mencari tempat untuk menuntaskan hajatnya?
Ditengah kebingunganku memikirkan Pak Dadang, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang entah dari mana datangnya. Suara itu terdengar begitu dekat, tetapi asal suara tersebut tak kuketahui dari mana.
Untuk pertama kali aku merasa takut. Walau sudah sering datang ketempat angker, tetapi rasa ini sungguh membuatku gugup.
"Pak ... Pak Dadang, Bapak dimana?" lirih kupanggil Pak Dadang, bahkan hampir berbisik. Entah kenapa nyaliku menciut.
Suara ketukan itu semakin keras, membuat jantungku makin berdebar tak menentu. Walau udara dingin, keringatku mengalir seperti orang habis berlari seratus meter.
'Ya tuhannn, ternyata kalau sendirian serem gini, ya. Kenapa kalau rame-rame gak takut', gumamku mengeluhkan diri sendiri.
Kucari-cari telepon genggam yang tadi sebelum tidur kusimpan di dalam tas, tetapi sialnya tidak ada sama sekali sinyal di telepon seluler itu.
'Hanya telepon darurat, iya, iya aku ini sedang darurat. Tapi masa harus telepon Pak Polisi sih, ckkk'
Aku berdecak kesal, saat situasi seperti ini keadaan sangat sering tak mendukung. Aku berfikir keras harus melakukan apa, menunggu Pak Dadang atau keluar untuk mencarinya.
Tiba-tiba rasa kebelet pun ikut menyerangku, seakan bahagia menambah penderitaan yang sedang kualami ini.
'Tau gini aku gak tidur tadi!' sesalku karena sudah tertidur lumayan lama.
'Ini semua salah Pak Dadang, ngapain juga ninggalin aku gak pake pamit. Awas aja bakal kuadukan pada Papa.'
Aku mulai kesal dan menyalahkan Pak Dadang, andai dia pamit akan pergi kemana, mungkin aku tidak akan merasa setakut ini. Sedangkan diluar sana, suara ketukan yang muncul tenggelam pun membuat jantung seperti loncat-loncat.
Sementara aku terdiam dan berfikir harus melakukan apa, terlihat Pak Dadang muncul dari balik semak yang ada di perkebunan karet. Hati ini terasa lega, amarah yang tadi sempat meluap pun mereda.
"Bapak kok gak pamit aku dulu, sih!" kataku saat Pak Dadang sudah kembali duduk di balik kemudi.
"Kenapa diem aja, Pak. Bapak sakit?" tanyaku lagi, melihat Pak Dadang yang hanya diam.
Pak Dadang hanya menggeleng, kulihat dari kaca depan wajah Pak Dadang datar dan pucat.
"Bapak dari mana barusan?"
Tanpa menjawab, Pak Dadang mengarahkan telunjuknya ke tengah perkebunan karet. Ada yang aneh dengan sikap Pak Dadang, dia bukan orang yang pendiam.
Aku sangat mengenal Pak Dadang, sopir kepercayaan Papa ini menyayangiku seperti putrinya sendiri. Lantas mengapa saat ini dia bersikap dingin? pasti ada yang terjadi!
'Apa mungkin dia ada masalah.' Fikirku menerka apa yang sedang terjadi pada Pak Dadang.
Walau sudah duduk di balik kemudi, Pak Dadang tidak melakukan apapun. Dia hanya diam. Kuperhatikan dari kaca depan, sorot mata Pak Dadang kosong.
Saat sedang memperhatikan Pak Dadang, tiba-tiba dia pun mengarahkan pandangannya ke arah kaca. Aku tersentak, mata Pak Dadang melotot seakan hendak keluar.
Keringat dingin yang tadi sudah hilang, kini mulai membasahi tubuhku lagi, aku sangat yakin dia bukan Pak Dadang. Pak Dadang mempunyai sifat kebapaan, dan lagi pula tak lazim orang yang melotot bola matanya seperti hendak mencolot keluar.
'Siapa orang yang mirip Pak Dadang ini, orang atau ....'
Aku mulai menerka-nerka, sambil berpura-pura sibuk dengan gawai digenggaman tangan. Aku tak yakin dia manusia, tapi jika memang bukan Pak Dadang, lalu kemana Pak Dadang yang asli?
"Hmmm Pak, aku kebelet nih. Tolong tunggu sebentar aku mau keluar," ujarku mencari alasan, agar bisa keluar dari mobil, dan mencari di mana Pak Dadang. Aku sangat yakin, dia bukanlah Pak Dadang. Melainkan jin usil yang bentuknya menyerupai Pak Dadang, salah jika jin ini mau bermain-main denganku. Tak semudah itu dia mengecoh seorang Syasya.
Tanpa menunggu jawaban dari dia-yang mirip dengan Pak Dadang, kutarik tuas kunci mobil. Nihil ... Sepertinya pintu mobil telah terkunci otomatis dari tombol-tombol yang ada didekat kemudi.
"Jangan halangi aku untuk keluar, hei kau jin usil!" ujarku sambil menatap wajahnya dari kaca depan.
Walau jujur, hati terasa dag dig dug dengan situasi yang aku alami saat ini. Untuk pertama kali, berhadapan langsung dengan makhluk halus. Lebih parah lagi aku hanya sendiri. Pak Dadang teman satu-satunya dalam perjalanan ini pun entah dimana keberadaannya.
Namun, aku tak mau kalah dengan rasa takut. Semakin rasa takut ini terlihat, maka dia jin yang usil akan semakin suka menggangu. Aku harus bisa melawan, derajat manusia lebih tinggi dari jin seperti dia.
Kulafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, sambil terus menatap wajah Pak Dadang palsu dari arah kaca depan.
Lagi-lagi dia memutar bola matanya menatapku dari kaca, kali ini matanya berbentuk bulat sempurna benar-benar seperti hendak mencolot keluar.
"Ya Allah, aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk ...," teriakku, saat melihat sosok yang mirip dengan Pak Dadang menyeringai dan menyembullah kedua taring dari sela giginya.
"Huaaaa ... Allah, Allah, Allah!"
Pertahananku hancur, terlihat jelas sosok itu kini memutar kepalanya hingga wajahnya tepat mengarah kebalakang dan menatapku. Seketika, wajahnya berubah hancur dan dipenuhi belatung berbau busuk.
"Huaaa ... Papa, Papa tolooong!" Kau semakin histeris, disaat situasi seperti ini aku melakukan hal yang sama dengan yang banyak orang lakukan ketika takut, lupa ayat-ayat suci Allah. Iman dihati belum begitu tebal, sehingga disituasi seperti ini malah lupa untuk terus mengingat sang Maha Pencipta.
Kupejamkan mata rapat-rapat agar tak melihat sosok menyeramkan di depanku, namun bau busuk dari sosok di depanku ini sungguh menganggu indra penciuman. Ingin rasanya segera kumuntahkan isi perut yang sudah mendesak ingin keluar dari mulut.
"Ingat, Derajat manusia lebih tinggi dari pada syaitan. Maka dari itu jangan pernah takut dengan mereka, sebut nama Allah!" Tiba-tuba kata-kata Pak ustad-guru ngajiku seperti terdengar ditelinga.
Suara itu membuatku menguatkan hati dan yakin bisa melawan sosok usil di depanku.
"Pergi kau setannn! Jangan ganggu aku, atau kau kubakar dengan ayat suci Allah," jeritku sambil tetap memejamkan mata, aku tak akan membuka mata sebelum bau ini menghilang. Keberanian ini sudah full, aku tak mau hanya karena melihat wajahnya yang seram membuat nyali ini menciut lagi.
"Ya Allah ... Aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk." Nafasku tersengal. Lemaz. Untuk pertama kali kutemukan apa yang ingin kucari, tapi sendirian.
'Ini salahmu Sya ... Tiap malam keluyuran nyari beginian, udah di depan mata begini rasanya ya Allah. Aku harus apa, baca do'a Sya," kataku dalam hati.
"Ya Allah, Ya tuhan ... Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa' ala risqika afthartu birrahmatika ya arhama roohimin aamiin aamiin.". Sambil teriak kubaca do'a yang terlintas dalam fikiran.
"Allah ... Allah ... Allah," kembali kusebut-sebut nama Allah sambil mengingat segala do'a. Apapun do'a yang terlintas dibenakku langsung kuucapkan dengan lantang, "Allahumma inni a'udzu bika minal khubutsi wal khabaits."
Akan tetapi, bau yang menyengat seperti bau sampah yang sudah ditimbun berhari-hari ini tidak juga hilang. Ditambah bau anyir darah membuat perutku semakin bergejolak ingin memuntahkan isinya.
"Huuaaa, " aku berteriak histeris ketika terasa sebuah tangan mencengkram pundak.
'Apa aku harus mati ditangan setan ya Allah,' ucapku dalam hati.
Cengkraman itu makin keras, bahkan mengguncang-guncang tubuh yang sudah lemas ini.
"Tolooong!"

หนังสือแสดงความคิดเห็น (160)

  • avatar
    Saha We

    ending nya nyesek ga enak😖🥺🥲

    10/09

      0
  • avatar
    RojiatiSari Lila

    keren ka

    30/06/2025

      0
  • avatar
    zizeeeyy

    baguss bgttt

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด