logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bab 7

Pukul empat sore kudengar derit pintu pagar berbunyi cukup nyaring. Sudah lama sebenarnya kuminta pada mas Yudha untuk memberi minyak pada engselnya, agar tidak berisik ketika pintu pagar ada yang membuka. Namun, suamiku selalu menunda-nundanya. Sebagai satu-satunya pria dewasa di rumah ini, mas Yudha lah yang selalu mengerjakan urusan rumah yang membutuhkan tenaga dan ketrampilan seorang laki-laki.
Dari balik gorden, kulihat suamiku yang datang. Sudah kuduga, memang biasa jam segini ia tiba di rumah. Seperti biasa pula, mas Yudha akan mampir menemui ibunya dahulu, baru masuk ke rumah ini. Aku sama sekali tidak merasa keberatan, memang sudah kewajibannya berbakti kepada ibunya.
Sudah dua puluh menit berlalu kutunggu mas Yudha belum juga kembali. Biasanya tidak sampai sepuluh menit suamiku sudah balik. Kalau sudah begitu, biasanya ada yang diobrolkan antara suamiku dengan ibunya. Atau, mas Yudha disuruh makan dulu di sana.
Untuk hal yang terakhir ini aku merasa bersyukur. Dengan begitu suamiku bisa makan dengan lauk yang lebih enak. Biarlah aku dan ketiga anakku cukup makan dengan lauk yang lebih sederhana. Seperti hari ini, aku masak sayur bayam dengan tempe balado. Ketiga anakku tidak pernah protes dan selalu memakan apa yang aku masak. Aku sangat bersyukur mereka sangat mengerti dengan keadaan kami.
"Assalammualaikum."
Akhirnya kudengar suara suamiku mengucap salam.
"Waalaikumsalam!" sahutku sembari menyambut dan mencium tangannya.
"Anak-anak mana? Biasanya jam segini lagi nonton tv?" tanya mas Yudha sedikit heran melihat ruang tamu yang kosong.
"Anak-anak lagi di atas, Mas. Lagi main game di ponselku," jawabku.
Kulihat mas Yudha hanya membawa tas ranselnya. Tak terlihat bungkusan peyek yang dibawanya tadi pagi.
"Gimana mas dagangannya?" tanyaku dengan harap cemas.
"Alhamdulillah laku semua, Dek. Yang empat bungkus langsung dibayar, yang tiga dibayar nanti pas gajian," ucap suamiku dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Alhamdulillah." Aku ikut mengucap syukur. Lalu mengambil alih tas ranselnya.
"Hari ini masak apa, Dek? Mas sudah lapar," ucap suamiku seraya langsung membuka tudung saji seperti kebiasaannya.
"Loh, mas belum makan?" aku terkejut.
"Ya belumlah, Dek. Tolong siapkan, ya! Mas mau cuci tangan dulu." Suamiku langsung berlalu ke belakang. Aku pun segera menyiapkan nasi dan lauk untuknya.
"Tadi Mas kok lama di rumah Mama? Lagi ngobrol, ya? Kukira Mas lagi makan.' Aku memandang mas Yudha yang tengah menikmati masakanku.
Suamiku tidak langsung menjawab, ia masih menikmati suapannya. Namun yang kulihat, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Membuatku makin penasaran.
"Mas tadi ngobrol-ngobrol sebentar sama Mama dan Lisa." Akhirnya suamiku bersuara.
"Ngobrol soal apa?" tanyaku cepat.
"Mm ... soal pekerjaan, Mas. Yah, itu saja, gak ada yang penting." Suamiku tampak enggan membahasnya.
Aku menghela napas. Dari tadi aku sudah tak sabar ingin menanyakan soal mantannya, seperti yang dibicarakan Lisa. Aku menunggunya menyelesaikan makannya dahulu.
Selesai makan mas Yudha meraih gelas minumnya yang rutin kusediakan dalam satu buah mug besar.
"Tadi ... mas ngobrol soal Silvi ya, sama Lisa?" ucapku mencoba menebak.
"Uhukk! ... uhukk!! mas Yudha yang tengah minum tersedak begitu mendengar pertanyaanku. Aku buru-buru mengusap-usap punggungnya.
"Kamu kok nanya gitu, Dek?" ucapnya setelah ia bisa bernapas dengan lega kembali. Wajahnya terlihat memerah.
"Iya, kan? Pasti itu yang dibicarakan sama Lisa ke Mas. Soalnya tadi pagi adikmu bilang begitu ke aku!" tukasku dengan nada cemburu.
"Memang Lisa bilang apa sama kamu?" mas Yudha mengerutkan dahinya.
Aku menarik napas dahulu. "Adikmu bilang, kalau dia sudah ngobrol-ngobrol sama mantannya Mas. Si Silvi itu. Terus, Lisa minta tolong ke aku untuk menyampaikan salam dari Silvi ke Mas! Apa maksudnya coba!?" cetusku beruntun dengan mimik muka cemberut.
Mas Yudha menghela napas. "Iya, tadi Lisa membicarakan Silvi sama Mas. Silvi memang mengirim salam buat Mas. Ya, gapa, tho? Cuma sekedar salam penyambung silaturahmi," jawab suamiku dengan santai
"Tapi aku pernah dengar kalau dia sudah janda, Mas!" Hatiku masih merasa tidak tenang.
"Ya memang kenapa kalau dia sudah janda? Kamu cemburu? Tenang saja, Mas biasa aja kok ke dia." Mas Yudha lagi-lagi menjawab dengan nada datar. Kemudian ia mengambil dompet dari kantung celananya.
"Ini, uang dagangan tadi." Mas Yudha meletakkan uang penjualan peyek di atas meja.
"Mas mau mandi dulu. Sudah gerah badan!" ucapnya lagi, seraya bangkit dan berlalu ke belakang.
Aku hanya diam sambil memandang selembar uang berwarna biru yang barusan diletakkan mas Yudha. Mulutku masih mengerucut, merasa belum puas mendengar jawaban mas Yudha tadi.
Namun, melihat sikap suamiku yang biasa saja, aku berpikir mungkin diriku saja yang menyikapinya terlalu berlebihan. Ini pasti cuma akal-akalan Lisa untuk mencari perkara denganku, pikirku. Aku pun merasa geram.
"Bundaa!" tiba-tiba terdengar panggilan dari Ara dari atas tangga.
Kulihat ketiga anakku berturut-turut berlari turun dari lantai atas.
"Ada apa? Jangan lari-lari gitu Aril! Nanti kamu jatuh!" seruku pada putra bungsuku yang berlari di belakang kedua kakaknya.
"Ini, Bunda! Ada telpon dari Kakek!" ucap Ara sambil menyerahkan ponselku.
Aku tersenyum. Pantas, mereka begitu heboh. Ketiga anakku memang paling senang kalau kakeknya menelpon.
Kulihat layar ponsel, rupanya beliau sudah sempat berbicara dengan cucunya. Terlihat dari panggilan yang sudah tersambung.
"Halo, Assalammualaikum, Pak!" Salamku pada pria yang paling kuhormati dan kusayangi di dunia ini
"Waalaikumsalam. Apa kabar, Teh?" Terdengar suara berät dari sosok yang aku rindukan. Sedari kecil aku memang biasa dipanggil 'Teh' oleh kedua orangtuaku yang berasal dari Jawa Barat. Walau pada akhirnya aku hanya menjadi anak tunggal.
"Alhamdulillah baik, Pak. Bapak sendiri gimana kabarnya, sehat?" tanyaku merasa gembira.
Kulirik ketiga anakku yang tengah berdiri di dekatku. Mereka memperhatikan dengan serius aku berbicara dengan kakek mereka.
"Alhamdulillah, Bapak dan ibu sehat di sini. Besok hari Sabtu. Kapan kamu ke sini? Bapak udah kangen sama cucu-cucu Bapak."
"Iya, Pak. Nanti Mira tanyakan dulu ke mas Yudha. Mudah-mudahan besok bisa ikut juga ke rumah Bapak."
Ara dan Alia melompat-lompat gembira ketika mendengar ucapanku barusan. Aril pun mengikuti tingkah kakaknya, ikut melompat-lompat. Membuatku ingin tertawa melihat tingkahnya.
"Ya sudah, Teh. Nanti kabari Bapak ya, kalau besok jadi ke sini. Salam buat suami dan mertuamu."
"Iya, Pak. Nanti Mira sampaikan," jawabku. Lalu, kami pun saling mengucap salam.
"Horee! Besok kita ke rumah Kakek!" sorak ketiga anakku sambil bertepuk tangan dan melompat-lompat.
"Ada apa ini? Kok, ramai sekali?" Tiba-tiba ibu mertuaku sudah berdiri di depan pintu.
Ara, Alia, dan Aril pun, sontak terdiam.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (339)

  • avatar
    Anggi Sholeh Hidayat

    ini seperti kisah hidupku thor😭

    15/08/2022

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus jalan ceritanya ..

    04/02

      0
  • avatar
    Azka Plant

    nice

    18/01

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด