Pagi ini aku mendapat pesan WA dari bu RW tetanggaku. Ia memesan peyek sebanyak lima bungkus yang semalam aku tawarkan lewat story WA. Alhamdulillah, ucapku bersyukur dalam hati. Dari semua pelangganku, beliaulah yang paling sering memesan daganganku. Selain terkenal baik dan ramah pada tetangga, beliau juga terkenal kaya. Suaminya memiliki beberapa kontrakan di daerah sini. Rumah yang aku kontrak dulu, adalah juga salah satu miliknya. Kuhampiri mas Yudha yang tengah bersiap berangkat kerja. "Mas, ini uang lima belas ribunya Mas pakai saja. Hari ini Bu RW memesan daganganku." Kuserahkan uang sisa milikku padanya. Kulihat suamiku ragu-ragu menerimanya. "Peyeknya apa masih ada, Dek? Mas punya ide, mau coba bawa jualanmu ke tempat kerja. Siapa tau temen Mas ada yang mau beli," ucap suamiku yang sukses membuatku melongo. "Mas ... mau nawarin ke teman!?" tanyaku tak percaya. Biasanya selama ini suamiku cuek dan tidak peduli aku berdagang. "Iya. Tolong siapkan, ya. Mas mau jalan." Mas Yudha melihat jam dinding. "I-iya, Mas. Tunggu, ya!" Aku buru-buru mengambil kantong plastik dan memasukkan sisa 7 bungkus peyek yang belum terjual. Aku masih merasa tidak percaya mas Yudha tiba-tiba saja ingin ikut menjual daganganku. Tak urung hatiku merasa sangat senang. "Ini Mas." Kuserahkan bungkusan peyek kepada mas Yudha. "Semoga laris ya, Mas," doaku dengan wajah sumringah. "Peyeknya enak dan renyah, kok," ucapku meyakinkannya. Mas Yudha hanya mengangguk. Setelah mencium tangannya, suamiku pun berangkat. Aku melihat Lisa tengah duduk di teras sambil memainkan ponsel. Sempat kulihat tadi ia mencuri-curi pandang ke arahku dan mas Yudha. Seperti biasa mukanya cemberut melihatku. Aku kembali masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan rumah yang belum beres. Setelah ini aku akan pergi ke rumah bu RW untuk mengantar pesanannya. Kulihat Ara dan Alia tengah memegang ponsel, bersiap menunggu tugas online dari sekolahnya. Sedang putra bungsuku tengah menonton televisi. "Belajarnya gantian ya, Kak. Jangan rebutan!" ucapku mengingatkan mereka. "Baik, Bun," jawab Ara dan Alia serentak. Sementara Aril fokus melihat tayangan di hadapannya. Aku lalu berlalu ke belakang untuk mencuci piring kotor bekas sarapan tadi. Aku memasak nasi goreng untuk mas Yudha dan ketiga anakku. Sementara aku tadi hanya memakan sepotong bakwan goreng yang kubuat sendiri dan segelas teh manis hangat. Biar suami dan anak-anakku saja yang makan nasi goreng biar lebih mengenyangkan. "Kak, Bunda mau ke rumah bu RW sebentar. Jaga adik, ya," ucapku pada putri sulungku setelah aku menyelesaikan pekerjaan rumah. "Iya, Bun," jawabnya. Aku bergegas keluar rumah menuju rumah bu RW yang bejarak sekitar dua ratus meter dari rumahku. Sempat kulihat tadi adik iparku masih duduk di teras. Ia tengah memainkan ponselnya sambil senyum-senyum. Mungkin tengah WA-an dengan pacarnya, pikirku. Setelah sepuluh menit berjalan kaki, aku tiba di rumah bu RW. Kulihat Wanita paruh baya itu tengah sibuk menyiram tanaman. Melihat kedatanganku, ia menghentikan kegiatannya dan menyuruhku duduk di teras. "Jadi berapa semuanya?" tanya beliau ramah setelah aku meletakkan pesanannya di meja teras. "Semuanya jadi enam puluh dua ribu lima ratus, Bu," jawabku. Aku hanya mengambil untung dua ribu lima ratus perbungkus. "Sebentar, ya." Bu RW berlalu ke dalam rumah. Sambil menunggu, aku melihat-lihat halaman rumahnya. Terlihat cukup asri dengan adanya berbagai macam tanaman hias. Dari yang kudengar, bu RW memang gemar bercocok tanam. Di sudut pagar kulihat tanaman bougenville dengan bunganya yang berwarna merah dan jingga. Tengah asyik mengamati bunga-bunga, tiba-tiba seseorang yang sangat kukenal lewat di depan rumah ini. "Yana!" Aku memanggilnya. Yana menoleh melihatku. Ia kelihatan kaget. "Eh, hai!" jawabnya terlihat gugup. Kulihat matanya mencari-cari keberadaan bu RW. Terlihat penasaran dengan apa yang kulakukan di rumah ini. "Sini, mampir!" ucapku sambil menatapnya penuh arti. Ya, aku teringat apa yang telah dilakukannya kemarin. Aku berniat mengkonfirmasinya langsung kepadanya. "Eh, aku lagi buru-buru. Aku jalan dulu, ya!" tanpa menunggu jawabanku, wanita berambut pendek itu pun buru-buru berlalu. Melihatnya, aku hanya tersenyum miring. "Maaf ya, menunggu lama." Bu RW keluar dari dalam. 'Oh, gak papa, Bu." Aku tersenyum. "Ini uangnya. Kembalinya buat jajan anakmu." Ia menyerahkan uang sejumlah tujuh puluh ribu. "Ya Allah, makasih banyak ya, Bu. Saya punya kok kembaliannya," ucapku merasa sungkan. Selama ini wanita itu telah banyak membantuku. Beliau mengibaskan tangannya. "Gak papa. Oh ya, masih banyak barang yang kamu dagangkan?" tanyanya kemudian. "Gak banyak, Bu. Tergantung ada yang nitip." "Untungnya gimana? Cukup?" tanyanya terlihat penasaran. "Alhamdulillah, sekedar buat jajan anak dan belanja harian sih, ada Bu," jawabku jujur. Bu RW kulihat tersenyum. "Saya senang Mbak Mira ada semangat berdagang. Kebetulan, mantu saya suka bikin kue-kue. Kalau sempat, Mbak Mira bisa bantu buat memasarkan. Lumayan untungnya," ucap bu RW. "Oh, boleh, Bu. Insya Allah kapan aja saya bisa bantu buat menjualkan," ucapku dengan antusias. Aku merasa senang, dengan semakin banyak item barang yang kudagangkan, kuharap akan banyak pemasukan yang kuterima. "Alhamdulillah, kalau begitu nanti saya kabari lagi, ya," ucap bu RW. Setelah mengobrol lagi barang sebentar, aku pun pamit pulang. Tiba di rumah aku berpapasan dengan Lisa yang baru saja keluar dari dalam rumahku. Aku mengernyit, Ia jarang masuk ke rumahku kecuali ada keperluan. "Ada apa, Lis?" tanyaku penasaran. "Gak papa, cuma mau lihat ponakanku belajar," ucapnya acuh. "Oh ya ...." Lisa terdiam sejenak. "Omong-omong, Mbak masih ingat sama Silvi?" tanyanya kemudian sambil melipat tangannya di dada. Aku mengerutkan kening, lalu menggeleng. "Masa lupa? Dia mantannya mas Yudha dulu, sebelum Mbak," ucapnya sambil tersenyum miring. Aku terkejut. Ya, baru kuingat. Silvi adalah mantan mas Yudha. Aku belum pernah mengenalnya, tapi pernah melihatnya ketika ia masih menjadi kekasih suamiku. Karena rumahku dan rumah mas Yudha dulu hanya beda beberapa RT. Melihat sikap Lisa, perasaanku jadi tidak enak. "Kenapa memangnya?" tanyaku sambil menelisik wajahnya yang senyum-senyum penuh misteri. "Tadi aku chat sama dia. Dia mengirim salam buat mas Yudha. Jadi, nanti tolong Mbak sampaikan ke mas Yudha, ya, salam dari Mbak Silvi!" Setelah mengatakan hal itu, ia pun berlalu. Sebuah seringai mengejek masih sempat kulihat di wajahnya ketika tadi ia berbalik. Aku masih berdiri di tempatku, mencoba mencerna perkataan adik iparku tadi. Mendadak dadaku terasa sesak. Kucoba menghirup napas dengan dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Rasa senang sepulang dari rumah bu RW, kini berganti dengan rasa gundah. Aku pun masuk ke dalam rumah dengan langkah lunglai.
ini seperti kisah hidupku thor😭
15/08/2022
0bagus jalan ceritanya ..
04/02
0nice
18/01
0ดูทั้งหมด