Aku pulang ke rumahku menyusul Mira yang sudah duluan. Ketiga anakku menyambutku seperti biasa. Kulihat Aril tengah memakan sesuatu dari kaleng biskuit. "Anak Ayah makan apa?" Aku mendekatinya. "Makan biskuit, Yah," jawabnya sambil tangan kecilnya meraup remahan sisa biskuit. "Udah habis gitu kok masih dimakan?" "Aril suka biskuitnya, Yah. Mau beli lagi Bunda belum ada duit," ucap Ara menjelaskan. Mendengar ucapan Ara, jantungku serasa tertohok. Aku menghirup napas panjang. Kukeluarkan dompetku, lalu mengambil selembar duit berwarna biru. Satu-satunya lembar yang tersisa yang kusimpan untuk ongkos kerjaku hingga tiga hari ke depan, sambil menunggu tanggal gajian. "Ini Kak, tolong beli biskuit yang kaya gitu, ya. Yang ukuran kecilnya aja." Aku menyerahkan uang itu pada Ara. "Aku juga mau dong, Yah." Alia ikut-ikutan. "Nanti kita makan bareng, Dek," ucap Ara. Putri sulungku itu segera berlari keluar. Aku masuk ke dalam. Kubuka tudung saji, ada tumis tauge dan tempe goreng yang terlihat baru saja digoreng. Perutku langsung berontak minta diisi. "Cuci tangan dulu, Mas. Nanti aku siapin." Mira istriku muncul dari dapur. Selesai cuci tangan, aku segera makan dengan lahap. Siang tadi aku hanya sempat memakan dua buah gorengan dan segelas teh manis hangat. "Ini uang kembaliannya, Yah." Ara menghampiriku dan meletakkan uang kembalian dari warung di meja makan. "Kamu masih ada uang? Uang Mas barusan terpakai sebagian untuk beli biskuit buat anak-anak." Aku menanyai istriku. "Uangku sisa lima belas ribu, Mas. Tadi mestinya gak usah beli biskuit. Anak-anak tadi sudah makan sama tempe goreng." Mira tampak menyesalkan. "Aku kasihan lihat Aril tadi makan sisa-sisa biskuit. Jadi aku belikan saja mereka." Istriku menghela napas. "Itulah yang aku hadapi hampir tiap hari, Mas. Makanya aku berdagang untuk nambah uang belanja kita." Mendengar perkataan Mira aku hanya bisa terdiam. Secara tidak langsung aku merasa tersindir. Tanpa berkata apapun, aku beranjak ke kamar untuk beristirahat. Aku merebahkan diriku di kamar. Aku masih kepikiran soal Aris yang memakan remahan biskuit tadi. Sebegitu miriskah kehidupan istri dan anak-anakku? Selama ini kupikir keadaan mereka baik-baik saja. Jika ada kekurangan, aku rasa wajar karna kusadari pendapatanku tidak seberapa. Kupikir dengan tinggal bersama ibuku, kehidupan anak istriku tidak akan begitu kekurangan. Namun, kenyataan berbeda yang kudapat. Diam-diam aku mengeluhkan kehidupanku yang tak seberuntung kedua kakakku yang berlimpah materi. Aku menyesal dulu tidak sampai menamatkan kuliah hingga mencapai gelar sarjana. Aku hanya kuliah sampai tiga tahun saja. Masa mudaku banyak kulalui dengan bermain, ngumpul dengan teman-teman, dan pacaran. Beda dengan kedua kakakku yang rajin dan tekun. Keduanya berhasil mendapat gelar sarjana. Tak lama lulus, keduanya langsung mempunyai pekerjaan. Mas Rafi bekerja di bidang kontraktor sesuai ilmu yang dipelajarinya selama kuliah. Mas Andri diterima sebagai PNS. Sedang nasibku tidak seberuntung mereka. Mencoba melamar pekerjaan ke sana kemari tidak ada yang nyangkut. Mungkin pengaruh nilai IP-ku yang tidak seberapa. Akhirnya aku diterima bekerja sebagai tenaga administrasi di sekolah. Itu pun berkat bantuan dari teman almarhum ayahku sebagai kepala sekolah di tempat aku bekerja. Mengingat ucapan istriku tadi mengapa ia berdagang, aku baru menyadari manfaatnya. Baiklah, aku akan mencoba ikut membantu Mira berdagang. Tiba-tiba aku mendapat ide untuk mencoba membawa beberapa dagangannya ke tempatku bekerja. Siapa tahu teman-temanku berminat untuk membelinya. (POV LISA) "Uh, sebal!" Aku menghentakkan kakiku. Aku gagal membuat mas Yudha memarahi Mbak Mira!" ucapku kesal berbicara sendiri. Ini juga Mbak Yana gimana, sih! Bikin info yang gak valid. Bikin malu aja! Rutukku dalam hati. Segera kuraih ponselku, lalu memencet nomor Yana. "Halo!" suara Yana menyapaku. "Halo Mbak, apa maksud Mbak membuat cerita yang bukan-bukan soal Mbak Mira?" "Cerita yang mana? Cerita apa?" "Mbak bilang, Mbak Mira udah jelek-jelekin keluargaku ke orang-orang? Kenyataannya Mbak Yana cuma memelintir ucapan anak kecil!?" "A-apa?" terdengar suara Yana tergagap. "Alia udah cerita kalo Mbak Yana tanya-tanya soal mas Yudha dan Mama! Maksud Mbak apa, sih? Omongan Alia kok Mbak pelintir?" "Ya sudah, Mbak minta maaf. Anggap aja Mbak salah dengar!" jawabnya enteng. Aku terperangah sekaligus geregetan. Segera kumatikan panggilan tanpa mengucap salam. Aku mendengus kasar. Aku tahu Mbak Yana pernah ada rasa pada mas Yudha. Mungkin karna hal itulah yang membuatnya iri pada Mbak Mira dan suka menjelekkannya. Dulu ibuku hampir membuat wacana untuk menjodohkan mereka, karna orang tua Mbak Yana adalah saudara jauh ibuku. Untungnya tidak jadi dan mas Yudha pun memang tidak ada rasa padanya. Meskipun aku tidak menyukai Mbak Mira, aku lebih tidak setuju lagi kalo Mbak Yana yang menjadi kakak iparku. Wanita tukang gosip. Saat ini yang aku butuhkan adalah sesuatu yang bisa membuat mas Yudha memarahi mbak Mira. Kalau perlu sampai membencinya. Sama seperti ibu, dari awal aku juga tidak menyukai Mbak Mira. Sok kecakepan, gak sepadan dengan kakakku yang tampan yang banyak diidolakan para wanita. Sebenarnya aku lebih suka Silvi yang menjadi pasangan kakakku. Dia wanita berkelas, keluarganya kaya raya dan terpandang. Sayangnya ia berselingkuh, membuat mas Yudha kecewa dan sakit hati. Dari berita yang kudengar, Silvi sekarang sudah janda. Suaminya meninggal tiga tahun yang lalu. Dia baru punya anak satu. Aku ada ide untuk mendekatkan mereka kembali. Aku yakin, Silvi masih tertarik dengan kakakku. Mas Yudha pun pasti tidak akan menolak. Tok! Tok! Non! Suara ketukan pintu disusul suara Bik Imah, menyadarkanku dari lamunan. "Ada apa, Bi?" tanyaku setelah berhadapan dengannya. "Ada Mas Aris di luar." Aku terkejut sekaligus senang. Akhirnya datang juga pelipur laraku. Pengusir rasa kesalku. "Tolong suruh tunggu sebentar, Bi!" perintahku. Segera kucuci muka yang terlihat kusut, lalu membedakinya sedikit. Selesai berdandan ala kadarnya, aku pun melangkah ke luar kamar. Di teras kulihat Aris sedang mengobrol dengan Ara. Mukaku kembali kusut. Aku tidak suka kalau kekasihku mengajak ngobrol ponakanku itu. "Halo Mas, datang gak bilang-bilang" ucapku memaksakan untuk tersenyum. Kusempatkan untuk melirik tajam pada Ara. Gadis kecil itu melihatku takut-takut dan langsung pergi berlari masuk ke rumahnya. "Kangen pengen liat ponakanmu yang cantik," ucapnya yang sukses membuatku mendelikkan mata. "Hehe jangan marah dong! Aku cuma bercanda. Aku kangen kamu, lah!" ucapnya sambil merangkul pundakku. "Gak lucu!' sentakku. Candaannya membuat mood-ku makin buyar. Mas Aris langsung memegang kedua pipiku. "Maaf ... maaf." Aris kembali merangkulku. Mengingat Ara aku tambah membenci kakak iparku. Keinginanku untuk mendekatkan kembali mas Yudha dengan mantan pacarnya makin menguat. Seringai senyum sinis tersungging di bibirku.
ini seperti kisah hidupku thor😭
15/08/2022
0bagus jalan ceritanya ..
04/02
0nice
18/01
0ดูทั้งหมด