logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bab 4 POV Yudha

Aku tengah sibuk menginput data nilai siswa ketika kurasakan ponsel yang kusimpan di saku bergetar. Kuraih ponsel, lalu menatap layarnya. Rupanya ada panggilan WA dari adikku, Lisa. Kujeda pekerjaanku, lalu langsung menyentuh ikon telepon berwarna hijau.
"Halo Mas, apa kamu tahu, apa yang istrimu lakukan di luar sana?" tanpa salam lebih dulu Lisa langsung bicara ke inti.
"Ada apa, Lis?" Aku sedikit mengeluh. Adikku telah menjeda pekerjaanku dengan berita yang sepertinya kurang menyenangkan.
"Mbak Mira rupanya selama ini suka menjelek-jelekkan Mas sama mama ke tetangga!"
"Maksudnya?" Aku mengernyit.
"Iya, rupanya sambil dagang Mbak Mira suka bilang ke tetangga kalau Mas Yudha gak kasih nafkah ke istri!" terdengar suara adikku yang sewot.
"Apa? Kamu kata siapa? Dapat info dari mana!?" cecarku beruntun merasa terkejut sekaligus geram.
"Pokoknya ada tetangga yang bilang sama aku. Tadi aku tanya ke Mbak Mira. Eh, dia malah nantangin supaya aku melapor ke Mas!"
"Masa sih!?" Aku terkejut tak percaya.
"Bener, Mas! Ada yang laporin ke aku!"
"Ya sudah, biar nanti Mas tanyakan langsung ke Mbak Mira. Sudah ya, Mas lagi sibuk." Tanpa menunggu jawaban dari Lisa aku langsung mengakhiri panggilannya.
Aku menghela napas. Sebuah kabar yang sungguh membuatku jengkel. Mengganggu konsentrasiku saja. Aku harus tanyakan langsung ke Mira. Masa sih, dia berani membicarakanku di luar sana. Yang kutahu selama ini Mira adalah istri yang penurut, juga jarang bergaul dengan tetangga. Aku selama ini memang melarangnya untuk berlama-lama mengobrol dengan para tetangga. Lebih baik ia di rumah mengurus ibuku dan anak-anak.
Kalau benar istriku suka membicarakan keluargaku dengan para tetangga, akan aku larang dia berdagang lagi. Walau honorku hanya dua juta perbulan, aku rasa sudah mencukupi kebutuhan kami.
Rumah saja tidak mengontrak. Pengeluaran rutin paling cuma listrik saja yang jumlahnya tidak sampai dua ratus ribu sebulan. SPP anak-anak gratis. Dipotong tiga ratus ribu untuk ibuku, masih ada sekitar satu juta lima ratus. Aku rasa sudah mencukupi. Lauk juga bisa minta pada ibuku. Pikirku mencoba mengkalkulasi. Harusnya istriku bersyukur, keluhku.
Tidak menunda lagi, aku segera mengirim pesan kepada Mira untuk mengkonfirmasi ucapan Lisa. Pesan balasan dari Mira hanya kubaca saja. Ia keliahatan tidak merasa bersalah. Baiklah, aku harap memang begitu kenyataannya. Malu juga diriku kalau orang lain sampai tahu nafkah yang kuberikan pada istriku cuma sedikit.
Pulang kantor seperti biasa aku menemui ibu dulu di rumahnya. Ia wanita utama bagiku. Di telapak kakinya terletak surgaku. Beliaulah yang paling berhak atas diri ini, baru istriku.
"Assalammualaikum Mah." Aku mencium tangannya yang telah berkeriput. Kulihat wajahnya muram dan cemberut. Begitu juga dengan Lisa.
"Kenapa, Mah?" aku bertanya walau dalam hati sudah menduga.
"Lihat istrimu. Di depan Mama saja ia kelihatan baik, tapi di belakang ia menjelek-jelekkan kita," ucapnya dengan raut sedih.
"Tapi Ma, Mira bilang itu cuma kesalahpahaman." Aku mencoba mengklarifikasi.
"Mas gak usah belain dia!" seru Lisa kesal. Aku diam.
"Andai dulu kamu dengar omongan mama ....
Inilah topik pembicaraan yang paling aku hindari. Sudah ada beberapa kali ibuku menyinggung soal ini. Ibuku sedari awal memang tidak menyetujui Mira menjadi istriku.
Dulu, aku mengenal Mira sebagai tetanggaku. Wajahnya cantik, kulit putih, dengan rambut ikal. Awalnya aku tidak ada rasa dengannya. Karna saat itu aku sudah mempunyai kekasih yang sangat aku cintai, namanya Silvi.
Sayangnya Silvi berkhianat. Ia berselingkuh dengan pria lain, bekas teman sekolahku.Aku sangat kecewa dan patah hati. Tak kupedulikan perhatian dari wanita lain yang mengantri untuk menjadi kekasihku.
Sebagai seorang pria berwajah tampan, berkulit putih, dengan alis tebal melengkung membuat banyak wanita yang mengejar-ngejarku. Tidak hanya teman sekolah, gadis tetangga pun banyak yang menaruh hati padaku. Termasuk Mira.
Pribadinya yang ramah, berikut senyum manis yang ia miliki membuatku akhirnya jatuh cinta padanya. Kami pun menjalin kasih hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Namun, keluargaku tidak menyetujui hubungan kami sedari awal.
Entah apa alasan sebenarnya, tapi ibuku pernah menyinggung soal status sosial dan keturunan keluargaku yang ibu anggap lebih tinggi daripada keluarga Mira yang terlihat lebih sederhana. Ayah dan ketiga saudaraku pun, mendukung keputusan ibu. Di rumah, ibuku memang lebih dominan kekuasaannya dibanding ayahku sendiri.
Namun, karna aku dan Mira sudah saling mencintai dan aku tidak mau lagi kecewa untuk kedua kali, aku tetap memaksakan hubungan ini. Pada akhirnya keluargaku pun terpaksa merestui pernikahan kami. Aku dan Mira merasa bahagia, walau kutahu saat pernikahan kami raut wajah ibu dan keluargaku terlihat datar.
"Sudahlah, Mah. Biar nanti Yudha nasehati Mira," jawabku memotong ucapan ibu tadi.
"Assalammualaikum."
Tiba-tiba terdengar suara Mira mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Tanpa sengaja kami bertiga serempak menjawab salamnya. Namun, kemudian kulihat raut wajah ibu kembali cemberut. Apalagi Lisa, adikku itu langsung membuang muka ke arah lain.
"Mas." Mira mencium tanganku, lalu mencium tangan ibu.
"Nah, Mira. Kebetulan kamu kemari, bisa kamu jelasin sama mama kenapa kamu menjelek-jelekan mama sama suamimu ke tetangga?" tanya ibuku dengan sorot mata tajam.
Aku cukup terkejut dengan pertanyaan ibuku yang langsung to the point. Kulihat istriku juga kaget. Raut wajahnya memerah. Sementara Lisa menatap sinis. Mira mengambil napas sebentar.
"Ini Mira kesini juga mau klarifikasi, Mah, Mas," ucapnya sambil melihatku dan ibu bergantian.
"Demi Allah, Mira gak pernah membicarakan Mamah dan Mas ke tetangga. Tapi ... Alia cerita, kalau kemarin pernah ditanya-tanya sama Yana."
Aku mengerutkan kening ketika ia menyebut-nyebut soal anakku Alia dan Yana. Apa hubungannya? Namun, aku memilih diam untuk mendengar kelanjutan ceritanya. Kemudian Mira menjelaskan perihal pertanyaan Yana pada Alia dan jawaban anakku pada saudara jauhku itu. Di situ istriku menyimpulkan bahwa Yana telah mengambil kesimpulan sendiri dari jawaban Alia yang polos, dan ia sendiri tidak tahu apa maksud Yana melakukan itu.
Aku hanya manggut-manggut. Cukup masuk akal menurutku.
"Jadi maksud Mbak, Yana udah memfitnah Mbak, gitu!?" Lisa terlihat tidak menerima penjelasan istriku.
"Memangnya kalau menurut Lisa bagaimana?" Mira balas balik bertanya.
"Yah, bisa saja Alia berbohong!' jawab adikku asal yang membuatku terkejut dan menatap geram padanya.
"Jadi kamu lebih percaya Yana dari pada ponakanmu?" Mira berucap tenang.
Adikku terdiam, tidak mampu menjawab.
"Sudah! Sudah!" ibuku mengibaskan tangan.
Kulihat beliau seperti masih kurang puas akan penjelasan istriku. Aku heran, mestinya ibuku merasa lega. Tanpa berkata apapun, wanita yang kuhormati itu langsung beranjak ke kamarnya. Disusul Lisa dengan muka masih ditekuk.
Mira menatapku sekilas, lalu ikut beranjak meninggalkanku. Tinggal aku yang hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (339)

  • avatar
    Anggi Sholeh Hidayat

    ini seperti kisah hidupku thor😭

    15/08/2022

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus jalan ceritanya ..

    04/02

      0
  • avatar
    Azka Plant

    nice

    18/01

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด