Zayan duduk di ranjang UKS. Batinnya tak tenang, pikirannya terus tertuju pada si gadis hantu. Anggap dirinya egois. Zayan memang tidak ingin membantu. Hidupnya sendiri sudah sulit, mau ditambah masalah gadis itu lagi, yang ada malah akan menambah bebannya saja. Tapi di satu sisi Zayan juga tidak tega, apalagi melihat mata sayu itu berkaca-kaca. Mungkin hanya Zayan yang bisa menolongnya, itu sebabnya mereka dipertemukan. "Sial!! Kenapa gue harus peduli sih!!" "Tolong saja dia," ujar seorang nenek yang duduk di depan jendela UKS. Dia si nenek reot penghuni UKS yang sering menampakkan diri di waktu-waktu tertentu. Nenek itu menoleh, wajahnya putih pucat, dua bola matanya hitam pekat, mulutnya mengeluarkan darah. "Dia anak yang baik. Energinya sangat positif dan masih wangi, seperti baru-baru ini meninggal. Mungkin ada sesuatu yang terjadi sampai dia lupa segalanya. Kamu harus menolong dia. Nantinya dia yang akan mengubah hidupmu." Mendengar ucapan si nenek, Zayan malah semakin yakin untuk menolong, walau masih ada sisi di mana dirinya benar-benar menolak. Alhasil setelah pulang sekolah ini Zayan mencari keberadaan gadis hantu itu. Ia duduk di halte bus yang kemarin dan menunggu. Hampir satu jam Zayan menunggu namun si hantu tidak muncul-muncul juga. "Kalau sepuluh menit lagi dia gak dateng, gue bakal tinggalin dia. Anggap aja kalau dia udah gak butuh gue." "Kakak." "Mamak!!!" Zayan memegangi dadanya yang berdebar kencang. "Bisa gak kalau dateng jangan ngagetin! Ucapin salam kek!" Si gadis terkekeh, "Maaf ya, Kak." Zayan menghela napas. "Kakak nungguin aku ya? Jadi berubah pikiran nih?" "Berhubung gue lagi baik, kenapa gak. Tapi gue cuma bisa bantu semampu gue aja. Kalau gue rasa udah cukup, lo jangan ngelunjak minta bantuan yang lain." "Iya, janji." Gadis itu mengangguk. Zayan berjalan meninggalkan gadis itu. Segera gadis hantu itu mengikutinya. "Mulai sekarang aku tinggal di rumah kakak kan?" "Gak, lo tinggal di kolong jembatan aja sono!" sahut Zayan tak santai. "Pake nanya lagi." "Yeee!! Makasih ya, Kak ...." ucap gadis itu ceria. Kini senyum cerah menghiasi wajah cantiknya. Angin sore menemani perjalannya bersama Zayan. "Nama kakak Zayan kan?" "Hm." "Nama aku ...." Gadis itu tidak melanjutkan. Zayan menoleh, "Siapa?" Si gadis hantu berhenti, begitu juga Zayan. "Aku gak inget nama aku." "Ck! Heran gue, ada gitu hantu amnesia." "Kasih aku nama dong, Kak." "Yaudah, nama lo sekarang Jum," ucap Zayan, lalu melanjutkan langkahnya. "Kok Jum?" "Jum aja enak manggilnya. Jum, Jumprit, gitu." "Yang bagusan dikit dong, Kak." "Udah jadi hantu juga banyak maunya," gerutu Zayan, matanya tak sengaja melihat kip rambut gadis itu. "Lily ... gimana kalau nama lo Lily." "Lily? Bagus!" Lily, ia sangat menyukai namanya, manis dan sederhana. "Kakak gak capek pulang pergi jalan kaki?" "Udah biasa." "Wah kuat banget." Zayan mendecih tawa. Dulu Zayan punya sepeda untuk ia gunakan ke sekolah, namun Richo and the geng merusaknya, alhasil sepeda itu Zayan jual di tempat rongsokan karena tidak memungkinkan untuk diperbaiki. Naik angkutan umum pun hanya kalau pergi saja. Kalau pulang Zayan selalu jalan kaki demi menghemat uang. Kadang Zayan berpikir, kalau saja ayahnya masih hidup. Ia tidak akan sesusah ini, dan bundanya juga tidak perlu banting tulang membuat kue yang tidak tentu hasil penjualannya. Setibanya di rumah, seperti biasa Zayan makan malam. Setelah itu mengerjakan tugas kalau ada, kalau tidak dia akan mengantarkan pesanan kue bundanya ke rumah pelanggan. Untungnya hari ini tidak ada pesanan yang harus ia antar, jadi ia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Tapi sebelum itu, Zayan mengobati dulu luka-luka di tubuhnya. "Ini foto kakak waktu masih kecil?" tanya Lily, melihat-lihat frame yang tersusun rapi di atas tempat tidur Zayan, sementara Zayan mengolesi sudut bibirnya dengan Betadine. "Ini ayah kakak? Kok mirip sama kakak." "Kalau mirip lo ya berarti itu bokap lo," sahut Zayan. Lily terkikik, "Iya yah." "Daripada lo nyerocos gak penting mending lo cerita apa pun tentang hidup lo. Yang lo inget aja deh." "Hmm ...." Lily tampak berpikir. "Yang Lily inget, Lily bangun di tengah jalan. Waktu itu Lily gak tau kalau Lily udah meninggal, makanya Lily panik dan lari ke tepi jalan. Tapi anehnya gak ada sama sekali yang sadar sama keberadaan Lily. Lily tanya ke orang-orang ini di mana, mereka gak nyahut. Sampe akhirnya Lily sadar kalau ternyata mereka gak bisa liat Lily." "Lo inget pas pertama bangun lo di jalan apa? Atau waktunya kapan?" "Jalannya Lily lupa-lupa inget deh. Cuma waktu itu malem hari sekitar dua sampe tiga tahun lalu." "Ck, masih baru! Makanya waktu masih hidup banyakin makan wortel biar daya ingatnya meningkat." "Emang iya ya, Kak." "Ya gak tau juga sih." "Lah." "Asal ngomong aja gue. Udah lanjut." Zayan duduk di tempat tidurnya, berhadapan dengan Lily. "Pokoknya yang Lily inget, ada toko yang di atas pintunya tertulis Magic Shop." Zayang mengernyit, "Hah? Magic Shop? Toko apa tuh?" "Kayaknya toko mainan deh, Kak. Soalnya pas Lily liat di sana banyak mainan anak-anak." "Terus selain toko itu ada apa lagi di sekitaran jalan itu?" Lily kembali mengingat-ingat apa saja yang ia lihat di malam itu. "Di depan toko itu ada halte bus. Oh ya, ada perempatan juga di sana. Sekarang Lily ingat kak, itu di mana," ujarnya antusias. Zayan manggut-manggut, "Hm, bagus. Gue gak perlu susah-susah nyari. Kita ke sana kalau gue ada waktu." Senyum Lily pudar, "Gak sekarang aja, Kak?" "UDAH MALEM ASU!! Lupa lo gue habis digebukin?! Badan gue sakit semua nih!" "Yaudah maaf gak usah teriak-teriak." Lily mencebik. Satu fakta tentang Zayan yang ia ketahui, bahwa kesabaran lelaki itu setipis kertas buku tulis isi 30 lembar. "Kakak kok diem aja sih dipukulin? Kenapa gak bales?" "Lo masih bocil jadi gak ngerti." "Yaudah kasih tau Lily kalau gitu, biar Lily ngerti." Zayan berdecak, "Maksa banget sih lu cil!" Lily memanyunkan bibirnya, "Padahal kakak di rumah banyak bacot tapi di sekolah cupu, cemen banget." "Ngomong sekali lagi gue tendang lo!" Zayan merebahkan tubuhnya, tidur membelakangi Lily. "Lily tidur di mana, Kak?" Zayan refleks menoleh, "Lo kan hantu, ngapain tidur?" "Oh iya, Lily suka lupa kalau udah jadi hantu." Lily terkikik, Zayan mendelik kesal kemudian kembali ke posisi semula. Lily duduk di meja belajar Zayan. "Lily di sini ya, Kak." "Terserah lu cil!" seru Zayan, frustasi woy, ngantuk tapi si bocil ngomong mulu. Cowok itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Lily tertawa geli, "Makasih, kak Zayan ...."
bagus bgt ceritanya bisa bikin ketawa ngakak dan terharu ditunggu lanjutannya
8d
0bagus banget alur cerita suka!! ditunggu sambungan ceritanya kak hhe
15/05
0Cerita pertama yang saya baca diaplikasi ini tapi lupa mungkin sekitar tahun 2022,2023,2024 kali,ya?
05/04
0ดูทั้งหมด