Hampir dua jam mereka menempuh perjalanan. Mobil melaju tenang di jalan raya yang ramai kurang lebih satu jam setengah lalu berbelok memasuki jalanan berbatu. Selama dalam perjalan itu, mereka tidak saling berbincang. Tidak ada satu pun kata yang terucap. Keduanya diam membisu. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing, seakan menyelami perasaannya sendiri dalam diam. Kemudian mobil itu berjalan perlahan, ketika memasuki kawasan perkebunan. Aviany membuka kaca jendela dan memandang takjub keluar jendela. Sepanjang jalan dia disuguhkan pemandangan indah yang begitu memanjakan matanya. Mata itu terlihat berbinar. "Bagitu cantik," batin Haqeem yang melirik gadis di sebelahnya. "Semua hijau, indah sekali, " gumam Aviany dengan senyum, sambil sesekali melirik Haqeem yang menatap lurus ke depan. "Ya, Tuhan. Indah sekali pemandangannya," gumamnya lagi. Kali ini Haqeem seakan tergelitik untuk menoleh mendengar gumaman gadis itu. Sedikit lama dia menatap wajah yang terlihat berseri. Sesuatu yang baru kali ini dilihatnya. Dia kembali fokus ke jalanan. Sementara gadis itu tetap menatap pemandangan sepanjang jalan. Dia membuka kaca jendelanya lebih lebar, menghirup napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Segar sekali," ujarnya sambil tersenyum. "Sebentar lagi kita sampai." Suara berat itu mengusik Aviany. Dia menolehkan wajahnya yang berseri. "Ya, Tuhan. Begitu cantik," batin Haqeem. Dia terpesona karenanya. Pipi putih itu terlihat merona merah jambu. Matanya beriak menyimpan senyum. "Kau terlihat senang sekali," Suara berat dan datar itu kembali mengusik. Aviany tersenyum sekilas lalu mengangguk. "Aku suka suasana pegunungan. Basah tapi segar," jawabnya dengan suara yang begitu enak didengar di telinga Haqeem. Jantungnya berdetak tak beraturan. Rasa hangat terasa menjalarinya. Haqeem berusaha untuk menepisnya tapi dia tidak sanggup. Wajahnya terlihat pasrah penuh sesal. Dia berdecak. Aviany menatapnya. "Kenapa.." wajahnya mengundang tanya. "Kita sudah sampai, ayo turun." Haqeem berkelit. Dia mendahului gadis itu turun dari mobil dan sedikit bergegas memasuki sebuah rumah dengan halaman luas yang tampak asri. Aviany menyusulnya dengan wajah sedikit kesal. "Aduuh, laki-laki ini seenaknya saja. Sudah menculikku dari sekolah, bicaranya tidak jelas dan kalau ditanya selalu saja berkelit. Sebel!" Gerutunya kesal. "Kenapa?" Suara berat itu mengagetkannya. "Aaahh, tidak. Bikin kaget saja. Eh, maksudku tidak, itu ehm, tempatnya enak sekali." jawab Aviany sedikit gugup. Haqeem menatapnya dingin. "Kamu pikir kue, enak," ucap Haqeem sinis, Aviany cemberut. "Eh, ada Den Haqeem. Kenapa datang tidak kasih kabar dulu sih, aduh bawa siapa ini. Cantik sekali." Seorang ibu paruh baya menyambut mereka. Haqeem menghampirinya lalu mencium punggung tangannya. Kemudian dia menoleh Aviany, yang dengan segera mengikuti yang tadi dilakukannya. " Den, ini siapa. Calon istri ya, betul-betul cantik sekali." Ibu itu menatap Aviany dengan senyum. Mata ibu itu berbinar ceria. Gadis itu membalas senyumnya. "Dia teman Haqeem," suara datar Haqeem menjawab pertanyaan ibu paruh baya itu. Aviany menyungging senyum masam. "Nama saya Aviany," gadis itu menyapa ramah. "Saya teman Haqeem." Lanjutnya dengan mata tajam melirik Haqeem. "Oh ya sudah, ayo masuk. Bibi akan siapkan minuman," ucapnya ramah sambil merangkul pundak Aviany. "Tidak usah bi, siapkan untuk makan siang saja. Kami akan berkeliling kebun dulu." Haqeem mencegahnya. Ibu itu tersenyum dan mengangguk patuh. Haqeem menggandeng tangan Aviany lalu membawanya berjalan menuju belakang rumah. "Kita akan berkeliling," ujarnya sambil melirik Aviany yang sedang menatapnya sedikit bingung. Di depan mereka terhampar pohon teh yang begitu hijau, ada pohon-pohon besar di sisi kanan dan kirinya. Sejauh mata memandang pohon-pohon teh itu memenuhinya. Aviany menatap dengan mata yang berkilat ceria. Senyum menghiasi bibir kecilnya. Haqeem kembali dibuat tak berdaya. Dia menyerah. "Ah, kenapa terlihat cantik sekali," ucapnya sedikit keras. Kemudian dia merapatkan bibirnya seolah frustasi dan matanya terpejam dengan kepala menggeleng. Aviany menatapnya. "Ya, cantik sekali. Terima kasih sudah mengajakku ke sini." Aviany tidak menyadari arti dari ucapan Haqeem tadi. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya kasar. Bersisian mereka mulai menapaki hamparan pohon-pohon teh. Tenpa ragu, tangan mereka bertaut. Mereka berjalan sudah lumayan jauh dari tempat tadi mereka berdiri. Hamparan pohon-pohon teh sudah berganti dengan pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang. Cicit burung yang beterbangan kian ke mari menyemarakkan suasana. Tampak tetes embun yang bening masih menggantung di ujung-ujung daun. Harum tanah basah membuat Aviany terus menerus menghirup udara lama-lama, agar memenuhi rongga dadanya, menghadirkan kenyamanan. Aviany menampakkan wajah berseri yang begitu cantik. Kulit putih bak pualam itu seolah berkilau diterpa sinar matahari yang baru muncul setelah hujan. Rambut coklatnya terlihat begitu indah ditiup angin sepoi-sepoi basah. Haqeem menatap gadis di sebelahnya. Ada yang menggelitik hatinya. Rasa gemas menyapa menghadirkan rasa yang belum pernah dia rasakan. Dia menghembuskan napasnya sambil mengacak rambutnya. "Tuhan, kenapa suguhan wajah ini begitu cantik," ujarnya pelan. Dia menolehkan tatapannya untuk menemukan wajah yang tadi dia kagumi. Wajah yang kini sedang tersenyum. Haqeem memajukan dirinya lalu membingkai wajah itu dengan kedua tangannya. Gadis itu sedikit terkesiap, kaget. "Diam..." ucapnya dingin. Aviany menurut. Mata itu mengerjap begitu indah, Haqeem memejamkan matanya seakan ingin menghalau perasaan yang hadir di kepalanya. "Kenapa wajahmu selalu menari-nari di kepalaku?" lirihnya serak. Aviany menatapnya bingung. Haqeem melepaskan wajah Aviany yang tadi dibingkainya, dia kemudian sedikit bergegas melanjutkan langkahnya. "Tunggu, jangan pergi. Tunggu, aku takut tersesat." Aviany berteriak sambil berlari menyusul langkah Haqeem yang tergesa.
Mengharu biru
10/07/2025
0bgusss bngtt kk
30/05/2025
0seru
24/04/2025
0ดูทั้งหมด