"Tisa, lu dapat salam dari Langga," kata Clara saat mereka sedang makan di kantin kampus. "Langga? Yang mana ya?" Dahi Tisa berkernyit mengingat nama Langga. "Itu, yang kemarin nolongin lu waktu jatuh pas lu bertengkar sama Dion," jelas Clara mengingatkan. "Oh, cowok yang waktu itu?" jawab Tisa mengingat-ingat wajah Langga. "Kok lu bisa kenal sama dia?" tanya Tisa penuh selidik. "Leo sahabat Langga temenku SMA, dia yang nitip salam dari Langga buat lu," jawab Clara memberi alasan. "Males gue, kalau lu mau buat lu aja," seloroh Tisa. "Tisa, sampai kapan sih lu begini? Gue sebagai sahabat ikut sedih jika lu seperti ini terus. Open your heart, gak semua laki-laki seperti Dion. Move on baby, your life must go on! " kata Clara memberi semangat. "Thanks for your attention, but i can't," jawab Tisa menatap kosong gelas jusnya. "Sory," Clara merasa bersalah terus mendesak Tisa segera move on dan membuka hatinya kembali. "Proposal skripsi lu sudah acc belum? Gue lagi cari inspirasi buat judul skripsi gue." Clara mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan topik pembicaraan. "Suruh ganti judul, gue juga lagi bingung ni belum nemu ide yang cocok," jawab Tisa lesu. "Ke perpus yuk, siapa tahu dapat ide yang pas," ajak Clara. "Tumben ide lu gak asal," ejek Tisa. "Gini-gini otak gue encer Sa, nurun dari lu!" jawab Clara terkekeh. "Cabut yuk, keburu menguap otak lu tumpul lagi hehehe," ledek Tisa. Mereka berjalan beriringan menuju gedung perpustakaan di lantai 2 kampusnya, tak sengaja berpapasan dengan Leo dan Langga. "Hai, Clara!" sapa Leo. "Hai Leo!" balas Clara. Clara dan Leo asyik mengobrol mengabaikan keberadaan Tisa dan Langga yang mematung di sebelahnya. Tak satu pun kata terucap dari mereka. Tisa jengah dengan situasi seperti ini, ditariknya tangan Clara sedikit kasar. "Jadi ke perpustakaan gak sih? Malahan asyik ngobrol sendiri!" Tisa menaikkan nada bicaranya sedikit kesal. Clara langsung menyadari sinyal sahabatnya itu dan segera menghentikan obrolannya dengan Leo. "Leo, aku duluan ya," pamit Clara sebelum pergi sambil melambaikan tangannya. Tisa semakin dongkol melihat keakaraban mereka. Tisa pernah merasakan bahagia dengan hadirnya cowok dalam hidupnya, kini rasanya jijik melihat keakraban yang ditunjukkan Clara dan Leo. Tisa muak melihatnya. Buat apa berbaik hati sama cowok kalau akhirnya mereka hanya akan memberi rasa sakit dan luka di hatinya. Hatinya benar-benar membeku tak ada lagi kehangatan yang pernah ia rasakan dulu. Dion...kuberikan segalanya untukmu. Saat Mama tidak merestui hubungan kita, aku selalu membelamu. Aku juga selalu ada saat kamu butuh aku. Seperti inikah balasanmu atas semua kebaikanku? Menatap kosong buku di tangannya. Tak satu kalimat pun bisa dicerna otaknya. Pikirannya buntu, hatinya kosong, jiwanya hampa. Ternyata Mama tidak salah menilai Dion, dirinya yang tidak bisa menilai dengan bijak, hatinya telah dibutakan oleh cinta. "Sudah dapat ide belum?" tanya Clara membuyarkan lamunannya. "Kepala gue pusing, pikiran buntu. Dari tadi gue baca gak ada yang meresap ke otak sama sekali," jawab Tisa lirih. "Lu butuh refreshing Sa, kalau gini terus skripsi lu gak kelar-kelar!" usul Clara sambil tangannya menepuk-nepuk bahu Tisa. "Boleh juga ide lu". Menatap Clara dengan mata berbinar-binar. "Lu punya usul gue mesti ngapain gitu?" lanjutnya. "Weekend besok anak Mapala mo ngadain camping di Merbabu, kalau lu mau tar gue bilangin sama panitianya," usul Clara. "Boleh juga sih, kalau gue ikut lu mesti ikut juga kan?" tanya Tisa. "Pasti dong, gue gak rela sahabat gue ini kenapa-kenapa kalau gak ada gue." Diraihnya bahu Tisa dan memeluknya erat-erat. Sedikit lega, Tisa akhirnya mau diajak keluar. Semoga acara ini bisa mengembalikan Tisa yang dulu cerdas, periang dan ceria. "Week end ini kita berangkat, nanti biar aku yang bilang sama kak Beni kalau kita mau ikut camping," jelas Clara. *** Hari ini Tisa dan Clara berangkat ke Basecamp Mapala. Sampai sana sudah banyak yang datang. Putra ketua Mapala melambaikan tangannya ke arah mereka. "Selamat pagi kawan-kawan semua, salam sejahtera untuk kita semua!" Putra mengawali briefingnya. "Pagi !!!" jawab kami serempak penuh semangat. "Sebelum berangkat pastikan perbekalan tidak ada yang tertinggal terutama perlengkapan pribadi. Jangan membawa terlalu banyak bekal makanan, bawa yang penting-pnting saja. Di sana nanti kita survival dengan alam. Jangan terlalu membebani punggung kita dengan terlalu banyak bekal yang tidak seharusnya." "Baik, sebelum kita berangkat mari kita berdoa dulu sesuai dengan agama dan keyakinan kita masing-masing, berdoa mulai!" Putra memberi aba-aba. Suasana hening khusyuk dalam doa di hati masing-masing. "Berdoa selesai, baiklah kawan-kawan kita berangkat sekarang!" Perjalanan diawali naik bus menuju basecamp Merbabu, setelah lapor di pos 1 kami melanjutkan pendakian. Tak butuh waktu lama akhirnya tiba di pos 3, siap-siap mendirikan tenda di sini. "Perlu bantuan?" Seseorang mendekati Tisa dan Clara yang tengah kewalahan mendirikan tenda. Berbarengan mereka mendongakkan kepala melihat siapa si pemilik suara tersebut. Mereka saling berpandangan terkejut melihat siapa yang ada di depannya saat ini. "L--Langga?" tanya Clara tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan kehadiran Langga. "Tolong lu pegang talinya, tahan bentar!" perintah Langga tanpa menghiraukan perkataan Clara barusan. Yang terpenting baginya bisa membantu mendirikan tenda buat Tisa agar nyaman selama acara camping berlangsung. Langga menuju ke belakang tenda, mengecek keseluruhan agar bisa berdiri tegak tidak goyah. Clara melirik Tisa sekilas yang masih berdiri di tempatnya semula. "Ok, beres. Sekarang lu boleh lepas talinya!" seru Langga dari belakang tenda. Tenda pun berdiri sempurna. " Terima kasih Ga! sudah dibantu, gak tau apa jadinya kalau gak ada lu!" Disenggolnya bahu Tisa yang masih diam sejak kehadiran Langga. Tisa pun tersenyum ke Langga dengan sedikit terpaksa. "Sama-sama, Clara" jawab Langga. "Kalau butuh bantuan hubungi gue ya, gue ada di tenda panitia," lanjutnya sambil pergi meninggalkan Tisa dan Clara yang masih bingung. Ternyata Langga jadi panitia? Tisa dan Clara saling berpandangan dan tersenyum. Segera mereka masuk ke dalam tenda merapikan barang bawaannya. Istirahat sebentar sebelum acara nanti malam dimulai. Suasana alam kali ini bersahabat, langit cerah dihiasi banyak bintang seolah ikut memberi dukungan. "Boleh gabung?" tanya Langga saat Tisa dan Clara sedang membuka bekal makan malamnya di dalam tenda. Refleks Clara menoleh ke arah Tisa meminta persetujuannya. Tisa menganggukkan kepala. "Silakan Ga! " jawab Clara mempersilakan Langga masuk ke tenda setelah mendapat persetujuan Tisa. Langga pun masuk dan duduk di depan Tisa sambil membuka bekalnya juga.
Sesaat hening tak ada suara keluar dari mulut ketiganya. Asyik mengunyah bekal masing-masing. "Leo gak ikut Ga?" tanya Clara memecah keheningan. "Harusnya ikut, tadi pas mau berangkat tiba-tiba sakit terus gue antar pulang. Gue nyusul ke sini tadi sendirian, rombongan panitia sudah berangkat duluan," jelas Langga. " Oh pantesan gue gak liat lu di rombongan panitia, eh tiba-tiba muncul di sini." Terjawab sudah rasa penasaran Clara. Tisa masih asyik mengunyah bekalnya, jadi pendengar yang baik. Enggan nimbrung dan ngobrol bareng Clara dan Langga. " Maaf, ada kotoran di mulut lu," kata Langga sambil menjulurkan tangannya ke mulut Tisa bersiap-siap mengambilnya, refleks Tisa memegang tangan Langga. Tak sengaja bola mata Tisa menatap bola mata biru kehijauan milik Langga, ada getaran halus yang merasuk jiwanya. Buru-buru di tepisnya tangan Langga, "maaf, " kata Tusa lirih membuang pandangan dari Langga. Suasana hening dalam diam bermain-main dengan pikiran dan perasaan masing-masing ditemani dinginnya angin malam di puncak Merbabu.
mantap
24/01
0bagus
21/01
0ceritanya bagus sekali
20/09
0ดูทั้งหมด