logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 7 HILANG SEPARUH JIWA

"Bagaimana kabarnya Al Mah, tadi aku tidak mendengar apa yang diucapkan oleh dokter!"
Mamah menelan salivanya, Riska sedikit melangkah mundur mendengar pertanyaan Ratu, melihat Mamah tidak langsung menjawab dan Riska yang sedikit menjauh membuat rasa heran di benak Ratu, “Ada apa, apa yang terjadi dengan Al, kenapa kalian diam!” tukas Ratu.
Melihat raut wajah Mamah dan Riska membuat perasaan Ratu menjadi cemas, “Ada apa Mah, Ris ada apa jawab dong jangan buat aku khawatir memikirkan sebagai macam hal buruk tentang Al,” kembali Ratu bertanya dengan sedikit emosi.
Mamah tahu bahwa lambat laun dia dan Ratu harus menghadapi hal ini, Mamah menghembuskan nafas panjang, lalu duduk disamping Ratu dengan tangan yang membelai lembut kepalanya, berharap kalau itu akan membuat kesedihannya berkurang, Riska yang tadinya menjauh kini mendekat mungkin saja dengan kehadirannya juga bisa sedikit meringankan rasa sedihnya.
“Mamah tahu ini akan sangat berat untuk kamu, tapi mau bagaimanapun semua sudah takdir dan kamu harus ikhlas,”
“Kenapa perasaanku gak enak dan jadi sedih banget Mah, tolong jangan berteka-teki denganku saat ini,” jawab Ratu, entah kenapa air matanya terus saja memaksa keluar, sampai Ratu tidak bisa untuk membendungnya.
“Al sudah pergi meninggalkan kita, karena mungkin menurut Tuhan Al untuk saat ini lebih baik tinggal bersamanya dan kamu agar lebih mempersiapkan diri lagi nanti,”
Tangis Ratu pecah, dia berteriak kalau itu tidak mungkin, karena baru saja dalam tidurnya dia menggendong Al yang dibawa oleh seseorang, namun dia masih bersamanya. Ratu tidak bisa membendung kesedihannya, apalagi kala mamah bilang kalau saat ini Al sudah dalam proses pemakaman, Ratu langsung membuka infus yang masih berada ditangannya, dia ingin melihat Al untuk yang terakhir kali.
Riska menghubungi Ayah, dan Ayah berkata bila saat ini mereka baru saja selesai merapikan jenazah Al, Riska berkata kalau Ratu sudah sadar dan dia ingin melihat Al. Mendapat informasi itu Ayah menunda keberangkatan Al ke pemakaman sampai Ratu tiba, di rumah sakit Ratu, Mamah dan Riska bergegas menuju rumah besar, selama perjalanan dengan tubuhnya yang masih sangat lemah Ratu terus menangis tak henti, wajah mungil Al terus berada di pelupuk matanya.
Kalau masalah menyetir Riska jagonya, apalagi saat ini hari sudah malam jadi jalan pun sangat lenggang, Riska dengan sangat cepat melajukan kendaraannya, adrenalin Riska sangat terpacu saat dia terus melihat Ratu yang terus meneteskan air mata, segala kemampuannya dalam menyetir dikeluarkan sampai pada akhirnya jarak yang seharusnya ditempuh antara rumah sakit dan rumah besar sekitar satu setengah jam, di babat Riska hanya dalam waktu empat puluh menit.
Sampai di rumah walau sudah malam tapi para warga masih berada disana untuk mengantar Al ke pemakaman, melihat rumahnya yang tampak ramai dengan bendera kuning yang terpasang, hati Ratu sangat sedih, kesedihan yang sangat mendalam dirasakannya saat ini, dimana dia harus melangkah untuk melihat wajah mungil Al untuk yang terakhir kali.
Dengan langkah gontai tubuhnya di papah Mamah dan Riska, semua melihat sedih ke arah Ratu, ucapan belasungkawa terus terngiang di telinganya, rasa ingin menjerit dan meronta dalam diri Ratu karena dia tidak ingin berada dalam situasi seperti ini. Sampai didalam suara tangisnya menghilang dengan air mata yang semakin deras mengucur di sudut matanya, tubuhnya yang sangat lemas terus dipaksa bergerak demi melihat wajah baby Al yang belum lama menghiasi kehidupannya.
Tubuh itu ambruk di sisi jenazah bayi mungil, Ratu tertunduk tanpa kata, hanya air mata yang bisa menjelaskan betapa kosongnya jiwa Ratu saat ini. Tangannya gemetar kencang saat ingin menyentuh wajah kecil Al, lama dia melihat dan membelai wajah yang sudah pucat pasi itu, semua mata memandang haru pada Ratu, mereka seperti merasakan kesedihan Ratu saat ini, lama Ratu bertahan untuk melihat Al sampai pada akhirnya dia kembali tumbang di sisi Al.
Ratu langsung di bawa kemar, sedangkan Ayah serta dua anggota keluarga Ratu dan Erlang sepakat untuk segera memakamkan jenazah. Karena hari juga sudah sangat larut, tidak mungkin lebih lama lagi untuk menunggu kedatangan Erlang yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Semua warga yang berada di rumah itu mengantar baby Al ke tempat peristirahatan terakhirnya, dalam perjalanan banyak yang bertanya kemana sebenarnya Papa Al saat ini.
Pemakaman sudah selesai, Ratu masih tergolek tak berdaya di kamarnya dengan ditemani oleh Mama serta Mamah mertuanya. Sementara itu di ruang tengah dan di depan masih ada tetangga yang memberikan hadiah berupa doa untuk baby Al sampai pagi nanti tiba. Ratu sudah diperiksa oleh dokter, dia diberi sedikit obat penenang agar dirinya bisa beristirahat. Sampai hari menjelang pagi wajah Erlang masih belum juga terlihat, bahkan sudah beberapa kali Papah serta pihak keluarga yang lain menghubungi ponselnya masih belum juga aktif.
Erlang yang belum diketahui keberadaannya itu, asik bermalam di rumah Serli tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi dengan anak pertamanya bersama Ratu. Selama perjalanan saja kedua sejoli itu terus saja saling bersikap mesra, apalagi saat mereka sampai di kediaman Serli, mereka langsung mengeluarkan hasrat mereka yang sudah tinggi, tautan panas mereka lancarkan sambil satu persatu kain yang melekat di tubuh mereka lepas.
Darah mereka semakin dibuat bergejolak, sentuhan-sentuhan Erlang membuat tubuh Serli menggeliat, desah pendek serta cengkraman-cengkraman gemas sesekali mendarat di tubuh Erlang, saat wanita itu menerima sebuah rasa yang membuat dirinya merasa ingin terus merasakan hal yang lebih dari yang diberikan Erlang saat ini.
Desah sedikit panjang terdengar saat Erlang membuat tubuh mereka menyatu, peluh membasahi tubuh mereka, pekik serta teriakan tertahan keluar dari bibir Serli saat Erlang menghentakkan tubuhnya keras menghujam daerah lembah basah milik Serli. “Ah, Er!” kembali teriak Serli terdengar yang menjadi semangat serta gairah Erlang semakin tinggi.
Kediaman Serli sudah beberapa kali menjadi saksi bisu asmara terlarang mereka, di rumah itu mereka bisa mengekspresikan segala rasa, mereka bisa dengan sangat bebas mengeluarkan semua hasrat yang mereka miliki. Semakin lama permainan, Erlang dan Serli semakin tidak bisa menahan semua gairah yang ada, Erlang terus mempercepat ritme hentakannya sampai wanita yang berada dalam kendalinya itu menggenggam sangat erat benda yang ada disekitarnya.
Erlang menghentikan gerakannya setelah dia bisa mengeluarkan klimaksnya, nafas yang sangat memburu membuat tubuhnya lemas, setelah rasa itu keluar dengan indah, Erlang melempar tubuhnya di kasur, dia mencoba mengatur nafas perlahan. Senyum sumringah terlihat di wajah polos Serli, perlahan dia mendekat dan memeluk tubuh Erlang.
“I am so happy, love you.”


หนังสือแสดงความคิดเห็น (128)

  • avatar
    Nurkahfi Cahyadi

    sangat bagus

    02/03

      0
  • avatar
    LutfiAhmadlutfi

    bagus dan keren

    09/01

      0
  • avatar
    caaa_1308cacaaa

    ceritanya bagussss🤩

    24/12

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด