Kedua orang yang telah berbulan-madu satu minggu di Raja Ampat Indonesia akhirnya kembali ke negaranya, Rusia. Zeno dan Stesha menginjakkan kaki di Sheremetyevo Airport, Moscow Rusia setelah menempuh kurang lebih lima belas jam perjalanan transit melalui Jakarta. Memang bukan pertama kali bagi Zeno menaiki pesawat terbang, sudah puluhan kali ia menaiki alat transportasi udara, tetapi tidak sebagi penumpang melainkan sebagai Kapten Pilot yang mengemudikan sendiri pesawat tersebut. Namun bukan kesan sebagai penumpang yang membuat Zeno tidak melunturkan senyumannya ketika pesawat mengudara hingga mendarat, tetapi bagaimana ia melihat wajah lelah istrinya yang tertidur lelap dan bersandar pada bahunya tanpa sadar. Masih di Bandara, Stesha menaruh curiga melirik Zeno yang sedang mencuri pandang pada dirinya dengan senyum yang juga tersemat dari bibir tipis pria itu. "Kenapa kau tersenyum sendiri? Apa ada hal yang lucu dariku? Make up-ku berantakan?" Langkah kaki berbalut stiletto putih itu terhenti bersamaan geretan koper di tangannya. Mau tidak mau Zeno juga ikut menghentikan langkahnya. Sejenak Stesha melepaskan pegangan pada handle koper hanya untuk mengeluarkan cushion dari pouch bag berlogo merek terkemuka, berbahan dasar kulit buaya pada tangannya yang lain. Tempat ia menaruh barang penting yang tidak ia masukkan kedalam koper seperti ponsel, cushion, parfum dan lainnya. Stesha menekan tombol membuat cushion itu terbuka. Kemudian dilihatnya pantulan dirinya pada cermin kecil. Ia tidak menemukan hal aneh sedikitpun dari dirinya. Tetap cantik dengan make up natural andalannya, tak lupa surai panjang bergelombang itu ia biarkan tergerai, berayun bebas tertiup angin ke kanan dan ke kiri menyamai langkah kakinya sesaat yang lalu. Usia tak menemui kecurigaan untuk penampilannya sendiri, Stesha menutup dan memasukkan kembali cushion ke dalam pouch bag. Kini kedua matanya meneliti penampilannya dari ujung stiletto putih naik ke dress berwarna peach yang membalut tubuhnya. Sayangnya lagi-lagi ia tak menemukan kejanggalan dari penampilannya, tetapi senyuman Zeno yang sulit diartikan membuatnya bingung. Kedua bola mata coklat itu memandang intens bola mata hitam pekat milik Zeno, membuat keduanya kita saling memandang. "Apa yang sebenarnya kau senyumkan Zen?!" Sebelah tangan Zeno terulur untuk menyelipkan helaian surai coklat wanitanya sebelum ia juga mendekatkan wajah ke telinga Stesha. Bisa Stesha rasakan hangat embusan napas Zeno yang menerpa kulit. Sedetik setelahnya Zeno mulai berbisik. "You so Beautiful Ste, bahkan sejak pertama kali kita bertemu di acara makan malam itu, kau sangat memesona dengan caramu yang hmmmm .... sedikit angkuh?" Zeno menjeda ucapannya hanya untuk menarik sudut bibir yang tidak bisa wanita itu lihat. "Hanya saja saat kau tidur bersandar di bahuku tanpa sadar di pesawat, kau terlihat manis." Siapapun tolong Stesha saat ini! Entah mengapa jantung Stesha sedang tidak bisa diajak berkompromi. Tiba-tiba berpacu sangat cepat mendengar bisikan Zeno. Ia bahkan tak bisa menangkap suara pengunjung lain selain deru napas memabukkan yang berhasil membekukan hati dan tubuhnya. Tubuhnya menolak untuk bergerak. Ada desiran aneh yang membuat Stesha kesulitan hanya untuk bernapas. Rasa yang aneh yang tidak bisa ia deskripsikan lewat kata-kata. Dan sialnya semua karena Zeno Zigfrids. "Zeno! Stesha!" Teriakan husky milik seseorang yang sangat keduanya kenal berhasil menolong Stesha saat ini. Stesha menarik napas dan mengembuskannys perlahan sesaat setelah Zeno menjauhkan wajahnya pada telinganya. Ia mengatur gejolak jantung yang sesaat lalu seperti sedang menaiki wahana Roller Coaster. 'Thank you, Dominic. Kau menyelamatkanku,' batin Stesha melihat Dominic datang menjemputnya dan Zeno di Bandara. Mungkin sedikit saja waktu berhenti dan masih tetap dalam posisi seperti itu, hati Stesha benar-benar akan berantakan. Kembali pada kenyataan bahwa mereka telah sampai di Moscow, mari lupakan euforia Zeno yang terkagum dengan wajah manis Stesha ketika tidur di pesawat. Karena di hadapan keduanya saat ini ada sekelompok orang yang telah menunggunya. Dominic dan dua bodyguard dengan setelan jas hitam rapi. "Bagaimana honeymoon kalian? Tell me guys," ucap Dominic antusias. Untuk beberapa hal, Zeno dan Stesha tampak cocok dan sehati selain hobi scuba diving. Yakni sama-sama tak mengacuhkan pertanyaan Dominic yang menurut keduanya tidak berguna. Mereka berjalan berdampingan setelah meninggalkan koper untuk kedua bodyguard itu bawa, meninggalkan Dominic di belakang yang terus menanyakan kabar keduanya selama berbulan madu dengan begitu antusias. Ketiga orang tersebut berjalan menuju ke luar bandara dengan bodyguard yang membawa koper dari majikannya menuju Limousine putih sepanjang 7,5 meter yang telah menunggu di depan Bandara. Sebenarnya ini salah satu fasilitas yang diberikan Edmon untuk Stesha, mengantar kemana pun putrinya pergi. Namun kini Limousine ini juga ikut menjadi milik Zeno, mengingat statusnya yang sudah tercatat dalam satu keluarga Redomir. Tidak lupa beserta bodyguard yang Zeno nilai berlebihan mendampingi kemana pun pergi. Zeno, Stesha dan Dominic masuk ke dalam Limousine, sedangkan para bodyguard hanya mengikuti dari belakang menggunakan mobil terpisah. "Otets meminta kita langsung ke Kremlin*, beliau masih ada urusan pemerintahan, jadi tidak bisa menjemput kalian. Dan sebagai gantinya aku datang menggantikannya." Beruntung pria berbadan besar itu juga mempunyai kesabaran yang besar ketika dari Bandara hingga di dalam Limousine setiap perkataannya selalu tak diindahkan lawan bicara, Zeno dan Stesha. Keduanya sibuk berselancar dengan ponsel masing-masing melupakan satu nyawa yang sejak tadi terus mengoceh. Limousine membelah jalanan kota Moscow, melewati gedung-gedung pencakar langit menuju Kremlin atau Istana Kepresidenan Rusia. Tak lupa dengan beberapa kawalan bodyguard yang terdiri dari dua sedan BMW. Satu mengawal Limousine dari depan dan satu lagi mengawal dari belakang. Hingga tiba di Kremlin, ketiga orang ini disambut oleh beberapa orang yang telah berbaris rapi membungkuk 90 derajat pada Zeno, Stesha, dan Dominic. "When is Otets coming home, Minic?" "I don't know, Ste. Jika aku tau, tidak mungkin Otets menyuruhku menjemput kalian." Mengembuskan napas berat, Stesha rindu ayahnya yang dulu. Meski kasih sayang Edmon tak pernah berkurang sedikitpun, hanya saja waktu yang dihabiskan Edmon lebih banyak digunakan untuk mengimplementasikan visi misinya sebagai Kepala Negara, mengabdi untuk rakyat dan menuntaskan rencana perilisan pesawat RSA3500 agar bisa menjadi armada udara pertama di Rusia yang mengutamakan kenyamanan dengan fasilitas mewah dan harga yang cukup dijangkau masyarakat. Menginjak periode kedua masa jabatan sebagai Presiden Rusia, membuat Edmon makin gigih untuk membangun Rusia yang makin baik, terutama dalam bidang transportasi udara. Stesha melenggang pergi meninggalkan Zeno dan Dominic tanpa sepatah kata, seseorang yang sangat ia harapkan kehadirannya tak ia temukan membuat kekecewaan lahir saat itu juga. "Sepertinya dia merajuk. Now is your time to melt his heart, Zen." Dominic menepuk bahu Zeno yang hanya menatap kepergian Stesha dengan rasa tak enak. Ini pertama kalinya ia melihat Stesha menampakkan wajah dingin karena kecewa, bukan wajah dingin yang selalu ia tunjukkan karena harga diri yang tinggi. Hanya beberapa hari dan ia sudah melihat banyak sisi tak terduga dari Stesha Cyzerine Redomir. ✈️✈️✈️ Waktu cepat berlalu, tak terasa terik yang semula sangat menyengat tergantikan gelap malam yang penuh dengan kelap-kelip jutaan bintang di langit Moscow. Masih setia dengan wajah dingin, Stesha duduk di meja rias yang dipenuhi dengan segala jenis kosmetik. Waktunya perawatan malam. Zeno yang melihat wanitanya menepuk-tepuk wajah dalam diam, terpikirkan ide untuk mengembalikan suara Stesha yang sempat hilang karena kehilangan mood. Karena berjam-jam lamanya wanita itu selalu diam ketika diajak untuk berbicara. Jemari besar Zeno tanpa aba-aba melingkar begitu saja pada pinggang ramping Stesha, tak lupa dengan dagu yang ia jatuhkan di ceruk leher wanitanya membuat Stesha merasakan betul wangi mint, aroma khas seoarang Zeno sedang berhembus di lehernya. Spontan ia menghentikan aktivitasnya dari berbagai macam kosmetik. Karena hal yang beberapa jam lalu ia rasakan datang kembali tanpa diundang. Hal yang hanya ia rasakan saat di dekat Zeno, debaran jantung yang kacau. "Are you angry, Ste?" Masih tak ada jawaban membuat Zeno memutar otak agar Stesha mau bicara dengannya. Kecupan lembut Zeno berikan pada leher Stesha membuat wanita itu meremas jubah tidurnya karena geli yang ia rasakan. "Wanna playing, Ste?" Dan satu kalimat itu berhasil membuat Stesha mengeluarkan suara. "K-kau b-bau, Zen. Apa kau belum mandi?" Terdengar konyol memang, tetapi ucapan spontan itu membuat Zeno melepaskan rengkuhannya pada pinggang Stesha dan mencium badannya sendiri untuk membuktikan. "Aku memang belum membersihkan diri, tapi apa aku sebau itu?" 'Iya, sangat bau, bau mint yang menggoda,' batin Stesha. Senyum kecil terbit ketika melihat tingkah Zeno yang terlihat polos. Stesha berbohong. Bagaimana bisa Stesha masih menghirup wangi aroma mint ketika pria itu belum membersihkan badannya? Impossible. "I'll go take a shower. Wait for me, Ste." Satu jam Zeno habiskan untuk membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi dengan jubah handuk, Zeno menghela napas menemukan Stesha yang terlelap, sepertinya ia gagal lagi melakukan itu. Dikecupnya bibir Stesha sekilas, kemudian ia juga merebahkan diri di samping wanitanya setelah mengganti pakaian dengan jubah tidur yang nyaman. "Dobroy nochi, Ste." Beberapa menit hening dengan dengkuran halus yang terdengar dari bibir Zeno membuat Stesha perlahan membuka kelopak. Padangan itu kosong, hanya menyentuh bibir yang sesaat lalu menerima kecupan dari daging kenyal milik Zeno. Begitu lembut hingga ia ingin untuk mendapatkannya sekali lagi. Ia menggeleng. Menepis semua pikiran sialan yang meminta untuk bibir miliknya dimanjakan oleh bibir tipis Zeno. Lima menit mencoba tidur untuk menetralkan hati, tetapi ia gagal. Gagal pula dalam menghilangkan debaran yang lagi-lagi menjadi momok ketika hal manis yang Zeno lakukan selalu berimbas pada hati yang porak-poranda. Ia memutar kepalanya menyamping untuk wajah tampan Zeno. Stesha membatin, 'mungkinkah aku telah jatuh hati dengan Zeno? Tapi ....... Secepat ini?' ✈️✈️✈️ Kamus bahasa Rusia : -Dobroy nochi : Good night. Wikipedia : - Kremlin : Istana Kepresidenan Rusia. Jika Indonesia mempunyai Istana Merdeka, Korea Selatan mempunyai Bluehouse, dan Amerika mempunyai Gedung putih tentu Rusia juga mempunyai Istana Kepresidenan yang diberi nama Kremlin yang artinya Benteng di dalam Kota. Bangunan seluas 27 hektar ini mempunyai 20 Menara. Dan Menara paling terkenal yaitu Menara Spasskaya mempunyai tinggi sekitar 6,7 meter dengan jam berdiameter 6 meter.
Cerita bagus banget. Jadi pengen punya suami yang keren dalam balutan kemeja pilot kyk Bang Zeno 😘
20/05/2022
0Ceritanya sangat menarik. Semangat Kak Hawa🤗
20/05/2022
1sangat menarik
19/12
0ดูทั้งหมด