Seorang pria baruh baya duduk di sofa membelakangi anak buahnya. "Bagaimana?" "Maafkan saya Ser, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk menyabotase air tank Molodaya Ledi* Stesha dengan sedikit melubangi selangnya agar pasokan udaranya cepat habis dan bercampur dengan air laut, tetapi gagal ketika Molodoy Master* Zeno melompat kembali untuk mencari Molodaya Ledi Stesha dan menyelamatkannya." Pria paruh baya itu tersenyum tipis, senyuman sulit diartikan atau bisa dibilang mengerikan? Mungkin saja. Bahkan bawahan pria itu gemetar ketika melaporkan kegagalannya atas apa yang sebelumnya telah disuruh oleh Tuannya. Bangkit dari sofa yang menjadi singgasananya, pria paruh baya itu melenggang pergi tanpa sepatah kata setelah menerima laporan yang tidak memuaskan. ✈️✈️✈️ Terhitung sudah dua hari semenjak insiden air tank bocor, Stesha tak berani sekalipun untuk keluar dari resor terapung tempat mereka menghabiskan waktu berbulan madu di Raja Ampat. Mau tidak mau Zeno juga ikut tak keluar demi menemani wanitanya. Duduk bersandar pada punggung ranjang Queen size kamar keduanya bertemankan buku komik, Stesha sesekali melirik Zeno yang terlihat casual dengan hoody hitam dan celana pendek selutut berwarna cream sedang meneliti penampilannya di depan cermin rias. "Kau mau kemana?" Tanya Stesha yang tidak mengalihkan pandangannya dari buku komik setelah melirik Zeno. "Berjalan-jalan." Sontak Stesha menurunkan komiknya. Ia menatap Zeno yang melihatnya melalui cermin. "Dan meninggalkanku disini sendirian?" "Ayo kita pergi bersama." "Aku masih terlalu takut untuk keluar—" Stehsa menggantungkan ucapannya. Ia terlihat ragu, tetapi tetap melanjutkan. "—Tapi aku juga takut jika ditinggal sendirian disini." Zeno membalikkan badannya, menatap nakal Stesha yang kembali membalik setiap halaman buku komik. "Jadi kau ingin aku tetap disini? Tapi aku bosan Ste, atau kau ingin kita melakukan permainan yang menyenangkan sekaligus menegangkan?" Terkesiap, mempunyai perasaan tak enak, Stesha berhenti membalik setiap halaman buku komik yang menjadi fokusnya saat itu. Dan benar saja ketika mendongak, ia mendapati Zeno yang melepaskan hoody yang dikenakannya dengan gerakan sesensual mungkin dan melemparnya ke sembarang tempat. Pria itu bahkan merangkak dari bibir ranjang menghampiri Stesha yang berada di ujung dengan perlahan seperti sedang menggoda. Oh ayolah, ia juga tau maksud dari 'permainan yang menyenangkan dan menegangkan' versi seorang Zeno. Memang setelah menikah hingga kini berbulan madu mereka hanya tidur satu ranjang tanpa melakukan apapun. Perlu ditekankan 'tanpa melakukan apapun' yang artinya 'not Making Love between them'. Entah karena Zeno sedang tidak bergairah atau Stesha yang terlalu membangun tinggi tembok pertahanan untuk keduanya, membatasi diri untuk tidak melakukan skinship berlebihan semenjak ciuman tak terduga yang ia lakukan di panggung pesta dansa pernikahannya. Bahkan ciuman sialan itu masih terputar dengan jelas di otaknya seperti kaset rusak yang hanya menampilkan satu adegan yang di putar berulang-ulang. Menebak hanya dari ciuman dominasi Zeno yang kuat, Stesha berpikir jika sudah bisa dipastikan Zeno profesional dalam berhubungan badan dan ia mulai takut. Takut harga dirinya yang menolak Zeno sejak awal terjun bebas dan terbuai dalam permainan yang Zeno ciptakan. Belum sempat Zeno menyentuh Stesha, lebih dulu wanita itu bangkit dan melempar komiknya tepat mengenai kepala Zeno. "Tunggu aku. Aku akan bersiap-siap." Zeno terkekeh geli karena Stesha yang gugup ketika dirinya mendekat. Sangat kentara jika Stesha berusaha melarikan diri dari apa yang akan Zeno lakukan. "Menggemaskan." Gumam Zeno seraya memungut dan memakai kembali hoody yang beberapa menit lalu ia buang layaknya barang tak berguna. ✈️✈️✈️ Zeno dan Stesha berjalan berdua layaknya turis dengan kaca mata hitam bertengger di hidung runcing keduanya, melewati penduduk lokal yang didominasi berkulit gelap. "Bisakah kau menyingkirkan lengan besarmu dari bahuku?" Justru lengan besar Zeno berpindah ke pinggang langsing Stesha. Helaan napas pasrah terdengar. Stesha yang paham akan sifat Zeno ketika dilarang pasti akan bertindak sebaliknya. Di detika itu, memori ketika pria itu menyelamatkannya di lautan lepas masih terngiang di kepala Stesha. Hampir semua perlakuan kecil Zeno tak pernah bisa Stesha lupakan. Haruskah ia menerima Zeno juga di kehidupannya? Toh mereka juga sudah terikat dalam hukum sebagai pasangan suami istri. Hanya saja pernikahan atas dasar perjodohan masih saja menjadi hal memuakkan bagi Stesha dan masih belum bisa ia terima. Menjelajah pedesaan Pulau Raja Ampat dengan berbagai kearifan lokal hanya berdua tanpa pengawal menjadi hal baru bagi keduanya. Tak menyangka jika di era yang sudah modern ini masih ada warga yang tetap melestarikan adat dan budaya yang turun temurun dari nenek moyang. Tarian dari warga lokal yang sedang melakukan kegiatan adat rutin terlihat seperti menyambut mereka yang hanya berjalan santai memasuki desa, menggiring minat keduanya untuk menjadi penonton. Cukup unik bagi mereka yang terbiasa hidup dengan kecanggihan teknologi di Negara Rusia. ✈️✈️✈️ Malam hari Zeno dan Stesha masih sama di resor terapung Raja Ampat. Namun, Zeno teringat sesuatu. Ucapan Dominic saat di pesta pernikahan mereka bahwa pria itu memberikan hadiah spesial yang sudah ia selipkan di koper masing-masing. Terlalu menikmati keindahan Raja Ampat membuat Zeno melupakan hal tersebut. "Ste, bukankah Dominic memberikan kita hadiah pernikahan. Kau sudah membukanya?" Stesha yang saat itu membersihkan make up dengan remover dan ber-skincare ria dengan kosmetik menoleh ke arah Zeno yang duduk bersila mengobrak-abrik isi kopernya. "Belum." Menghentikan rutinitasnya sebelum tidur dengan skincare, Stesha ikut duduk di samping Zeno membongkar isi koper untuk mencari hal yang sama. Ia juga penasaran dengan hadiah yang diberikan kakaknya. Semua pakaian dan barang-barang di dalam koper Zeno pindahkan di atas tempat tidur. Begitupun Stesha yang melakukan hal sama. Ia mencari setiap sudut hingga ditemukan kotak berwarna navy berukuran sedang ada di bawah sendiri bagian dalam koper terselip diantara tumpukan pakaian. Entah sejak kapan Dominic menaruh kotak itu di koper mereka. Zeno membuka kotaknya. Satu set lingerie Victoria Secret transparan berenda berwarna merah ketika ia mengangkat isi di dalamnya. Tak lupa sticky notes dengan tulisan tangan Dominic di atas pakaian tersebut, Zeno menaruh kembali lingerie dan baca sticky note dengan saksama. 'To My Sister. Enjoy your honeymoon, Ste. I can't wait for cute babies who look like you and Zeno :)' Ketika Zeno dengan santai membuka kotak berwarna sama pemberian Dominic, Stesha malah terbelalak. Bagaimana tidak jika di dalam kotak yang ia temukan berisi buku panduan bercinta, tak lupa dengan sticky notes pula tertempel pada cover buku. 'To My Brother. Please do it with calm down Zen :)' Zeno memberikan lingerie kepada Stesha, tidak beserta kotaknya seolah benda tersebut tidak berefek apapun terhadap dirinya. Rupanya dominic salah meletakkan kotak di koper keduanya. Kotak yang seharusnya untuk Zeno berada di dalam koper Stesha, begitu pun sebaliknya. "Sepertinya hadiah kita tertukar." Buru-buru Stesha menyembunyikan kotak itu di belakang tubuhnya. Bisa bahaya jika Zeno mempraktekkan teori yang ada di buku tersebut. Stesha belum siap melakukannya dengan Zeno. "Apa hadiahku?" "Bukan sesuatu yang penting. Dominic hanya memberikan sesuatu yang konyol menurutku." Zeno tak ambil pusing. Apapun itu Zeno sebenarnya juga tidak mengharapkan hadiah dari Dominic. Ia tahu isi otak Dominic dan ketika melihat hadiah pria besar itu untuk adiknya saja, ia sudah bisa menebak hadiah lain untuk dirinya dari rekan sesama profesi sekaligus kakak iparnya itu. Lingerie di tangan Zeno masih mengudara tanpa Stesha berniat untuk menerima hadiah yang seharusnya untuk dirinya dari Dominic. "Kau ingin mencobanya?" Stesha gelagapan ketika pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Zeno dengan santai. "Aku tidak suka menggunakan lingerie seperti itu." "But this lingerie is gift from your brother Ste and he wants you to use it." Stesha bungkam. Memilih tidak membalas ucapan Zeno karena ia belum siap. "Jika kupikir-pikir lagi, setelah menikah hingga sekarang honeymoon, kita belum melakukan hal yang seharusnya dilakukan pasangan lain setelah menikah. Haruskah kita melakukannya malam ini, dengan kau yang memakai Lingerie pemberian Dominic ini." Mengerjapkan matanya beberapa kali, Stesha menemukan manik legam Zeno yang menatapnya lapar, tetapi dengan wajah yang begitu datar. Kemudian wajah angkuh yang selalu ia tunjukkan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi wajah memelas, tidak lupa mata yang berkaca-kaca memberi kesan kontras dengan ekspresinya saat ini. Memilin jubah tidur satinnya, Stesha menunduk. "Bisakah melakukannya lain waktu? Aku masih belum siap. Aku juga masih belum bisa menerima status kita yang telah menikah karena perjodohan." Zeno menghela napas kasar mendengar ucapan lirih Stesha dengan ekspresi yang begitu memelas. Ia tak tega dengan wanita cantik yang biasa terlihat angkuh. Entah mengapa hatinya mudah luluh dengan wanita di hadapannya. Terlebih dengan mimik wajah itu, Zeno lebih tidak bisa memaksa. Zeno bangkit, meninggalkan koper yang berserakan seraya memungut pakaian yang semula ia cecer di atas tempat tidur dan melemparnya di atas koper. Lantas ia berbaring setelah memastikan ranjang Queen Size bersih dari pakaian yang berserakan. Tak lupa Zeno merapatkan selimut sebatas dada dan terpejam dengan rahang yang menguat. "Mungkin kali ini tidak terjadi apapun, tapi lain kali akan kupastikan hari itu akan datang, Ste." Stesha hanya bisa meneguk salivanya mendengar Zeno berucap tegas dengan mata yang terpejam. Ia memilih untuk berbaring juga di sebelah Zeno, tetapi dengan jarak yang tercipta cukup untuk memisahkan dua tubuh dewasa itu. Beberapa menit hening melanda keduanya, Stesha masih belum bisa tidur dengan ucapan terakhir Zeno. Ia melirik Zeno yang sepertinya benar-benar sudah terlelap, kemudian bernapas lega. Kini Stesha berbaring menyamping meneliti setiap jengkal wajah Zeno yang terlihat seperti karya seni. Ia akui Zeno sangat tampan. Namun hatinya belum bisa bergerak terbuka untuk menerima Zeno masuk ke dalamnya. Tak tahu jika esok. Mungkin saja ada cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Kamus Bahasa Rusia : - Ser : Tuan - Molodaya Ledi : Nona Muda - Molodoy Master : Tuan Muda
Cerita bagus banget. Jadi pengen punya suami yang keren dalam balutan kemeja pilot kyk Bang Zeno 😘
20/05/2022
0Ceritanya sangat menarik. Semangat Kak Hawa🤗
20/05/2022
1sangat menarik
19/12
0ดูทั้งหมด