logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Episode 4

“Sungguh miris, septertinya kita berada di masalalu.” ucap Gu Jun tersenyum miris.
“Jangan fikirkan dan tangisi hal itu, ini takdir. Ah aku lebih tua dari kalian panggil aku Gege. Kita harus berdabtasi.” ucap Gu Min, diangguki olah Gu Jun.
“Ah kebetulan aku tidak pernah memiliki adilk selama ini, ah begini rasanya memiliki adik.” ucap Gu Ana sambil menggoda Gu Jun.
“Hai jangan menggodaku, bair bagaimanapu aku yang paling imut di antara kalin.” kesal Gu Jun membuat mereka tertawa.
Tak terasa hari sudah mulai gela para dayang masuk dak membawakan makan malam kepada ketiga anak-anak dari tuannya.
“Maaf mengganggu, Para Tuan Muadan, dan Nona Muda waktunya makan malam.” kata dayang yang bertugas.
“Ah, iya tak terasa, hem kami akan makan malam bersama Ayah. Bisa kau antar kami ke pafilium Ayah?” Ucap Gu Min.
“Baik tuan muda.” ucap dayang tersebut, lalu memberikan kode agar para dayang mempersiapkan semua yang dibutuhkan.
Sesampainya di pafilium Tuan Gu dikejutkan dengan kedatangan putra dan putrinya secara tiba-tiba.
“Anak-anak kalian baru siauman, bagaimana mungkin kalian berjalan kesini? Mengapa tidak memanggil ayah saja ke sana?” ucap Tuan Gu panik.
“Ayah…. Kalau kami tidak apa-apa, seharian beristirahat itu sudah cukup.” Ucap Gu Ana bergelayut manja dengan tuan Gu yang sekarang berstatus sebagai ayahnya.
“Ah An’er kenapa kau tiba-tiba begitu manja ha?” ucap Tuan Gu sambil mengusap kepala Gu Ana atau Ariana.
“Ayah, aku rasa kepalanya telah terbentur kemarin, makanya dia begitu aneh.” ejek Gu Jun atau Maxim.
“Hei, Jun’er kau sungguh keterlaluan. Aku ini jiejiemu mengerti?” kesal Gu Ana.
“Sudah adik-adikku jangan bertengkar, aku cukup lelah mendengarkan pertengkaran kalian sepanjang sore ini.” lerai Gu Min yang sontak membuat Tuan Gu terkekeh.
Entah semenjak kejadian itu Tuan Gu selalu terlihat murung, ini adalah pertama kalinya tuan Gu terkekeh. Ia begitu senang melihat tingkah anak-anaknya yang menurutnya sangat lucu.
“Maaf Tuan, Tuan Muda, dan Nona Muda makanan telah siap.” ucap Pelayan seraya membungkuk.
“Ah… anak-anak ayo, untuk bertengkarnya dilanjutkan setelah makan saja ya.” bujuk Tuan Gu.
“Hore makan.” sorak Gu Ana, membuat Gu Min dan Gu Jun melongo tak percaya. Bagaiman mungkin dia mengaku sebagai perajurit dengan sikap yang seperti anak kecil.
Saat makan malam berlangsung semua menikati dengan hikmat, taka ada yang berbicara.
“Ah aku kenyang.” ucap Gu Ana mengusap perutnyayang sudah penuh.
“Tentu kau makan sangat banyak Jiejie, kau makan seolah-olah kau tak pernah makan seumur hidupmu.” ucap Gu Min dontak membuat Gu Ana menatapnya kesal. “Huh sungguh tak bisa kupercaya punya Jiejie sepertimu.” sambung Gu Min sontak membuat Gu Ana memukul kepala Gu Min.
“Kau sungguh adik yang besar mulut, kau fikir ini aku semua yang menghabiskan, ingat kau juga ikut andil dalam menghabiskan makanan.” kesal Gu Ana. “Ayah lihatlah Jun’er umur baru menginjak 10 tahun tapi mulutnya sangat pedas.” adu Gu Ana.
“Aduh kalian sama saja, ingat Meimei umur mu baru 15 tahun, kau tak boleh melupakan itu.” ucap Gu Min kepada mereka berdua. “Ah ayah kapan perayaan ulangtahun kaisar akan dilaksanakan?” tanya Gu Jun mengalihakan pembicaraan.
Jujur ia adalah anak tunggal yang sangat tidak berpengalaman memiliki seorang adik ditambah lagi sekarang tiba-tiba ia harus memiliki dua orang adik yang benar-banar tidak masuk di akal. Meski mereka sama-sama dari dunia modern alias abad 21 namun mereka berdua terlihat masih separti anak-anak, adiknya Gu Ana merupakan anak bungsu, yang mungkin saja semua keinginannya dan kemauannya akan dipenuhi oleh Ayah dan kakaknya, sedangkan yang paling bungsu Gu Jun merupakan anak tunggal yang memang masih muda, dan segala keinginannya selalu tercpai tanpa kerja keras. Bahkan ia hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.
“Tujuh bulan lagi. Aku mendengar mereka akan mengadakan jamuan besar, dan keluarga kita diundang.” Jelas tuan Gu. Ya barang tentu mereka di undang, meski mereka bukan berasal dari keluarga bangsawan, namun  keluarga mereka cukup berpengaruh di kerajaan tersebut. Orang tua mereka merupakan pebisnis handal dan sangat terkemuka serta kaya raya.
Setelah dinyatakan sembuh total oleh tabib Long, tuan muda dan nona muda dari keluarga Gu akhirnya kembali menjalankan aktifitas masing-masing. Bahkan mereka kembali membangun bisnis baru, mereka membangun semacam mall dengan tingkat 4 dimana setiap lantai memiliki berbagai macam benda yang berbeda. Lantai pertama bisanya diisi oleh benda-benda perabotan dan barang-banrang yang, makanan pokok dan barang kehidupan sehari-hari, kursi hingga tempat tidur. Lantai dua di isi oleh bebagai pakaian termasuk sepatu, peralatan akademi, dan berbagai buku-buku. Sedangkan lantai 3 di isi oleh kedai kedai. Dan lantai 4 sendiri merupakan tempat para pekerja dan kantor utama untuk mall.
Sedangkan Ariana atau Gu Ana dan Maxim atau Gu Jun membangun rumah seni, dimana orang-orang mengadakan pertunjukan music teater dan lain-lain. Dimana terdiri dari beberapa lantai dengan berbagai tepat duduk, yang dibagi dari kasta dan bayaran yang dibayar dari pelanggan. Semakin dekat dengan gpanggung maka semakin mahal pula harga tiket nya. Sedangkan untuk VVIV terdapat ruangan-ruangan. Lantai dua diperuntukkan untuk
Tujuh bulan berlalu semu orang bersiap-siap untuk menghadiri pesta ulangtahun kaisar termasuk keluarga Gu. Mereka mengenakan pakaian terbaik, dengan wajah para tuan muda Gu yang amat mempesona, dan nona muda Gu dengan senyuman manis yang selalu menempel di wajah nan imutnya membuat semua orang tak bisa mengalihkan pandangannya dari keluarga Gu, terutama tuan muda kedua dari keluarga Gu sangat terlihat menggemaskan.
Acara berlansung sangat meriah, terjadi bisik-bisik tentang kejeniusan keluarga Gu yang memulai bisnis dari umur yang sangat muda, bahkan anaknya yang berumur 10 tahun saja sudah dilibatkan. Orang-orang yang penasaran dengan wajah para anggota keluarga Gu akhirnya bisa melepasan rasa penasaran mereka, karna jika berada di tempat umum biasanya anggota keluarga Gu menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya.
“Ah Tuan Gu aku sangat terkesan dengan kemampuan keluargamu yang benar-benar mampu menguasai perkonomian, bahakan saya dengar anak-anak anda telibat dalam bisnis ini. Sungguh buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kau mendidik putra putrimu dengan baik.” ucap raja Zang Zuan memuji Tuan Gu dalam penjamuan tersebut.
“Yang Mulia terlalu memuji, hamba takut anak-anak haba tak mampu menerima pujian yang amat besar dari Yang Mulia.” ucap tuan Gu dengan rasa hormat kepada junjungan Negara tersebut.
“Ah aku hanya mengucapkan fakta, sungguh sangat menakjubkan.” ucap Raja Zuan memperhatikan seluruh anak keluarga Gu. “Mereka adalah harta berharga Negara kita.” ucap Raja Zuan dengan rasa bangga.
“Terimakasih Yang Mulia atas pujiannya.” ucap keluarga Gu secara serentak.
“Kalian pernah dengar semakin tinggi pohon maka semakin tinggi pula angina yang menerpa?” bisik Ariana atau Gu Ana.
“Tentu kami sudah menyadari tatapan iri beberapa orang yang ada di sini.” ucap Maxim atau Gu Jun.
“Tentu jangan terpisah, jangan ceroboh. Mereka buakan musuh yang mudah, terus berhati-hati. Jangan percaya kepada siapapun, kecuali diri kita dan anggota inti keluarga Gu. Bahkan dinding pun mampu mendengarkan.” ucap Armin atau Gu Min sambil tersenyum menyeringai. Mereka bertiga tersenyum samar saat mengedarkan pandangan dan menemukan tatapan iri dan dengki terhadap mereka.
“Baikah saatnya penampilan bakat pagi para gadis yang telah cukup usia, masing-masing gadis baik dari anggota kerajaan ataupun kelas bangsawan diperbolehkan ikut serta.” jelas kasim Raja, yang sontak membuat para gadis-gadis menjadi bersemangat. Ya tujuan mereka adalah merebut perhatian para pria bangsawan dan kerajaan.
Awalnya pertunjukkan bejalan dengan baik, namun pada saat nona muda Ruan telah selesai, tiba-tiba saja menantang Gu Ana untuk pertunjukan bakat.
“Maaf Yang Mulia, saya dengar anggota keluarga Gu sangat berbakat, terutama nona Gu. Namun disini belum ada yang melihat bakat nona Gu, mohon kiranya nona muda Gu menunjukkan bakatnya di sini.” tatap Ruang Qin dengan sinis kearah Gu Ana.
“Ah maaf Yang Mulia.” ucap Gu Ana. “Sebenarnya saya sangat ingin mengikuti pertunjukan bakat ini, namun usia hambah belum memenuhi batas dan persyaratan untuk ini.” Ucap Gu Ana sambil menatap Ruan Qin.
“Memangnya berapa usia nona muda Gu?” tanyanya sinis.
“Ah usia hambah baru 15 tahun nona muda Ruan.” jawab nona Gu polos.
Penuturan tersebut membuat semua orang terkejut, bagaimana mungkin umurnya baru 15 tahun, sudah menampilkan penampilan yang begitu cantik, belum lagi kabar yang beredar dialah yang membuka rumah seni dan mengesahkannya.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (45)

  • avatar
    UziFauzi

    siip

    7d

      0
  • avatar
    rendyrendy

    teh4g3s eguf

    01/05

      0
  • avatar
    SelerakuIndomie

    bagus banget

    02/05/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด