ทั้งหมด : 61บทที่ 1 Kabut
Kabut di Kalingga itu penipu. Kadang dia menipis sampai kita mengira langit sudah bersih, lalu tiba-
readmore บทที่ 2 Apa yang Tidak Dikatakan Laporan
Kantor polisi Kalingga baunya khas: campuran kopi basi dan tumpukan kertas lembap. Dua aroma yang se
readmore บทที่ 3 Rumah yang Mengingat Segalanya
Aku tidak tidur semalaman. Bukan karena tidak mencoba—aku sudah telentang di ranjang hotel yang bau d
readmore บทที่ 4 Tanah yang Bukan Milik nya
Kapel keluarga Wongso berdiri di puncak bukit kecil, terpisah dari Wisma Ambar oleh deretan pohon ce
readmore บทที่ 5 Nama yang Tak Pernah Disebut
Kertas foto itu bergetar di tanganku, meski tidak ada angin yang cukup kencang untuk menjelaskan get
readmore บทที่ 6 Ujung Kabut
Kami akhirnya sepakat buat berangkat ke Wonosobo besok paginya. Jujur, rasanya aku ingin langsung ta
readmore บทที่ 7 Yang Menunggu di Kegelapan
Perjalanan pulang ke Kalingga terasa berbeda dari perjalanan berangkat. Kabut yang tadi pagi terasa
readmore บทที่ 8 Tengah Malam di Kaki Menara
Aku menatap layar ponsel begitu lama hingga huruf-hurufnya mulai kabur, bercampur dengan air mata ya
readmore บทที่ 9 Ayah dari Anak Itu
Kata-kata Mira menggantung di udara malam yang lembap, bercampur dengan kabut yang perlahan menelan
readmore บทที่ 10 Api yang Tidak Membedakan
Bau bensin memenuhi ruangan bawah tanah itu dalam hitungan detik, menyengat hidung dan membuat matak
readmore บทที่ 11 Rumah yang Menyimpan Napas Terakhir
Damar jelas tidak setuju aku pergi sendirian, tapi kali ini aku tidak memberinya celah untuk berdeba
readmore บทที่ 12 Pengakuan di Bawah Cahaya
Waktu seperti berhenti berputar di dapur Wisma Ambar. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yan
readmore บทที่ 13 Yang Berdiri di Ujung Waktu
Aku tidak menunggu sampai matahari benar-benar terbit untuk berangkat. Damar bersikeras mau ikut, ten
readmore บทที่ 14 Wajah dari Jakarta
Aku tidak pernah tahu namanya. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Aku pernah mendengarnya sekali,
readmore บทที่ 15 Dua Belas Jam
Kami turun dari menara jam dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Langkah kami t
readmore บทที่ 16 Sesuatu yang Sangat Dekat
Pesan itu masih menyala di layar ponsel pas gawaiku sendiri mendadak bergetar keras. Waktunya yang h
readmore บทที่ 17 Debu dan Darah
Untuk beberapa detik yang rasanya berjalan lambat, aku gak bisa mendengar apa pun selain suara dengi
readmore บทที่ 18 Jaringan yang Lebih Luas
Aku gak langsung menjawab tawaran dari pihak kedutaan itu. Sesuatu di dalam diriku—insting yang suda
readmore บทที่ 19 Ayunan di Taman Sekolah
Aku menatap pesan itu begitu lama sampai huruf-huruf di layar mulai kabur oleh air mata yang mengali
readmore บทที่ 20 Orang yang Seharusnya Sudah Mati
Aku menatap wajah ibuku, mencoba memproses setiap kata yang baru saja keluar dari mulutnya. Dunia di
readmore บทที่ 21 Pesan dari Damar
Pesan Damar cuma berisi tujuh kata, tapi isinya sudah cukup buat membuat jantungku mendadak berhenti
readmore บทที่ 22 Malam Sebelum Fajar
Aku menatap pesan itu begitu lama sampai huruf-huruf di layar rasanya seperti terbakar di retinaku.
readmore บทที่ 23 Yang Terbakar di Fajar
Aku menatap pesan itu lama, jantungku berdebar dengan ketakutan yang begitu murni hingga tanganku ge
readmore บทที่ 24 Kotak Pandora
Kata-kata Damar rasanya seolah menggantung di udara ruangan yang sudah begitu penuh dengan atmosfer
readmore บทที่ 25 Tanda Tangan yang Tidak Mungkin
Aku menatap layar ponsel itu begitu lama sampai mataku mulai terasa perih. Aku mencoba meyakinkan di
readmore บทที่ 26 Nama yang Diucapkan Broto
"Mira," bisik Broto pelan. Nama itu meluncur begitu saja di ruangan sempit itu, seperti batu yang dil
readmore บทที่ 27 Detik yang Tersisa
"Kapan?" desakku pada Mira, suaranya nyaris berteriak. "Kapan dia bakal ngelakuin itu?" "Aku enggak t
readmore บทที่ 28 Reruntuhan yang Tersisa
Suara ledakan itu masih terus mendengung di telingaku, bahkan setelah gelombang panasnya lewat. Teli
readmore บทที่ 29 Wajah yang Tak Terduga
Ruangan itu mendadak hening seketika. Nama yang baru saja diucapkan Ratih menyisakan rasa tak percay
readmore บทที่ 30 Kebenaran Yudha
"Wisnu mendatangi aku dua hari setelah kamu pertama kali meneleponku," ucap Yudha. Suaranya bergetar
readmore บทที่ 31 Undangan dari Bayangan
Aku menatap pesan di layar ponsel berulang kali. Kucoba mencari jejak ancaman kasar seperti yang bia
readmore บทที่ 32 Meja Panjang di Lantai Lima Belas
Aku mematung di ambang pintu selama beberapa detik. Kutatap kelima wajah di sekitar meja—empat pria
readmore บทที่ 33 Pilihan di Ujung Lift
Aku melangkah keluar dari gedung itu dengan berpura-pura tenang, walau di dalam dada rasanya seperti
readmore บทที่ 34 Yang Tersisa Setelah Kematian
Berita kematian Wisnu melesat secepat kilat, membanjiri jagat maya dan saluran televisi dalam hitung
readmore บทที่ 35 Janji di Bawah Kabut yang Menghilang
Rafa merengkuhku erat-erat begitu kata "ya" meluncur dari bibirku. Isak tangis dan tawa kami menyatu
readmore บทที่ 36 Rumah yang Tak Lagi Kaca
*Dua tahun kemudian* Kalingga masih diselimuti kabut sembilan bulan dalam setahun. Namun entah kenapa
readmore บทที่ 37 Yang Tersisa di Abu
Tiga hari pasca kematian Wisnu, Kalingga masih dibalut suasana mencekam, bagai kota yang tengah mena
readmore บทที่ 38 Bu Guru
Pagi itu juga aku menelpon Profesor Halim, membeberkan fakta baru yang disampaikan Bi Inah. Suara be
readmore บทที่ 39 Akar yang Tertanam di Tanah Basah
Lidahku terasa kelu. Keheningan yang menggantung di ruang tamu kecil itu begitu pekat, menyiksa, dan
readmore บทที่ 40 Jakarta, Kota yang Tak Pernah Lupa
Perjalanan darat menuju Jakarta menelan waktu hampir delapan jam. Damar—yang akhirnya memutuskan iku
readmore บทที่ 41 Yang Mencintai di Balik Publikasi
Dua minggu bergulir setelah rentetan pertemuan di Jakarta, aku kembali memegang pena. Bukan lagi sek
readmore บทที่ 42 Surat dari Masa Lalu yang Belum Selesai
Tiga bulan bersemayam sejak kedatangan Mira, denyut nadi kehidupan di Kalingga perlahan mulai menemu
readmore บทที่ 43 Wajah yang Sama, Nama yang Berbeda
Suasana di dalam ruang tamu rumah tua almarhum Ayah hening begitu lama. Begitu pekat, hingga detak j
readmore บทที่ 44 Nama-Nama yang Kembali
Proyek pengumpulan nama-nama korban itu meledak jauh lebih raksasa dari sekadar rancangan awal kami
readmore บทที่ 45 Putri dari Sang Pendiri
Aku duduk mematung cukup lama setelah panggilan telepon itu terputus. Mataku menatap kosong pada lay
readmore บทที่ 46 Yang Menunggu di Ambang Pilihan
Balasan surel dari Anindita membukakan sebuah celah komunikasi yang teramat sempit dan rapuh. Bermin
readmore บทที่ 47 Empat Minggu
Aku menatap layar ponsel itu untuk waktu yang teramat lama. Denting musik resepsi, gelak tawa para t
readmore บทที่ 48 Dua Belas Nama
Aku memandangi layar ponsel itu dengan jantung berdegup amat kencang. Rafa, yang membaca kalimat-kal
readmore บทที่ 49 Anggota Dewan yang Rentan
Nama pertama yang kami bidik dari daftar Dewan Inti adalah Haryo Sudibyo. Sosok anggota parlemen dar
readmore บทที่ 50 Retakan Pertama
Delapan bulan pascapertemuan rahasia di Kuala Lumpur, hal yang selama ini menghantui mimpi-mimpi bur
readmore บทที่ 51 Kesaksian yang Tak Terbayangkan
Persiapan untuk kesaksian Anindita membutuhkan waktu berbulan-bulan, sebuah proses yang begitu rumit
readmore บทที่ 52 Ranti Melangkah Maju
Kabar tentang Ranti Sudibyo datang begitu tiba-tiba, begitu tidak terduga, hingga aku hampir terjatu
readmore บทที่ 53 Gelombang yang Tak Terbendung
Peluncuran buku itu, yang kami rencanakan sebagai acara kecil dan sederhana, ternyata memicu sesuatu
readmore บทที่ 54 Yang Terakhir dari Dewan Inti
Tiga tahun setelah publikasi *Rumah Kaca*, kabar tentang kematian Marlina Wirjono datang begitu tena
readmore บทที่ 55 Hakin yang Memegang Timbangan
Nama hakim itu adalah Prawira Sastrodiningrat—seorang hakim agung yang telah menjabat selama hampir
readmore บทที่ 56 Yang Diwariskan pada Generasi Berikutnya
Sepuluh tahun setelah pemakaman Sasha yang menjadi awal dari seluruh perjalanan ini, aku berdiri di
readmore บทที่ 57 Rancangan Undang-Undang
Anindita tiba di Kalingga pada awal bulan berikutnya, seperti yang telah dijanjikan, dan pertemuan k
readmore บทที่ 58 Setelah Undang-Undang
Undang-undang itu disahkan, tapi mengesahkan hukum di atas kertas dan benar-benar menegakkannya di l
readmore บทที่ 59 Yang Ditinggalkan Warsiti
Kabar kematian Warsiti datang dua bulan setelah kami kembali dari Jenewa, disampaikan lewat telepon
readmore บทที่ 60 Jembatan yang Dibangun Sasha
Program dialog rekonsiliasi yang dikembangkan Sasha berkembang jauh lebih cepat dari yang pernah kam
readmore บทที่ 61 Rumah yang Akhirnya Bening
Dua puluh lima tahun setelah aku pertama kali menginjakkan kaki kembali di Kalingga untuk memakamkan
readmore