logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Bagian ketujuh

Manusia Parasit
Bagian 7
"Kenapa minta pekerjaan pada Bang Ahmad? Bukannya gaji suamimu gede? Buktinya kamu mampu bergaya! Kenapa mau pindah kerja lagi? Aku tak setuju jika ia pindah kesini! Lagian Rizal belum tahu apa-apa. Jika baru mau belajar, gajinya tidak akan sama dengan yang sudah mahir. Pasti Siska akan mengamuk jika gaji suaminya sedikit," ucap Ayu lantang menanggapi perkataan Bu Nilam.
Bu Nilam tampak geram mendengar penolakan Ayu. Tetapi, dia harus menahan emosinya menghadapi Ayu. Hanya Ahmad yang bisa Bu Nilam andalkan.
"Gaji Bang Rizal memang tidak cukup, Mbak. Keperluan sehari-hari ditambah kebutuhan Aldo yang semakin hari semakin banyak. Gaji Bang Rizal hanya mampu menutupi semua itu," balas Siska.
Dari dulu Siska merengek agar Ayu bisa menerimanya bekerja di rumah mereka karena Ahmad tidak ada masalah tetapi Ayu yang selalu menahannya sehingga Rizal bekerja di tempat lain sampai sekarang.
"Lalu kamu dapat uang dari mana, Sis, bisa belanja barang-barang mewah? Padahal kamu sendiri yang mengatakan gaji suamimu hanya menutupi kebutuhan sehari-hari? Artinya memang Bang Ahmad yang membiayai hidup glamourmu selama ini! Dan sekarang kamu mau meminta Rizal pindah lagi?"
"Justru itulah, Yu! Jika pendapatan Rizal sudah banyak, Siska tidak akan menyusahkan saudaranya, Ini untuk kebaikan kita semua. Jadi nanti jika Rizal sudah bekerja disini, mama yakin pasti Siska akan berubah. Seandainya dulu sudah diterima, pasti Rizal sudah seperti Ryan dan yang lain." Bu Nilam terus membujuk Ayu.
Ayu terus berpikir karena dia tidak yakin dengan apa yang dikatakan Bu Nilam. Ayu takut, Siska tidak berubah, malah yang terjadi sebaliknya. Siska akan semakin seenaknya meminta pada Ahmad.
Buktinya, sekarang saja dia tidak bekerja disini tetapi hampir tiap hari datang meminta uang dengan berbagai alasan. lalu bagaimana jika nanti sudah bekerja disini, mungkin dia akan meminta lebih banyak dari gaji yang ia terima dan Ahmad pasti akan selalu menurutinya. Ahmad sangat takut berkata tidak pada saudaranya.
"Jadi bagaimana, Yu?" tanya Bu Nilam sekali lagi.
"Ayolah, Mbak," Siska juga menimpali.
"Terserah bang Ahmad. Biar bagaimanapun aku menolak kalau mama sudah meminta, pasti Bang Ahmad akan menerimanya," celetuk Ayu lalu meninggalkan mereka menuju kamarnya.
"Yu, Ayu… ." Ahmad terus memanggilnya, tetapi Ayu tidak memperdulikannya. Sementara Bu Nilam dan Siska terus mendesak Ahmad agar menerimanya. Urusan Ayu nanti diurus belakangan yang jelas Rizal sudah pasti diterima bekerja.
*****
"Dek…," panggil Ahmad yang mendapati Ayu di kamarnya sedang duduk menonton televisi.
"Ada apa lagi, Bang?" tanya Ayu mendongak ke arah Ahmad.
"Mulai minggu ini Rizal akan bekerja di rumah ini. Abang tidak bisa menolak permintaan mama."
"Terserah abang. Itu hak Abang. Memang selama kita menikah, keluarga abang tak ada yang bisa mandiri. Semua kita yang harus biayai. Mau sampai kapan seperti ini, Bang? Tunggu kita bangkrut baru mereka mau berlepas diri?" Ayu meluapkan emosinya.
"Dek, Abang ini anak sulung dalam keluarga, jadi wajar jika Abang yang membantu mereka. Kalau bukan Abang, siapa lagi?"
"Membantu atau membiayai hidup mereka, Bang? Membantu itu bukan secara terus menerus menerus. Kita juga butuh tabungan untuk masa depan."
Ahmad dan Ayu terus berselisih karena memang kenyataannya keluarga Ahmad bergantung semua padanya. Sampai mereka punya pekerjaan. Jika ingin membeli sesuatu, mereka terus merengek agar Ahmad membantunya.
Seperti halnya ketika Ryan ingin menikah, hampir semua biaya pernikahan Ahmad yang tanggung. Tak sepeserpun Bu Nilam mengeluarkan uang dengan dalih Ryan menikah dari hasil keringatnya yang ia simpan melalui Bang Ahmad.
Padahal uang Ryan tak seberapa, karena ia juga berbagi dengan Bu Nilam dan sesekali Siska juga meminta pada adiknya.
Hal ini akan terus terjadi jika berurusan dengan keluarga Ahmad. Hanya janji yang selalu diucapkan Ahmad agar Ayu mau mengalah.
"Abang janji, jika dalam waktu enam bulan Rizal belum bisa. Abang akan mencarikannya pekerjaan lain," bujuk Ahmad. Ayu tidak menanggapi perkataan suaminya. Ia tahu, Bang Ahmad tidak akan melakukan hal itu.
******
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. azan magrib sudah berkumandang di setiap masjid.
Ryan yang baru pulang melihat Bu Nilam dan Siska sedang duduk di depan televisi. Siska sedang memangku Aldo sambil bercengkrama dengan Bu Nilam. Sesekali mereka tertawa kecil sedangkan bang Rizal tak terlihat, sepertinya ia pergi sholat berjamaah di mesjid.
"Ma, aku masuk kamar dulu, mau mandi!" ucap Ryan menghampiri Bu Nilam yang menanggapinya dengan anggukan kemudian berlalu menuju kamarnya.
Di dalam kamar, dia mendapati Nana sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Sayang, bangun, udah maghrib," sapa Ryan memegang pundak istrinya dengan lembut lalu menjatuhkan ke*upan di pipi lembut Nana.
Nana yang menyadari perlahan membuka mata. Ia tampak kesakitan dan memegang perutnya.
"Maaf, Bang. Perutku sakit sekali, lagi da*ang bulan. Aku juga tidak sempat memasak untuk makan malamnya," jawab Nana dengan suara pelan.
"Ya, sudah, tidak apa-apa. Lauknya nanti abang yang beli. Kamu istirahat saja." Ryan berlalu mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi.
Air mengguyur seluruh badannya. Rasanya sangat segar mandi dengan air dingin karena hari ini perasaan sangat gerah. Ditambah lagi perdebatan Bu Nilam dengan Ahmad yang ia dengar.
*****
"Sis, Bang Rizal kemana?" tanya Ryan setelah duduk di samping Bu Nilam sambil mengucek rambutnya yang masih basah dengan handuk.
"Ada di kamar, Bang sedang membaca. Memangnya ada apa?" tanya Siska mengarahkan tubuhnya menghadap Ryan.
Ryan melirik ke dalam, dia melihat Rizal tengah duduk melamun memegang buku. Ryan akhirnya
"Aku mau minta tolong, suruh dia membeli lauk karena Nana tidak sempat memasak, dia sedang kurang sehat."
"Sepertinya itu hanya alasan Nana. Bukannya ia tidak sempat, tetapi memang dia tidak mau memasak. Tahu mertuanya datang, dia malah bermalas-malasan. Istrimu jangan dimanja, nanti kelakuannya seperti Ayu itu yang tidak mau mendengar kata mama," celoteh Bu Nilam.
"Bukannya begitu, Ma. Nana betul-betul kurang sehat. Dia pasti mengerjakan semua jika dia baik-baik saja. Sudah, aku mau ketemu bang Rizal dulu."
Ryan beranjak untuk menemui Rizal yang ada di dalam kamar. Dia mengetuk pintu yang sedikit terbuka tetapi tak ada jawaban.
Ryan melirik ke dalam. Dia melihat Rizal yang tengah duduk memegang buku, tetapi dia tidak membaca hanya menghayal, tatapannya hanya mengarah ke luar jendela. Ryan melangkahkan kakinya masuk dan menemui Rizal.
******
Rizal sudah kembali membeli berbagai jenis lauk. Dia kemudian memanggil Siska untuk menyiapkannya di meja makan. Lalu kembali ke atas kamarnya.
Dia kembali menghayalkan keadaannya setelah mengetahui bahwa dia akan bekerja di rumah Ahmad. Keinginannya untuk pergi merantau akhirnya kandas padahal dia sangat berat tinggal di rumah bersama keluarga Ryan.
Rizal berpikir, kelakuan Siska akan semakin menjadi-jadi dan mungkin akan melampaui batas.
Siska dengan semangat turun menuju dapur menyiapkan piring dan mengatur lauk, sayur serta nasi di meja makan. Lalu memanggil Bu Nilam dan Ryan untuk makan.
Mereka sudah berada di meja makan untuk menyantap makan malam kecuali Nana yang kali ini tidak bisa bergabung. Ryan sudah memanggilnya tetapi ia tak bisa turun.
"Istrimu sudah hamil, Yan?" Bu Nilam bertanya di sela-sela mereka menyantap makannya.
"Belum, Ma. Doakan semoga secepatnya diberi rezeki," balas Ryan.
"Kalian sudah beberapa bulan menikah, tetapi belum dikaruniai anak? Istrimu bisa hamil, kan?
"Jangan-jangan, Nana…."
"Nana sehat-sehat saja, Ma. MEmang kami belum dikaruniai sekarang lagian aku menikah baru beberapa bulan." Ryan meneguk air minum dan mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk.
"Aku mau ke atas dulu mengantar makanan untuk Nana,"
"Istrimu manja sekali, sih. Seharusnya dia turun sebentar untuk makan."
"Dia sakit, Ma. Biasanya juga tidak seperti ini." Ryan berlalu meninggalkan mereka yang masih sementara menyantap nasi.


Book Comment (36)

  • avatar
    IrmansyahIrpan

    good

    20/02/2025

      0
  • avatar
    PedreteIrene

    opa

    25/01/2025

      0
  • avatar
    Surya PratamaLutfi

    makasih

    01/09/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters