logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

4. Rumah Suami

"Ayo bangun! Sudah sampai!"
"Gak mau, Lily masih ngantuk," jawab Lily, lalu tertidur kembali di sofa mobil yang sudah berada di depan rumah mewah Adit.
"Digendong aja Tuan, istrinya. Mungkin Non Lily kelelahan," bujuk pak Joko, supir pribadi Adit.
"Ide yang bagus," ucap Adit tersenyum dan mulai melihat istrinya tak mau bergerak sedikitpun dari mobil.
Adit membuka pintu mobil perlahan agar tak mengganggu Lily, dan langsung mengambil alih tubuh mungil Lily yang kecil, mungkin itu sangat mudah bagi Adit karena dia pria yang berotot.
Lily yang sadar dirinya di gendong, langsung menjerit dan meminta untuk turun ketika sudah berada di luar mobil.
"Turunin Lily!" bentak Lily.
"Oke, tapi kamu harus bangun!"
Adit menuruti permintaan Lily. Gadis itu langsung memperbaiki posisi berdirinya dan memapah bajunya yang kusut dan berantakan akibat ulah Adit.
"Masyaallah! mungkin kita salah alamat Pak." Lily kagum dengan rumah yang ada di depannya.
"Ini rumah aku, kita akan tinggal di sini," jelas Adit mulai membuka pintu rumah mewah tersebut.
"Ini rumah majikan Bapak, kan? dan Pak Adit jadi tukang kebun di sini," ejek Lily menahan tawanya.
"Kamu bisa diam!"
Adit membuka pintu secara perlahan dan tampak dua orang pembantu telah menyambut kedatangan mereka di balik pintu dengan memakai seragam rapi.
"Tuhkan beneran, ini mah bukan rumah tapi istana itu ada dayang-dayang nya," ujar Lily semakin lebay.
"Kamu jangan norak! mereka pembantu bukan dayang-dayang, " geram Adit mulai memapah Lily untuk masuk karena mata gadis itu dari tadi sibuk melihat isi rumah yang terbilang mewah.
Para pembantu langsung merebut koper Lily yang dibawa oleh Adit.
"Biar kami yang bawa Tuan," tawar pembantu itu sopan dan terlihat masih muda dan bertubuh langsing tepatnya seperti sekretaris CEO.
"Bodynya oke juga, kok mau, ya? dia jadi dayang-dayang di sini," ujar Lily tak mau diam.
Dari kejauhan terlihat keluarga Pratama menyambut kedatangan mereka dengan senang dan gembira.
"Akhirnya kamu pulang juga," sapa Arka memeluk Adiknya dan sekilas melirik Lily yang berada di belakang Adit.
"Iya Kak, masih banyak tugas yang harus diselesaikan."
"Wah, istri lo oke juga Dit, cantik, imut, putih dan bonusnya kecil lagi," bisik Arka kepada adiknya.
"Arka!" Endang melotot ke arah Arka yang selalu saja menggoda adiknya.
"Iya, Ma. Arka gak ganggu, deh," ucap Arka mundur.
Endang mendekati Lily dan memegang tangan Lily dengan ramah dan tak lupa melemparkan senyuman manisnya.
Umur Endang memang sudah mencapai empat puluh tahun tapi bodynya tak kalah okey dengan para model, namanya orang kaya selalu perawatan dan rela menghabiskan uang miliaran, di tambah lagi wajahnya yang cantik dan elegan.
"Selamat datang Sayang di keluarga kami," sambut Endang lembut menarik tangan Lily agar semakin mendekat dengannya.
"Terima kasih, Tante," balas Lily sopan sembari menunduk.
Walaupun Lily sering ngoceh tidak jelas, namun Lily selalu menjaga sikap ke orang yang lebih tua darinya, selain pak Adit yang nyebelin itu.
"Jangan panggil Tante, panggil Mama!"
"Iya Ma-Mama," ucap Lily masih tidak terlalu nyaman dengan panggilan itu.
"Iya sudah sekarang Lily istirahat di atas! sepertinya istrimu kelelahan Dit? maafin Adit ya, Nak kalau Adit ada salah?" sesal Endang memandang menantunya.
"Iya Ma-Mama. Pak Adit baik sama Lily," balas Lily melirik malas ke arah Adit yang tersenyum ke arahnya.
Mereka menaiki tangga dan akan masuk ke salah satu kamar yang ada di rumah itu.
"Kamar aku di mana?" tanya Lily melihat Adit yang memegang kunci dan membuka pintu.
"Kita satu kamar," balas Adit sembari memasuki kamar itu.
"Gak ada kabar lain?"
"Ya udah, kamu tidur di bawah aja, kan gampang."
Lily yang mendengar hal itu langsung pasrah dan akan menyiapkan senjata nantinya kalau Adit berani macam-macam kepadanya.
"Oke, Lily ngalah."
Lily ikut masuk dan matanya membelalak untuk kedua kalinya melihat isi kamar tersebut dan refleks mendahului langkah Adit.
"Masyaallah." Lily terpukau dengan kamar itu, rapi seperti ada di hotel bintang lima.
Lily mencoba menyibak gorden, dan menikmati pemandangan kota Jakarta dari atas sambil mengibaskan rambutnya ke udara.
"Pak Adit! Mushola di rumah ini mana?" tanya Lily kepada suaminya itu.
"Ada di bawah. Nanti kita shalat berjamaah."
Lily mengangguk. "Siapa yang menjadi imam nya?" tanya dia lagi.
"Aku!" jawab Adit dengan suara datar karena Lily banyak bertanya.
"Kirain siapa. Bisa jadi kan, kak Arka gitu atau papa."
"Aku yang selalu jadi imam di keluarga ini. Kamu jangan khawatir."
Lily mengulas senyum dan segera berpamitan ke kamar mandi. Sedangkan Adit membawa kedua koper mereka ke dalam lemari. Dia berbaring di atas tempat tidur sembari menunggu istri nya itu.
"Argh!" Suara teriakan nyaring dari dalam kamar mandi membuat Adit segera menghampiri Lily. Takutnya anak itu kenapa-kenapa.
"Ada apa?" tanya Adit, ketika istrinya keluar dari kamar mandi.
"Ada kecoa." Lily bersembunyi di balik tubuh Adit. Dengan bergetar ketakutan, dia menyuruh Adit untuk mengusirnya.
Adit menghela nafas pelan dan segar masuk ke dalam kamar mandi. Rumahnya kenapa bisa ada hama seperti itu. Dia harus memperingati pembantu di rumah ini.
"Di mana?" tanya Adit tidak menemukannya.
"Tadi ada, kok."
"Sudahlah! Kamu segera selesaikan niatmu ke kamar mandi. Aku keluar."
Adit meninggalkan Lily yang sekarang mendengus kesal dan menghentakkan kedua kakinya kesal.
"Tadi kecoa nya ada. Kenapa sekarang ngak ada, sih?"

Book Comment (667)

  • avatar
    halimahNur

    Cerita nya bagusss banget ayok kak buruan lanjuti nggak sabar udah penasaran sama cerita nya❤😁😁

    06/02/2022

      15
  • avatar
    LatipHikam

    ok banget

    25/05

      0
  • avatar
    asehsami

    Good

    15/04

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters