Karui Sekitar 2 hari yang lalu Kita di liatkan hari yang menjelang, sore seorang pria lari dari kumpulan beberapa orang. Pria itu di kejar terus-terusan. Dia lari maju dan menghunuskan pedangnya saat kumpulan orang banyak yang berada di depannya. dia terus melangkah maju tanpa henti sambil mengayungkan pedangnya. Orang yang menjaga jarak denganya seketika terpotong. darah yang banyak itu membasahi muka si pria. Di depannya dia melihat anggotanya sedang di tindas oleh beberapa anggota lain. Lompatan tinggi yang dia lakukan membuat musuhnya merasa segan berhadapan dengannya. Pedang si pria langsung saja mengalahkan semuanya. Tidak ada yang tersisa 6 orang itu langsung di kalahkan oleh si pemuda pemberani itu. Dengan lincahnya di memainkan pedangnya, tertawa tak berhenti dari pemuda itu seakan dia senang dengan pertumpahan darah yang dia lakukan. musuh yang berada di sekitarnya pun langsung kalah telak oleh si pemuda itu. Tikaman demi tikaman menghantam para musuhnya. Senyuman tipis dia lakukan setelah berhasil menghabisi seluruh musuhnya. Pertempuran terus terjadi. kedua pasukan saling bunuh membunuh. Bahkan pasukan berkuda datang dengan bergerombolan. Hentakan kaki kuda membuat tanah-tanah menjadi tidak tenang. Teriakan terdengar dari seorang pemuda APA KALIAN MAU MATI.. Tetap saja musuh-musuhnya terus maju. Para petinggi mengambaikan perkataannya. Kuda yang gagah berani terus maju. Tetapi pemuda yang berada di depan tidak mau pergi, dengan sombongnya dia berkata AKU AKAN MENGHAMBISI KALIAN SEMUA Semakin dekat. Semakin dekat, pemuda dengan gagah mengeluarkan pedangnya seakan dia tidak menghiraukan semua yang ada di depannya. “Musuh kita terlalu banyak. Tapi aku sudah siap untuk kehilangan semuanya” pemuda dengan tegas berkata “Apakah kalian pikir kalian akan menang malawan kami” musuh yang terus mendorong kudanya untuk terus maju Teman-teman si pemuda(karui) pergi meninggalkannya mereka rasa cukup karui saja yang melawannya. Musuhnya pergi dengan bergegas untuk berpindah haluan dan mencari anggota yang masih hidup “Akan ku tunggu kau di sana” ucap orang tua(kasui) “sungguh menyebalkan orang tua sepertia dia. Semoga saja di membawakan makanan kesukaan ku. Sekarang waktunya untuk membasmi mereka semua” ucap karui Pegangan keras dan erat dari tangan kananya seakan di siap untuk mengalahkan para pasukan berkuda yang sedang datang di hadapannya Musuhnya yang melihat, membuat dia takut. Tetapi karena di adalah pemimpin pasukan istimewa, dia terus melangkah maju maju “Kalian jangan takut dan mundur, terus maju terus dan terus maju” ucap seorang musuh pemimpin pasukan dengan gigi yang di keraskan, mata yang sambil melotot. Semua bawahannya dengan itu langsung memukul kudanya, kuda itu langsung menambah kecepatan. Tetapi tetap saja tidak membuat karui itu takut apalagi mundur. Tabrakkan terjadi antara kedua musuh, rupanya kuda-kuda musuh tadi di hambisi oleh karui. Banyaknya kuda yang sudah kehilanggan kaki. Karui sangat senang melihat musuh yang begitu banyaknya. Rasa senang tidak bisa dia kendalikan. Musuhnya langsung menyerang, sekitar 50 lebih orang berkelahi dengannya. Tapi dia rasa tak perlu bantuan dari teman-temanya untuk menghadapi musuh yang begitu banyak. Cukup dia dan sebuah pedangnya sajalah yang pantas untuk membabat habis semuanya. Sisa beberap orang sajalah yang tersisa. Saat 3 orang di tebas, terdapat orang di depannya dengan mata yang tajam. “Aku adalah komandan, apakah kalian tidak lihat. Kalian telah kalah” Kata pemuda dengan dengan tatapan tajam yang dia hadapkan pada karui Karui memainkan pedangnya dan dia terusan mendorong mundur komandan, tak di sangka tebasan dari komandan membuat karui lengah. Darah berjatuhan dari lengan karui ‘Apakah aku akan kalah dan tidak bisa kembali pulang” kata karui dalam hati Sambil menggunakan pedangnya dia mencoba bangun dari rasa sakitnya. Berteriak yang karui lakukan “Aku akan memenggal kepalamu...” Larian yang begitu cepat. Dengan lompotan tinggi karui mengangkat pedangnya. Apakah tebasan itu akan memotong kepala komandan itu?. Komandan segara mungkin menghindar dari serangan itu, karena terlalu cepatnya membuat bahu komandan tergores. Para pasukan yang masih hidup saat itu membantu komandan. Karui di kepung, lemaparan tombak dari musuh membuat dia pingsan. Tangan kanan dari komandan menatap karui, tak di sangka ajudan dari komandan mengatakan “Ayoh kita mundur, kita sudah selesai” Karui yang mendengar perkataan itu membuat dia marah dan kesal. “AKU BELUM MEMBUNUHMU..” dengan teriakan yang begitu keras Tetetasan air yang membasahi muka karui, darah yang terus mengalir dari lengannya. Karui bangun rupanya sudah gelap. Di mencoba bangun dan kembali. Perjalanan yang dia lakukan dengan menggunakan pedang sebagai tongkat. Tak jauh dari sebuah pohon yang hidup di sebelah sisinya terdapat sebuah gerbang dan cahaya. Karui menjadi penasaran, dia memasuki cahaya itu. di mana aku berada? Dan siapa kamu. Tiba-tiba saja karui terdorong masuk di sebuah pintu. Dengan keadaan lemah karui pingsan, saat dia pingsan matanya terbuka. Siapa kalian berdua dan di mana aku sekarang, aku ingin pulang? Kedua pemuda yang berjumpa dengan karui membawa dia di sebuah bangunan kosong yang terdapat di ujung desa, mereka sadar bahwa kedua orang yang mereka temui sama dengan ciri-ciri dari karui. Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka berhasil sampai di bangunan kosong. Di bangunan kosong terdapat beberapa orang dengan ciri-ciri yang sama persis. “Siapa yang kalian bawa?” kata perempuan dari puncak bangunan tinggi “kami membawa orang yang sama persis seperti kalian, aku melihatnya dia lagi terluka parah” kata pemuda itu “taruh saja di situ, kami akan menolongnya” kata wanita Wanita itu langsung saja melihatnya, benarnya saja dia kaget rupanya dia dari negara yang sama. “siapakah dia? Suara yang terdengar dari dalam gua “apakah aku bisa menolongnya?” kata wanita “kalau dia masih hidup, cepat sembuhkan dia” suara yang barasal dari gua Jahitan demi jahitan di lakukan oleh wanita itu, pria yang melihat anak itu seakan-akan dia teringat dengan masa mudanya. Apakah dia bisa tertolong? Sepertinya dia adalah orang yang kuat. Betapa hebatnya dia masih bisa bertahan hidup sejauh ini sepertinya dia berasal dari negara yang sama, persis seperti kita. itu liat saja lambang yang terdapat di bajunya. apakah dia seorang ahli pedang?. kalau begitu kita biarkan sampai dia sadar. "Kalau begitu aku mau berburu dulu, hari sudah mau gelap. apalagi sekarang mencari sumber makanan susah pada sore hari" kata wanita yang mulai mengambil alat buruannya/panah
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (78)
Huda97Miftakhul
ceritanya harus dikembang kan lagi maupun fiksi atau aksi
ceritanya harus dikembang kan lagi maupun fiksi atau aksi
17/08
0semua ini prjuangan keren
26/06/2025
0sangat cocok buat saya
04/08/2024
0View All