Bab 8 Misteri Sepatu Di Mobil "Eh itu sendal siapa?" gumamku. Aku melihat sendal anak kecil dan bekas bungkus coklat dan permen. Gak mungkin itu bekas makanan Mas Farel, Mas Farel tak suka coklat apalagi permen, lalu itu semua milik siapa? Aku harus menyelidiki semua mulai sekarang, foto diruang tamu, Tasya yang keceplosan panggil Papa, suara anak kecil di telepon, sendal anak kecil di mobil tak mungkin ini kebetulan. "Ini mas kunci mobilnya." Mas Farel menerima kunci yang aku berikan. "Mobilmu kok kotor banget sih Mas, bungkus coklat, permen terus itu sendal siapa?" ujarku berusaha santai sambil pura-pura sibuk melihat berkas. Namun, ekor mataku tetap mengawasi Mas Farel. "Ouh, itu tadi ada teman numpang, Dia bawa anaknya yang masih kecil, makan permen, coklat, namanya anak kecil." Datar tak ada ekspresi apapun, Mas Farel menjawab pertanyaanku dengan tenang tanpa ekspresi gugup ataupun tegang. "Kok aku baru tahu ya Mas, temanmu ada anak kecil." Setauku teman-teman Mas Farel rata-rata anak-anak mereka sudah ABG sementara sendal itu aku rasa sendal untuk anak umur sekitaran tujuh atau enam tahunan, bisa dilihat dari ukuran sendalnya. "Ouh maksudku itu, keponakannya sayang bukan anak," jawab Mas Farel sambil mengusap tengkuknya. Aku hanya menjawab pernyataan Mas Farel dengan kata 'O'. "Kita makan di luar yok Yang!" "Aku masak saja lah Mas, lagi mager aku." "Ok, Mas bantuin ya." Aku biarkan saja Mas Farel membantuku memasak dan berusaha bersikap biasa saja seolah tak ada apapun di antara kami. "Eh Mas, kok aku penasaran ya sama kembaran kamu," ucapku sambil tetap fokus mengiris bawang. Mas Farel memandangku heran ," kembaran?" lanjut Mas Farel bertanya. "Itu lo Mas, ayahnya Tasya." "Aduh." "Kenapa Mas?" Aku segera menoleh ke arah Mas Farel yang membantuku mengiris sayur. "Duh, Mas, hati-hati dong makanya," ujarku saat melihat darah mengalir dari jari Mas Farel. Segera kuambil kotak P3K untuk mengobati tangan Mas Farel. "Makanya Mas, kalau kerja hati-hati, jangan melamun!" "Shsh, aduh Sayang, pelan-pelan, perih," ucap Mas Farel manja. "Ih Mas, manja banget sih, luka kecil juga." "Kecil tapi sakit." Segera kubalut luka Mas Farel dengan plaster setelah kubersihkan dengan alkohol. "Mas duduk aja, nanti kalau mateng aku panggil makan," ujarku. "Gak papa ni, aku tinggal sendiri?" "Gak papa Mas," jawabku lembut. Dalam sekejab nasi goreng, ayam crispy, capcai sudah tersedia di meja makan. Mas Farel paling suka makan nasi goreng dengan capcai ataupun ayam bumbu merah tapi mengingat waktu yang tak memungkinkan masak yang ribet aku buat saja capcai. "Kapan-kapan undang Papanya Tasya kesini ah, makan bareng kita." "Kamu kenapa sih! Dikit-dikit Tasya, dikit-dikit Riana! Aku bosan tahu gak!" Mas Farel menghentikan makanya begitu saja lalu pergi dari meja makan, dari gestur tubuhnya tampak Dia tak suka aku sebut-sebut Riana ataupun Tasya. ** "Mas," ujarku lalu duduk disamping Mas Farel yang duduk di sofa. Mas Farel hanya menatapku sebentar lalu kembali fokus kelayar ponselnya. "Mas marah?" "Lagian kamu kenapa, dikit-dikit Tasya, dikit-dikit Riana, kenal juga baru beberapa bulan, kamu juga gak tahu keseharian mereka, mereka beneran baik atau gak sama kamu? Mereka tulus atau punya maksud lain sama kamu?" "Aku cuma kasihan sama Mbak Riana Mas, sudah sakit tapi suaminya seolah gak peduli, belum lagi kalau lihat Tasya sedang mengurus Mamanya, aku suka mikir kok tega-teganya sih Ayahnya itu, lelaki macam apa coba yang tega menelantarkan anak dan istrinya seperti itu." Prak Tiba-tiba Mas Farel menggebrak meja. "Diam! Kamu gak tahu masalah mereka, jadi lebih baik kamu jangan menghakimi suaminya seperti itu," ujar Mas Farel dengan suara yang melengking tinggi. "Kok jadi kamu yang emosi Mas, aku kan ngomongin suami Mbak Riana bukan kamu. Lagian kok Mas belain banget suami Mbak Riana, Mas emang kenal sama Dia?" Senyap, Mas Farel kini tampak kebingungan, jelas sekali terlihat Dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. "Kok diam Mas, beneran kamu kenal suami Mbak Riana, atau dia beneran kembaranmu," ujarku sambil senyum untuk mencairkan suasana. Tak apa aku mengalah kali ini, tapi aku akan terus diam-diam mencari kebenaranya. Tiba- tiba terlintas nama Ali di benakkku, sepertinya dia tahu sesuatu. "Mm, maaf sayang aku tadi terlalu baper." "Lelaki kok baperan," ujarku sambil mencebikkan bibirku. Sesaat kemudian suasana sudah kembali hangat seperti sebelumnya.
*** Aku memutuskan mencari Ali di kantornya karena aku yakin Ali pasti tahu masa lalu Mas Farel. "Maaf, saya mau ketemu Pak Ali," ujarku pada resepsionist kantor dimana Ali bekerja. "Pak Ali Muhamad ya Bu?" "Iya." "Pak Ali Muhamad sedang ke luar kota Bu dan sepertinya Beliau akan di pindah tugaskan di sana." "Ouh gitu ya Mbak, maaf apa Mbak ada nomor Pak Ali?" "Maap Bu, hal-hal yang bersifat privaci, saya tak berani memberitahu pada orang lain." "Tapi saya temanya Mbak, kebetulan selama ini saya keluar kota dan baru sekarang datang kesini." "Maaf, tetap gak bisa, Bu." Akirnya aku pergi tanpa mendapatkan petunjuk apapun dari Ali, padahal harapanku besar padanya. Tiba-tiba punya akal, kenapa aku gak curi saja nomor Ali dari ponsel Mas Farel, nanti malam aku akan pura-pura meminjam ponsel Mas Farel dan sekalian mengecek isi chatnya. *** Malam harinya, saat itu kamu baru saja selesai makan malam. "Mas boleh pinjam ponselmu." Mas Farel mengerutkan dahinya. "Tumben mau lihat ponsel Mas?" "Gak papa sih Mas, mau tahu aja Mas ada cewek apa enggak." Mas Farel memberikan ponselnya tanpa beban. "Mas mau ketoilet dulu." Kuusap layar ponsel Mas Farel lalu mulai berselancar di aplikasi hijau milik Mas Farel. Namun, tak ada satupun kontak maupun chat yang mencurigakan. "Mas besok kamu antar aku ke rumah sakit ya, jadwalku kontrol besok." Mataku terbelalak membaca pesan dari kontak yang diberi nama 'A'. Siapa pemilik nama dengan insial 'A' itu, apa mungkin itu Mbak Riana yang mengirim pesan. Tapi, menggunakan nomor lain?
bagus ceritanya
19d
0bagus ceritanya
19d
0romantis
21d
0View All