logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 3 Sebuah Kenyamanan

Hal paling nikmat yang dilakukan ketika kita sampai rumah setelah menjadi budak corporate seharian adalah… rebahan di kasur, dan itulah yang aku lakukan setiap hari sepulangnya aku dari kantor. Lelah fisik karena berdesakan di kereta dan juga mondar-mandir urusan pekerjaan, bahkan kadang pergi keluar kota pergi pulang dalam hari yang sama. Begitu buka pintu rumah, lalu berjalan melewati hamparan pohon tomat, pohon terong, pohon timun dan pohon pare yang ada di kebun mungil depan rumahku, lalu sampai di teras. Duduk sebentar di bangku teras, sambil melepas sepatu aku memperhatikan anak hijau kesayanganku yang sedang menghasilkan buah begitu lebat.
“Masyaallah” ucapku pelan dan tersenyum. Sangat jarang aku bisa menikmati dan memperhatikan anak-anak hijau yang kurawat sejak masih berupa biji. Kini mereka sudah tumbuh dengan subur karena perawatan penuh kasih sayang dariku dan mbak Sur. Kini semua penat, pusing dan stress seakan menghilang melihat buah yang bergelantungan, tomat yang berbaris berbagai warna dan ternyata bunga matahariku pun sudah mengeluarkan kuncupnya.
Bahagia itu sungguh sangat sederhana. Setelah puas memandangi pohon-pohon buah dan sayuran yang sangat kucintai, maka aku kembali membuka pintu menuju ruang tamu.
“Assalamualaikum.” Ucapku pelan.
Masih gelap, karena memang aku hanya menyetel lampu luar rumah agar menyala otomatis saat gelap. Sambil menuju kamar, kunyalakan lampu kecil agar cahayanya tidak terlalu terang karena malam hari, aku tidak terlalu suka cahaya yang terang.
Sesampainya di pintu kamar, sejenak aku menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Assalamualaikum.” Ucapku lagi sambil membuka pintu kamar.
Aku memang tinggal sendiri di rumah ini. Orang tuaku sudah meninggal sejak 10 tahun yang lalu. Mereka meninggal karena kecelakaan saat mereka pulang kerja. Aku yang anak semata wayang ini tidak lagi memiliki teman di rumah ini. Hanya aku dan anak hijauku. Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Karena itu terkadang aku mengajak teman-temanku untuk kumpul bareng di rumah saat weekend atau saat kami punya waktu senggang yang sama. Bisa dibilang rumahku sering dijadikan basecamp untuk mengerjakan berbagai macam pekerjaan temanku.
Ada Sabri yang kadang menginap saat deadline setor naskah, ada Tony yang selalu sibuk dengan portofolio hasil jepretannya, ada Sasha yang kadang sampai gak tidur saat mengerjakan proyek membuat website untuk klien-kliennya dan ada Rahma yang kalo lagi musim audit langsung semadi di rumahku ini. Mereka selalu menempati kamar tamu yang memang selalu dibiarkan kosong dan selalu dirapihkan oleh mba Sur yang selalu datang tiap pagi untuk membantuku membersihkan rumah dan taman.
Kamarku adalah kamar terfavorit mereka. Karena selain lebih luas, tempat tidur juga lebih besar dan banyak fasilitas “penunjang hidup”ku seperti TV, home theatre, kulkas mini, bahkan aku menyimpan kompor listrik kecil di kamarku. Bisa dibilang aku ini homebody atau mungkin lebih tepatnya roombody banget. Walaupun teman-temanku sering berkumpul di kamarku, tapi saat waktunya tidur aku tidak ingin ada mereka di kamarku. That’s me.
Sesampainya di kamar, kulempar tasku ke lantai dan langsung merebahkan diriku di sofa di samping jendela. Sambil menyalakan TV aku memeriksa ponselku in case ada pesan baru yang penting. Walau saat buka ponsel aku selalu berdoa dalam hati semoga tidak ada pesan yang mengharuskan aku kembali membuka laptop dan memikirkan pekerjaan lagi.
“Sh*t. Bisa gak sih ngomongin kerjaannya besok aja.” Ucapku kesal saat melihat pesan dari Sandi yang panjang.
[Sher kayaknya aku salah bikin konsep deh tentang project pak Jeffry tadi.
Seharusnya kita hubungi dulu bu Susan biar lebih jelas lagi konsep yang dia pengen seperti apa.
Baru kita bikin desainnya. Tapi gak apa-apa deh kita bisa jadiin konsep yang tadi gue bikin sebagai acuan kalo gambaran dari kita seperti ini, tinggal tanya bu Susan cocok apa engga atau ada yang harus direvisi.
Yaudah gitu aja Sher. Jangan lupa ya. Jadi besok kita meeting dulu jam 10. Jam 10 itu lo udah sampe kantor kan ya. Udah sarapan juga harusnya. Jadi yaudah jam 10 aja paling bener buat kita meeting. Abis itu kita bawa konsep kita ke bu Susan. Semoga sih gak banyak yg direvisi. Karena ini harusnya sih udah sesuai sama image perusahaan dia yang pengen dia keluarin di displaynya.
Oke sher. Ketemu besok ya.]
Pesan panjang yang lebih cocok dibilang rangkaian monolog yang dilakukan oleh Sandi. Dengan sedikit jengkel kubalas pesannya
[Sherly nya udah tidur]
Lalu kembali kupegang remote TV dan mencari acara yang menarik menurutku untuk mengembalikan moodku yang rusak karena sebuah pesan. Tidak lama kemudian aku memutuskan untuk beranjak dari sofa dan membersihkan diri. Setelah merasa lebih segar dan lebih bersih, aku beralih ke atas kasur. Kuposisikan bantal, guling dan bonekaku di posisi ternyamanku. Kubuka selimut dan menghamparkannya ke atas tubuhku. Remote tv di tangan kiri dan ponsel di tangan kanan. Kusetel pengatur waktu di TV. Dalam 30 menit ke depan TV akan mati otomatis, dan ponsel pun kubuka sebentar, sekedar mencari hiburan di sosial media. Namun tak lama kemudian, kuletakkan ponselku di meja kecil di samping tempat tidur. Saatnya istirahat.

Book Comment (29)

  • avatar
    RahmayantiFebi

    Bagus banget

    17/05/2025

      0
  • avatar
    NadineAulia

    bagus banget

    08/04/2025

      0
  • avatar
    DominoHings

    bguss cerita ny

    17/03/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters