logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 2 Berkenalan Dengan Sandi

Aku dan teman-teman lainnya benar-benar bingung menghadapi Sandi. Kami selalu berusaha membuka diri dan mendekatinya terlebih dahulu karena kami tahu rasanya jadi public enemy itu tidak enak. Tapi sungguh, dia menolak kehadiran kami di hidupnya.
Ilham pernah mencoba mengakrabkan diri dengan mengajak Sandi nongkrong di café yang berada di lantai bawah gedung kantor kami setelah pulang kerja. Sandi menyetujui ajakan Ilham. Tapi ternyata Ilham menyesali inisiatifnya.
“Kesel banget gue Sher. Gue ajak Sandi ngopi bareng temen-temen gue anak gedung sini juga. Tapi asli kesel gue Sher. Dia malah nganggep remeh semua temen-temen gue Sher. Baru juga temen gue buka cerita nih “Ham kemaren gue ke bengkel benerin mobil gue, abis banyak banget.” Baru temen gue cerita gitu Sher, dia nyamber langsung dengan malah ceritain tentang dirinya sendiri. Tentang mobil-mobilnya. Pake segala bilang kalo ongkos perbaikan mobil temen gue gak seberapa ketimbang servis bulanan satu mobilnya dia.” Ilham bercerita dengan menggebu-gebu. “Udah ni masalah mobil, trus ada lagi temen gue lagi cerita kalo dia berencana mau jalan-jalan sama keluarganya ke Malang. Eh dia nyamber lagi Sher. Akhirnya cerita lagi lah dia tentang keluarganya, jalan-jalan ke luar negeri, pake segala disebutin beli apaan aja di luar negeri. Aduh asli males banget gue Sher. Dia kayak gak mau kalahan gitu orangnya. Kocak. Kayak anak kecil.”
Cerita Ilham membuatku bisa mengambil kesimpulan bahwa, indeed he is a freak. Tapi aku yang selalu berpikir positif ini masih terus berupaya mencari sisi positif dari Sandi. Kalau dari secara pekerjaan, memang dia adalah orang yang cekatan. Tapi cekatan untuk diri sendiri dan benar-benar tidak bisa bekerja dalam tim. Seandainya bekerja dalam tim, dia akan memisahkan diri dan mengerjakan bagiannya sendiri tanpa diskusi dengan rekan tim yang lain.
Aku juga selalu berpikir, mungkin ada sesuatu dalam hidupnya yang membuat dia seperti itu. Apakah itu trauma kegagalan rumah tangga, atau didikan orang tua, atau trauma saat ia berada di luar negeri. Atau mungkin karena terlalu banyak luka di dalam kehidupannya, dia menutupinya dengan menjadi sosok yang ingin dianggap paling sempurna. Menurutnya mungkin itu cara terbaik yang bisa ia lakukan agar terlihat sebagai orang yang baik-baik saja, walaupun kenyataannya kami tahu kalau dia memiliki kehidupan yang sulit untuk diceritakan. Tapi satu hal yang pasti, untuk saat ini he is a jerk.
***
“Sher, ada project baru buat nanganin perusahaan kosmetik. Lo kerjain bareng Sandi ya!” Pak Jeffry yang biasanya menghindariku tapi hari ini memutuskan memberikan assignment langsung setelah jam istirahat siang.
“Hah? Sama Sandi pak? Berdua doang?” tanyaku berharap pak Jeffry menyebut nama lain atau bahkan mengkoreksi perkataan sebelumnya.
“Iya lah berdua Sandi. Berdua aja. Gaperlu banyak orang karena ini cuma project sampe rancang display aja, untuk pekerjaan lapangannya mereka punya tim sendiri. Mereka cuma butuh bantuan kita untuk nge-layout sama kasi ide nya aja. Setelah mereka approve proposal yang kalian bikin, mereka lempar ke tim mereka sendiri buat finalisasinya. Bener-bener kerjaan receh. Tapi karena ini perusahaan adek gue jadi ya, gue bantu sedikit aja lah.” Kemudian beliau pergi dari hadapanku setelah meletakkan beberapa dokumen di mejaku.
“Asshole. Yang bantu siape. Maen take credit aje padahal yang ngerjain tetep anak buah. Cuih.” Gumamku pelan.
“Sher, jangan gitu. Tetep aja itu bos.” Suara Sandi tiba-tiba terdengar dekat denganku.
“Heh, cepet banget sih jadi orang. Nih lo baca-baca dulu. Gue kerjain yang lain dulu.” Sahutku ketus. Sandi pun mengambil dokumen yang tadi ditinggalkan pak Jeffry di mejaku. Kulihat dia langsung kembali ke mejanya dan langsung mempelajari dokumen tadi.
Salah satu yang membuatku benci dengan pekerjaan ini, ralat bukan dengan pekerjaannya tapi dengan perusahaan ini adalah ya itu tadi. Para bos yang otoriter tanpa ada perasaan mengayomi atau belas kasih kepada anak buahnya. Well, mungkin pak Much aja yang mengayomi anak-anak. Tapi sepertinya itu lebih ke beliau kalah suara sama anak-anak milenial yang jadi rekan kerjanya. Tapi memang pak Much ini tetap menjadi andalan kalau urusan dealing dengan klien yang usianya sepantaran dengan pak Much, karena bicaranya santun dan pemilihan diksinya benar-benar seperti seorang priyayi dan tetap professional. Tapi kalau kliennya adalah orang-orang kaum milenial maka yang maju adalah pak Anton. Beliau ini walaupun sering kita bilang banyak cakap tapi minim hasil, tapi memang kalau urusan diskusi atau negosiasi dengan client, beliau ini juga jagonya.
Tapi ya begitulah sinergi di kantor kami, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan semua saling mengisi. Pak Anton yang berbicara, pak Much penutupnya, pak Jeffry bagian memantau anak buah untuk memastikan semua kerjaan selesai sesuai target. Bu Anggi? Beliau duduk manis saja di cubical nya dengan kalkulator dan berbagai perlengkapan lainnya, ditemani oleh bang Ade yang bertugas khusus merekap pengeluaran perusahaan.
Hari berlalu dan kulihat Sandi masih mempelajari dokumen yang diambilnya dari mejaku. Tidak ada pertanyaan kepadaku. Sengaja untuk hari ini aku tidak akan menanyakan apapun dulu tentang project kami. Sekalian aku ingin melihat bagaimana cara kerjanya. Karena memang sejak awal kami jarang mengerjakan satu project hanya berdua saja. Biasanya ada tim lain yang menemani, karena memang project receh seperti ini sangat jarang kami kerjakan.
“Sher. Ini gue udah bikin kasaran nya. Lo bisa review dulu. Besok kita meeting ya ngomongin ini ya.” Ia menyerahkan berkas yang ia kerjakan sambil berlalu dari hadapanku.
“The hell.” Ucapku spontan tanpa peduli apakah akan didengar olehnya atau tidak.
“Sabar ya Sher. Dia emang gitu orangnya.” Resti menepuk pundakku pelan.
“Dia gitu banget ya Res. Dia berasa jadi atasan gue apa gimana ya? Brasa superior banget gitu mentang-mentang sodaraan sama pak Much.” Ucapku heran. Resti hanya mengangkat bahunya.
“Kerja sama Sandi itu harus santai ye Shay. Kalo gak gitu lo bakalan kena asam lambung terus karena ngebatin kelakuan dia. Gue sih udah terbiasa jadi udah bisa masa bodo sama kelakuan dia. Kalo lo kan baru nih. Udah mah baru, bener-bener berdua doang pula. Kuhanya bisa bilang. Sabar ye Shay!” ujar Resti yang kemudian berlalu dari mejaku.
Aku tidak mau ambil pusing terlalu banyak tentang kelakuan Sandi ini. Cukup tahu saja dari cerita teman-teman. Jadi kubuka berkas yang diberikan Sandi tadi, dan as I expected, dia sangat rapi dalam mengerjakan tugas. Dia bilang ini hanya sketch kasar untuk project kami, tapi ternyata dia sudah menulis secara detail tentang apa saja yang akan digunakan dan bentuknya pun dia sudah gambarkan secara singkat di dalam berkas ini.
“Nice work.” Pujiku begitu mempelajari berkasnya.
As I said, he is a jerk in social life but he is a good employee for the company. Menyebalkan, tetapi dia benar-benar bagus dalam pekerjaannya.
Setelah menelaah hasil kerja Sandi, aku kembali mengerjakan pekerjaanku yang lain dan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya aku menjadi orang terakhir yang ada di kantor. Saat kulihat jam, ternyata sudah pukul 20.47. Sudah terlalu lama aku melewatkan jam pulang kantorku dan sekarang saatnya aku menutup laptopku dan menyudahi pekerjaan untuk hari ini.
Ketika turun ke lobi aku masih melihat Ilham dan Resti yang masih berada di café sambil merokok dan minum kopi. Kuputuskan untuk menghampiri mereka sebentar sambil memesan kopi agar aku sedikit lebih terjaga selama perjalanan ke rumah.
“Sher, kerja jangan terlalu keras. Gaji lo gak bakalan naik.” Ujar Ilham sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Tapi kan gue dapet bonus kalo project gue selesai dengan bagus, dalam artian gak banyak kendala, selesai tepat waktu, klien puas, bos juga jadi senang.” Aku ikut duduk di sofa bersama mereka.
“Cuih. Sher, bonus gue aje gak turun-turun. Udah berapa lama itu project brand minuman yang terakhir kita kerjain Ham? Itu bonusnya gak turun juga ampe sekarang. Setiap kita ngomongin masalah bonus, dengan entengnya si Jupri bilang “Tenang semua bonus akan turun pada waktunya.” Kapan waktunya? Lebaran kuda? Gausah lo percaya dah iming-iming bonus itu.” Omel Resti.
“Heeeeiii… biarkan lah gue menjadikan bonus itu jadi motivasi biar gak males kerja. Dari dulu emang gak pernah jelas itu masalah bonus. Tapi tetep ada. Yaaa itung-itung duit kaget aje dah kalo ngomongin bonus.” Ucapku enteng.
“Situ enak Sher, belum berkeluarga. Lah kalo yang punya keluarga macam gue ini. Ngarep banget Sher. Mayan bonusnya bisa buat nyenengin istri.” Sangkal Ilham.
“Weh, lo pikir gue gak punya keluarga Bos? Gue masih ada mbak Sur, pak Maman, anak-anak hijau gue, anak-anak bujang Korea kesayangan gue buat dihidupi juga. Tapi yaaa santai aja laahh. Rejeki gakan kemana.” Kupukul sedikit lengan Ilham yang terlihat kekar dengan kemeja slim-fitnya.
“Yeeee gagitu juga maksud gue. Maksud gue, work as hard as you’ve been paid for. Gausa ngoyo. Waktunya pulang ya pulang. Gausa lembur-lembur.” Kini ganti Ilham yang meninju lenganku pelan.
“Yeeee ada nih quotes “Love your work, respect your worth”. Jadi gue anggep gue ni spesial biar semua pekerjaan gue juga spesial biar gue punya poin lebih kalo besok-besok gue mau minta naek gaji. Lagipula nih… gak lembur, gak selesai kerjaan gue Bos. Mending gue lembur jadi besoknya gue ada waktu buat nyantai. Wek..” kujulurkan lidahku meledek Ilham. Aku pun bangkit karena pesananku sudah selesai.
“Bye guys, duluan yes. Kereta gue keburu abis. Jangan kelamaan beduaan, tar ada setan lewat bisa bikin khilaf loh. Hahahaha.” Aku pun pergi meninggalkan mereka berdua yang tampaknya masih betah duduk di café itu. Sedangkan aku, harus mengejar jadwal kereta karena kalau tidak, aku harus menunggu satu jam lebih lagi untuk kereta berikutnya.

Book Comment (29)

  • avatar
    RahmayantiFebi

    Bagus banget

    17/05/2025

      0
  • avatar
    NadineAulia

    bagus banget

    08/04/2025

      0
  • avatar
    DominoHings

    bguss cerita ny

    17/03/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters