logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Kamu Laki-laki yang Seksi

Hasta menutup laptopnya dan berdiri menyambut Ruly. Elok berdiri mematung menatap dua orang pria tampan yang sedang bersalaman di hadapannya.
“Nikmat apa yang kau dustakan, Elok? Dapet bos ganteng-ganteng kaya gini,” ucap Elok lirih sambil tersenyum simpul.
“Kalau udah selesai bengongnya, tolong bikinin kopi buat Pak Ruly ya, Elok,” tegur Hasta membuat Elok gelagapan.
“Eh ... I ... Iya, Pak Hasta.”
Elok segera melangkah meninggalkan ruangan menuruti perintah Hasta.
“Saya dengar kemaren kau dirawat, Rul? Sepulang kantor saya ke sana ternyata kau sudah pulang,” ujar Hasta. Kemudian ia meminta Ruly untuk duduk di sofa tamu dalam kantornya.
Ruly tetawa kecil mendengarnya. Tak lama Elok kembali dengan membawa dua cangkir kopi dan satu piring makanan ringan. Ruly membalas Elok dengan memberikan senyuman manis. Elok berbalik kemudian tersipu sambil memegang nampan di depan dada agar jantungnya tidak mencelos keluar. Hasta hanya tersenyum melihat tingkah sekretarisnya.
“Dokter bilang, saya terlalu lelah. Sorenya saya sudah bisa pulang. Maaf ya, jadi merepotkan semua,” ujar Ruly.
“Kalau kau perlu sesuatu tinggal bilang saja. Jangan ragu.”
“Ya, Tante Asih juga bilang seperti itu. Makanya pagi ini saya ke sini.”
“Jadi, ada yang kau perlukan saat ini?”
Hasta langsung bertanya tujuan Ruly, ia tidak ingin berbelit-belit dengan pemilik saham di tempatnya bekerja ini.
“Pekerjaan. Saya perlu pekerjaan, Bapak Hasta.”
Hasta mengangkat kedua alisnya, ia sedikit kaget mendengar jawaban yang Ruly berikan. Ia tak berpikir bahwa pekerjaanlah yang Ruly inginkan. Ia berpikir jika Ruly akan meminta uang dalam jumlah besar atau pun meminta Wida secara terang-terangan padanya.
“Panggil Hasta aja, Rul. Walau pun usia saya lebih tua tetapi penampilan saya jauh lebih muda darimu,” ujar Hasta sambil tertawa kecil.
Ruly pun ikut tertawa. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam tasnya.
“Ini ijazah saya,” seru Ruly menyerahkan berkas itu terhadap Hasta. Semalam ia menghubungi mamanya untuk mengirimkan foto ijazahnya dari rumah.
“Kau bercanda, Ruly?” tanya Hasta saat melihat berkas yang Ruly berikan salinan ijazah magister hukum dari University of Amsterdam yang sudah dilegalisir.
“Seharusnya kau tidak perlu sampai membawa ijazah seperti ini. Jika memang kau mencari kesibukan, cukup katakan saja bisnis apa yang kau inginkan. Kita semua tau kondisi perusahaan ini sedang berada di atas, jadi tidak masalah kalau kau perlu modal untuk cabang usaha baru.”
“Justru itu yang tidak saya inginkan, Hasta. Saya memang telah berhasil dalam pendidikan. Dengan paksaan mama saya, tentunya. Tetapi saya belum pernah terjun langsung ke lapangan apalagi dalam masalah bisnis. Tante Asih bilang, jika kamu bisa membantu saya dalam urusan ini.”
Hasta terdiam. Ia tak mengerti harus memberi jawaban apa pada Ruly.
“Jadi tepatnya apa yang kau inginkan?” tanya Hasta lagi.
“Saya ingin mengenal lebih dalam tentang HWK Grup. Apa saja dan bagaimana cara menjalankannya.”
Hasta menarik napas panjang kemudian mengangkat bahu.
“Oke. Kebetulan ini adalah kantor yang Om Handi percayakan kepada saya. HWK Grup memiliki 30 anak perusahaan. Kantor ini adalah Island Development salah satu anak perusahaan dari HWK Group. Bergerak di bidang pariwisata. Sedangkan untuk HWK Grup keseluruhan, kau tau sendiri masih dipegang oleh Om Handi, kantornya di lantai atas dan Wida memegang Wid's Property yang menangani pembangunan dan pengelolaan apartemen. Kantornya di lantai dasar. Namun mereka berdua sedang tidak di sini. Kalau Om Handi seperti yang kau tau, ia masih harus beristirahat. Sedangkan Wida, dia memang jarang masuk ke kantor,” terang Hasta yang tiba-tiba membuat perut Ruly kembali bergejolak saat nama Wida disebut.
Obrolan mereka terhenti karena telefon di meja Hasta berbunyi.
“Ya, Elok.”
“Pak Hasta, Bu Semmy menghubungi. Katanya beliau sudah ada di lobi, menunggu Bapak. Jadi mau gimana, Pak? Diterima atau ditolak.”
“Hmm ... padahal kita tidak ada janji ya? Tetapi ya sudah terima sajalah. Minta resepsionis antar ke sini ya, Lok.”
“Baik, Pak.”
“Kebetulan saya ada tamu.”
“Oke, kalau begitu. Kita jumpa lagi nanti.”
“Tunggu. Saya menerima dia karena ingin mengenalkan kalian. Kebetulan dia rekanan proyek saya di Kalimantan. Semmy namanya.”
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dan Elok muncul. Elok segera meninggalkan ruangan setelah mengantar tamunya bertemu dengan Hasta. Semmy, wanita cantik berusia dua puluh tujuh tahun. Rambutnya berwarna cokelat gelap dengan model bob klasik. Ia memakai blazer berwarna ungu muda dipadu dengan make up bernuansa nude.
Penampilan elegannya berbanding terbalik dengan suara dan juga bahasa tubuh yang ia miliki. Jika ia sudah mulai berbicara tak ada yang dapat menutupi kenyataan bahwa dia adalah seorang wanita penggoda.
“Hai, Hasta. Duh susah ya bikin janji ketemu sama kamu,” sapa Semmy.
“Apa kabar, Semmy. Tidak jugalah. 'Kan minggu kemaren kita ketemu.”
“Oiya juga ya. Ehm ... dan ini adalah?” lanjut Semmy yang kini menatap Ruly.
“Ini Ruly dari Belanda. Ruly kenalkan, ini Semmy. Kolega kita untuk proyek di Kalimantan.”
Semmy menatap Ruly dengan seksama. Begitu pun sebaliknya.
“Semmy. Nice to meet you. Suriname?”
Ruly tersenyum mendengar tebakan Semmy. Elok kembali ke dalam ruangan sambil membawa satu cangkir kopi lagi untuk Semmy.
“Bukan. Mama saya berasal dari Eindhoven dan Papa saya dari Jakarta.”
“Wow ... look at you. So that's what makes you look so sexy,” lanjut Semmy lagi.
Elok tersenyum kecut melihat tingkah Semmy yang menurutnya terlalu agresif. Entah kenapa ia tak bisa menutupi rasa tidaksukanya kepada Semmy. Sambil berjalan kembali meninggalkan ruangan, ia terus memainkan bibirnya sambil berpikir dalam hati membandingkan Semmy dengan Wida. Jika dilihat dari posisi dan kekayaan, mereka bisa dikatakan setara tetapi dari tingkah laku, walau pun ia sering kena marah, Elok tetap lebih menyukai Wida.
Bukan karena Wida adalah atasannya Tetapi baginya Wida benar-benar elegan. Wida hanya manja pada orang-orang yang sudah dekat dengannya. Bukan dengan sembarang orang, apalagi laki-laki. Tidak seperti Semmy yang seakan siap melahap lelaki mana saja yang ada di hadapannya.
“Jadi ada perlu apa kamu datang ke kantor saya, Semmy?” tanya Hasta lagi.
“Ah ... Uhm ... Makan siang bareng. Gimana?”
“Serius? Hanya itu?” Hasta melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
“Iya, aku serius. Bertiga. Mau ya?” ucap Semmy sambil memainkan tiga jarinya di hadapan Ruly dan Hasta.
Semmy jelas menyembunyikan maksud kedatangannya sebenarnya. Ia tak ingin Hasta mengetahui bahwa dirinya ingin menyelidiki tentang kedatangan pemilik baru HWK Grup dan juga gosip tentang rencana go public perusahaan itu. Namun siapa sangka jika semua niatnya terwujud dengan mudah? Untuk itu dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
HWK Grup adalah peluang besar baginya untuk memperluas bisnis di Jakarta. Jika selama ini ia mengincar Hasta dan selalu terhalang dengan keberadaan Wida, maka tak ada salahnya ia membelokkan setir ke arah Ruly yang lebih jelas kedudukannya.

Book Comment (111)

  • avatar
    04Bunga

    seru

    31/05/2025

      0
  • avatar
    NOVA LAILA RAHMA D.S088_

    bagus banget

    20/04/2025

      0
  • avatar
    Srmrryn

    lumayan lah

    27/11/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters