#DIBLOKIR SUAMI_8 "Aira!" Aku berjingkrak kegirangan melihat keberadaan sahabatku semasa sekolah di hadapanku. Seperti mimpi rasanya. Setelah sekian tahun tidak bertemu, tanpa sengaja akhirnya aku dan Aira bisa bertemu di pusat perbelanjaan. Mbak Dina mendekat ke arah kami yang sedang berpelukan melepas rindu. Kemudian Aira meraih tangan Mbak Dina. "Hai, Ai, gimana kabar kamu? Lumayan lama, ya, kita nggak ketemu?" tanya Mbak Dina pada Aira. "Baik, Mbak. Aku kangen sama Lulu dan Mbak Dina," ucap Aira sembari melepas pelukan pada Mbak Dina. Setelah memilih sepatu yang Rasya inginkan, aku, Mbak Dina, Rasya dan juga Aira berjalan bersama. Kami berbelanja barang-barang yang kami butuhkan. Puas berbelanja, Aira mengajakku dan Mbak Dina serta Rasya untuk makan siang bersama di salah satu konter makanan ternama. Sambil menunggu pesanan datang, aku, Mbak Dina dan Aira berbincang melepas kerinduan kami. Sungguh tak pernah kusangka akan bertemu Aira secepat itu. "Kapan datang, Ai? Tumben banget kamu pulang kampung halaman?" tanyaku pada sahabatku. Aira tak langsung menjawab, ia malah menyeringai menampakkan barisan giginya yang rapi. "Biasa, aku sedang ada urusan. Oiya, Lu, bagaimana dengan masalahmu?" tanya Aira. Mbak Dina melirik ke arahku. Sepertinya mengisyaratkan sesuatu. Akhirnya aku memberi tahu Mbak Dina bahwa awal mula aku mengetahui kebusukan Mas Didi berkat cerita Aira. "Terus kamu mau gimana, Lu? Masa kamu mau diem aja?" tanya Aira cemas. "Entahlah, Ai, aku sendiri bingung. Antara percaya dan tidak Mas Didi berbuat demikian padaku!" "Sadar, Lu! Kamu harus bisa terima kenyataan ini. Allah memberimu petunjuk bahwa Didi bukan lelaki baik-baik!" sela Mbak Dina. "Iya, Mbak. Aku hanya kasihan pada Rasya. Tega-teganya Mas Didi tidak mengakui Rasya anak kandungnya sendiri!" Aku kembali terisak mengingat perkataan Mas Didi. Aira dan Mbak Dina berusaha menenangkanku. Mereka berdua juga yang menyarankan agar aku menyadap whatsApp Mas Didi. "Jadi cara satu-satunya kamu harus sadap whatsApp Didi!" perintah Mbak Dina. "Betul, Lu. Dengan begitu kamu akan tahu semua percakapan Mas Didi di chat. Kemungkinan akun bernama Tejo yang kamu ceritakan juga akan terbongkar." Aira tak mau kalah memberi saran untukku. Aku merasa sedikit lega. Untung saja ada Mbak Dina dan Aira. Kalau tidak, mungkin aku akan gila mengahadapi masalah ini sendiri. 💔💔💔 Menjelang magrib aku dan Rasya baru tiba di rumah. Kebetulan Mas Didi juga belum pulang kerja. Entah, ia akan pulang atau tidak, jujur aku sudah tidak peduli. Aku masih punya Rasya yang mampu menghibur dan mengisi hariku. Tin! Tin! Terdengar suara klakson mobil Mas Didi memasuki rumah. Aku yang sedang sibuk menyiapkan makanan segera menghentikan aktivitas. Berjalan ke depan untuk membuka pintu yang terkunci. Tetapi tidak bermaksud untuk menyambut kedatangan Mas Didi seperti biasanya. Sudah cukup aku dibodohi selama ini oleh dirinya. Mas Didi menerobos masuk ketika pintu berhasil terbuka. Aku yang berdiri di depannya, sama sekali tidak dihiraukannya. Ingin rasanya aku mengejar Mas Didi dan menegurnya. Namun, entah kenapa rasanya aku tak kuasa. Setengah jam setelah kepulangan Mas Didi, ia pun pergi mandi. Ini adalah waktu yang kunanti untuk mengecek ponselnya. Jika memang percobaanku ke sekian kalinya memasukkan sandi gagal, maka dengan terpaksa akan kuturuti saran Mbak Dina dan Aira. "Gimana, sih, caranya sadap chat whatsApp itu? Kok, aku tadi nggak tanya sama Mbak Dina, ya?" Jujur aku kebingungan untuk menyadap whatsApp Mas Didi. Tiga tahun lamanya aku tidak mengikuti perkembangan zaman teknologi, aku menjadi gaptek atau gagap teknologi. Sungguh aku sangat menyayangkan hal itu pada diriku sendiri. Terdengar gemericik air di kamar mandi semakin keras. Pertanda Mas Didi belum selesai membersihkan dirinya. Aku masih terus mencoba untuk menyadap whatsApp Mas Didi. Sebelumnya aku sudah mencoba kembali memasukkan sandi ke ponsel Mas Didi tetap gagal. Sekarang jalan terakhir, aku harus bisa menyadap whatsApp Mas Didi. Sepuluh menit berlalu aku belum juga berhasil menyadap whatsApp di ponsel Mas Didi. Aku kebingungan, akhirnya aku mendapat sebuah ide agar Mas Didi tidak lagi berhubungan dengan si Tejo KW itu. Kubuka laci di meja rias, kemudian kuraih gunting di dalamnya. Setelah itu aku mencoba mencongkel konektor cas di ponsel Mas Didi. Dan ... berhasil! Konektor cas ponsel Mas Didi patah. Terdengar suara gerendel kamar mandi terbuka. Artinya Mas Didi akan segera keluar. Sebelum itu, segera kuletakkan kembali ponsel ke tempat semula. Sedangkan aku segera kembali ke luar kamar dan duduk di depan televisi. "Ma, mulai besok aku ada urusan di luar kota. Mungkin selama tiga hari ke depan aku tidak di rumah. Kamu tak apa-apa, kan jika kutinggal?" tanya Mas Didi tiba-tiba dari arah kamar. Spontan aku mengalihkan pandangan dari televisi ke arahnya. Rasa sakit hati pagi tadi masih membekas. Jadi perkataan Mas Didi sama sekali tidak kutanggapi. "Ma! Diajak ngomong, kok, malah cuek, sih?" tanya Mas Didi. Kini tubuhnya sudah duduk di sebelahku. Merasa risih, maka aku sedikit menggeser posisi dudukku. "Lulu!" bentak Mas Didi kesal karena tidak kuhiraukan. Segera aku menatap tajam mata Mas Didi. Tak ada lagi keharmonisan dalam rumah tanggaku. Tak ada lagi sikap sopanku kepada suamiku. "Apa, sih, Mas?" tanyaku tak kalah kasar. "Kamu kenapa, sih, kok, jadi berubah banget sama aku? Mau jadi istri durhaka kamu, hah?" bentak Mas Didi. Suaranya mampu memekakkan telinga. Menggema di seluruh ruangan rumah, sehingga terdengar tangis ketakutan Rasya. "Mama!" Jeritan Rasya mengundang perhatianku. Maka kutinggalkan Mas Didi, tanpa mempedulikannya lagi. "Rasya, kamu kenapa?" tanyaku sembari memeluk Rasya. "Ma, Papa kenapa, sih, kok, sering marah akhir-akhir ini?" tanya gadis kecilku. "Oh, itu tadi Papa cuma bercanda, kok, Nak, papa nggak marah. Dah, jangan takut. Sekarang kamu tidur lagi, ya!" Aku merebahkan tubuh Rasya di kasurnya. Kemudian menutup tubuhnya dengan selimut. Kutatap wajah ayu Rasya. Ada rasa bersalah sudah membohonginya. Kukecup kening Rasya, serta mengucapkan maaf kepada putri kecilku. "Maafin Mama, ya, Nak! Mama belum bisa jadi Mama yang baik buat Rasya." Mata Rasya terpejam erat. Sepertinya ia sudah kembali menjelajahi alam mimpi. Saat kupastikan Rasya sudah terlelap, aku meninggalkan kamarnya. Aku kembali berjalan ke ruang televisi. Ternyata sosok Mas Didi sudah tak ada lagi di sana. "Kenapa, sih, nih, ponsel?" gerutu Mas Didi sambil berjalan keluar kamar. "Kenapa, Mas?" tanyaku pura-pura tidak tahu. "Nggak tau, nih, tiba-tiba nggak bisa isi daya." Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar perkataan Mas Didi. Rasain kamu, Mas! Ini belum seberapa. Masih ada lagi suatu hal yang akan kulakukan untuk membongkar perselingkuhanmu. Menyadap aplikasi whatsAppmu. "Tapi, gimana caranya, ya? Sudah berulang kali aku mencoba, namun tetap tak bisa. Huh, dasar aku gaptek!" cemoohku pada diri sendiri. Next ....
sangat bagusss
21/09
0mengharukan cerita nya....
02/08
0Amazing
14/07/2025
0View All