Aryasa dan teman-temannya masuk ke dalam kelas. Beberapa hadiah nampak berserakan di atas meja mereka. Aryasa mengambil tempat sampah, lalu membuang seluruh hadiah yang berada di atas mejanya. Berbeda dengan Aryasa, justru Nio dan Qausar sangat excited untuk melihat isi hadiah tersebut. Qausar membuka sebuah kotak berwarna merah muda berukuran sedang. Kedua sudut bibirnya terangkat lebar ketika melihat isi hadiah tersebut. "Lumayan buat si mba," ucapnya seraya menunjukkan satu buah parfum pada Nio. "Otak lo si mba terus!" gerutu Nio. "Emang kenapa? Mba udah baik sama gue, dari kecil si mba ngurusin gue. Apa salahnya kalau gue bersikap baik sama si mba," ucap Qausar ketika otaknya sedang berfungsi dengan semestinya. "Mba pasti bangga sama lo," ucap Satria seraya menepuk-nepuk pundak pria yang tengah sibuk membuka satu per satu hadiah yang berada di atas mejanya. "Dapat jam lagi, lumayan koleksi tambahan," ucap Nio. Nio melihat Aryasa yang membuang hadiah-hadiah yang berada diatas mejanya. "Kok dibuang sih? Tega banget sih lo, nggak ngehargain." "Gue nggak minta mereka ngasih hadiah." "Setidaknya hargailah sedikit pemberian orang, Yas," sambar Satria seraya menaruh hadiah-hadiahnya di kolong meja. "Nah benar itu kata Satria. Lo tega banget sih Yas, hadiahnya lo buangin, sayang Yas," ucap Qausar. "Kalau lo mau ambil aja tuh," Aryasa menunjuk tempat sampah yang berada di dekat pintu kelas. Laura kembali mendekati Aryasa. Gadis ini sangat pantang menyerah untuk mendekati Aryasa, padahal pria itu tidak pernah memberikan respon yang baik padanya. "Nanti istirahat makan bareng yuk," ucap Laura. Aryasa menghela napasnya, Ia merubah posisinya membelakangi Laura dan memasang earphone ditelinganya. "Aryasa," Aryasa hanya diam, tidak merespon Laura sama sekali. “Lo nggak cape ngedeketin Aryasa terus? Gue yang ngeliatnya aja udah bosen. Udah dari kelas sepuluh lo ngejar dia terus,” ucap Nio merasa kasihan dengan Laura yang selalu diacuhkan oleh Aryasa. “Diam lo!” ucap Laura. “Dih, ngegas,” sahut Qausar. "Dikasih tahu bukannya mikir malah sewot," ucap Nio. “Udah udah, itu urusan Laura, kita nggak usah ikut campur,” ucap Satria. "Gimana nggak ikut campur, setiap hari bikin pusing lihat kelakuan dia deketin Aryasa terus," Nio sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Laura yang terus menerus mengganggu Aryasa. “Ah nggak asik, hidup lo lurus doang, Sat,” ucap Qausar. “Satria! Jangan panggil ujungnya doang,” ucap Satria. “Iya, Sat,” goda Qausar. Satria melihat Qausar dengan tatapan membunuh. Tak lupa juga Satria mempersiapkan buku yang kapan saja siap untuk memukul kepala Qausar. “Iya Satria,” ucap Qausar penuh penekanan. ***** Aryasa menyandarkan tubuhnya dipinggir lift dengan kedua tangan ia masukan ke dalam saku celana. Aryasa menunggu kehadiran seseorang yang sedari tadi belum melewati lift tersebut. "Ayo pulang." "Nanti." "Lo nungguin siapa sih?" tanya Nio. "Nunggu Laura?" tanya Qausar. Nio terkekeh, "Mana mungkin nungguin si gatel." "Jangan-jangan lo nungguin cewek yang tadi pagi ya?" celetuk Satria yang membuka suara setelah beberapa menit lalu hanya diam. Seseorang yang dari tadi ditunggu Aryasa yang tak lain adalah Aruna, gadis yang membuat pagi Aryasa rusak karena membuat emosinya naik. Aruna menghentikan langkahnya saat melihat Aryasa dan teman-temannya, tapi ia tidak bisa menghindar, karena akses untuk pulang hanya melewati depan lift itu. "Mampus! Lewat nggak ya? Lewat, nggak, lewat, nggak, lewat, nggak. Ah masa gue nggak jadi lewat!" ucap Aruna setelah cap cip cup menggunakan kancing blazernya. Aruna mengatur napasnya, mengumpulkan keberanian untuk melewati Aryasa dan teman-temannya. "Bodo deh, lewat aja." Akhirnya Aruna mengambil keputusan untuk melewati Aryasa dan teman-temannya, walaupun ia sedikit ragu dan penuh kehati-hatian. “Permisi,” ucap Aruna seraya menundukkan kepalanya saat melewati Aryasa dan teman-temannya yang berjejer dipinggir lift. Aryasa menarik Aruna ke dalam lift dan menyudutkannya. Jantung Aruna berdegup kencang saat pintu lift tertutup, menyisakan hanya dirinya dan pria itu di dalam lift. “Apa?” tanya Aruna seraya memegang ujung roknya erat. “Lo masih bisa nanya?” tanya Aryasa balik dengan dingin. “Masalah tadi pagi? Gara-gara gue nabrak lo? Gue nggak sengaja, gue kan udah minta maaf,” ucap Aruna memberanikan dirinya. Aryasa tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aruna. “Nggak se-gampang itu.” Aruna menjauhkan wajahnya dari Aryasa. Ia tidak ingin menanggapi pria itu terus. Ia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya. “Bodoamat. Gue udah minta maaf. Dimaafin atau nggak itu terserah lo.” "Songong lo ya!" bentak Aryasa. Aryasa mengunci tangan Aruna, membuat gadis itu sulit bergerak. “Pilihan lo cuma dua. Jadi pembantu gue selama satu minggu, atau lo nggak akan tenang di sekolah ini.” “Lo pikir lo siapa ngancam gue?” tanya Aruna dengan suara gemetar. Aryasa menakupkan rahang Aruna dengan satu tangannya. “Nggak usah banyak omong, pilihan lo cuma dua!” Aruna berusaha keras melepaskan dirinya dari Aryasa, tapi semua sia-sia, pria itu nampak menguncinya dengan erat. “Kalau sampai besok lo nggak nentuin pilihan lo, jangan salahin gue kalau lo nggak ngerasain ujian nasional!”
bagusss banget aku sukaa bacanyaa
17/09
0kereb
31/07/2025
0bagus
09/06/2025
0View All