logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

ARYASARUNA

ARYASARUNA

Menti Lestari


Chapter 1 Prolog

"Aku capek! Aku mau pisah!" ucap seorang wanita paruh baya bernama Hanum pada sang suami, Damar.
"Hak asuh anak-anak jadi milik aku," tambahnya.
"Nggak! Nggak bisa gitu!" ucap Pak Damar.
"Nggak akan aku izinin kamu bawa anak aku," tolak Bu Hanum.
"Mereka berdua juga anak aku!"
"Udah! Aku capek ribut terus sama kamu! Kamu keras kepala!"
"Seterah kamu mau bilang aku apa! Aku nggak peduli! Kalau kamu mau pergi, silahkan pergi dan bawa Aruna, tapi jangan mimpi kamu bisa bawa Aryasa!" ucap Bu Hanum dengan puncak emosi yang sudah tidak tertahan.
Tanpa satu kata pun lagi, pak Damar langsung menggendong tubuh mungil Aruna dan pergi.
"Ma, Aruna mau dibawa kemana sama Papa?" tanya Aryasa dengan polos.
Wanita paruh baya itu hanya terisak dalam tangisnya sembari memeluk tubuh Aryasa dengan erat.
*****
Dua belas tahun kemudian.. 
Huaa! Aryasa!
Aryasa!
Minggir woy! Cogan mau lewat!
Aryasa ganteng banget!
Bismillah atas izin Allah dan juga restu mama papa, gue siap jadi istri Aryasa di masa depan!
Satria i love you.
Pak presiden, aku mencintai salah satu rakyatmu pak!
Gantengnya biasa aja woy! Nggak usah over!
Aryasa, Satria, Nio, dan Qausar berjalan masuk melewati koridor menuju ruang kelasnya. Sepanjang koridor para gadis tak henti-hentinya menatap mereka dengan kagum.
"Enak ya jadi orang ganteng," bisik Nio pada Qausar.
"Di kolong meja gue ada hadiah apa lagi ya? Jadi nggak sabar ke kelas, kalau dapat hadiah handphone lagi lumayan buat si mba," ucap Qausar.
"Majikan yang baik," sahut Nio seraya menepuk bahu Qausar pelan.
Seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang berwarna coklat berjalan dengan anggun menghampiri Aryasa dan teman-temannya. "Selamat pagi," ucapnya.
Gadis itu melihat Aryasa yang nampak dingin, tidak meresponnya sama sekali, bahkan Aryasa enggan untuk melihatnya.
Laura berusaha lebih dekat lagi dengan Aryasa. Laura pun tak malu untuk menggandeng tangan Aryasa. "Lo udah sarapan?" tanyanya.
"Lepas!"
Laura semakin mengeratkan gandengannya. Tak peduli dengan sorot mata Aryasa yang melihatnya dengan tajam.
Aryasa menepis tangan Laura kasar. "Lepasin bangsat!"
Beberapa murid yang melihat hanya dapat diam, karena ini bukan untuk pertama kalinya Aryasa berlaku kasar pada Laura.
Satria, Nio dan Qausar pun sudah terbiasa dengan perlakuan kasar Aryasa pada Laura, bahkan mereka sudah mengganggap ini semua sebagai santapan setiap harinya.
"Guys, ayo," ucap Aryasa dingin.
Bruk!
Seorang gadis tidak sengaja menabrak Aryasa, membuat tubuh gadis itu hampir terjatuh. Namun dengan cepat tangan Aryasa menangkap gadis itu agar tidak terjatuh dan membuat kedua mata mereka saling bertemu.
Para murid yang berada di koridor hanya dapat menganga saat melihat kejadian langka tersebut. Bagaimana tidak langka? Seorang Aryasa memberi respon yang sangat sigap untuk menolong seorang gadis.
Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Aryasa. "Ma- maaf, gue nggak sengaja," ucapnya gugup.
Aryasa merapikan seragamnya. Raut wajahnya sangat dingin, tak menunjukkan keramahan sedikitpun. "Makanya lo kalau jalan tuh pakai mata!" ucapnya dingin.
Kedua mata gadis itu membulat. Pria yang baru saja menangkap dan menatapnya lekat kini berubah menjadi pria yang dingin dalam hitungan detik. Sangat ajaib!
"Ya maaf, gue kan udah minta maaf tadi," ucap gadis itu.
"Lagian, dimana-mana tuh jalan pakai kaki, bukan pakai mata," tambahnya.
Nio melihat gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Lo anak baru?" tanya Nio dengan satu alisnya yang terangkat.
Gadis itu mengangguk.
"Pantas dia nggak tau kita siapa," ucap Qausar.
"Emang kalian siapa? Sesepuh? Pemilik sekolah? Atau anak pak Presiden?" tanya gadis itu polos.
Mata Nio dan Qausar terbelalak saat mendengar pertanyaan bodoh dari gadis itu. Sedangkan Satria hanya mengulum bibirnya seraya menahan tawa.
Nio menepuk bahu gadis itu pelan. "Siap-siap jadi mangsa baru ya," ucapnya seolah memberi peringatan pada gadis itu.
Gadis itu menepis tangan Nio dengan kasar. "Nggak usah sok asik deh pegang-pegang!" ucapnya ketus.
Gadis itu melihat Satria yang nampak tenang dan tidak bereaksi berlebihan seperti yang lain. "Gue mau ke kelas XII IPA III, lo tau dimana?" tanya gadis itu.
"Lo lurus terus belok kiri, kelasnya ada disamping lift," jawab Satria.
"Oke makasih."
Gadis itu ingin beranjak meninggalkan kerumunan yang tengah melihatnya saat ini, namun Aryasa menarik ujung tas gadis itu, membuat langkah gadis itu mundur. "Mau kemana lo?" tanya Aryasa dingin.
Gadis itu menoleh, melihat Aryasa sinis, "Mau ke kelas XII IPA III, lo budek apa gimana sih, nggak dengar tadi?" sahut gadis itu.
Aryasa merasa heran dengan gadis yang berada di depannya saat ini. Baru kali ini ada seseorang yang berani melontarkan kata-kata seperti itu padanya.
Satria, Nio dan Qausar menahan tawanya sembari bertepuk tangan tanpa suara saat mendengar ucapan gadis itu. Pemandangan di depannya sangat sayang untuk dilewatkan, kapan lagi mereka dapat menyaksikan Aryasa ditentang oleh seorang gadis.
Aryasa menggertakan giginya seraya mengepal tangannya kuat, "Cari mati lo!"
Gadis itu menghela berat dan nampak tidak peduli dengan ucapan Aryasa. "Gue bukan cari mati, daritadi gue nyari kelas XII IPA III, dan baru aja dikasih tau sama teman lo yang baik hati ini, jadi gue harus ke kelas dulu ya. Bye!"
Gadis itu berjalan meninggalkan beberapa pasang mata yang masih melihat ke arahnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Lo harus ngelakuin sesuatu Yas, tuh cewek harus dikasih pelajaran, nggak bisa di diemin gitu aja," ucap Laura memperkeruh suasana.
Aryasa tersenyum miring seraya melihat gadis itu yang perlahan menjauh. "Lumayan, ada mainan baru," ucapnya.

Book Comment (265)

  • avatar
    Aura cantikaPasya

    bagusss banget aku sukaa bacanyaa

    17/09

      0
  • avatar
    Montekchou

    kereb

    31/07/2025

      0
  • avatar
    WahyudiImam

    bagus

    09/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters