logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Antara Aku, Anggita dan Rama

Anggita tak menatapku barang sedikit pun. Dia berjalan mendahuluiku. Apa yang harus kulakukan? Haruskah kuikuti langkahnya? Bukankah tadi dia berkata ingin bicara? Pasti sesuatu yang sangat penting. Aku langsung tahu apa yang akan dibicarakannya. Ang, tak usah membahasnya lagi. Aku sudah tahu semuanya.
Tapi benarkah yang akan dikatakannya sama seperti yang kupikirkan? Entahlah ... aku merasa segalanya begitu rumit. Dia  menuju warung Bu Tien.
“Bu, teh botol dinginnya dua, ya?” Anggita memesan minuman pada Bu Tien.
“Oh ... ya, Mbak.”
Tak lama kemudian, Bu Tien membawa dua teh botol dingin seraya memberikannya pada kami. Ah ... kau masih sama, Ang. Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan.
“Terima kasih, Bu Tien.” Bu Tien tersenyum pada kami dan segera melayani pembeli lain.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku, Ang?” Aku mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
Kulihat sekilas wajah Anggita yang begitu memesona. Wajah yang entah sudah berapa lama tak lagi menemaniku menikmati embun di pagi buta. Tapi dia masih saja tak mau menatapku. Atau jangan-jangan dia memang sengaja tak ingin melakukannya?
“Maafkan aku, Sam. Aku terlalu lama meninggalkanmu,” kata Ang akhirnya.
“Ehm—maksudmu?”
“Jangan pura-pura. Aku tahu kau tak terima dengan semua ini. Bahkan aku sudah meninggalkanmu tanpa sebab, Sam!” Suara Anggita meninggi dan sedikit bergetar.
Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba Anggita terlihat begitu rapuh? Sepertinya dia ingin menangis. Ang, jangan kau siksa aku seperti ini.
“Ssstt ... tak usah berlebihan seperti itu, Ang.” Aku berkata menirukan gaya Liu seraya tertawa renyah padanya. Setidaknya aku berharap dia tak jadi menangis.
“Kau memang tak pernah bisa serius saat kuajak bicara, Sam. Aku ... kau tahu?”
 “Ya?”
“Aku sudah menikah, Sam.”
Tes ...
Anggita menangis sambil menggenggam tanganku dengan erat.
Ya Tuhan ... aku tak mampu menolak tangan ini. Tangan seorang wanita yang sangat kucintai. Tidak, aku tak akan membiarkan perasaan cintaku tumbuh liar dan merusak persahabatan kami! Biarlah aku tak pernah mengutarakan semua ini. Toh Anggita sudah bersama Rama. Setidaknya Rama adalah sahabatku sendiri. Aku yakin dia dapat membahagiakan Anggita.
Aku masih ingat saat Rama memperlihatkan foto Anggita di hadapanku, sakit sekali rasanya. Tapi mengapa rasanya sangat berbeda jika Anggita yang mengatakannya secara langsung? Aneh ... aku tak merasakan sakit sedikit pun. Bahkan hatiku menjadi begitu ikhlas seketika. Benarkah aku ikhlas? Atau aku hanya berpura-pura?
Anggita masih menangis, bahkan sekarang semakin  menjadi-jadi. Bahunya bergetar hebat. Apakah dia sangat terluka? Bu Tien melirik kami. Aku menjadi kikuk dan merasa tak enak padanya. Sebaiknya aku pergi saja dari sini.
“Ang, maukah kau bersepeda denganku mengelilingi pantai?” ajakku pada Anggita.
Seketika Anggita mendongak dan menghentikan tangisannya. Untuk sesaat senyumnya merekah, membuat wajah cantiknya tak lagi sendu. Apakah dia menerima ajakanku? Aku membalas senyumannya dan segera memberikan uang teh botol pada Bu Tien.
Aku bergegas menuju sepedaku. Tak kuhiraukan Nunok yang sewaktu-waktu akan mencari. Lagi pula KM. Ferry MustikaVIII dengan tujuan Pontianak masih sekitar enam jam lagi akan berangkat. Itu berarti masih banyak waktu untuk berbincang dengan Anggita. Aku mempersilakan Anggita membonceng. Ah ... masa-masa ini teramat kurindukan, Ang. Seperti mengerti apa yang ada dalam batinku, Anggita memeluk pinggangku. Tapi, bukankah tak seharusnya kami begini?
***
Anggita berlari menuju bibir pantai saat baru saja turun dari sepedaku. Sejenak aku berpikir apa yang kulakukan ini benar? Tidakkah jika Rama tahu semua ini dia akan marah besar padaku? Tapi ... Anggita sahabatku, kami hanya mengobrol dan bermain di pantai, tidak lebih. Aku berperang melawan hatiku sendiri. Tanpa sadar, akhirnya kaki ini pun melangkah menyusulnya.
“Aku merindukanmu, Pantai Gading ...!” Anggita berteriak lantang di antara suara gulungan ombak yang menderu.
“Memangnya kapan kau terakhir kemari?”
“Sejak kau memberikan setangkai mawar putih itu, aku tak pernah kemari lagi.”
“Mengapa?” Aku tak habis-habisnya memandang wajah cantiknya.
Rama, maafkanlah aku. Aku masih sangat mencintai istrimu. Tapi percayalah ... aku akan segera melupakan Anggita. Entah kapan.
“Hari itu aku menikah, Sam. Maaf, aku tak memberitahumu.”
Whuu ... byurrr ...
Deru ombak seolah ikut merasakan betapa aku merasa begitu ikhlas saat Anggita mengatakan perihal pernikahannya lagi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan hatiku? Apa aku terlalu bodoh dengan tidak berani mengutarakan perasaanku yang sebenarnya? Tidak, aku hanya berusaha berdamai dengan hati!
“Jadi karena itu kau meninggalkanku begitu saja, Ang? Hahaha ... konyol sekali.”
Ya Tuhan ... apa yang sudah kukatakan? Pasti Anggita menganggapku tak serius lagi.
“Tak ada yang lucu, Sam. Kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi ....” Suara Anggita lebih mirip dengan bisikan. Sangat lemah.
“Apa yang terjadi?” tanyaku sedikit mendesaknya.
Kami membisu. Tak ada jawaban dari Anggita. Sementara itu matahari mulai meninggi. Kutengok sekilas jam tanganku. Sudah pukul 08.45. Selama itukah kami mengobrol? Aku masih menunggunya. Ayo ... katakan sesuatu padaku, Ang. Aku mohon .... Baiklah, mungkin aku harus mengganti topik pembicaraan. Kulirik wajahnya, sepertinya dia memang sedang ingin membisu. Oke, Ang. Lebih baik kita pulang saja.
Tapi saat aku hendak melangkah pergi, Anggita justru mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkanku.
“Aku muak dengan pernikahan ini! Aku tak mencintainya! Bawa aku pergi, Sam ...,” pinta Anggita padaku sekali lagi dengan suara bergetar.
Aku menggigit bibir.
Apa?! Anggita tidak mencintai Rama? Omong kosong apa lagi ini? Sungguh ... aku benar-benar tak mengerti. Bukankah Rama laki-laki yang sangat baik? Mengapa Anggita terlihat begitu sengsara dengan pernikahannya? Bukankah seharusnya dia bahagia?
Akhirnya aku memutuskan untuk membawa Anggita. Bukan berarti aku membawa pergi dia untuk selamanya dari Rama, tapi semua ini kulakukan hanya untuk menenangkannya. Aku harus membuat hubungan Anggita dan Rama kembali harmonis, meskipun pada akhirnya hanya akan membuat sakit di dalam hati.
Setelah emosi Anggita sedikit mereda, kami pun bergegas meninggalkan Pantai Gading. Aku tahu tempat yang bisa membuat pikirannya tenang selain di sini. Mungkin di sana aku bisa menemukan solusi yang tepat untuk hubungan Anggita dan Rama
Aku menatap seseorang dari kejauhan. Entah sejak kapan dia ada di sana. Sepertinya dia mengamati kami. Ketika kami semakin mendekat, barulah aku tahu siapa dia.
“Apa yang kalian lakukan di sini, hah?”
Anggita yang sedari tadi berjalan sambil menunduk pun terkejut dengan suara seseorang di hadapannya.
“Rama!” pekik Anggita dengan suara tertahan.
Mataku dan mata Rama bertemu.
“Sam, mulai sekarang kau bukan sahabatku lagi!”
Rama menyeret Anggita pergi dari hadapanku. Apa ini? Apa yang sekarang sedang kurasakan? Marah? Kecewa? Sakit hati? Bahkan aku tak mampu mencegah saat Rama menyakiti Anggita. Inikah yang Anggita maksud dengan muak? Apa selama ini Rama  menyakiti Anggita?

Book Comment (116)

  • avatar
    Uyun AL Varo

    sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang

    03/02/2022

      5
  • avatar
    maha karya

    sangat menarik

    11/06/2025

      0
  • avatar
    Burg Gaming

    cerita yang bagus

    14/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters