Ini jelas sangat terlambat! Jadwal keberangkatan KM. DharmaKencana II adalah pukul 09.00. Lantas bagaimana mungkin aku bisa sampai di pelabuhan sementara biasanya aku datang satu jam lebih awal dari jadwal keberangkatan? Ah ... mengapa kau mengacaukannya? Bukankah kita belum pernah bertemu sebelumnya? Apa yang sebenarnya kau inginkan? Apa kau hanya ingin menemani dan mencemooh bujang yang sedang galau ini? Cukup sampai hari ini saja pertemuan kita, Liu. Tentang perkataanmu, jika memang Anggita masih mengingatku, biarlah Tuhan yang mengatur pertemuan kami kembali. Aku mendesah panjang. Sekarang sudah pukul 08.25. Mengapa tiba-tiba sepeda ini terasa begitu berat? Sungguh tak bisa diajak kompromi! Ya Tuhan ... ternyata aku lupa memoles rantainya dengan oli. Mengapa akhir-akhir ini aku sering lupa? Apa semua ini karena kau lagi? Tidak, ini bukan karena Anggita. Aku tak ingin mengaitkan satu kejadian apapun dengannya lagi. Sebenarnya ada oli di dalam ranselku, tapi itu malah membuang-buang waktu saja. Sammy, jangan pikirkan hal lain! Kau harus lebih cepat! Sepuluh menit kemudian, sampai juga aku di Pelabuhan Tanjung Perunggu. KM. Dharma Kencana II sudah terpampang di depan mata. Tapi langkahku semakin gontai karena hilang sudah setengah jam yang sebenarnya bisa menghasilkan uang untukku. Ketika para penumpang yang akan menuju kota Pontianak itu membutuhkan bantuan untuk membawa barang-barang mereka ke dalam kapal, aku yang mengerjakannya. Ya, aku adalah seorang pengangkut barang. Setiap hari aku menunggu kapal-kapal itu tiba sesuai dengan jadwal keberangkatannya masing-masing, tak peduli pagi, siang atau pun malam. Terlebih Anggita tak pernah mempermasalahkannya selama ini. Dia justru sangat mendukung pekerjaanku. Anggita? Mengapa harus namamu lagi yang kusebut? “Dari mana saja kau? Aku sudah dapat uang banyak kau malah baru datang? Untung saja Pak Nahar tak masuk hari ini. Kalau sampai dia tahu kau terlambat lagi, aku yakin dia tak akan lagi mempertahanmu!” Lelaki berkulit hitam itu ternyata Nunok—teman kerjaku. Dia berjalan melewatiku dan mengusap keningnya yang penuh dengan keringat. “Aku baru saja bertemu dengan seorang kakek, Nok.” “Kakek? Bukankah kakekmu sudah meninggal tujuh tahun yang lalu? Kau ini aneh sekali.” Nunok menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa mengejekku. “Bukan kakekku, Nok. Tap ...,” “Ah ... sudahlah! Aku mau mengangkut barang-barang dulu, nanti kita bicara lagi. Kau lihat ibu-ibu di sebelah sana? Itu bagianmu, lekaslah!” Nunok menunjuk ibu itu dengan dagunya dan berlalu di depanku sambil memanggul koper. Nunok selalu saja begitu, memotong pembicaraanku setiap kali aku menjelaskan sesuatu padanya. Tapi Nunok teman yang sangat baik. Tak seperti para pengangkut barang lainnya—yang hanya mementingkan diri sendiri, bahkan mereka tak jarang saling berebut penumpang. Nunok selalu bisa ‘berbagi penumpang’ denganku. Akhirnya mau tak mau aku menuruti permintaan Nunok dan segera menghampiri ibu-ibu yang dimaksudkannya. Ibu itu pun langsung tahu. Dia melambaikan tangan padaku dan menunjuk barang-barang di sebelahnya. “Nak, tolong bawakan barang-barang ini, ya? Tapi sampai di depan tangga kapal saja!” Ibu itu tersenyum ramah kepadaku. Matanya sesekali berkedip. Aku menelan ludah dengan susah payah dan mengangguk patah-patah. Ragu-ragu kupanggul barang-barangnya menuju tangga kapal. “Ah-iya, jangan khawatir soal bayarannya. Kau akan kubayar sama seperti Nunok.” Dia berbisik di telingaku sebelum aku melangkah pergi. Jujur saja, aku agak sedikit risi dengan sikapnya itu. Mengapa harus berbisik? “Tidak, Bu. Aku tetap akan mengantarkan barang-barang Anda sampai di tempatnya,” tolakku secara halus seraya sedikit menjauh darinya. “Ya sudah, terserah kau saja!” Ibu itu memalingkan wajahnya dan berjalan mendahuluiku. Aku segera mengambil langkah-langkah lebar agar tak tertinggal jauh dengannya. Namun, ketika sedang asyik memanggul barang, ada seorang laki-laki yang menatapku dari kejauhan. Aku balas menatapnya lantas berpikir, sepertinya dia bukan penduduk asli di sini. Tapi mengapa wajahnya tak asing bagiku? Siapa dia? Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Atau jangan-jangan dia adalah pengangkut barang baru yang mencurigaiku? Cepat-cepat kusingkirkan pikiran buruk itu. Mungkin saja laki-laki itu hanya terkesan sedang menatapku dan sebenarnya dia sedang menatap orang lain. Atau mungkin memang caranya menatap seperti itu. “Hei, sedang apa kau?! Kau melamun, ya? Cepatlah sedikit, sudah jam berapa sekarang? Bisa-bisa aku tertinggal!” seru ibu itu sambil menunjuk-nunjuk jam tangannya. “Ma-maaf, Bu!” sahutku cepat dan segera berlari menyusulnya. Sekarang sudah pukul 09.00. KM Dharma Kencana II akhirnya mulai melenggang pergi. Aku mengusap keringat setelah berhasil menyelesaikan tugas dari ibu-ibu genit itu. Huh, semoga aku tak bertemu dengannya lagi! Tapi bagaimana kalau dia mencariku? Tidak, kurasa tidak. Sepertinya dia tidak menyukaiku—yang tak mau menerima uang lebih darinya. Aku tersenyum lega. Udara mulai memanas. Kulihat langit sejenak. Pantas saja, matahari sudah muncul. Para penumpang KM. Dharma Kencana II melambaikan tangannya kepada sanak saudara mereka yang ada di bawah. Beberapa ada yang menangis, tapi ada juga yang tertawa bahagia. Anak-anak juga melompat riang. Betapa beruntungnya mereka—yang bisa merasakan perjalanan dengan menggunakan kapal. Sedangkan aku? Aku sudah bekerja selama 10 tahun di sini, tapi tak sekali pun pernah menaiki kapal dan berlayar menembus lautan. Aku mendesah pelan membayangkannya. “Namanya Bu Martha, Sam! Kena kau! Hahaha ....” Nunok tiba-tiba sudah menjejeriku dan tertawa mengejek. “Ah ... kau ini! Pantas saja dia sangat genit padaku! Apa dia seorang tante yang kesepian?” “Hahaha ....” Sekali lagi Nunok tertawa dan aku justru mengernyit padanya. “Tak ada yang lucu! Hari ini aku baru saja bertemu dengan seorang kakek yang sok tahu, lantas kau memberikan penumpang genit itu padaku. Nok, aku sedang tak ingin bercanda hari ini!” “Sammy ... Sammy. Bukankah setiap hari kau tak ingin bercanda, apa lagi sejak kepergian Anggita?” Nunok mengejekku lagi dan seperti sengaja memelankan suaranya saat dia menyebut nama Anggita. Mungkin dia sedikit tak enak padaku. Aku tak menghiraukannya dan berlari kecil menuju warung. Dapat kurasakan Nunok membuntutiku dari belakang tanpa berani menjejeriku. “Bu, minta air mineral botol dinginnya satu, ya!” seruku pada ibu penjaga warung. “Dua botol, Bu!” Nunok meralat perkataanku dan segera duduk di sebelahku. Ibu penjaga warung tersenyum dan mengangguk pada kami. “Ehm, jadi siapa kakek itu, Sam?” tanya Nunok kemudian. “Namanya Liu,” jawabku singkat. “Liu? Nama yang aneh.” “Tidak, Nok. Menurutku namanya bagus sekali dan dia sangat menarik. Yah ... walaupun dia sok tahu, tapi dia bisa menebak apa yang kulakukan di Pantai Gading.” “Hah?! Jadi kau menunggu Anggita lagi? Dan gara-gara itu tadi kau terlambat? Kau konyol sekali, Sam!” “Sudah kukatakan, Nok. Aku tak bisa menghentikan kebiasaan gilaku. Kebiasaan gila kami yang setiap hari menunggu pagi di Pantai Gading. Kau tahu, kan?” “Ya. Aku tahu, Sam. Sangat tahu. Kalian tak bisa menghentikan kebiasaan kalian dengan menunggu pagi dari jam 03.00. Kalian bukan menunggu sunrise, melainkan sama-sama menyukai aroma embun di pagi buta. Itu sangat konyol, kan?” Nunok memutar bola matanya. Aku tak menanggapinya lagi. Entahlah, aku selalu terpojok setiap kali dia mengatakan hal itu. “Sam, dengarkan aku!” lanjutnya kemudian sambil berbalik menatapku. Diteguknya air sekali lagi. Sepertinya dia mulai serius. “Ya, aku sudah mendengarkanmu dari tadi.” “Kalau kaumerasa sudah terlalu lama menunggu, mengapa tak kau datangi saja dia?” Deg! Jantungku terasa berhenti berdetak untuk beberapa detik. Hei, tidakkah perkataan Nunok sama persis dengan apa yang dikatakan Liu padaku? “Aku tak tahu, Nok.” Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Dia menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda bahwa dia tak puas dengan jawabanku. “Ya sudah, lebih baik aku pulang saja. Bukankah nanti malam KM.Dharma Kencana III akan berlayar? Kita harus menyiapkan fisik, Sam. Bu, ini uangnya untuk dua botol. Kembaliannya ambil saja, Bu.” Nunok tersenyum sekilas pada ibu penjaga warung dan pergi meninggalkanku. Benar apa yang dikatakan Nunok, kami harus menyiapkan fisik untuk nanti malam. Setidaknya aku harus tidur beberapa jam untuk memulihkan kondisi setelah kepergian Anggita. Ya, lebih tepatnya kondisi hati—yang sangat memengaruhi fisikku. Anggita, sebenarnya apa salahku padamu? Apa kau tak suka dengan mawar putih yang kuselipkan di telingamu? Hei, bukankah mawar putih itu melambangkan persahabatan? Apa dia tak ingin menjadi sahabatku lagi? Apa dia ingin menjadi seseorang yang lebih dari sekadar sahabat di hatiku? Wanita itu memang sentimentil sekali. Mengapa harus menangis? Seharusnya dia bisa mengatakannya dan tak menghilang seperti ini. Tapi ... dia wanita, tak mungkin mengutarakan perasaan secara langsung. Lagi pula dia sangat pemalu. Liu, ternyata kau memang benar. Aku sudah terlalu lama menunggunya kembali. Aku harus segera mendatanginya. Harus! Aku beranjak pergi sambil membetulkan posisi ransel. Kuucapkan terima kasih singkat pada ibu penjaga warung dan bergegas menuju sepeda yang kusandarkan di bawah pohon. Tapi sebelum aku berhasil meraihnya, seseorang lebih dulu memegang lenganku. “Kau Sammy, kan? Ikutlah denganku!” “Hei-hei! Apa-apaan ini! Auw! Kau menyakitiku!’ Laki-laki itu menyeretku. Aku terpaksa berjalan di belakangnya. Sial! Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Terlebih dia memakai topi. Siapa dia? Jangan-jangan dia ...
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 32 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (116)
Uyun AL Varo
sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang
sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang
03/02/2022
5sangat menarik
11/06/2025
0cerita yang bagus
14/05/2025
0View All