logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Kurang Perhatian

Arya hanya tersenyum mendengar jawaban Luna. Arya tentunya sudah mengajak Sandra kemanapun istrinya itu menginginkannya. Arya bahkan senang apabila Sandra meminta Arya untuk bepergian dengannya. Arya akan langsung menyempatkan waktu saat itu juga. Namun Sandra-lah yang sekarang jarang meminta Arya untuk pergi ke suatu tempat dengannya.
“Mungkin memang saya saja yang salah,” Arya bersusah payah mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Dia menyadari bahwa dia kelihatan seperti orang yang tidak bersyukur.
“Maksudnya bagaimana Pak?” Luna bertanya pada Arya.
“Istri saya terlalu sempurna untuk saya,” jawab Arya mengalihkan pandangan wajahnya dari Luna.
“Saya bertemu dengan Sandra beberapa tahun yang lalu. Dia perempuan yang cantik dan pintar. Saya terpesona dengan semua yang ada pada dirinya. Saya berpikir bagaimana seorang perempuan bisa sesempurna Sandra,” Arya menceritakan pertemuannya dengan Sandra.
“Usianya jauh di bawah saya, jauh lebih muda dibandingkan saya. Saya kemudian memberanikan diri mendekatinya. Dia memberikan respon yang baik. Saya jatuh cinta pada setiap detail yang ada pada diri Sandra,” Luna mendengarkan cerita Arya dengan sungguh-sungguh. Terbawa pada setiap kata yang diucapkan Arya.
“Kamu bisa membayangkan, seorang perempuan cantik, di usia yang masih sangat muda sudah lulus pendidikan master. Karirnya di perusahaan salah satu rekan bisnis saya sangat menanjak. Bagaimana tidak? Dibalik kecantikan dan kepandaiannya, Sandra mempunyai gaya berkomunikasi yang baik dan sangat memikat. Lobi bisnis yang dilakukannya tidak pernah luput,” Arya tersenyum ketika menceritakan tentang Sandra. Luna bisa melihat rasa cinta di balik cerita yang keluar dari mulut Arya.
“Ketika hhubungan saya dan Sandra sudah semakin serius, sya memperkenalkan Sandra dengan keluarga saya, kemudian juga kepada anak-anak. Tidak sulit sama sekai mendekatkan Sandra pada anak-anak saya dari pernikahan terdahulu. Mudah sekali, bagaikan tidak ada usaha. Mereka menyukai Sandra tanpa pertentangan apapun,” Arya masih melabuhkan pandangan matanya ke perbukitan di hadapan mereka ketika menceritakan itu.
“Saya tentunya banyak bercerita kepada Sandra mengenai penyebab saya berpisah dengan Ara, istri pertama saya. Saya berpisah karena Ara ingin mengejar karirnya sehingga perselisihan tidak terhindarkan,” Arya menyeruput kopi hangat yang sudah tersaji di hadapan mereka ketika menceritakan itu pada Luna.
“Saya tidak menuntut Sandra untuk berhenti dari pekerjaannya. Saya tidak punya alasan, dan saya belajar dari pengalaman saya di pernikahan sebelumnya bahwa saya tidak bisa memaksakan segalanya harus sesuai dengan yang saya inginkan,” Arya kembali menatap Luna. Sedangkan Luna, matanya tidak pernah lepas dari Arya ketika mendengarkan cerita tersebut.
“Ketika saya melamar Sandra untuk menjadi istri saya, Sandra menerimanya. Sebelum kami menikah, Sandra berhenti dari pekerjaannya, atas inisiatif Sandra sendiri. Sandra tahu apa yang saya inginkan. Dan tidak pernah menyesal pada keputusannya itu,” Arya melanjutkan.
“Dia benar-benar ibu yang sempurna terhadap putra putri saya. Sangat sempurna, apapun yang dilakukannya pada anak-anak semuanya tidak ada cacatnya,” Arya kembali memandang ke arah perbukitan.
“Kemudian Sandra hamil, kami senang sekali menanti bayi kecil kami. Apalagi Sandra, dia sangat senang. Putra kami lahir sehat dan pintar. Kamu sudah bosan mendengarkan cerita saya?” Arya bertanya pada Luna.
“Tentu saya tidak Pak, apa Bapak melihat raut bosan di wajah saya?” Luna balas bertanya.
“Tidak, saya hanya tidak ingin membuat kamu bosan. Jadi, Sandra itu istri yang terlalu sempurna. Dia bangun pagi langsung beranjak, menyiapkan sarapan khusus untuk saya, kemudian menemani saya sarapan. Membereskan pakaian saya sampai selicin mungkin. Kemudian mengantarkan saya sampai ke pintu ketika saya pergi bekerja. Ketika saya pulang, Sandra sudah menunggu lagi di depan pintu. Kami malam malam, lalu menghabiskan waktu dengan anak-anak, sampai mereka ketiduran. Sampai Sandra pun kelelahan, kadang sudah ketiduran dan saya membawanya sampai ke kamar. Lalu, kejadian itu berulang setiap hari,” Arya menarik nafas panjang. Luna merasakan kebosanan yang sangat dalam nadanya saat ini. Kebosanan pada rutinitas yang berulang setiap harinya.
“Saya memiliki banyak tugas kerja keluar daerah, keluar negeri, tapi Sandra seringkali tidak pernah mau ikut bersama saya. Karena harus meninggalkan anak-anak. Maksud saya, apabila sedang masa sekolah, maka sudah bisa saya pastikan Sandra tidak akan mau ikut karena meninggalkan anak-anak. Kalau sesekali Sandra bersedia ikut, kami pun harus membawa si kecil Deandra,” Arya tentunya bukan karena tidak menyukai anaknya. Namun dia tentunya merasa juga membutuhkan perhatian dari Sandra.
“Menurut Sandra, kami orang dewasa seharusnya lebih bisa bertoleransi pada anak-anak. Begitu pula di hari libur weekend, Sandra lebih suka menghabiskan waktu bersama anak-anak. Pergi liburan keluarga, dan sudah bisa dipastikan kegiatannya akan sibuk mengurusi ketiga anak kami. Sungguh saya menghargai apa yang dilakukan Sandra kepada anak-anak, terutama itu adalah anak-anak dari pernikahan saya sebelumnya,” Arya berkata pada Luna. Luna hanya mengangguk-angguk, memahami perasaan Arya. Memahami kesepian yang dirasakannya.
“Sandra berkata pula bahwa sudah tepat seperti itu karena kami tenga berbagi tugas, saya bekerja sementara Sandra mengurusi buah hati kami. Sungguh apa yang dikatakan Sandra benar, tidak ada salahnya,” Arya kembali menghirup kopinya. Suaranya sekarang agar tercekat menceritakan perasaannya.
“Sandra berkata pada saya bahwa anak-anak itu tidak akan lama bersama kami, sedangkan kami memiliki waktu selamanya untuk bersama. Anak-anak hanya bersama kami sampai sayapnya tumbuh menjadi sempurna untuk terbang melewati petualangan hidup mereka sendiri. Dan kami nantinya akan merindukan mereka,” Arya melanjutkan ceritanya.
“Benar sekali, apa yang dikatakan Sandra tentu benar, Lun. Suatu saat anak-anak itu akan pergi dari kami untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Anak-anak akan beranjak dewasa lalu membangun kehidupannya sendiri. Saya tidak pungkiri itu,” Arya menunduk.
“Tapi saya ini laki-laki, dan usia saya tidak semuda Sandra. Saya mencintai Sandra, dan saya ingin Sandra memiliki waktu untuk bersama saya juga. Saya juga menginginkan perhatian dari Sandra. Saya juga masih menginginkan pergi ke suatu tempat hanya berdua saja, tanpa memikirkan apapun termasuk anak-anak,” Arya kembali menarik nafas panjang. Menyadari bahwa kata-katanya bisa saja disalah-artikan oleh Luna. Betapa susunan kata terakhir Arya seolah lelaki itu sangat egois dan tidak ingin mementingkan anak-anaknya.
“Saya paham bahwa saya egois, tapi apakah saya tidak bisa mendapatkan waktu Sandra sedikit lebih daripada yang biasanya dia sediakan untuk melayani kami. Saya menyediakan pelayan rumah tangga sebanyak apapun, saya tidak ingin Sandra turun dari kamar tergopoh-gopoh ke dapur setiap pagi seolah saya adalah bayi yang harus diberi makanan tepat waktu setiap harinya. Biarkan pelayan yang ada di rumah melakukannya. Sandra bisa duduk bersama saya di kamar menunggu sarapan kami. Apa salahnya pula meninggalkan anak-anak remaja kami dirumah, mereka sudah cukup besar untuk mengurusi diri sendiri selama beberapa hari saja. Apa pula salahnya meninggalkan si kecil Deandra, Sandra juga sudah memiliki stok ASI yang banyak di dalam kulkas khusus dirumah. Banyak suster yang bisa menjaganya siang dan malam. Tidak usah selalu tidak apa, hanya sesekali pun tidak apa,” dari nada suara Arya, Luna merasakan kesedihan dari lelaki yang merasa luput dari perhatian istrinya.
Arya menatap Luna yang duduk di depannya dan mendengarkan semua curahan hati dari Arya. Arya sebenarnya juga tidak ingin terkesan membeberkan semua kekurangan istrinya pada perempuan lain. Tapi sebenarnya bukan kekurangan Sandra yang Arya keluhkan, hanya situasi yang membuatnya merasa sedih dalam hubungan terhadap istrinya.
“Pak, apa Bapak tidak menyampaikan semua perasaan Bapak pada Ibu Sandra? Kenapa Bapak tidak menyampaikan bahwa Bapak juga membutuhkan Ibu Sandra sebagai seorang istri?” Luna bertanya. Dia sungguh ingin memahami bagaimana pergolakan yang ada di dalam hati Arya.
Luna juga tidak memandang situasi itu sebagai kekurangan Sandra. Dia bahkan sebenarnya memahami kondisi Sandra. Sandra ingin menjadi istri yang sempurna bagi Arya sekaligus sebagai ibu bagi anak-anak mereka. Namun dalam jalan yang dipilihnya, Sandra justru melupakan bahwa peran istri bukan saja merawat fisik sang suami, namun juga memuaskan kondisi mental dan kedekatan jiwanya.
“Itulah salah saya. Saya sangat mengasihinya. Saya tahu apapun yang dilakukannya sebenarnya adalah untuk kami semua, untuk saya sebagai suami, sekaligus untuk anak-anak sebagai seorang ibu,” Arya menjawab.
“Melihat dirinya yang repot-repot setiap pagi, lalu sampai kecapekan melayani anak-anak tersebut di malam hari. Apa saya masih tega mengatakan semua yang dilakukannya sebenarnya bukanlah hal yang saya inginkan?” Arya melanjutkan.
Luna menarik nafas panjang, mengalihkan pandangan matanya menuju ke perbukitan di hadapannya. Matahari mulai tenggelam, cahaya langit sore sungguh tampak indah. Warna warni yang tergambar di langit memberikan kesan ketenangan tersendiri. Luna sungguh terbawa pada cerita Arya. Bahwa sesungguhnya Arya menginginkan sedikit saja perhatian dari Sandra. Perhatian lebih sebagai seorang istri. Apabila hanya perawatan secara fisik, Arya tentunya bisa membayar banyak pelayan untuk bekerja di rumahnya.
“Di luar itu, dibalik itu semua, saya memang jahat. Saya sudah bersalah pada Sandra. Benar katamu Lun, seharusnya saya mengkomunikasikan itu semua pada Sandra. Tapi saya justru melakukan kesalahan karena terdorong pada pembenaran atas semua yang saya alami,” Arya menatap Luna. Matanya berisi penyesalan yang tertangkap oleh Luna.
“Maksud Bapak?” Luna mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak memahami apa yang disampaikan pada Arya.
“Saya bukan orang baik, bukan suami yang baik, bukan laki-laki yang baik. Saya sudah mengkhianatinya. Saya menikah lagi. Saya menikahi seorang pramugari dua bulan setelah putra kecil kami lahir,” Arya menundukkan kepalanya. Luna terdiam mendengarkan penjelasan Arya.
“Saya bertemu dengan pramugari itu pada salah satu perjalanan bisnis ke Praha dengan teman-teman saya. Hanya kali itu saya menggunakan penerbangan komersil. Dalam perjalanan bisnis tersebut, seluruh teman saya membawa istrinya. Saya memohon pada Sandra untuk ikut dengan saya waktu itu. Sandra menolak karena bayi kami masih sangat kecil untuk ditinggal, padahal hanya 4 hari dengan perjalanan,” Arya melanjutkan ceritanya.
“Tapi bagaimana bisa Pak?” Luna bertanya.
“Namanya Anita, perjalanan itu membawa saya berkenalan dengannya. Kembali ke Jakarta, kami menjadi bertambah dekat. Saya memintanya untuk menjadi istri saya tanpa sepengetahuan Sandra. Kami menikah dua bulan setelah saya berkenalan dengannya. Dia sudah memiliki dua orang anak dari pernikahannya sebelumnya. Namun anak itu ada dengan suaminya,” Arya menjawab lagi.
“La-lalu bagaimana rumah tangga Bapak dengan Anita?” Luna bertanya lagi pada Arya.
“Pada awalnya baik, namun sekarang Anita meminta saya untuk menceraikan Sandra. Saya tidak bersedia. Anita tahu persis kondisi saya dan Sandra sebelum kami menikah, dan dia tidak keberatan. Namun setelah saya tidak menerima, sikap Anita banyak berubah. Dia berusaha meminta apapun yang sedang saya sediakan untuk Sandra dan juga anak-anak saya yang lainnya,” Arya kembali menjelaskan. Luna mengangguk mendengarkan penjelasan Arya.
“Bapak punya anak dengan Anita?” Luna bertanya lanjut pada Arya.
“Ya, masih bayi. Saya bukan pula tidak berlaku adil pada Anita. Saya mencukupi kebutuhannya. Tapi dia mencari tahu apapun yang saya sediakan untuk Sandra dan dia menginginkan yang sama. Membuat saya jadi berpikir bahwa yang diinginkannya dari saya hanyalah materi yang bisa diterimanya,” Arya menundukkan kepalanya.
“Mungkin dia hanya cemburu Pak,” Luna sebenarnya sungguh tidak tahu harus menjawab apa pada Arya. Dia sendiri terkejut dengan semua cerita Arya. Namun Luna menahan perasaannya untuk tidak menghakimi. Dia bisa mengerti mengapa Arya bisa tergoda pada wanita lain.
“Saya tidak tahu kamu akan menganggap saya laki-laki macam apa saat ini. Tapi saya benar-benar merasa bahwa saya lelah menyembunyikan tentang apa yang telah saya lakukan. Setidaknya, dengan bercerita kepada kamu mungkin saya sedikit merasa lega, atau mengurangi penghakiman saya terhadap diri saya sendiri,” Arya menjawab Luna lagi.
“Tidak Pak, saya sungguh bisa memahami keadaan Bapak. Saya tidak menghakimi Pak, itulah gunanya teman kan Pak,” Luna mencoba bercanda agar Arya tidak terlalu didera rasa bersalah.
“Terimakasih ya Luna, terimakasih sudah mendengarkan saya tanpa menghakimi sama sekali,” Arya berkata pada Luna. Luna memang tidak bisa memberikan saran apapun pada Arya, dia belum tahu apa rasanya masalah dalam rumah tangga. Pacaran pun Luna tidak pernah, selama ini hidupnya hanya fokus untuk membangun keluarganya, setidaknya bisa mencukupi kehidupan keluarganya. Hanya itu yang ada dalam pikiran Luna.
“Sama-sama Pak, jangan ragu untuk bercerita pada saya Pak. Setidaknya Bapak merasa lega, mungkin saya memang tidak bisa membantu apa-apa Pak,” Luna berkata lagi pada Arya.
“Ini benar-benar sudah lebih dari cukup. Menceritakan ini semua kepada kamu benar-benar membuat saya lebih lega,” Arya menjawab Luna. Mereka akhirnya memesan makan malam. Arya dan Luna kemudian makan malam sambil berbicara mengenai hal lainnya, seperti pembicaraan-pembicaraan mereka di lapangan golf biasanya. Arya sudah kembali ceria, setidaknya ketika dia bersama Luna.
Ketika malam semakin menjelang, mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Arya mengantarkan Luna sampai ke apartemennya kemudian langsung pergi. Setelah Arya berlalu, Luna naik ke kamar apartemen yang disewanya berdia dengan Bela.

Book Comment (43)

  • avatar
    Toslam Barokah

    oke 👍 ini adalah hasil

    15d

      0
  • avatar
    Bubllegumverosa

    Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨

    19/02

      1
  • avatar
    Abdul Haris

    bagus

    20/08/2022

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters