logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Balas Budi

Sampai keesokan harinya, Luna juga tidak dihubungi Arya. Namun pikiran gadis itu tidak bisa terlepas dari Arya begitu saja. Luna berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Membersihkan kamar, merapihkan pakaian, memasak makanan yang dia suka. Namun di sela-sela semua yang dia kerjakan, tidak dapat dipungkiri bahwa pikiran Luna masih melayang pada Arya. Luna tidak bisa melupakan kesedihan yang tergambar di raut wajahnya kemarin.
Pada sore harinya, telepon genggam Luna berbunyi, ada pesan masuk dari Bela. Luna segera membuka pesan tersebut.
“Bapak lu main sendirian udah dari tadi tuh, ditemenin Cindy. Kasian tau, dia sendirian, nggak sama temen-temennya.” Luna langsung tanggap bahwa yang dimaksud Bela dalam pesan yang dikirimkannya adalah Arya.
“Hah? Pak Arya? Sejak kapan? Kemaren udah main juga.”
“Dari tadi pagi, ini gue udah nemenin berapa klien gonta ganti, dia masih disini aja.”
“Iya dari kemarin tau Bel, kemarin juga seharian. Kayaknya lagi lesu juga kemarin.”
“Lu gitu ya, bocah nggak tau balas budi. Dulu pas lu lesu dia nemenin mulu, sekarang lu ajakin kemana kek. Daripada dia main disini sendiri.”
“Udah gue tanya kali. Dia jawab nggak ada apa-apa. Gue tanya kalo dia pengen gue temenin hari ini atau enggak, dia bilang enggak.”
“Nggak peka lu ye. Apa bedanya sama lu? Tapi apa dia dengerin jawaban dari mulut lu waktu itu? Enggak, kan? Dia tetep aja datang ngebantuin lu. Soalnya dia paham tanpa lu bilang.”
Luna merasa bersalah membaca pesan terakhir dari Bela. Bagaimanapun Bela benar, Arya tidak mempertimbangkan jawaban Luna beberapa bulan yang lalu. Yang Arya tahu hanyalah mencari tahu dan mencoba membantunya sesuai dengan kebutuhan Luna, menghibur Luna sebisanya, menemaninya di masa sulit dalam hidupnya.
“Gue harus kayak gimana ya Lin?” Luna melanjutkan pesan kepada Bela.
“Mau yang gampang? Sana lu mandi, terus datang kesini. Bilang aja mau ketemu gue karena janjian, ntar gue yang atur. Kalo mau yang sulit, lu tetep mandi. Ntar pergi deh ke Ancol atau kemana, yang agak sepi-sepi lah. Lu kirim pesan ke dia kalo lu disana sendirian. Dia bisa datang kalo dia mau, nah coba aja liat. Kalo dia memang main karena lagi sumpek aja, dia pasti datang. Kalo enggak ya dia bilang ke lu, lagi sibuk muterin lapangan golf. Terus ya udah, lu santai-santai aja sendiri disono, refresing. Tapi mendingan cara yang sulit, disini pasti pada tanya-tanya juga sih, lu libur kenapa tumben dateng cari gue. Apalagi kalo entar lu nongkrong bareng dia, jadi gosip.”
“Iya juga sih, yang sepi dimana Bel? Kuburan?”
“Boleh kalo lu mau ketemu setan belang.”
“Sialan lu, gue serius. Gue nggak tau tempat sepi.”
“Gunung Pancar aja sana, masih bisa cepet lah sampe sana juga. Ada cafe bagus, sepi, lumayan buat nongkrong.”
“Oke, kirimin nama cafenya aja. Gue kesana.”
Luna lalu segera berjalan ke kamar mandi. Luna tidak ingin mandi berlama-lama, dia ingin segera selesai dan berangkat ke cafe yang diinformasikan Bela. Luna memang tidak tahu banyak tempat. Kalau tidak sedang bekerja, Luna tidak pernah pergi kemana-mana.
Selesai mandi, Luna segera berpakaian dan berdandan seadanya. Luna kemudian segera memasang sepatunya, menyambar tas pnggang di atas meja kemudian berjalan keluar apartemen. Setelah mengunci pintu, Luna segera memesan taksi online. Kali ini Luna ingin cepat sampai di cafe tersebut.
Satu setengah jam Luna menempuh perjalanan kemudian sampai di cafe yang dikatakan Bela. Luna memberikan ongkos dan uang tip kepada pengemudi kemudian segera turun. Luna masuk ke dalam cafe tersebut.
Cafe tersebut terletak di kawasan perbukitan. Suasananya asri dengan udara yang lumayan sejuk jika dibandingkan daerah lain di Jakarta dan sekitarnya. Luna kemudian menempati salah satu kursi di area luar. Kursi tersebut menghadap ke pemandangan perbukitan yang menghijau sejauh mata memandang.
“Bela memang benar-benar bisa mencari tempat yang cocok,” gumam Luna. Luna kemudian mengeluarkan telepon genggamnya. Dia sudah siap untuk mengirimkan pesan pada Arya. Ternyata Bela sudah mengirimkan pesan terlebih dulu padanya.
“Udah nyampe belum sih lu? Kelamaan lu, dia udah ke resto tuh, kenyang dia ntar.”
“Sabar, ini baru sampe, gue chat sekarang aja kali ya.”
“Besok pagi aja sekalian!”
“Kalo dia nggak mau dateng, lu kesini ya Bel. Enak tempatnya.”
“Ogah!”
Luna terkekeh sendiri membaca pesan dari Bela. Temannya itu memang tidak pernah lepas dari kata-kata sarkastis. Luna tahu bahwa Bela pasti akan menyusulnya apabila Arya memang tidak datang.
Luna memandang nomor telepon Arya dalam kontak teleponnya. Dia membuka ruang chat, bersiap ntuk mengetikkan pesan pada Arya. Namun Luna bingung apa yang harus dikatakannya tanpa membuat Arya berpikir yang bukan-bukan. Luna tidak ingin Arya berpikir bahwa Luna sedang mengajaknya berkencan.
“Halo Pak, apa kabar Bapak hari ini?”
Terasa seperti seorang pegawai marketing yang ingin mempromosikan dagangannya. Luna kembali menghapusnya.
“Halo Pak, Bapak ada di tempat golf ya?”
Rasanya seperti Luna memata-matai Arya. Luna pun menghapusnya lagi.
“Pak, saya lagi sendiri.”
Luna langsung menghapus lagi, pesan itu justru membuat Luna seperti sedang kesepian. Luna melihat Bela mengetik pesan. Dia sudah bersiap-siap mengenai apa yang akan dibacanya dari Bela.
“Lu niat nggak? Kayaknya enggak. Dari tadi lu online, itu Bapak lu nggak pegang hp sama sekali. Jadi lu nggak online sama dia berarti kan?” Bela sepertinya memperhatikan Arya di komplek lapangan golf tempat dia bekerja tersebut.
“Eh, darimana lu tau?” Luna menjawa Bela.
“Dia di depan meja gue, gue di resto. Dia sendirian, Cindy udah terlanjur janjian sama pemain lain jam segini.” Bela menjawab lagi.
“Gue bingung mau bilang apa, Bel,” keluh Luna pada Bela.
“Saya ada di Gunung Pancar Pak, udaranya segar banget. Saya harap bapak sehat dan baik-baik saja hari ini. Jangan lupa bahagia ya Pak.” Bela mengirimkan pesan sebagai ide untuk Luna. Bela masih terlihat mengetik pesan lagi.
“Noh, lu salin deh. Gitu aja susah lu.” Bela kemudian offline.
“Makasih Bela-ku.” Luna tersenyum sendiri.
Bela memang selalu pandai berkomunikasi dan menyesuaikan suasana. Bela tidak pernah sembarangan menggoda lelaki. Dia sebenarnya menggunakan cara yang sungguh elegan membuat para pemain golf terpikat padanya. Walaupun ketika bersama Luna dan teman-temannya, Bela selalu ceriwis.
Luna kemudian menyalin dari Bela dan mengirimkannya pada ruang chat Arya. Tidak berapa lama menunggu, Luna melihat Arya membaca pesan tersebut. Luna menutup ruang chat Arya agar tidak ketahuan bahwa Luna menunggu balasan dari Arya.
“Have fun ya, Lun. Kamu ada teman disana? Semua teman akrab kamu tampaknya disini.” Arya membalas pesan dari Luna.
Luna menunggu sebentar untuk membalas pesan dari Arya. Apabila Luna membalas pesan secara langsung, tentu Arya akan mengira bahwa Luna sedang menunggu pesannya. Setelah beberapa waktu, Luna membalas pesan tersebut.
“Saya sendirian Pak, yang lainnya tidak mendapatkan libur hari ini.” Luna mengirimkan dan Arya langsung membacanya.
“Itu jauh, kenapa refreshing jauh-jauh kalau sendiri? Ini sudah sore, hampir malam.” Arya masih online. Luna merasa iba pada lelaki itu. Dia merasa sedang mengerjai Arya. Luna lalu segera membalasnya saja.
“Saya sedang ingin ketempat yang rasanya asri saja, Pak.” Luna menjawab lagi.
“Kamu masih belum mau pulang? Saya susul kesana saja.” Arya menjawab lagi. Luna tersenyum membaca jawaban Arya.
“Bapak mau kesini? Boleh Pak, saya share lokasi saya ya, Pak.” Luna menjawab lagi pesan Arya.
“Baik, tunggu disana saja ya. Jangan kemana-mana.” Arya kemudian offline.
Luna segera mengirimkan share lokasi pada Arya. Arya membaca kemudian menjawab singkat.
“Oke Luna, tunggu saya ya.” Luna tidak merasa Arya sedang mengejarnya. Justru Luna merasakan kepedulian dari Arya. Tempat ini memang jauh dari pusat kota Jakarta. Arya tidak memperbolehkannya pergi sendirian sejauh ini. Lelaki itu benar-benar memperhatikan Luna.
“Berhasil lu? Jangan bilang ke gua lu nggak bisa jawab lanjutannya tadi.” Bela mengirimkan pesan lagi pada Luna.
“Iya Bel, Pak Arya mau kesini.” Luna menjawab lagi.
“Ya udah, gue langsung balik aja ya.” Bela menjawab.
“Hati-hati di jalan lu, thanks ya Bel.” Bela sudah tidak membalas pesan Luna, mungkin dia sudah bersiap untuk pulang.
Luna kemudian mengeluarkan buku yang dibawanya dari dalam tas. Rasanya novel itu cukup untuk menghabiskan waktu menunggu Arya. Luna memang lebih suka membaca buku dibandingkan bermain dengan telepon genggamnya.
Satu setengah jam setelahnya, Luna melihat Arya datang dari pintu utama. Luna bisa melihat melalui pintu dari tempatnya duduk. Arya kemudian berjalan ke arah meja pemesanan di cafe tersebut. Luna segera berjalan menuju ke dalam, menjumpai Arya.
Melihat Luna datang menghampirinya, Arya tersenyum. “Ayo lanjutkan, kamu dimana tadi?” tanya Arya.
“Saya diluar Pak, pemandangannya indah di luar,” jawab Luna.
Arya kemudian berjalan mengikuti Luna. Luna ragu bahwa Arya bisa duduk dengan nyaman di cafe anak muda semacam ini. Namun cafe ini juga tidak terlalu banyak didatangi orang. Arya juga tidak terlihat enggan mengikuti Luna.
Seorang pelayan cafe tersebut mengikuti mereka dan memberikan buku menu setelah Arya dan Luna sampai ke meja. Arya kemudian membaca buku menu tersebut dan memesan kopi Americano.
“Bapak tidak mau makan?” Luna bertanya pada Arya.
“Saya belum lapar. Kamu bisa pilihkan makanan ringan saja untuk saya?” Arya menjawab Luna. Luna kemudian memesan beberapa pisang goreng dan pastel. Tempat itu memang menyuguhkan makanan ringan yang sangat asli Indonesia.
“Kamu sering kesini?” Arya bertanya pada Luna.
“Tidak Pak, baru kali ini. Saya cari rekomendasi dari internet saja Pak.” Luna tersenyum pada Arya.
“Tapi kamu suka ya?” Arya kembali bertanya.
“Ya Pak, saya lebih menikmati tempat seperti ini dibandingkan ke mall dan pertokoan yang ramai. Lebih bisa menikmati suasananya saja,” kata Luna pada Arya sambil memandang pemandangan di sebelah kanannya.
“Ya, tempatnya bagus. Lain kali saya akan datang lagi kemari,” jawab Arya ikut menikmati pemandangan yang senja yang indah.
“Bapak tadi dari lapangan?” Luna bertanya. Dia tentu punya alasan untuk bertanya demikian tanpa ketahuan bahwa dia mendapatkan informasi dari Bela. Arya memakai pakaian olahraga seperti ketika dia biasanya pergi bermain golf.
“Ya, saya tadi main ditemani Cindy,” Arya tersenyum pada Luna. Luna masih melihat raut kesedihan di mata Arya.
“Bapak masih tidak mau cerita sama saya ya?” Luna mencoba bertanya pada Arya. Dia bersimpati atas keedihan dan kesepian yang terlihat pada wajah Arya,
“Tidak Lun, tidak ada apa-apa. Kalau saya bercerita, nanti saya kelihatan seperti orangtua galau,” Arya terkekeh. Luna juga ingin tertawa tapi berusaha menahan tawanya.
“Tidak Pak, masih muda kok, semua orang punya hak untuk galau Pak, tenang saja,” ujar Luna sambil terkekeh.
“Iya, wajar. Hidup itu tidak bisa selalu bahagia kan,” jawab Arya.
“Makanya cerita Pak, saya tahu sih, mungkin saya juga tidak bisa membantu Bapak. Tapi setidaknya dengan cerita pada saya mungkin nanti akan jadi lebih ringan.” Luna membalikkan kata-kata yang pernah disampaikan Arya padanya, hanya saja dalam pola yang berbeda. Arya menarik nafas panjang.
“Iya, saya tidak ada masalah apa-apa sebenarnya. Saya punya istri yang cantik bahkan sempurna. Anak-anak yang pintar dan sehat. Karir saya bagus, perusahaan berjalan dengan baik, berkembang. Tapi saya merasa sepi,” Arya menjawab pertanyaan Luna.
“Ya, barangkali Bapak harus mengajak Ibu jalan-jalan kemana-mana,” Luna sebenarnya merasakan perasaan lain di hatinya ketika Arya memuja sang istri di hadapannya. Luna dalam hati mengutuki diri sendiri atas perasaannya.

Book Comment (43)

  • avatar
    Toslam Barokah

    oke 👍 ini adalah hasil

    17d

      0
  • avatar
    Bubllegumverosa

    Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨

    19/02

      1
  • avatar
    Abdul Haris

    bagus

    20/08/2022

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters