logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Menerima Bantuan

Ruangan kantor Arya terlihat sangat eksklusif. Luna sampai merasa malu sendiri, mengapa dia memilih pakaian yang terlalu santai untuk datang ke kantor Arya. Lelaki itu tampak duduk di belakang meja kerjanya.
Usia Arya memang berbeda jauh dengan Luna. Namun di usia 40 tahun seperti itu, kematangan dan kewibawaan justru menjadi pesona terbesarnya. Ketampanan tidak sedikitpun menguap dari wajahnya.
Arya yang melihat Luna melangkah memasuki ruangannya kemudian berdiri dan tersenyum. Dengan ramah dia mempersilahkan Luna untuk duduk di sofa di dalam ruangannya itu. Sekretaris Arya kembali keluar dan menutup pintu di belakang Luna.
“Ada apa, Lun?” Arya bertanya seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
“Pak Arya, ma-maaf sebelumnya, Pak. Saya datang untuk mengembalikan cek yang Bapak berikan kepada saya kemarin,” jawab Luna setelah Arya duduk di hadapannya. Luna mengeluarkan amplop berisi cek itu dari dalam tas yang dibawanya.
“Ada apa, Luna? Bukankah ayahmu perlu operasi? Saya hanya sekedar membantu meringankan, kalau kamu masih membutuhkan, sekedar untuk bantu-bantu saja,” Arya menjawab dengan nada datar. Kewibawaan keluar dari nada bicara dan suaranya yang berat.
“Tapi Pak, itu terlalu banyak untuk saya. Bapak sudah memberikan sangat banyak pada hari-hari sebelumnya. Bagaimana saya bisa menerima lebih banyak lagi, Pak?” Luna menundukan kepalanya. Dia sadar benar bahwa saat ini keluarganya sangat membutuhkan uang itu.
“Lun, di perusahaan ini ada CSR, Corporate Social Responsibility. Kami juga banyak memberikan sumbangan sebagai bantuan secara sosial kepada orang lain. Apakah saya tidak boleh membantu keluargamu?” Arya bertanya, raut wajahnya serius.
Luna memang tidak tahu banyak mengenai CSR seperti yang dikatakan Arya. Tapi tentunya tidak semudah itu pula dia mendapatkan uang dalam waktu cepat bila memang itu program perusahaan. Luna masih tidak bisa memahami apa yang ada dalam pikiran Arya.
“Bukan begitu Pak, hanya saja cek ini atas nama Bapak secara pribadi, bukan atas nama perusahaan Bapak. Apa yang membuat saya berhak menerimanya Pak?” Luna kembali bertanya pada Arya.
“Itu memang dari saya secara pribadi, karena memang tidak termasuk program perusahaan. Tapi saya sendiri punya hak untuk mengalokasikan uang saya membantu orang lain, kan? Tidak ada kriteria apa-apa sehingga kamu berhak menerimanya Lun. Saya yang berkeinginan, itu saja,” jawab Arya. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung pada perlakuan Luna yang mengembalikan cek yang telah diberikannya. Dia bisa memahami dan Arya juga tidak ingin Luna salah paham.
“Bapak benar bahwa saya memang membutuhkan untuk biaya operasi ayah saya. Tapi saya tidak bisa membayarnya Pak, setidaknya dalam waktu dekat,” Luna mulai melunak melihat Arya yang menjawabnya dengan segala kewibawaan.
“Apa aku memintamu untuk mengembalikan? Lun, kamu pernah membesuk temanmu yang sedang sakit, kan? Kamu juga pernah mendatangi pesta ulang tahun atau pernikahan? Apakah apa yang kamu berikan di semua pesta itu kamu harapkan untuk dikembalikan padamu?” tanya Arya.
“Ya, tentu saja tidak Pak. Tapi jumlahnya tidak banyak Pak. Ya, tidak banyak juga karena sesuai dengan kemampuan saya,” Luna menjawab Arya dengan ragu yang tergambar jelas di matanya.
“Ta-tapi Bapak juga tidak memberikan 1 miliar rupiah setiap kali Bapak membesuk atau ke pesta kan, Pak?” Luna memang pintar, dia pandai berkelit dan menemukan celah-celah alasan. Dalam hati Arya mengakui bahwa wanita di hadapannya sebenarnya cerdik dan pintar.
“Tentu saja tidak, ada banyak jenis pertimbangan. Pertama, sesuai kebutuhan orang yang saya datangi. Kedua, kadar kedekatan orang yang saya datangi dengan saya. Apakah itu cukup?” Arya memandang Luna dengan tersenyum.
“Pak, saya benar-benar tidak mampu memahaminya. Saya hanya caddy yang biasanya menemani Bapak bermain di lapangan golf. Saya memang membutuhkan, tapi saya tidak tahu apakah saya pantas menerima dari Bapak,” Luna lagi-lagi menjawab Arya.
“Kalau begitu, kau termasuk kriteria pertama, kan? Kau membutuhkannya untuk ayahmu, dan kita adalah teman di lapangan. Simpanlah Luna, saya tidak akan pernah menganggapmu berhutang apa-apa untuk itu. Kapanpun kamu membutuhkan, saya akan membantu,” kata Arya. Dari matanya, Luna melihat tidak ada kebohongan di balik setiap kata-katanya.
“Pak, saya memang membutuhkannya. Saya tidak tahu dengan apa saya bisa membalas Bapak,” ujar Luna masih bersikeras dan merasa tidak nyaman menerima cek dari Arya.
“Saya tidak mengharapkan apa-apa, percayalah. Sekarang, cairkan cek tersebut, kemudian kirimkan pada keluargamu,” Arya kembali meyakinkan Luna. Cara bicara Arya membuat Luna merasa percaya bahwa Arya memang murni hanya membantunya saja tanpa mengharapkan imbalan apapun. Luna juga teringat perkataan Bela bahwa istri Arya berusia hampir sama dengan mereka dan sangat cantik mempesona sehingga tidak mungkin pula Arya ingin bermain-main dengan wanita lain.
“Baiklah Pak, saya sungguh-sungguh berterimakasih untuk bantuan Bapak pada saya dan keluarga saya,” jawab Luna yang membuat Arya mengangguk. Luna kemudian berpamitan, dia tahu bahwa sebenarnya Arya sangat sibuk. Dia juga tidak ingin mengganggu waktu Arya terlalu lama.
Luna kemudian berjalan keluar dari ruang kantor Arya. Di hatinya ada perasaan lega. Arya tidak meminta apapun darinya. Bagi Luna, Arya adalah seseorang yang datang dan benar-benar tulus ingin membantunya.
Luna segera pergi ke bank yang hanya berjarak beberapa blok dari kantor Arya. Luna segera mencairkan cek tersebut dan mengirimkan pada Kevin kemudian dia segera mencari taksi untuk kembali pulang. Luna ingin mengabari pada Kevin, adik lelakinya itu tentu akan sangat senang mendengar berita dari Luna.
“Halo Kevin, kakak sudah kirimkan biaya operasi ayah,” kata Luna pada Kevin yang sudah tersambung di telepon genggamnya.
“Halo, terimakasih, Kak. Terimakasih sekali, aku akan segera membawa ayah ke rumah sakit untuk mempersiapkan semuanya. Ibu pasti akan senang sekali,” jawab Kevin dengan suara yang bernada sangat gembira. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh semua keluarga Luna, mendapatkan donor dan mengoperasi ayahnya.
Luna sudah sampai kembali di apartemennya. Dia segera bersiap untuk pergi ke lapangan dan kembali bekerja. Dia bercerita pada Bela bahwa Arya tidak menerima cek itu kembali dan Luna mempergunakannya untuk biaya operasi ayahnya.
Bela tentu saja senang mendengarnya. Bela berkata bahwa Luna sangat beruntung bertemu dan kenal dengan Arya walaupun mungkin dalam hatinya masih tidak percaya bahwa ada lelaki sebaik itu. Pengalaman hidup Bela tidak memberikan kesan yang baik mengenai laki-laki.
Beberapa bulan sesudahnya, kesehatan ayah Luna semakin membaik. Operasi yang dilakukannya sudah berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil yang baik. Sekarang hanya tinggal menunggu masa penyembuhan.
Arya pun kembali pada rutinitas biasanya. Terkadang datang untuk bermain golf, terutama apabila ada janji dengan teman-temannya ataupun dengan rekan-rekan perusahaannya. Luna masih terus menjadi caddy langganan yang menemaninya.
Luna tentunya sudah mengucapkan banyak terimakasih pada Arya. Arya juga selalu menanyakan berita dan perkembangan kesehatan ayah Luna. Laki-laki itu benar-benar tidak pernah menyinggung apapun mengenai cek yang diberikannya pada Luna. Luna justru menjadi semakin nyaman menemani Arya. Apabila tidak ada teman Arya, banyak hal yang diceritakannya pada Arya.
Beberapa bulan lamanya, tidak ada apapun yang terjadi antara Arya dengan Luna. Semua berjalan seperti biasanya. Luna memang sering bercerita dengan Arya dan Arya selalu menjadi pendengar yang baik. Sesekali, apabila sedang punya waktu, Arya makan di restoran di tempat golf tersebut dan mengajak Luna menemaninya.
Arya memang selalu rutin bermain golf, bukan hanya karena lobi bisnis, namun memang karena Arya menyukainya. Arya hampir selalu dengan teman-temannya dan bermain di hari Sabtu, kecuali pada suatu pagi di akhir Minggu.
Hari itu Arya datang jauh lebih cepat dibandingkan biasanya. Dia tidak terlihat menunggu teman-temannya. Arya hanya menjumpai Luna dan meminta Luna untuk menemaninya Arya bermain seharian bahkan sampai malam. Luna tidak bertanya apa-apa. Sebelum pulang, Arya bertanya apakah Luna akan masuk kerja keesokan harinya. Luna menggelengkan kepalanya, dia memang tidak punya jatah masuk kerja pada hari Minggu keesokan harinya.
Arya hanya tersenyum mengangguk. Namun Luna merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Arya. “Kalau Bapak besok mau main, saya datang tidak apa.” Luna berkata sedikit ragu pada Arya.
Luna memang menjadi lebih dekat dengan Arya. Suasana hati Arya yang sepertinya kurang nyaman sangat terasa oleh Luna pada saat itu. Arya memandang ke atas ketika Luna menjawabnya.
“Tidak apa-apa, kamu hanya libur sekali seminggu. Besok kamu harus istirahat juga. Jenuh dengan pekerjaan itu bisa membuatmu sakit juga,” jawab Arya lagi-lagi dengan senyuman.
Luna teringat pada dirinya sendiri beberapa bulan yang lalu. Arya dengan mudahnya menyempatkan diri di tengah segala kesibukannya untuk mendatangi lapangan golf itu selama beberapa hari hanya karena melihat wajah Luna mengukir kesedihan. Luna tidak pernah tahu dengan apa dia bisa membalas Arya.
Sekarang Luna merasakan perasaan yang sama seperti yang dirasakan Arya, melihat wajah sedih dari seseorang yang biasanya begitu optimis dan bersemangat. Luna ingin sekali bisa membalas segala yang telah Arya berikan padanya. Kalau dia tidak mampu mengembalikan materi sebesar yang pernah Arya berikan untuk ayahnya. Lalu apa salahnya kalau Luna memberikan waktunya untuk Arya? Sama seperti yang dilakukan Arya dulu.
“Atau Bapak mau pergi ke tempat yang lain?” Luna kembali bertanya.
Arya menghentikan langkahnya. Tiba-tiba Luna merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya. Luna tidak mau dirinya terdengar menggoda Arya.
“Maafkan saya Pak, maksud saya kalau Bapak ingin saya temani berbicara di suatu tempat, besok saya bisa. Bapak kelihatan tidak seperti biasanya,” jawab Luna.
“Saya tidak apa-apa Lun, besok mungkin sudah lebih baik,” jawab Arya sambil menaiki mobilnya. Dia datang dan pulang kembali sendirian pada hari itu.
“Baiklah Pak, kalau Bapak bisa menghubungi saya kapan saja. Besok saya libur,” Luna menjawab. Dia menyerahkan segalanya pada niat baiknya. Dia memang tidak memiliki maksud menggoda Arya. Luna hanya berharap Arya memahami dirinya, bahwa dia tidak ada rencana tersembunyi dibalik kata-katanya ingin menemani Arya. Arya mengangguk kemudian berlalu dengan mobilnya.

Book Comment (43)

  • avatar
    Toslam Barokah

    oke 👍 ini adalah hasil

    17d

      0
  • avatar
    Bubllegumverosa

    Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨

    19/02

      1
  • avatar
    Abdul Haris

    bagus

    20/08/2022

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters