“Gue nggak bisa terima cek tadi, Bel” kata Luna ketika mereka sudah keluar dari area parkiran. “Kenapa? Bukannya lu butuh duit buat ayah lu?” Bela melirik ke arah Luna. Lalu lintas malam itu sangat ramai, mereka harus berlama-lama di kemacetan. “Iya, gue emang lagi butuh, butuh banget malah. Ayah gue udah dapet donor yang cocok. Tapi duit tabungan gue nggak cukup,” Luna menjawab. Pikirannya sibuk mempertimbangkan segalanya. Apabila Luna menerima uang tersebut, maka dia bisa segera mengabari Kevin dan mengirim biaya operasi sampai lunas. Ayahnya akan sehat kembali, Kevin akan sangat senang, begitu pula ibunya. Namun Luna tidak tahu apa konsekuensi dibalik semua itu. “Kira-kira kenapa dia ngasih gue duit sebanyak itu ya, Bel?” Luna mempertanyakan pikiran Arya pada Bela. “Itu dari siapa sih? Lu nggak cerita awalnya gimana, suruh gue main tebakan sama lu. Ya, mungkin aja dia suka sama lu kali,” jawab Bela. “Tapi lu jangan bilang-bilang ya, itu dari Pak Arya,” jawab Luna. “Pak Arya yang CEO Pratama Group? Itu kakap banget tau, Lun. Eh, tapi dia biasanya nggak usil, lho. Soalnya istrinya cantik banget kayak bidadari turun dari kayangan,” Bela sebenarnya terkejut mendengar nama Arya dari Luna. Arya memang terkenal sebagai lelaki baik-baik yang tidak pernah menggoda pada caddy di lapangan tersebut. “Lu kenal istrinya?” Luna bertanya pada Bela. Entah mengapa, mendengar pernyataan Bela mengenai istri Arya membuat Luna sedikit merasa kurang nyaman. Luna berpikir bahwa lelaki itu pasti memberikan uang dan cek dalam jumlah besar kepadanya tanpa sepengetahuan sang istri. “Istrinya dulu manajer di Kandara Group, baik dia, dulu sering lobi-lobi di lapangan juga. Keren itu cewek, pinter juga kayaknya. Sejak nikah sama Arya dijadikan ratu, nggak kerja lagi. Ngapain kerja lagi ya kan, duitnya Arya udah sampe nggak pake nomor seri gitu. Mending dia dirumah aja urus anak-anak Arya dari Ibu Vania,” jawab Bela. Bela memang tahu banyak mengenai pemain di lapangan golf tersebut. Selain tahu dari pria-pria “langganan”-nya, Bela juga sering mencari tahu siapa pria yang memiliki kemungkinan besar bersedia melayani godaannya. “Jadi dia istri kedua? Bu Vania yang mana?” tanya Luna lagi. “Bu Vania itu pengacaranya Pak Roland, bos kita. Kadang dia juga main golf. Seringnya sih enggak. Istrinya Pak Arya yang sekarang itu namanya Bu Sandra, itu udah istri kedua. Mereka menikah setelah Pak Arya cerai lama sama Bu Vania. Bu Ara kan sibuk kejar karir, dia pengacara kondang, hidupnya seolah nggak butuh laki, butuhnya aktualisasi diri, bayaran dia sebagai pengacara juga banyak kali ya, jadi lebih milih cerai dari Pak Arya,” urai Bela sambil terkekeh menjelaskan itu semua pada Luna. Bela masuk kerja di tempat tersebut ketika lulus sekolah menengah atas, hanya mengandalkan kepiawaiannya berkomunikasi dengan cara yang centil dan semenarik mungkin. Setelah beberapa waktu, dia kemudian mengikuti pendidikan menjadi caddy dan bertemu dengan Luna. “Jadi kenapa dia ngasih duit sebanyak ini ke gue ya, Bel? Kemarin pas Pak Arya datang emang lagi ngomong sama Kevin di telepon. Ya wajah gue kali udah bikin kasian banget ya. Dia maksa gue buat cerita tadi, gue terpaksa ceritain soalnya dia ngancem bakalan main tiap hari ke lapangan kalo gue nggak cerita. Tadi aja udah hari ketiga dia datang,” jawab Luna. “Iya juga sih, dia kan sibuk banget itu harusnya ya. Dia suka sama lu kali, nggak mungkin lah dia ngorbanin waktunya gitu kalo dia nggak lagi ngejar lu. Laki-laki mau apa lagi sih, kalo lagi ngejar ya kayak begitu,” jawab Bela berdasarkan persepsinya. Pengalaman hidup Bela yang berkencan dengan banyak pemain memang membuatnya merasa tak percaya pada kesetiaan. “Lah, tapi tadi lu sendiri yang bilang istrinya kayak bidadari turun dari kayangan. Ngapain dia ngejar gue yang kayak bidadari turun dari komidi putar pasar malam gini?” Luna bersungut-sungut menjawab Bela. “Astaga, Lun, lu lugu banget sih. Gue kasih tau, laki-laki itu ya, manusiawi banget. Mau di rumah disuguhi makanan enak mulu nih, daging steak, burger, caviar, spaghetti carbonara, ramen udon, sop salmon, ayam bakar padang, ayam betutu, sampe sop sarang burung walet segala, di luar ya tetep aja kangen pengen makan ikan asin sama sayur asem warteg noh, hahahaha,” Bela tertawa. Mau tak mau Luna pun ikut terbahak-bahak mendengar temannya itu berkata-kata dengan lucu. “Gila lu ye, nyamain gue sama ikan asin warteg, sial,” gerutu Luna menggaruk-garuk kepalanya. “Kagak, lu cantik, manis manja gitu. Kalo lu yang jadi istri Pak Arya, lu bakalan naik tahta juga, seenggaknya jadi bidadari turun dari taksi.” Bela memang tidak pernah bisa berhenti bercanda. Bagaimanapun kehidupan yang dijalani Bela, namun pergaulan sosialnya sangat baik. Dia tidak pernah berpikir dua kali untuk menolong teman-temannya. Itu pula yang membuat Luna sangat dekat pada temannya itu. Mereka sudah sampai di area parkir apartemen, malam sudah benar-benar menjelang. *** Pagi-pagi Luna sudah bangun. Luna kemudian bergegas mandi dan berpakaian. Semalaman Luna berpikir mengenai Arya dan cek yang diberikannya. Luna merasa tidak bisa menerima uang sebanyak itu tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan Luna untuk membayarnya. Kalau Arya berniat meminjamkan, Luna juga tidak tahu kapan bisa mengembalikan uang tersebut. “Mau kemana lu? Jalan pagi? Rapi amat?” Bela yang melihat Luna keluar dari kamarnya melirik pada Luna yang mengambil sepatunya dari kotak-kotak sepatu di atas rak, tepat di depan pintu keluar apartemen yang mereka tempati. “Gue mau ke kantor Pak Arya, Bel, gue....” kata Luna yang membawa sepatu running shoes kemudian duduk pada kursi di depan rak sepatu tersebut. “Ciyee, udah janjian aja,” potong Bela sebelum kata-kata dari mulut Luna tersusun secara sempurna. “Elu ya, dengerin dulu sampai selesai, kebiasaan lu,” Luna mendengus dan mengerutkan wajahnya melihat ke arah Bela. “Iya, iya, apaan? Ngapain lu mau ketemu dia? Kangen?” ledek Bela pada temannya itu. Luna sungguh sudah terbiasa dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut Bela. “Gue mau balikin aja, cek yang dikasih Pak Arya kemarin. Gue nggak bisa terima, dan gue nggak tau apa yang harus gue kerjain buat dapetin sebanyak itu dari Pak Arya,” wajah Luna berubah menjadi serius. “Tapi kan lo butuh banget, buat operasi ayah lu,” Bela mendadak heran dengan keputusan Luna. “Iya, gue butuh banget, tapi gue nggak tahu aja gue harus apa. Kalau ntar dia tiba-tiba nagih gue, pas ayah udah selesai operasi, gue bisa apa, Bel?” Luna bertanya pada Bela dengan raut wajah yang masih serius. “Iya juga sih, tapi kayaknya nggak mungkin deh. Kan lu juga nggak minta atau pinjam juga. Dia ngasih karena kemauan dia sendiri aja, kan? Kali aja dia kelebihan duit,” ujar Bela masih berkelit, berusaha memberikan opsi lain dalam pikiran Luna. “Gue tau, Bel. Buat beberapa orang mungkin jumlah 1 miliar nggak banyak, buat sebagian orang lagi mungkin itu justru sedikit. Tapi bagi gue itu banyak banget, Bel. Gue nggak bisa terima begitu aja tanpa gue tau apa yang udah gue kerjain sampai gue bisa dikasih segitu,” jawab Luna, sekarang dia sudah siap berangkat. “Kalau aja gue tajir banget kayak Pak Arya, gue udah kasih juga ke lu buat operasi ayah lu,” jawab Bela dengan raut wajah sedih. Dia berpikir tentang nasib dan merasakan beratnya keputusan yang harus diambil oleh temannya itu. “Itu karena lu temen gue, Bel. Karena lu kenal gue kan, karena lu sayang sama gue sebagai teman lu. Gue berangkat sekarang ya, ntar keburu jam kerja lagi,” ujar Luna. “Iya deh, hati-hati lu ya, sampai ketemu ntar di lapangan. Gue mau jalan dulu sebelum ke lapangan, tadi ada yang ajak bentar,” jawab Bela. Luna sudah tahu bahwa temannya itu harus pergi menemui pelanggan yang mengajaknya berkencan kilat. Sebenarnya, Luna sendiri merasa sedih melihat kehidupan Bela. Kalau saja Luna mempunyai uang lebih dan mampu mengatakan pada Bela tanpa menyinggung perasaannya, Luna pasti sudah meminta Bela untuk berhenti melayani lelaki hidung belang. Namun, dalam situasi sekarang ini, apalah kuasa Luna. Bela juga membutuhkan uang untuk orangtua, anak dari pernikahannya yang sudah berakhir, serta untuk membiayai pendidikan adiknya yang tinggal di kota asal Bela. Luna berjalan keluar dan menuju lobi di lantai dasar apartemen. Ada beberapa taksi yang terparkir menunggu penumpang di halaman. Luna langsung saja melambaikan tangannya pada taksi tersebut. Salah satu taksi langsung berjalan mendekati Luna. “Ke kantor utama Pratama Group yang di jalan Sudirman ya, Pak,” ujar Luna langsung memberikan arahan setelah masuk dan menutup pintu taksi. Pengemudi taksi itu mengangguk dan mulai melaju ke arah jalan utama. Sepanjang jalan, Luna berpikir. Dia berusaha menyusun kata-kata yang harus diucapkannya pada Arya setelah sampai di kantor lelaki itu. Berbagai kata dirangkai oleh Luna untuk menyampaikan dengan cara yang baik, agar Arya juga tidak merasa tersinggung. Luna juga tidak ingin dicap sombong, bagaimanapun Arya sudah baik dan mencoba menolongnya. Taksi yang ditumpangi Luna sudah memasuki halaman gedung kantor Arya. “Berhenti di depan lobi saja Pak,” kata Luna. Setelah taksi itu berhenti di depan lobi, Luna mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar ongkos, kemudian mengucapkan terimakasih pada pengemudi. Luna agak ragu-ragu turun dari taksi, itu adalah kantor besar. Dia berusaha menegarkan langkahnya dan memberanikan diri. Luna langsung mendatangi bagian resepsionis. Seorang wanita mengenakan baju kerja yang tampak anggun menyambut Luna. “Kak, saya ingin bertemu Pak Arya,” kata Luna. Resepsionis itu bertanya, “Apakah sudah ada janji?” “Belum,” jawab Luna ragu. “Dengan siapa?” Resepsionis itu bertanya dari pada Luna sambil memperhatikan penampilannya dari atas sampai ke bawah. “Saya Luna, Kak, pelayan restoran di tempat Pak Arya makan malam, kemarin Pak Arya meninggalkan sesuatu di restoran, saya rasa Pak Arya akan membutuhkannya,” Luna menjawab dengan suara lantang. Dia tahu bahwa dia sedikit berbohong. Luna tidak punya pilihan lain, resepsionis itu mungkin akan menolaknya mentah-mentah kalau dia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk bertemu Pak Arya. “Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan menghubungi sekretaris beliau,” resepsionis itu kemudian mengangkat gagang interkom di mejanya. Dia mulai berbicara kemudian terdiam beberapa saat. Kemungkinan resepsionis itu disuruh menunggu oleh sekretaris Arya. Resepsionis itu kembali berbicara setelah jeda, kemudian menaruh kembali gagang interkom dan tersenyum. “Silahkan naik ke lantai 17, keluar dari lift ada pintu langsung menuju meja Bu Melda, sekretaris Pak Arya. Nanti Ibu Melda akan mengarahkan kakak,” resepsionis itu memberikan keterangan jelas pada Luna. Setelah mengucapkan terimakasih, Luna bergegas ke arah lift untuk naik ke lantai 17. Sampai di atas, dari pintu lift tersebut, Luna sudah melihat ruangan sekretaris Arya. Wanita itu tampak lebih ramah dibandingkan resepsionis sebelumnya. Dia berdiri ketika Luna sampai di depan mejanya dan berkata, “Dengan Luna ya? Saya disuruh Pak Arya meminta Anda menunggu sebentar. Pak Arya masih ada tamu, mungkin selesai beberapa menit lagi. Tadi saya sudah sampaikan langsung”. Luna mengangguk, mata Luna menyapu seluruh ruangan tersebut, kemudian berjalan menuju kursi sofa di depan pintu yang kemungkinan adalah pintu ruang kerja Arya. Tak lama menunggu, pintu tersebut terbuka. Beberapa seorang laki-laki dan seorang perempuan mengenakan jas keluar dari ruangan tersebut. Penampilan mereka sungguh necis dan eksklusif. Tampaknya kedua orang tersebut adalah pegawai-pegawai level atas dalam manajemen perusahaan milik Arya. Luna berandai-andai, kalau saja dia memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, tentu Luna juga memiliki kesempatan untuk bekerja di kantor besar dan meniti karir seperti mereka. Interkom di atas meja sekretaris Arya berbunyi, gadis itu langsung menerimanya tanpa menunggu. Setelah berbicara sebentar, gadis itu meletakkan gagang interkom kemudian berdiri menuju Luna. “Mari kak, Pak Arya sudah menunggu di ruangannya”. Luna berdiri dan mengikuti gadis yang sudah membuka pintu di depannya.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 42 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (43)
Toslam Barokah
oke 👍 ini adalah hasil
19d
0
Bubllegumverosa
Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨
oke 👍 ini adalah hasil
19d
0Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨
19/02
1bagus
20/08/2022
0View All