logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 2 Datang Lagi

Siang itu cukup panas, Luna baru saja menyudahi permainan dengan salah seorang pemain langganannya. Pemain itu kemudian memberikan uang tips kepada Luna sebelum pulang kembali. Luna memasukkan uang tips dari pemain itu ke dalam slingbags yang dipakainya setelah Luna memasukkan tas golf ke dalam bagasi mobilnya.
“Sudah selesai? Atau capek?” Arya ternyata sudah berdiri di belakang Luna, membuat gadis itu terkejut.
“Ba..Bapak mau main lagi siang ini?” Luna bertanya. Arya mengangguk dan berjalan mendahului Luna yang berdiri mematung. Luna hanya memandangi tubuh lelaki yang tinggi tegap itu dari belakang.
Arya memang jauh lebih tua dari Luna, namun di usianya yang sudah berkepala empat tersebut, pesonanya justru semakin bertambah. Maskulinitas, kematangan, kebapakan, semuanya tampak melekat kuat pada diri Arya.
“Pak, ini panas dan tidak biasanya Bapak bermain pada hari-hari seperti ini,” kata Luna, merasa tidak enak hati.
“Ya, ini memang sedang dalam kondisi tidak biasanya. Lalu kalau saya ingin, apa saya tidak boleh bermain disini?” Arya berhenti sebentar untuk menatap Luna. Sebelum gadis itu menjawab, Arya sudah berlalu ke bagian kantor, tentunya untuk registrasi.
Luna sudah tahu bahwa Arya mungkin akan memintanya lagi di bagian pelayanan untuk menemani. Luna segera mengikuti Arya ke meja pelayanan. Dugaan Luna benar, Arya mengatakan namanya untuk menemani Arya bermain golf.
“Ayo Lun, sudah siap?” Arya melewatinya sambil membawa tas golf. Wajahnya hanya seperti biasanya. Luna merasa tidak nyaman dengan beberapa petugas registrasi yang tersenyum-senyum ke arahnya.
“Bapak, tunggu saya dulu Pak,” kata Luna yang mengejar Arya.
“Iya, kan kamu yang mengarahkan, masa saya tinggalkan,” jawab Arya.
“Bukan Pak, maksud saya. Saya mau bicara Pak,” kata Luna cepat.
“Mau di restoran? Atau sambil main saja?” Arya berhenti sebentar dan memandang Luna. Luna menarik nafas panjang.
“Pak, Bapak tidak bisa buang-buang waktu bapak untuk datang kesini setiap hari cuma karena sudah mengatakan pada saya kalau Bapak mau datang setiap hari. Sampai kapan Bapak mau buang waktu Bapak datang kesini. Saya tahu Bapak pasti juga sibuk kan,” Luna berusaha menahan suaranya. Beberapa caddy dan pemain berlalu lalang.
“Pertama, saya tidak buang waktu, karena ini olahraga dan ada manfaatnya untuk saya. Dan yang kedua, saya bilang kalau saya tidak akan berhenti datang kesini setiap hari sampai saya lihat senyum di wajah kamu. Itu bukan janji ke kamu, tapi janji dengan diri saya sendiri, Jadi tidak ada urusannya dengan kamu sama sekali. Ayo kita ke lapangan,” ujar Arya sambil tersenyum seperti biasanya. Bukan senyum menggoda, hanya senyum biasa seperti pemain terhadap caddy yang melayaninya di lapangan golf.
“Bapak....” Luna sekarang bernada memelas, perasaannya tidak karuan. Apa yang harus dia sampaikan pada Arya.
“Ayo cepat Lun, keburu sore, saya tidak suka main sampai malam sebenarnya,” kata Arya pada Luna. Gadis itu terbirit di belakang Arya, membantu Arya menaruh tas golf di atas shuttle car.
“Duduk disini, saya sudah tanya kenapa kamu murung, dan kamu tidak mau cerita. Tapi itu tidak apa karena memang hak kamu mau bicara atau tidak, hak saya hanya datang kesini, meminta kamu menemani saya main golf. Begitu saj, Lun,” kata Arya.
Di lapangan, pikiran Luna semakin berkecamuk. Dia sungguh merasa tidak nyaman. Untuk mencegah Arya datang atau menolak pada bagian pelayanan, jelas tidak mungkin. Dia bisa mendapat surat peringatan, yang berbahaya bila jam kerjanya dikurangi, sedangkan Luna butuh mencari uang untuk operasi ayahnya.
“Pak, saya mau bicara,” kata Luna ketika mereka baru saja selesai sore itu. Dia merasa sedikit takut pada Arya.
“Baik, kita duduk di restoran? Atau kamu mau kita disini saja?” Arya bertanya sambil memandang matahari tenggelam dari dekat danau ditengah lapangan golf itu.
“Disini saja Pak, saya hanya mau bilang, kalau bapak memang datang bermain kemari karena saya, besok jangan lagi Pak. Jangan buang waktu Bapak untuk saya,” Luna berkata sambil menunduk, takut Arya akan marah padanya.
“Baiklah, tapi itu tidak muda, Lun. Ada yang harus kamu kerjakan untuk menyuruh saya berhenti datang kesini,” jawab Arya.
“A...a...apa itu Pak?” Pikiran Luna kacau. Dia sudah menerima uang yang banyak sebagai tips dari Arya dalam dua hari ini. Sekarang apa yang akan diminta oleh lelaki itu padanya. Luna sungguh bukan gadis nakal, dia hanya ingin bekerja baik-baik untuk mendapatkan uang agar bisa membayar biaya transplantasi ayahnya.
“Ceritakan saja, apa yang membuat kamu gundah. Kenapa terlalu sulit untukmu membagi beban yang ada di pundakm, Lun? Berbuatlah adil pada dirimu sendiri. Bagi beban itu pada yang lainnya kalau sudah tak mampu kamu pikul sendiri,” jawab Arya.
“Bapak, ini tidak mudah untuk saya, tidak mudah sama sekali. Bapak tidak mengenal saya, saya juga tidak mengenal Bapak. Lalu bagaimana bisa saya secara tiba-tiba menceritakan masalah saya kepada Bapak?” Luna bertanya pada Arya. Selama ini, Luna tidak pernah menceritakan segala kesulitannya pada orang lain, tidak juga pada keluarganya, tidak mungkin juga pada Bela.
“Sekarang begini, anggap saja itu masalah saya juga. Atau anggap saja saya ini teman kamu, atau apalah yang bisa kamu ajak cerita. Kalau tidak, ya saya akan tetap datang sampai kamu ceria lagi, dan ingat kalau matamu tidak bisa membohongi saya,” Arya tersenyum menatap Luna.
“A...a...ayah saya menderita penyakit liver Pak, harus segera dioperasi untuk transplantasi hati. Kemarin adik saya mengatakan sudah mendapatkan donor dan...” Luna menggantung kalimatnya. Dia sungguh tidak ingin menyampaikan betapa dirinya tidak mampu membayar biaya operasi tersebut sehingga Arya mengasihaninya. Luna merasa lelah dikasihani orang lain, yang dia tahu hanyalah mencoba menumbuhkan harapan di antara tekanan untuk mendapatkan cukup uang.
“Lalu, seharusnya kamu merasa lega kan?” Arya menatapnya.
Luna tersenyum, “Ya Pak, saya merasa lega, hanya masih kepikiran ayah saja yang masih sakit”. Luna mendapatkan alasan untuk menutupinya dari Arya.
“Baiklah, kalau begitu. Ambilah cuti untuk menemani ayahmu operasi,” Luna membelalak, Arya punya saja alasan untuk membuatnya berbicara lebih banyak.
“Pak, saya kan harus bekerja,” Luna menjawab Arya dengan nada memelas, bukan karena dibuat-buat dan ingin dikasihani Arya. Namun karena memang Luna tidak bisa berhenti bekerja. Sedangkan dia bekerja saja, uang untuk operasi ayahnya masih tidak mencukupi.
“Baiklah, kalau begitu. Jangan bersedih, kamu pasti bisa melewatiny, Lun,” kata Arya saat mereka kembali ke bagian depan. Seperti biasa, Arya mengajaknya untuk makan di restoran golf tersebut. Luna kemudian banyak bercerita pada Arya mengenai keluarganya. Arya mendengarkan Luna dengan cermat. Luna tidak menyangka Arya akan mendengarkannya seakan yang diobrolkan oleh Luna adalah sesuatu yang penting. Sebagai seorang wanita, Luna tentunya merasa tersanjung. Apa lagi yang paling diinginkan seorang wanita selain keluh kesahnya didengarkan?
“Tunggu disini sebentar ya, Lun,” kata Arya sambil membawa tas golfnya ketika mereka sudah selesai berbicara.
“Biar saya saja yang bawakan tasnya Pak,” tapi tidak sempat, Arya sudah berjalan keluar dari restoran tersebut. Luna berpikir mungkin Arya merasa bosan dengan ceritanya. Namun dia diminta Arya menunggu.
Hanya beberapa saat sampai Arya kembali lagi dan membayar di restoran juga di tempat registrasi lapangan golf. Adrin datang menghampiri Luna yang masih duduk di kursi restoran.
“Ini untukmu y, Lun, terimakasih sudah banyak bercerita dengan saya,” kata Arya sambil memberikan amplop kepada Luna. Luna ragu-ragu menerimanya. Tidak seperti kemarin, amplop yang diterima Luna sangat tipis, bahkan seperti terasa tidak berisi apa-apa.
“Saya yang terimakasih Pak, sudah bisa berbagi cerita dengan Bapak,” jawab Luna.
“Kapanpun kamu membutuhkan saya, saya akan senang mendengarnya,” jawab Arya kemudian berlalu dan melambaikan tangan pada Luna. Luna melihat mobil Arya sampai hilang dari matanya dan seperti kemarin.
Luna kembali pergi ke toilet, dia tidak ingin membuka amplop dari Arya di depan lau lalang pada pemain dan juga teman-teman caddy-nya. Sampai di toilet, Luna mencuci tangannya dengan sabun kemudian mengeringkannya. Hatinya sudah tak sabar, penasaran dengan isi dari amplop tersebut.
Luna mengambil amplop yang diberikan Arya dari slingbag yang dikenakannya. Isinya adalah cek sebesar 1 miliar rupiah disertai catatan dari Arya.
-Aku harap bisa membantu biaya operasi ayahmu, semoga ayahmu lekas sembuh, Arya-
Mata Luna melebar melihat cek tersebut. Bagi Luna, uang sebesar itu sangat fantastis. Entah berapa tahun dia bisa bekerja untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Dan uang sebanyak itu jelas cukup untuk membiayai transplantasi ayahnya.
“Wah, dari penggemar nih kayaknya,” suara Bela yang sudah berdiri di belakang Luna benar-benar mengejutkannya.
“Ya ampun Bel, ngagetin aja sih,” kata Luna pada Bela sambil menggosok-gosok dada untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
“Hah, 1 M, gila ya penggemar lo, ngasih tips aja sampe 1 M. Hajar aja, nggak mungkin kalo dia nggak ada rasa sama lo,” kata Bela yang mengintip cek di tangan Luna pada kaca di depannya.
Luna langsung salah tingkah memasukkan cek tersebut beserta catatannya kembali ke dalam amplop. Dia kemudian mengacungkan telunjuk di depan bibirnya meminta Bela untuk diam. Luna tidak ingin ada yang mendengar semua itu. Apabila ada yang tidak suka, dia tentunya akan mendapatkan masalah dengan bosnya.
“Iya, iya, gue nggak bakalan bilang. Lo tenang aja,” kata Bela separuh berbisik.
“Udah deh, lo udah selesai belum? Pulang bareng aja yuk,” ajak Luna. Bela sudah memahami bahwa Luna ingin ditemani. Sebenarnya Bela sudah ada janji dengan salah satu “pelanggan”-nya. Namun Bela akan membatalkannya saja, dia tahu bahwa Luna ingin berbicara dengannya.
“Iya, gue udah selesai. Yuk pulang bareng aja,” jawab Bela.
Mereka berdua kemudian membereskan barang-barang di loker masing-masing kemudian berjalan ke area parkir karyawan. Bela mengendarai mobil sendiri, apabila dia bekerja pada jam yang sama dengan Luna, dia akan mengajak Luna untuk pergi dan pulang dengannya.

Book Comment (43)

  • avatar
    Toslam Barokah

    oke 👍 ini adalah hasil

    21d

      0
  • avatar
    Bubllegumverosa

    Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨

    19/02

      1
  • avatar
    Abdul Haris

    bagus

    20/08/2022

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters