“Hallo, Kak Luna, kakak sedang di lapangan?” Kevin sangat bersemangat berbicara sehingga memekakkan gendang telinga Luna. “Enggak Vin, kakak nanti masuk siang,” jawab Luna yang sedang merapikan lemari pakaiannya. Baju-baju yang sudah disetrikanya sudah hampir masih semuanya ke dalam lemari tersebut. “Kak, akhirnya kak, akhirnya kita dapat kabar baik.” Kevin tidak dapat menyembunyikan perasaan gembiranya pada Luna. Perasaan itu meluap melalui nada suaranya yang keras dan lantang. Luna menduga ada perkembangan baik dari penyakit ayahnya. Ayah Luna sudah lama menderita penyakit infeksi Hepatitis B yang sangat kronis. Luna dan adiknya Kevin berusaha sekuat tenaga untuk bekerja dan mengumpulkan uang agar bisa membayar biaya transplantasi hati yang harus dijalani ayah mereka, namun masih saja tidak cukup. Belum lagi, sangat sulit mencari donor yang sesuai untuk ayahnya. Tubuh ayah Luna dan Kevin yang semakin membengkak membuatnya tidak bisa bekerja lagi, padahal ayahnya adalah tulang punggung keluarga. Ibu mereka juga tidak bekerja, selama ini ibu hanya berjualan makanan di teras rumah keluarga mereka di Pagaralam, sebuah kota kecil di Pulau Sumatera. Sangat disayangkan, seiring orang lain yang tahu bahwa ayahnya menderita hepatitis, semua orang merasa ketakutan akan tertular dari makanan yang dimasak oleh ibu. Selepas SMU, Luna pergi ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan menjadi caddy selama dua bulan. Modal kecantikan dan kemampuan komunikasinya yang baik, membuat Luna diterima dan diberi beasiswa dalam pendidikan tersebut. Luna bisa melunasi biaya pendidikan setelah lulus, sementara Kevin bekerja menjadi pelayan toko di kota asal Luna. Kevin tidak mungkin menyusul Luna, sebab kedua orangtuanya tentu membutuhkan bantuan Kevin. Setelah lama berada dalam daftar orang yang menunggu donor, akhirnya ayah Luna mendapatkan donor yang tepat. “Benar kak, aku tadi dikabari dokter Efendi langsung.” Kevin berbicara dengan penuh semangat. Luna tentu juga merasa senang, setidaknya sekarang ayahnya memiliki harapan untuk diselamatkan. Namun, Luna belum tahu apakah asuransi kesehatan yang dimiliki keluarganya akan bisa menanggung semua biaya transplantasi. “Kakak sudah ada uang kan, Kak? Dari rumah sakit mengatakan bahwa biaya perawatan bisa ditutup oleh asuransi, tapi tidak biaya operasi dan pengobatan. Karena kita harus membiayai pendonornya juga,” ujar Kevin. Dalam pikiran Kevin, bekerja di ibu kota tentu bisa mendapatkan banyak uang. Apalagi kakaknya bekerja setelah menempuh pendidikan terlebih dulu. “Iya, ada. Berapa biayanya, Vin?” Luna tidak mau membuat adiknya itu merasa resah. Luna tidak mau mendatangkan kegelisahan yang sama dengan yang dia rasakan ke dalam pikiran adiknya. “Biaya keseluruhannya 600 juta kak, itu sudah dipotong sekitar 200 juta oleh asuransi,” ungkap Kevin. Luna terperanjat, dia menahan nafasnya agar Kevin tidak mendengar apapun reaksinya. Tabungannya sama sekali tidak mencukupi, bahkan tidak sampai setengah dari biaya yang dibutuhkan. Luna baru bekerja selama setahun. Setiap bulan, Luna memperoleh 15 juta kalau sedang banyak pemain yang memberi uang tips, terkadang dia juga menerima tidak sampai 10 juta. Untung saja dia bisa tinggal bersama Bela di apartemen ini, teman Luna ketika menempuh pendidikan sebagai caddy. Secara pribadi, Bela sangat baik pada Luna. Bela memang seringkali menerima bayaran untuk bermalam dengan para pemain-pemain yang menggodanya. Karena itu Bela mampu menyewa apartemen yang mahal dengan dua kamar, dan mengijinkan Luna untuk tinggal bersamanya. “Kak, Kak, halo. Kakak bisa dengar?” Kevin membuyarkan lamunan sementara Luna. “Eh, iya, iya, Vin. Maaf tadi suaramu agak putus-putus,” jawab Luna. “Ada uangnya, Vin. Kamu urus saja prosesnya. Kalau bisa, kamu catat persiapan apa saja yang dibutuhkan ayah dan rincian biayanya dan sampaikan ke kakak,” kata Luna memberikan arahan pada adiknya itu. Kevin pun menyetujui apa yang diminta Luna, dia sangat optimis mereka akan mampu membayar biaya transplantasi hati untuk ayah. Setelah Kevin menutup panggilan teleponnya, Luna merasa seperti orang nanar. Sudah berbulan-bulan ayahnya menunggu donor yang tepat. Sekarang, donor tersebut sudah ada, namun Luna tidak memiliki cukup uang untuk membiayai operasi sang ayah. Semua yang ada dalam pikiran Luna membuat mendung bergelayut di wajah cantiknya, namun Luna tetap memaksakan diri untuk bekerja sore itu, sore dimana dia diminta untuk menemani Arya, klien langganannya di lapangan golf. Luna tidak mampu banyak berkata-kata pada Arya seperti biasanya. Arya bisa membaca ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis itu. Sejak awal Luna bekerja di lapangan golf itu, Arya selalu memintanya untuk menemani ketika dia sedang datang untuk bermain. “Capek, Lun?” sapa Arya ketika Luna meletakkan tas golf Arya di dalam bagasi mobilnya. “Tidak Pak, capek biasa. Namanya juga olahraga, Pak,” jawab Luna dengan ramah diiringi sedikit canda. Luna mencoba menghalau semua beban dalam pikirannya, dia tahu bahwqa dia harus bersikap profesional. “Temani aku makan sebentar di resto ya,” jawab Arya. Luna tidak punya alasan untuk menghindar. Tempat kerjanya memang menyuruh caddy untuk menemani pemain sampai dengan mereka pulang. Luna mengangguk dan berjalan menuju restoran di komplek lapangan golf itu, berusaha ceria seperti biasanya. “Ada apa, Lun? Kau masih tidak mau cerita?” Arya kembali bertanya pada Luna setelah mereka sedang makan di bagian restoran. Luna hanya makan snack. Selain karena nafsu makannya yang menghilang, untuk Luna masih terlalu sore untuk makan malam. “Tidak apa-apa, Pak.” Luna menjawab untuk kali kedua dengan jawaban yang sama. “Kalau kau tidak mau cerita, besok aku akan datang lagi. Bermain golf setiap hari sampai wajahmu bisa kembali ceria seperti biasanya,” jawab Arya. Luna hanya terkekeh, menganggap apa yang dikatakan Arya adalah bahan canda. Sore itu Arya memberinya uang tips sebesar 5 juta rupiah. “Maaf Bapak, ini terlalu banyak,” kata Luna pada Arya. “Sudah, simpan saja, untuk jalan-jalan kalau sedang bosan,” jawab Arya. Luna ragu-ragu menerimanya. Tapi dia memang sangat membutuhkan uang. 5 juta adalah jumlah yang cukup besar bagi Luna. Setidaknya bisa menambah jumlah tabungan untuk pengobatan ayahnya. Arya pergi setelah Luna mengucapkan terimakasih tak henti-hentinya. *** Setidaknya satu hari terlewatkan oleh Luna, pikirannya masih penuh dengan permasalahan mengenai kemana harus mencari uang. Luna tidak mungkin meminjam uang sebanyak yang dibutuhkan ayahnya di kantor. Berapa tahun dia harus mencicil uang tersebut? Pendapatannya sebagai caddy sebenarnya lebih banyak diperoleh dari uang tips dibandingkan dengan gaji tetapnya setiap bulan. Hari ini, Luna mencoba mengajukan ke kantor apabila dia bisa mendapatkan jatah lembur. Namun tidak disetujui di kantor karena tidak ada caddy yang meminta izin. Pegawai di bagian HRD mengatakan akan memanggil Luna kapanpun ada caddy yang minta digantikan. Luna pun menyetujuinya. Luna merasa putus asa, operasi ayahnya harus segera dilakukan. Ayahnya sudah dalam kondisi stabil untuk menjalani operasi dan donor yang tepat juga sudah ditemukan. Ayahnya harus segera dibawa ke rumah sakit untuk persiapan operasi. Kemarin malam Kevin sudah mengirimkan daftar biaya pengobatan dan persiapan yang dibutuhkan ayahnya. Sama sekali tidak berubah jumlahnya dari yang disampaikan Kevil melalui telepon. Luna tidak tahu lagi kemana harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Siang ini, jumlah angka di dalam daftar biaya yang dikirim Kevin selalu membayang di kepala Luna. Luna melirik jam di tangannya, dia belum menerima daftar pemain yang harus dia temani siang ini. Luna kemudian memutuskan untuk menghubungi adiknya. “Halo Kak, bagaimana?” Kevin menjawab panggilan telepon dari Luna dengan sangat cepat, kelihatannya memang sedang menunggu telepon dari Luna. “Halo Vin, bagaimana ayah? Apakah baik-baik saja?” Luna bertanya sambil memejamkan matanya. Membayangkan situasi di rumahnya, ayahnya yang sakit keras dan segera membutuhkan perawatan. “Seperti biasanya, Kak. Badan ayah masih membengkak. Tapi kata dokter sudah cukup aman untuk dilakukan operasi. Hanya saja harus secepatnya karena juga banyak yang mengantri kalau kita belum memberikan jawaban,” ujar Kevin menerangkan pada Luna. “Vin, kapan kita harus membayar untuk operasi?” tanya Luna, matanya masih memejam, namun raut wajahnya sebenarnya menyimpan kegelisahan. “Ada deposit pembayaran di awal, Kak. Dan pernyataan kalau sanggup membayar keseluruhan biayanya,” kata Kevin menjelaskan pada Luna. “Kalau begitu, besok akan kakak kirim uangnya Vin, pergunakan dulu untuk membayar uang muka di rumah sakit, tandatangani saja surat pernyataan sanggup memenuhi biayanya itu,” jawab Luna. Luna sendiri terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sebenarnya, Luna juga masih tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Dia tentu harus segera membayar seluruh biaya operasi setelah operasi tersebut dilaksanakan. “Oke Kak, terimakasih ya, Kak. Maafkan kalau Kevin hanya bisa membantu untuk biaya makan sehari-hari,” ujar Kevin sedikit banyak merasakan kesulitan Luna. Luna menutup teleponnya, rasanya dia ingin menangis. Luna benar-benar tidak sanggup mengecewakan keluarganya, menyia-nyiakan kesempatan agar ayahnya bisa sembuh. Luna menaruh telepon genggam di pangkuannya kemudian mengusap rambut dengan kedua tangannya kebelakang dan membuka matanya. Di depannya, Arya sudah berdiri mengamatinya. “Selamat siang nona manis, apakah siap untuk bekerjasama?” Arya bertanya sambil tersenyum. Luna tidak tahu berapa lama lelaki itu berdiri di hadapannya dan mendengarkan semua percakapannya di telepon dengan adiknya. “Eh, iya, maaf Pak Arya. Bapak mau ke lapangan lagi?” tanya Luna. “Ya, sesuai janji saya kemarin,” jawab Arya. “Janji?” Luna justru kebingungan. Kemarin Arya memberikannya uang tips sebesar 5 juta rupiah setelah bertanya mengapa Luna tampak kurang ceria. Luna baru ingat bahwa Arya berkata dia akan tetap datang setiap hari untuk bermain golf sebelum Luna menceritakan apa yang mengganggu pikirannya. Namun Luna merasa tidak mau merasa tersanjung. Mungkin saja Arya datang lagi karena perlu melakukan lobi bisnis. “Bapak, bisa aja, mari Pak. Mau mulai sekarang atau Bapak mau menunggu nih?” Luna bertanya pada Arya, berusaha menyelipkan keceriaan di dalam suaranya. Berharap bisa menghilangkan semua pikirannya. “Tidak usah, aku hanya akan bermain denganmu. Lagian, siapa juga yang hari kerja begini main-main gold disini?” Arya berkata sambil tersenyum. Luna mengangkat tas golf yang dibawa Arya kemudian segera mengajaknya menuju ke lapangan. “Beneran nih, Bapak nggak lagi menunggu?” Luna bertanya lagi, mulai ragu karena sudah beberapa menit dan Arya tidak didatangi seorang pun. “Iya Lun, aku kan kemarin bilang, aku akan tetap datang dan datang lagi sampai aku pastikan bahwa senyum manis sudah menggelayut lagi di wajahmu,” jawab Arya. Gaya Arya yang tetap acuh ketika mengucapkan itu membuat perasaan Luna tidak karuan. Arya mengucapkan semuanya dengan biasa saja, tidak ada tatapan dan lirikan mata menggoda, namun itu semua justru membuat Luna merasa nyaman, terasa seperti ada seseorang yang melindungi perasaannya yang sungguh sedang terasa sangat lemah. Hari beranjak petang, Arya tampaknya juga sudah lelah. “Kita selesai ya, Lun, tapi ke restoran dulu,” kata Arya pada Luna. Di mata Luna, Arya selalu menjadi klien yang mampu menghormati profesinya. Jangankan mencoba menjamahnya seperti yang terkadang harus diterima Luna dari pemain, memandang wajahnya pun sangat jarang dilakukan Arya. “Makanlah, apa kamu tidak lapar?” Tanya Arya ketika Luna lagi-lagi hanya memesan snack dan jus. “Saya diet Pak, udah kegendutan ini Pak,” jawabnya pada Arya. “Yang penting kesehatan dulu, sehari kamu jalan berapa jauh itu gendong tas golf begitu, gimana bisa gendut?” kata Arya sambil minum kopi yang dipesannya. Luna hanya tersenyum mendengar jawaban Arya. “Jadi, masih tidak mau cerita?” Arya kembali bertanya pada Luna. Luna tidak tahu sejauh mana Arya mendengarkan percakapannya ketika berbicara di telepon dengan Kevin sebelumnya. “Tidak, Bapak, saya baik-baik saja, bener,” jawab Luna berusaha tidak menatap mata Arya karena Luna tahu pasti bahwa dia sedang merahasiakan sesuatu. Perasaan hatinya sebenarnya sedang tidak menentu. Dia berpikir panjang mengenai cara mendapatkan biaya pengobatan ayahnya, namun apakah semua itu pantas dikatakannya pada Arya. Akankah ada orang yang mengerti betapa menjadi tulang punggung itu sungguh sangat berat, apalagi di usia Luna yang masih terbilang muda. Kalau bisa, mungkin Luna sudah menangis, bercerita mengadukan perasaannya pada orang yang mampu mengerti. “Kalau begitu, besok saya datang lagi,” jawab Arya sambil memberikan amplop uang tips kepada Luna. Amplop itu bahkan terasa lebih tebal dan lebih berat dibandingkan kemarin. Luna berpikir panjang, dia memang membutuhkan uang. Namun di sisi lain dia juga tidak ingin dikasihani begitu saja. “Bapak, maaf, ini terlalu banyak Pak. Saya tidak tahu harus bagaimana,” jawab Luna, sekarang senyumnya justru semakin menghilang. Arya membuktikan ucapannya kemarin bahwa dia akan datang, maka mungkin saja Arya juga akan datang kembali besok hari. “Sudah, Lun, ini disimpan ya. Terimakasih sudah menemani saya sampai sore,” jawab Arya sambil mengangkat tas golfnya. “Biar saya yang bawakan Pak,” kata Luna sambil mengambil amplop yang diletakkan Arya di atas meja restoran. “Sudah, tidak apa, sampai ketemu besok ya, Lun,” Luna termangu di depan restoran. Arya menoleh ke arahnya sambil melambaikan tangan dan memasukkan peralatan itu ke dalam bagasi mobilnya. Hari ini Arya datang dengan mobil yang berbeda dengan pengawal-pengawalnya. Luna menatap mobil Arya yang semakin menghilang kemudian pergi ke toilet. Di depan wastafel, Luna membuka amplop yang diberikan Arya. 20 juta rupiah, hari ini Arya memberikan uang sebesar 20 juta rupiah sebagai tips pada Luna. Wajah gadis itu justru menegang. Apa yang harus dikatakannya pada Arya kalau besok lelaki itu datang lagi?
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 47 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (43)
Toslam Barokah
oke 👍 ini adalah hasil
28d
0
Bubllegumverosa
Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨
oke 👍 ini adalah hasil
28d
0Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨
19/02
1bagus
20/08/2022
0View All